Claim Missing Document
Check
Articles

Buschke-Lowenstein tumour (BLT)/giant condyloma acuminatum (GCA): an immunopathogenesis insight Christopher, Paulus Mario; Kosim, Hartono; Wijaya, Ratna Sari; Suhardi, Silvi; Wijayadi, Linda Julianti
Bali Dermatology and Venereology Journal Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : DiscoverSys Inc

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/bdv.v%vi%i.27

Abstract

Buschke Lowenstein tumor (BLT)/giant condyloma acuminatum is a rare variant of a sexually transmitted infection caused by human papillomavirus (HPV) type 6 and 11. HPV has its viral factors that exist to avoid immune surveillance and control through 1) infecting only the basal layer of the epithelium, 2) downregulation of host immunity, 3) suppression of proinflammatory proteins essential for viral clearance. The incidence of BLT/GCA is estimated to be 0.1% in the general population, with males having 2.7 times increased risk than females. A BLT/GCA is characterized by verrucous tumor or palpable cauliflower-likemass, exophytic growth, flesh-colored, and uneven surface. The definitive diagnosis of BLT/GCA is typical morphology along with histopathological examination, and/or viral serotyping. Treatment of BLT/GCA requires a multidisciplinary approach, determined based on age, the extent of the lesion, organ involvement, and organ location.
Uremic Frost - Kelainan Kulit pada Gagal Ginjal Kronis -, Nathasia; Wijayadi, Linda Julianti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.935 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1197

Abstract

Uremic frost merupakan kelainan kulit yang jarang, karena ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik yang belum menjalani hemodialisis. Kelainan ini ditandai dengan lapisan putih kekuningan akibat kristal urea yang mengendap di permukaan kulit. Seorang wanita 44 tahun datang dengan keluhan utama kulit kering, bersisik, dan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan. Pasien baru didiagnosis gagal ginjal kronis. Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan makula hiperpigmentasi, berbatas tegas, multipel, ukuran lentikular-plakat dan krusta putih kekuningan. Tatalaksana dermatologi uremic frost adalah dengan pelembap dan antihistamin oral, pengobatan lebih lanjut untuk penyakit ginjal penyakit ginjal yang mendasari.Uremic frost is a rare skin disorder, found in chronic kidney failure patients who have not undergone hemodialysis. This disorder is characterized by yellowish white layer on the skin surface due to urea crystals. A 44-year-old female patient presented with dry, scaly, and itchy skin on the whole body in the last 1 month. The patient has just been diagnosed with chronic kidney failure. Dermatological examination revealed hyperpigmented macules, well-defined, multiple, lenticular-placard size and also a yellowish-white crust. Management in dermatology is with moisturizers and oral antihistamines, further treatment should be given to underlying kidney disease.
Nevus Melanositik Kongenital Raksasa dan Kelainan Kongenital Ekstremitas pada Bayi Baru Lahir Antonius, Cayadi Sidarta; Wijayadi, Linda Julianti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.756 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1261

Abstract

Nevus Melanositik sejak lahir ditemukan pada satu persen anak di dunia dengan ukuran bervariasi. Salah satu varian nevus melanositik yang sangat jarang, berukuran sangat besar, yakni Nevus Melanositik Kongenital Raksasa (NMKR). Pada tulisan ini dilaporkan kasus NMKR disertai kelainan kongenital ekstremitas. Seorang bayi perempuan lahir di puskesmas dengan partus spontan dirujuk ke IGD, 3-4 jam setelah lahir. Terdapat bercak hitam di area perut, punggung, dan paha. Didapatkan juga perbedaan panjang tungkai, serta hanya ada 3 jari di kaki kanan. Tatalaksana diberi pelembap. Kasus ini jarang; diperlukan konsultasi dan observasi teratur untuk meningkatkan dan memperpanjang harapan hidup.Melanocytic Nevus since birth is found in one percent of children in the world with variable severity. One of the rare variant is very large melanocytic nevus variant called Giant Congenital Melanocytic Nevus (GCMN). This paper reported a case of GCNM accompanied with congenital abnormalities of the extremities. A baby girl who was born spontaneously in a clinic, was referred to the emergency department about 3-4 hours after her birth. The abnormalities were black spots in the abdominal area, back, and thighs. The patient also had different length of legs differences with only 3 toes on right foot. The patient was given moisturizer. GCMN case accompanied with congenital limb abnormalities is rare; regular consultation and observation are required to improve and prolong survival.
GAMBARAN KADAR HIDRASI KULIT DAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PETUGAS KEBERSIHAN DI UNIVERSITAS TARUMANAGARA Indi Chairunnisa; Linda Julianti Wijayadi; Sari Mariyati Dewi Nataprawira
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.194 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8036

Abstract

Irritant contact dermatitis (DKI) is a non-immunologic skin inflammation reaction caused by contact with irritants. A janitor is a worker who does a lot of wet work that will repeatedly contact with irritants such as acids, bases, detergents, soap, water, solvents, etc., so that there will be damage to the skin barrier function that starts with loss of the lipid layer and Natural Moisturizing Factor (NMF) so it will reduce skin hydration levels and increase TransEpidermal Water Loss (TEWL). This makes the skin condition becomes dry and the skin defense decreases so that it is easier for DKI. The purpose of this study was to determine the description of skin hydration levels and the incidence of irritant contact dermatitis in janitors at Tarumanagara University. This research is descriptive with a cross-sectional design. A total of 60 people from the janitor became the subject of research. The level of skin hydration is measured by a chronometer. The incidence of DKI in the cleaning staff at Tarumanagara University was 10%, the level of skin hydration in the janitor at Tarumanagara University found hydration levels of dry skin on the right palm (76.7%), left palm (76.7%), back of the hand right (56.7%), and back of the left hand (56.7%). In subjects who experience DKI, levels of hydration of very dry skin on the palm (left-right) and hydration of dry skin on the back of the hand (left-right), and the factors that influence the occurrence of DKI are: gender (female), frequency of washing hands with soap per day, frequency and duration of contact with toilet and floor cleaning products per day and the use of personal protective equipment (PPE), and so it is recommended that cleaners always use PPE when working to prevent DKI and use moisturizers on dry skinABSTRAK:Dermatisis kontak iritan (DKI) adalah suatu reaksi peradangan kulit non-imunologik yang disebabkan oleh kontak dengan bahan iritan. Petugas kebersihan merupakan pekerja yang banyak melakukan pekerjaan basah yang  akan kontak berulang dengan bahan iritan seperti asam, basa, detergen, sabun, air, pelarut, dll, sehingga akan terjadi kerusakan fungsi sawar kulit yang dimulai dengan kehilangan lapisan lipid dan Natural Moisturizing Factor (NMF) sehingga akan menurunkan  kadar hidrasi kulit dan meningkatkan TransEpidermal Water Loss  (TEWL). Hal tersebut membuat kondisi kulit menjadi kering dan pertahanan kulit menurun sehingga lebih mudah terjadi DKI. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kadar hidrasi kulit dan kejadian dermatitis kontak iritan pada petugas kebersihan di Universitas Tarumanagara. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Sejumlah 60 orang dari petugas kebersihan menjadi subjek penelitian. Kadar hidrasi kulit diukur dengan alat korneometer. Angka kejadian DKI pada petugas kebesihan di Universitas Tarumanagara sebesar 10 %, Kadar hidrasi kulit pada petugas kebersihan di Universitas Tarumanagara didapatkan kadar hidrasi kulit  kering pada telapak tangan kanan (76,7%), telapak tangan kiri (76,7%), punggung tangan kanan (56,7%), dan punggung tangan kiri (56,7%). Pada subjek yang mengalami DKI didapatkan kadar hidrasi kulit sangat kering pada telapak tangan(kiri-kanan) dan hidrasi kulit kering  pada punggung tangan (kiri-kanan), dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian DKI adalah: jenis kelamin (perempuan), frekuensi cuci tangan dengan sabun per hari, frekuensi dan lama kontak dengan produk pembersih toilet maupun lantai per hari dan penggunaan alat pelindung diri (APD), dan sehingga disarankan agar petugas kebersihan selalu memakai APD dengan lengkap saat bekerja untuk mencegah DKI dan menggunakan pelembab pada kulit yang kering
Uremic Frost - Kelainan Kulit pada Gagal Ginjal Kronis Nathasia -; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1197

Abstract

Uremic frost merupakan kelainan kulit yang jarang, karena ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik yang belum menjalani hemodialisis. Kelainan ini ditandai dengan lapisan putih kekuningan akibat kristal urea yang mengendap di permukaan kulit. Seorang wanita 44 tahun datang dengan keluhan utama kulit kering, bersisik, dan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan. Pasien baru didiagnosis gagal ginjal kronis. Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan makula hiperpigmentasi, berbatas tegas, multipel, ukuran lentikular-plakat dan krusta putih kekuningan. Tatalaksana dermatologi uremic frost adalah dengan pelembap dan antihistamin oral, pengobatan lebih lanjut untuk penyakit ginjal penyakit ginjal yang mendasari.Uremic frost is a rare skin disorder, found in chronic kidney failure patients who have not undergone hemodialysis. This disorder is characterized by yellowish white layer on the skin surface due to urea crystals. A 44-year-old female patient presented with dry, scaly, and itchy skin on the whole body in the last 1 month. The patient has just been diagnosed with chronic kidney failure. Dermatological examination revealed hyperpigmented macules, well-defined, multiple, lenticular-placard size and also a yellowish-white crust. Management in dermatology is with moisturizers and oral antihistamines, further treatment should be given to underlying kidney disease.
Nevus Melanositik Kongenital Raksasa dan Kelainan Kongenital Ekstremitas pada Bayi Baru Lahir Cayadi Sidarta Antonius; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1261

Abstract

Nevus Melanositik sejak lahir ditemukan pada satu persen anak di dunia dengan ukuran bervariasi. Salah satu varian nevus melanositik yang sangat jarang, berukuran sangat besar, yakni Nevus Melanositik Kongenital Raksasa (NMKR). Pada tulisan ini dilaporkan kasus NMKR disertai kelainan kongenital ekstremitas. Seorang bayi perempuan lahir di puskesmas dengan partus spontan dirujuk ke IGD, 3-4 jam setelah lahir. Terdapat bercak hitam di area perut, punggung, dan paha. Didapatkan juga perbedaan panjang tungkai, serta hanya ada 3 jari di kaki kanan. Tatalaksana diberi pelembap. Kasus ini jarang; diperlukan konsultasi dan observasi teratur untuk meningkatkan dan memperpanjang harapan hidup.Melanocytic Nevus since birth is found in one percent of children in the world with variable severity. One of the rare variant is very large melanocytic nevus variant called Giant Congenital Melanocytic Nevus (GCMN). This paper reported a case of GCNM accompanied with congenital abnormalities of the extremities. A baby girl who was born spontaneously in a clinic, was referred to the emergency department about 3-4 hours after her birth. The abnormalities were black spots in the abdominal area, back, and thighs. The patient also had different length of legs differences with only 3 toes on right foot. The patient was given moisturizer. GCMN case accompanied with congenital limb abnormalities is rare; regular consultation and observation are required to improve and prolong survival.
Buschke-Lowenstein tumour (BLT)/giant condyloma acuminatum (GCA): an immunopathogenesis insight Paulus Mario Christopher; Hartono Kosim; Ratna Sari Wijaya; Silvi Suhardi; Linda Julianti Wijayadi
Bali Dermatology and Venereology Journal Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : DiscoverSys Inc

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/bdv.v%vi%i.27

Abstract

Buschke Lowenstein tumor (BLT)/giant condyloma acuminatum is a rare variant of a sexually transmitted infection caused by human papillomavirus (HPV) type 6 and 11. HPV has its viral factors that exist to avoid immune surveillance and control through 1) infecting only the basal layer of the epithelium, 2) downregulation of host immunity, 3) suppression of proinflammatory proteins essential for viral clearance. The incidence of BLT/GCA is estimated to be 0.1% in the general population, with males having 2.7 times increased risk than females. A BLT/GCA is characterized by verrucous tumor or palpable cauliflower-likemass, exophytic growth, flesh-colored, and uneven surface. The definitive diagnosis of BLT/GCA is typical morphology along with histopathological examination, and/or viral serotyping. Treatment of BLT/GCA requires a multidisciplinary approach, determined based on age, the extent of the lesion, organ involvement, and organ location.
Perbandingan kadar glutation (GSH) pada kasus akne vulgaris derajat ringan: Kajian terhadap premenstrual acne flare Annisaa Nurrahma Ardyati; Linda Julianti Wijayadi; Frans Ferdinal; David Limanan; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2508

Abstract

Akne vulgaris (AV) adalah penyakit peradangan menahun pada folikel pilosebasea yang dihasilkan oleh androgen yang menginduksi peningkatan produksi sebum, perubahan keratinisasi, inflamasi, dan kolonisasi bakterial pada wajah, leher, dada dan punggung oleh Propionibacterium acnes. Premenstrual Acne Flare adalah perburukan keluhan AV atau ditemukannya kenaikan jumlah petanda AV seminggu sebelum menstruasi. ROS menyebabkan terjadinya proses inflamasi yang menginduksi iritasi kulit. Ketika produksi ROS melampaui kapasitas antioksidan dalam menetralisirnya, terjadilah kondisi yang disebut stres oksidatif. Glutation (GSH) merupakan antioksidan yang berperan berperan penting secara biologis untuk melindungi organisme dari kerusakan oksidatif oleh ROS. Rasio GSH adalah penentu utama dalam stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kadar GSH dalam kaitannya terhadap premenstrual acne flare. Subjek penelitian (SP) berusia 18-21 tahun dibagi menjadi 2 kelompok (n=8/kelompok): kelompok AV derajat ringan dengan dan tanpa premenstrual acne flare. Pengukuran kadar GSH darah dengan menggunakan metode Ellman pada hari ke-1 dan hari ke-21 siklus menstruasi. Penelitian menunjukkan terjadinya penurunan kadar GSH darah pada hari ke-21 siklus menstruasi. Terjadi perbedaan bermakna (p<0,05) SP pada hari ke-1 siklus menstruasi dengan premenstrual acne flare lebih rendah daripada SP tanpa premenstrual acne flare. Serta terdapat hubungan yang tidak signifikan (R2 = >0 - 0.25 dan p>0.05) antara kadar GSH darah pada SP tanpa dan dengan premenstrual acne flare pada hari ke-1 dan hari ke-21 siklus menstruasi. Dapat disimpulkan bahwa GSH masih mampu melawan prooksidan yang ada, namun pada hari ke-21 siklus menstruasi kapasitas GSH telah terlampaui sehingga kondisi yang disebut stress oksidatif.
Karakteristik kadar hidrasi kulit pada lansia di Panti Wreda Kristen Hana: Kajian terhadap pruritus Alvin Rinaldo; Linda Julianti Wijayadi; Sari Mariyati Dewi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3823

Abstract

Penuaan ialah proses degenerasi yang dialami oleh semua makhluk hidup, termasuk manusia. Setiap bagian tubuh manusia akan mengalami penuaan, termasuk kulit. Kulit akan mengalami penurunan produksi sebum, produksi keringat dan fungsi sawar kulit seiring bertambahnya usia. Penurunan tersebut akan mengakibatkan terjadinya kulit kering atau Xerosis. Xerosis akan memicu terjadinya keluhan pruritus. Pruritus merupakan gejala kulit tersering yang dialami oleh lansia. Pruritus kronik yang tidak ditangani dengan baik, akan mengganggu kualitas hidup seseorang. Beberapa faktor lain seperti jumlah asupan cairan, mandi, kebiasaan penggunaan sabun mandi antiseptik, pajanan sinar matahari, penggunaan pelembab, penyakit sistemik dan penggunaan obat-obatan sistemik juga berpengaruh terhadap keluhan pruritus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kadar hidrasi kulit pada lansia yang mengalami pruritus dan tidak, yang selanjutnya diharapkan dapat menjadi acuan untuk penelitian lainnya. Kadar hidrasi kulit diukur menggunakan korneometer. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang. Sejumlah 79 lansia dari penghuni panti menjadi subjek penelitian. Kadar hidrasi kulit lansia yang mengalami pruritus lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak mengalami pruritus. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik dengan uji t tidak berpasangan (sig 2-Tailed<0,01) antara kadar hidrasi kulit kelompok lansia yang mengalami keluhan pruritus dan yang tidak mengalami keluhan pruritus, sehingga penggunaan pelembab dapat disarankan pada kulit lansia yang kering untuk mencegah dan mengurangi keluhan pruritus.
Perbandingan kadar malondialdehid pada kasus akne vulgaris derajat ringan: Kajian terhadap premenstrual acne flare Karinnia Karinnia; Linda Julianti Wijayadi; Frans Ferdinal; David Limanan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3835

Abstract

Akne Vulgaris (AV) adalah suatu kelainan multifaktorial pada unit pilosebaseus, ditandai dengan komedo; papul; pustula; kista; dan nodul. Akne vulgaris diklasifikasikan menjadi derajat ringan, sedang, dan berat berdasarkan jumlah dan jenis lesinya. Stres oksidatif (SO) berperan dalam patogenesis AV dan kadarnya meningkat sesuai derajat keparahan AV. Malondialdehid (MDA) yaitu hasil proses degenerasi lemak tak jenuh ganda merupakan petanda SO yang paling sering digunakan. Selama 2/3 siklus menstruasi yaitu pada hari ke-9 sampai hari ke-24, wanita mengalami SO. Hal ini mungkin berkaitan dengan premenstrual acne flare yang paling sering terjadi saat seminggu sebelum menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kadar MDA yang dikaitkan dengan ada tidaknya premenstrual acne flare. Subjek penelitian berusia antara 18-21 tahun dan memiliki AV derajat ringan, dibagi menjadi dua kelompok (n=12/kelompok): kelompok dengan dan tanpa premenstrual acne. Pada kedua kelompok dilakukan pengukuran kadar MDA menggunakan metode Wills ED pada hari ke-1 dan hari ke-21 siklus menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan kadar MDA pada kelompok dengan premenstrual acne flare lebih tinggi daripada kelompok tanpa premenstrual acne flare meskipun tidak bermakna secara statistik. Terdapat hubungan yang signifikan (R2= 0,4161 dan p<0,05) serta hubungan yang tidak signifikan (R2= 0,3065 dan p>0,05) antara kedua kelompok berturut-turut pada hari ke-1 serta hari ke-21 siklus menstruasi. Hal ini menandakan terdapat faktor yang sama yang dapat mempengaruhi kadar MDA pada kedua kelompok subyek penelitian.