Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Kadar Asam Urat Berkorelasi dengan Kadar Hemoglobin Terglikolisasi (HbA1c) Pasien Diabetes Melitus tipe 2
Arfandhy Sanda;
Fitriani Mangarengi;
Ruland DN Pakasi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i6.650
Latar Belakang: Beberapa studi menunjukkan peranan asam urat dalam progresivitas prediabetes menuju diabetes. Tujuan : mengetahui hubungan kadar asam urat serum dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2 di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Metode: Penelitian retrospektif observasional cross sectional menggunakan data sekunder 107 pasien DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani pengobatan di poliklinik dan perawatan Interna RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) periode Januari-Desember 2016. Uji normalitas data menggunakan uji Kolgomorov Smirnov dengan hasil tidak terdistribusi normal. Korelasi kadar asam urat dengan HbA1c dianalisis menggunakan uji Spearman dengan p-value<0,05. Hasil: Dijumpai korelasi positif signifikan antara kadar asam urat dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2 (r=0,229, p=0,018). Simpulan: Kadar asam urat serum memiliki korelasi positif dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2.Background: Some studies suggest the role of uric acid in progression of prediabetes to diabetes. Objective: To determine the correlation between uric acid serum and glycated haemoglobin (HbA1c) among type 2 Diabetes Mellitus patients in Wahidin Sudirohusodo Hospital. Method: A cross-sectional observational retrospective study conducted on 107 type 2 DM patients who fulfilled the inclusion criteria and underwent treatment at Wahidin Sudirohusodo Hospital during January-December 2016. Data is not normally distributed. The correlation of uric acid with HbA1c was analyzed using Spearman test with p-value <0.05. Result: A significant positive correlation between uric acid levels and HbA1c in patients with type 2 DM (r = 0.229, p = 0.018).
Tatalaksana Kista dan Abses Bartholin
Valentino Ryu Yudianto;
Jason Theola;
Kemal Akbar Suryoadji
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1472
Kista Bartholin merupakan pembesaran duktus kelenjar Bartholin akibat penyumbatan duktus kelenjar Bartholin. Abses Bartholin dapat terjadi pada kista Bartholin yang terinfeksi. Sekitar 2% wanita usia reproduktif mengalami kista/abses Bartholin. Hingga saat ini, masih belum terdapat konsensus manajemen kista dan abses Bartholin yang resmi. Tinjauan pustaka ini membahas berbagai pilihan tata laksana kista dan abses Bartholin secara komprehensif.Bartholin cyst is a cystic enlargement of Bartholin gland duct caused by an obstruction. Bartholin abscess may be caused by infection in Bartholin cyst or direct infection to the gland. About 2% of women in reproductive age have Bartholin cyst or abscess. There is no official consensus on the management of Bartholin cyst or abscess. This review discuss the options in comprehensive treatment of Bartholin cyst and abscess.
Update Tatalaksana Sepsis
Ivan Aristo Suprapto Putra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.411
Pembaharuan definsi dan kriteria sepsis dari menggunakan istilah Sindrom Respon Inflamasi Sistemik (SIRS) menjadi Sequential Organ Failure Asessment (SOFA); SOFA merupakan kriteria penilaian kerusakan organ. SOFA score ≥2 dan qSOFA ≥2 menunjukkan sepsis. Manajemen resusitasi awal sepsis meliputi : resusitasi cairan awal, pemberian antibiotik spektrum luas, kultur darah dan pengukuran kadar laktat.Renewal of definitions and sepsis criteria from Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) to Sequential Organ Failure Assessment (SOFA); SOFA is a criterion to assess organ damage. SOFA score ≥2 and qSOFA ≥2 indicate sepsis. Early resuscitation management consist of initial fluid resuscitation, broad-spectrum antibiotics, blood culture and measurement of lactate levels.
Acne: Pathophysiology and Management
Elvira -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i1.531
Acne is a common multifactorial inflammatory condition of the pilosebaceous follicle. Topical therapy is the first-line therapy with adjunct systemic therapy if results are unsatisfactory. Oral antibiotic, oral contraception pill or isotretinoin are indicated for inflammatory acne. Since the use topical and systemic treatments might be limited in some patients, several laser and other light sources have been developed to treat acne by decreasing the level of P. acnes or decreasing the function of the sebaceous unit. This article reviews the management strategy of acne.Acne merupakan kondisi inflamasi multifaktorial dari folikel polisebaseus. Kalsifikasi acne berdasarkan derajat keparahan ringan, sedang dan berat. Terapi topikal menjadi pilihan utama dengan tambahan terapi sistemik bila hasil belum maksimal. Terapi topikal satu jenis obat dan kombinasi seperti benzoyl peroxide, antibiotik dan retinoid telah dijual bebas. Antibiotik oral, pil kontrasespi atau isotretinoin diindikasikan unutk acne yang disertai inflamasi. Karena beberapa pasien tidak toleran dengan terapi topikal dan sistemik, terapi cahaya dan laser dikembangkan untuk menurunkan jumlah P. acnes dan menurunkan fungsi kelenjar sebaseus. Artikel ini membahas strategi penanganan acne.
Uremic Frost - Kelainan Kulit pada Gagal Ginjal Kronis
Nathasia -;
Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1197
Uremic frost merupakan kelainan kulit yang jarang, karena ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik yang belum menjalani hemodialisis. Kelainan ini ditandai dengan lapisan putih kekuningan akibat kristal urea yang mengendap di permukaan kulit. Seorang wanita 44 tahun datang dengan keluhan utama kulit kering, bersisik, dan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan. Pasien baru didiagnosis gagal ginjal kronis. Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan makula hiperpigmentasi, berbatas tegas, multipel, ukuran lentikular-plakat dan krusta putih kekuningan. Tatalaksana dermatologi uremic frost adalah dengan pelembap dan antihistamin oral, pengobatan lebih lanjut untuk penyakit ginjal penyakit ginjal yang mendasari.Uremic frost is a rare skin disorder, found in chronic kidney failure patients who have not undergone hemodialysis. This disorder is characterized by yellowish white layer on the skin surface due to urea crystals. A 44-year-old female patient presented with dry, scaly, and itchy skin on the whole body in the last 1 month. The patient has just been diagnosed with chronic kidney failure. Dermatological examination revealed hyperpigmented macules, well-defined, multiple, lenticular-placard size and also a yellowish-white crust. Management in dermatology is with moisturizers and oral antihistamines, further treatment should be given to underlying kidney disease.
Necrotizing Enterocolitis pada Neonatus Prematur dan Suplementasi Probiotik
Handoyo -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i5.684
Necrotizing enterocolitis (NEC) adalah kegawatdaruratan yang mematikan dan sering ditemukan pada bayi prematur atau berat badan lahir rendah. Patogenesis penyakit ini belum jelas dan dipengaruhi banyak faktor. Diduga faktor risiko utama NEC adalah prematuritas, kolonisasi bakteri di usus, dan pemberian susu formula. Ketidakseimbangan flora komensal pada saluran cerna bayi prematur menjadi dasar pertimbangan pemberian probiotik untuk mencegah NEC. Tinjauan pustaka ini mengulas studi pemberian probiotik untuk mencegah NEC pada neonatus prematur.Necrotizing enterocolitis (NEC) is a severe emergency condition mostly found in preterm or low birth weight infants. The pathogenesis is not well understood and affected by many factors. Suggested risk factors are prematurity, intraluminal colonization of pathogen, and formula milk feeding. Commensal gut bacteria imbalance in premature infant is the reason to give probiotics to prevent NEC. This article reviews studies on probiotic supplementation in preterm neonates to prevent NEC.
Injeksi Botulinum untuk Tatalaksana Overactive Bladder
Daniel Mahendra Krisna;
Akhada Maulana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i5.676
Overactive Bladder (OAB) adalah kelainan yang berkaitan dengan gangguan berkemih, baik disertai inkontinensia atau tidak, dibuktikan tidak ada infeksi atau kelainan patologis yang mendasari. OAB dapat mengenai semua usia dan sangat mengganggu kualitas hidup. Tatalaksana OAB meliputi terapi perilaku dan medikamentosa sebagai lini pertama, tetapi ketidakpatuhan dan efek samping sering menyebabkan kegagalan. Injeksi botulinum menghambat pelepasan neurotransmitter, sehingga dapat menurunkan kontraksi otot polos, dapat dipertimbangkan sebagai tatalaksana lini pertama.Overactive bladder (OAB) is a urinary urgency, with or without urinary incontinence, without proven infection or other obvious pathology. OAB affects quality of life. The first-line treatment consists of combination of behavioural therapy and drugs, but failure is high due to side effects and noncompliance. Botulinum injection is an optional therapy that should be considered as a first line therapy. Its mechanism is to inhibit neurotransmitter release to reduce smooth muscle contractility.
Peran Vitamin D pada Fungsi Sawar Permeabilitas Kulit
Nita Damayanti
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i10.1515
Salah satu fungsi utama kulit adalah membentuk sawar antara tubuh dan lingkungan eksternal. Fungsi sawar permeabilitas kulit salah satunya dipertahankan dengan proses diferensiasi dan proliferasi keratinosit pada lapisan epidermis. Efek vitamin D pada kulit termasuk memengaruhi proliferasi, diferensiasi, apoptosis keratinosit. Defisiensi serta kelainan aktivasi dan metabolisme vitamin D menyebabkan defek fungsi sawar permeabilitas kulit. Makalah ini membahas epidermis sebagai sawar permeabilitas kulit dan peran vitamin D pada sawar permeabilitas kulit.One of the skin’s main functions is to form a protective barrier towards external environment. The protective function is maintained by differentiation and proliferation of keratinocytes in the epidermal layer. Vitamin D effects on the skin include proliferation, differentiation and apoptosis of keratinocyte. Deficiency and abnormalities of vitamin D activation and metabolism impair skin’s function as permeability barrier. This paper discusses the epidermis as permeability barrier and the role of vitamin D in the skin permeability barrier.
Miomektomi saat Seksio Sesaria - Safe Procedure
Alfi Rustina Yuniati;
Tiarma Uli Pardede;
Sanny Santana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 2 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i2.822
Kehamilan pada mioma berhubungan dengan komplikasi kebidanan seperti gangguan pertumbuhan janin, gangguan letak, kontraksi prematur sampai perdarahan potpartum. Tindakan miomektomi saat seksio sesarea masih sering dikhawatirkan karena menimbulkan risiko perdarahan dan ganguan involusi uterus. Dilaporkan tiga kasus kehamilan dengan mioma uteri multipel di RS Kepresidenan Gatot Soebroto, pada ketiganya dilakukan seksio sesarea elektif atas indikasi gangguan letak dilanjutkan dengan miomektomi secara aman. Hal tersebut dimungkinkan karena mioma sudah dideteksi selama antenatal care, kemudian dilakukan persiapan perioperatif, tim operator, dengan teknik operasi yang tepat.Pregnancy with myoma are associated with obstetric complications such as impaired fetal growth, fetal position disorders, premature contractions and postpartum haemorrhage. Myomectomy during cesarean section raises the risk of bleeding and uterine involution disorders. This is the report of three cases of multiple myoma in pregnancy in Gatot Soebroto Presidency Hospital. Caesarean sections were performed electively due to fetal position disorder and directly followed with myomectomy. The procedure was safely done because the myoma was detected during antenatal care, and with good perioperative preparation, team work, and proper techniques.
Sindrom Balint
Hanna Karmila;
Leonirma Tengguna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i11.563
Sindrom Balint disebabkan lesi bilateral pada perbatasan lobus parieto-oksipital dengan trias gejala utama simultanagnosia, ataksia optik, dan apraksia okular. Berbagai faktor penyebab adalah stroke, trauma kepala, tumor otak. Sindrom Balint terkadang salah didiagnosis sebagai kelainan visus; diperlukan pendekatan teliti agar penatalaksanaan tepat.Balint syndrome is a disorder of simultanagnosia, optic ataxia, and ocular apraxia that typically results from bilateral parieto-occipital lesions. Many causal factors are stroke, traumatic brain injury, tumor, etc. Balint syndrome sometimes is misdiagnosed as disorder of visual acuity; detailed approach is necessary to identify the etiology and provide the best treatment.