Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Function after Wrist Arthrodesis with Non-Vascularized Fibular Graft in Distal Radius Giant Cell Tumor: Case Series
Heru Rahmadhany
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 1 (2022): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v49i1.1642
Giant cell tumor (GCT) of bone, the most common benign locally aggressive bone tumor, accounts for 4% to 5% of all primary bone neoplasmsand 20% of benign bone tumors. The distal radius is the third commonest site of involvement in about 10% of GCT cases. Due to the highrecurrence rate after curettage of the more progressed lesions, most surgeons prefer en bloc resection followed by reconstruction. Cases: Threedistal radius GCT Campanacci III cases underwent en bloc resection and wrist arthrodesis with non-vascularized fibular graft. The mean follow-upperiod was nine months (6-12 months). Patients were evaluated with the Disabilities of the Arm, Shoulder, and Hand (DASH) Score. Results: Unionhad been achieved in 2 patients, and implant removal was done. One patient needs cancellous bone grafting after implant removal—no sign ofrecurrence after one year. DASH score showed moderate disability. Conclusion: Autogenous non-vascularized fibular graft reconstruction canbe considered a reasonable option after en bloc resection of distal radius GCT. Giant Cell Tumor (GCT) adalah tumor tulang jinak yang paling sering dijumpai, bersifat agresif secara lokal, merupakan 4-5% dari seluruhneoplasma tulang primer dan 20% dari seluruh tumor tulang jinak. Radius distal merupakan lokasi GCT terbanyak ketiga, mencakup 10% kasusGCT. Mengingat tingginya rekurensi setelah prosedur kuretase, lebih disukai reseksi en bloc diikuti rekonstruksi. Kasus: Tiga pasien GCT padaradius distal (Campanacci III) menjalani reseksi en bloc disertai arthrodesis pergelangan tangan. Follow-up rata-rata selama 9 bulan (range 6-12bulan). Pasien dinilai menggunakan skor Disabilities of the Arm, Shoulder, and Hand (DASH). Hasil: Union tulang tercapai pada 2 pasien, dan implantelah dicabut. Satu pasien membutuhkan graft dari tulanag cancellous setelah pencabutan implan. Tidak didapatkan rekurensi pada periodefollow-up satu tahun. Skor DASH menunjukkan disabilitas sedang pada ketiga pasien. Simpulan: Prosedur rekonstruksi menggunakan nonvascularized fibular graft baik dilakukan setelah reseksi en bloc pada pasien GCT radius distal.
Evaluasi Nyeri Kepala pada Anak dan Remaja
Aurelia Vania;
Audrey -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i2.354
Nyeri kepala sering ditemukan pada anak dan remaja dan sering dikhawatirkan orang tua; memiliki beberapa karakteristik unik. Nyeri kepala dapat primer atau sekunder (sebagai salah satu gejala dari penyakit tertentu). Evaluasi meliputi pengumpulan informasi riwayat nyeri kepala secara menyeluruh, pemeriksaan fisik umum dan neurologis, dan pemeriksaan neuroimaging serta pemeriksaan penunjang lainnya sesuai indikasi. Evaluasi bertahap dan komprehensif diperlukan untuk melakukan identifikasi penyebab dan memulai penanganan berdasarkan penyebab dan tipe nyeri kepala.Headache is a common problem in children and adolescents and sometimes is worrisome for parents. Pediatric headache can be divided into primary and secondary headache (as a symptom of underlying disease). Children and adolescents headache has some unique characteristics. Evaluation should include complete history taking, general physical and neurologic examinations, neuroimaging, and other additional examinations as indicated. A stepwise and comprehensive approach to the evaluation of headache is needed to identify the causes of headache and start the treatment based on the etiologies and headache types.
Anisometropia
Monica Djaja Saputera
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i10.873
Anisometropia merupakan gangguan penglihatan akibat perbedaan kekuatan refraksi antara mata kanan dan kiri lebih dari 1.00 D. Angka kejadian anisometropia disertai amblyopia adalah 47.6%, sedangkan angka kejadian anisometropia disertai strabismus adalah sebesar 9.5%. Deteksi dini anisometropia adalah pemeriksaan tajam penglihatan, uji aniseikonia, Worth four dots test, Hirschberg test, dan cover and uncover test. Sedangkan penanganan anisometropia adalah penggunaan lensa kacamata, lensa kontak, dan pembedahan.Anisometropia is due to more than 1.00 D difference in refractive power between right and left eye ; 47.6% anisometropia cases are accompanied by amblyopia, while 9.5% are accompanied by strabismus.Early detection of anisometropia is eyesight examination, aniseikonia test, Worth four dots tests, Hirschberg test, and cover and uncover test. Anisometropia is treted with lens glasses, contact lenses, and surgery.
Pelayanan Estetika oleh Dokter Umum
Mahesa Paranadipa M.
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i6.474
Di dalam Undang-Undang No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yang dimaksud profesi kedokteran adalah suatu pekerjaan kedokteran atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat.
Biosimilar Drugs
L K Mela Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 9 (2018): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i9.613
Biological medicines are medicines that are made or derived from a biological source and as such are complex molecules, with inherent variability in their structure. A biosimilar medicine is a biological medicine which is highly similar to another biological medicine already licensed for use. It is a biological medicine which has been shown not to have any clinically meaningful differences from the originator biological medicine in terms of quality, safety, and efficacy based on a comprehensive comparability exercise. Biologic products are widely used in treatment for neutropenia, cancer, inflammatory and autoimmune diseases, and enzyme or hormone deficiencies.Obat-obatan biologis adalah obat-obatan yang dibuat atau berasal dari sumber biologis dan merupakan molekul kompleks, dengan variabilitas yang melekat pada strukturnya. Obat biosimilar adalah obat biologi yang sangat mirip dengan obat biologis lain yang sudah berlisensi untuk digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa obat biologis terbukti tidak memiliki perbedaan bermakna secara klinis dari obat biologis pencetusnya dalam hal kualitas, keamanan, dan efikasi berdasarkan uji perbandingan secara komprehensif. Produk biologis banyak digunakan dalam pengobatan untuk neutropenia, kanker, penyakit inflamasi dan autoimun, dan enzim atau kekurangan hormon.
Terapi Antikoagulan pada COVID-19
Jane Cherub
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.1436
Coronavirus disease-2019 (COVID-19) yang disebabkan infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-CoV-2) terutama bermanifestasi sebagai infeksi pernapasan, dengan salah satu komplikasi gangguan pembekuan darah yang dapat menyebabkan kesakitan hingga kematian. Dijumpai aktivasi kaskade koagulasi tidak terkontrol akibat berbagai efek sitokin proinflamasi yang dapat menyebabkan koagulopati konsumtif termasuk sepsis induced coagulopathy (SIC) dan disseminated intravascular coagulation (DIC). Fondaparinux dapat menjadi alternatif untuk pasien COVID-19 rawat inap. Tromboprofilaksis extended dengan LMWH atau direct oral anticoagulants (DOAC) harus dipertimbangkan pada pasien COVID-19 dengan risiko perdarahan rendahCoronavirus disease-2019 (COVID-19) caused by Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus 2 (SARS-CoV-2) mainly manifests as a respiratory infection, with complications of blood clotting disorders in severe infection which can cause severe illness to death. Uncontrolled activation of the coagulation cascade due to various effects of proinflammatory cytokines can result inconsumptive coagulopathy. Coagulation disorders can occur including sepsis-induced coagulopathy (SIC) and disseminated intravascular coagulation (DIC). Unfractionated heparin (UFH) and lowmolecular-weight heparin (LMWH) are widely used in the management of COVID-19 patients. Fondaparinux may be an alternative. Extended thromboprophylaxis with LMWH or direct oral anticoagulants (DOAC) with a low risk of bleeding should be considered in COVID-19patients.
Infeksi Virus Herpes Simpleks dan Komplikasinya
Eppy -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i6.766
Infeksi HSV disebabkan oleh HSV-1 dan HSV-2. Sekitar 80% infeksi HSV asimtomatik, dan 20% sisanya simtomatik dengan morbiditas dan rekurensi yang bermakna. Penyakit ini ditularkan melalui kontak personal erat. Pada umumnya, infeksi HSV-1 akan menimbulkan penyakit orofasial, sedangkan infeksi HSV-2 penyakit genital. Pada orang imunokompromais, infeksi HSV dapat menimbulkan komplikasi berbahaya. Penatalaksanaan utama adalah pemberian antiviral. Pencegahan sulit karena umumnya ditularkan oleh pasien asimtomatik melalui sekresi virus dalam saliva atau cairan vaginaHSV infections are caused by HSV-1 and HSV-2. As many as 80% are asymptomatic, and the remaining 20% are symptomatic with significant morbidity and recurrence. The disease is transmitted through close personal contact. HSV-1 generally will cause orofacial disease, whereas HSV-2 infection will cause genital disease. In immuno-compromised people, HSV infection can lead to dangerous complications. The main management with antiviral agents. Prevention is difficult because transmission is generally by asymptomatic patients through saliva or vaginal discharge.
Skrining dan Diagnosis Melanoma Kulit
Caryn Miranda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 4 (2020): Arthritis
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i4.388
Melanoma merupakan salah satu keganasan kulit yang paling berbahaya dan banyak menyebabkan kematian. Tanpa skrining dan diagnosis dini, tindakan preventif akan sangat sulit, sehingga akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas.Melanoma is one of the most dangerous skin malignancies and cause many death. Without early screening and diagnosis, preventive measures will be very difficult and may increase morbidity and mortality.
Faktor-faktor Prognostik Bangkitan Neonatus
Scorpicanrus Tumpal Andreas;
Ida Bagus Eka Utama
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 9 (2020): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.910
Bangkitan neonatus (neonatal seizures) sangat berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas di ruang perawatan perinatologi. Mekanisme penting bangkitan neonatus antara lain: peningkatan eksitabilitas, penurunan efektivitas inhibisi neurotansmiter pada otak imatur, konfigurasi kanal ion, peranan neuropeptida. Penyebab merupakan faktor utama prognosis. Berat badan lahir, skor APGAR, pemeriksaan neurologis saat bangkitan, ultrasonografi otak (USG), keberhasilan terapi antikonvulsan dan adanya status epileptikus juga mempengaruhi prognosis.Neonatal seizures were strongly associated with perinatal mortality and morbidity. Mechanisms of neonatal seizures include increased neonatal excitability, reduced effectiveness of neurotransmitter inhibition in immature brain, ion channel configuration, role of neuropeptides. Etiology was a major factor in prognosis. Besides birth weight, APGAR score, neurological examination during seizures, brain ultrasonography (USG), anticonvulsant therapy and the presence of status epilepticus affect the prognosis.
Sindrom Rubela Kongenital
Ruby Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i3.508
Sindrom rubela kongenital (SRK) adalah kondisi bayi baru lahir dengan berbagai defek akibat infeksi virus rubela selama awal kehamilan. Gejala klasik SRK yaitu tuli, katarak, dan penyakit jantung bawaan. Diagnosis ditegakkan saat baru lahir, melalui anamnesis, pemeriksaan fisik awal mata dan pendengaran, serta pemeriksaan antibodi terhadap rubela pada bayi asimptomatik. Tatalakasana suportif dan perawatan multidispilin jangka panjang. Pencegahan dengan vaksinasi ibu sebelum kehamilan.Congenital rubella syndrome (CRS) is the condition of a newborn with various defects caused by rubella virus during early pregnancy. The classic symptoms of CRS are deafness, cataracts, and congenital heart disease. Diagnosis is made at birth through history, physical examination of the eyes and hearing, and examination of rubella antibodies in asymptomatic infants. Treatment is supportive with long-term multidiscipline management. Prevention can be done by vaccination to mothers before pregnancy.