Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Infeksi Jamur Oportunistik Pneumocystis jirovecii
Conny Riana Tjampakasari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i12.552
Pneumocystis jirovecii (P. jirovecii) sebelumnya dikenal sebagai Pneumocystis carinii f. sp. hominis diketahui sebagai penyebab infeksi oportunistik saluran pernapasan bawah pada individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, terutama penderita infeksi HIV. PjP terdistribusi di seluruh dunia dan dapat menyerang berbagai usia. P. jirovecii mempunyai beberapa faktor virulensi antara lain major surface glycoprotein (MSG), DHPS (dihidropteroat sintase) dan mtLSU (mitochondrial large subunit). Diagnosis PjP mengandalkan pemeriksaan mikroskopis dari berbagai spesimen saluran pernapasan. Metode lain adalah diagnosis molekular untuk deteksi dan karakterisasi DNA. Pengobatan lini pertama dengan kombinasi trimethoprim-sulfametoksazol (TMP-SMX). Beberapa negara termasuk Indonesia telah melaporkan beberapa genotipe resisten terhadap beberapa antibiotik. Penyebab resistensi dapat oleh pemakaian jangka panjang atau kesalahan deteksi karena seringkali gejala tidak khas.Pneumocystis jirovecii (P. jirovecii) previously known as Pneumocystis carinii f. sp. hominis are known to be the cause of opportunistic lower respiratory tract infections in individuals with decreased immunity, especially HIV infection. PjP is distributed throughout the world and can attack various ages. P. jirovecii has several virulence factors including major surface glycoprotein (MSG), DHPS (dihydropteroate synthase) and mtLSU (mitochondrial large subunit). Diagnosis of PjP relied on microscopic examination of various respiratory specimens. Another method is molecular diagnosis for detecting and characterizing DNA. The first-line treatment use trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX). Some countries including Indonesia have reported resistance to some antibiotics. It can be caused by long-term use or diagnostic error because of atypical symptoms.
Perkembangan Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Mycoplasma genitalium
Sylviany El Novita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1089
Mycoplasma genitalium adalah organisme penyebab infeksi menular seksual dengan prevalensi pada populasi risiko tinggi sekitar 10-41% pada laki - laki dan 7,3-14% pada perempuan. Mycoplasma genitalium menjadi penyebab sekitar 15-20% kasus uretritis non spesifik pada laki - laki dan 30% menyebabkan uretritis persisten atau rekuren. Infeksi M. genitalium dapat asimtomatik atau dengan gejala. Pada tahun 2019, US Food and Drug Administration menetapkan Aptima Mycoplasma genitalium Assay sebagai tes amplifikasi asam nukleat pertama yang diautorisasi untuk mendeteksi M. genitalium. Tes yang akurat dan spesifik berperan penting dalam pemilihan terapi, yang dapat membantu mengurangi penggunaan antibiotik berlebihan dan membantu melawan resistensi antibiotik.Mycoplasma genitalium is a sexually transmited bacterium with 10-41% prevalence in men and 7,3-14% in women in the high risk population. Mycoplasma genitalium is responsible for 15-20% non specific urethritis in men and cause of 30% persistent or recurrent urethritis. Aptima Mycoplasma genitalium Assay is the first FDA authorized nucleic acid amplification test to detect M.genitalium. Accurate and reliable tests to identify specific bacteria can lead to the appropriate treatment, reduce antibiotics overuse and antimicrobial resistance.
Managing Orthopaedic Care in New Normal Era at East Nusa Tenggara
Rusdianto IA;
Setiawan IMB
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1251
Until August 2020, more than 23 million cases were confirmed in the world while in Indonesia there were 157,859 confirmed and 112,867 cured cases. East Nusa Tenggara reported 171 cases with 149 recovered and 1 death. The Covid-19 pandemic is still accelerating at an alarming rate; healthcare workers are prone to the infection. In orthopaedic care, there are some major changes in outpatient care and perioperative management. This new regulation also affects patient care as a working hour is limited and some surgical procedures have to be delayed. By strictly adhered to new practices, we hope to achieve the new normal in which orthopaedic surgeons can safely treat emergency and non-emergency patients.Terhitung sampai Agustus 2020, terdapat lebih dari 23 juta kasus Covid-19 terkonfirmasi di dunia, sedangkan di Indonesia sebanyak 157.859 kasus terkonfirmasi dengan 112.867 orang sembuh. Di Nusa Tenggara Timur tercatat 171 kasus Covid-19 dengan 149 orang sembuh dan 1 kematian. Angka kejadian Covid-19 terus meningkat, dan petugas pelayanan kesehatan rentan terinfeksi Covid-19. Pelayanan ortopedi baik rawat jalan maupun rawat inap mengalami perubahan bermakna. Regulasi baru terkait pandemi berpengaruh terhadap pelayanan pasien karena jam kerja dan beberapa prosedur operasi harus ditunda. Dengan Adaptasi Kegiatan Baru (AKB), petugas kesehatan diharapkan dapat tetap memberikan pelayanan terbaik dan dokter bedah ortopedi dapat dengan aman merawat pasien darurat dan non-darurat.
Scabies: Treatment, Complication, and Prognosis
Reqgi First Trasia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 12 (2021): General Medicine
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i12.1575
Scabies is a skin infestation caused by Sarcoptes scabiei mite. In 2017, WHO included scabies in the list of neglected tropical diseases. Treatment of scabies is currently still problematic due to late diagnosis and not properly managed complications.Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Pada tahun 2017, WHO menggolongkan skabies dalam daftar penyakit tropis yang terabaikan. Pengobatan skabies saat ini masih bermasalah karena keterlambatan diagnosis. Komplikasinya pun tidak ditangani dengan baik.
Tatalaksana Penyakit Peyronie
Rahmat Husein
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i1.334
Penyakit Peyronie (PD) adalah kondisi adanya plak fibrotik di tunika albuginea penis. Prevalensi PD sekitar 3-9%; prevalensi aktual mungkin lebih tinggi. Sebagian besar kasus PD dapat memburuk. Dua pertiga pasien PD cenderung memiliki faktor risiko penyakit vaskuler dan dapat menyebabkan disfungsi ereksi (ED). Saat ini, tatalaksana non-bedah digunakan pada tahap akut PD, sedangkan opsi bedah dilakukan pada PD yang tidak dapat ereksi maksimal; dipertimbangkan jika terapi konservatif tidak mendapatkan hasil yang memuaskan selama minimal 1 tahun.Peyronie's disease (PD) is a penis condition characterized by fibrotic plaques in the tunica albuginea. The prevalence of PD 3-9%; the actual prevalence may be higher. In most cases, PD can worsen. Two thirds of PD patients have risk factors for vascular disease and can cause erectile dysfunction (ED). Currently, nonsurgical treatments are used for acute PD, whereas surgical options are reserved for established PD; it is considered if conservative therapy for at least 1 year is not satisfactory.
Penyakit Leiner: Tinjauan Imunologi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan
Jessica Angelina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i4.850
Penyakit Leiner adalah penyakit langka yang dapat mengancam nyawa. Faktor penyebab seperti defisiensi sistem imun (faktor komplemen) dalam opsonisasi jamur, diikuti infeksi sekunder yang meluas ke seluruh tubuh. Penyakit Leiner didefinisikan sebagai dermatitis seboroik berat dan meluas, terjadi pada awal kehidupan dan memerlukan penanganan khusus. Penyakit Leiner memiliki gejala klinis khas yaitu eritema universalis dan skuama kasar di seluruh tubuh, disertai diare dan gagal tumbuh. Penatalaksanaan lini pertama meliputi pemberian cairan untuk menghindari dehidrasi, emolien, dan salep kortikosteroid potensi lemah.Leiner disease is a rare and life-threatening condition. The causes are multifactorial, such as immune system deficiency (complement factor) in yeast opsonization, followed by secondary infection. Leiner disease is defined as severe infantile seborrhoeic dermatitis. Clinical manifestation is generalized eritema and scaly patches, followed by diarrhoea and failure to thrive. First-line therapy should include rehydration, emollients and topical low potential corticosteroid.
Peran Kopeptin Serum pada Anak dengan Pneumonia
Carolina -;
Wisman Dalimunthe
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i8.452
Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak. Kopeptin merupakan rantai glikopeptida-asam amino dari prekursor hormon vasopresin arginin (AVP) yang juga dikenal sebagai hormon anti diuretik (ADH). Pada anak dengan pneumonia, dijumpai peningkatan kadar kopeptin serum yang berhubungan dengan tingkat keparahan pneumonia dan komplikasinya. Penelitian lanjutan terkait peran kopeptin sebagai uji diagnostik dan prediktor prognostik pneumonia pada anak masih dibutuhkan.Pneumonia remains as the major cause of health problem in children. Copeptin is an amino acids-glycopeptides precursor of arginine vasopressin (AVP), also known as anti-diuretic hormone. Children with pneumonia have increased level of serum copeptin which correlates with the severity and complications of pneumonia. Further investigations regarding the role of copeptin as diagnostic test and predictor of prognostic in childhood pneumonia are warranted.
Dual Loyality (Loyalitas Ganda)
Mahesa Paranadipa M
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i10.592
Makin berkembangnya pemahaman individu akan hak-hak asasi yang dimiliki mendorong kebebasan untuk menuntut dan menjalankan hak-hak tersebut. Hak mendasar untuk memperoleh kesejahteraan menjadi dasar pula untuk memperoleh pekerjaan dan profesi yang diinginkan. Dalam memperoleh pekerjaan atau profesi tersebut, seseorang bisa menjalankan lebih dari satu pekerjaan atau profesi sekaligus.
Karakteristik Klinis Serta Pengaruh Reseptor ACE2 dan Sel Natural Killer Terhadap Gejala COVID-19 pada Anak
Giovanni Reynaldo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i3.1338
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, pertama kali dilaporkan di Wuhan, China pada Desember 2019. Gejala pada anak umumnya cukup ringan. Faktor yang bisa berperan yaitu usia di bawah 10 tahun, memiliki respon imun bawaan aktif dan saluran napas yang lebih sehat, paparan terhadap asap rokok dan polusi lebih rendah dibandingkan pada orang tua, serta imaturitas reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang merupakan tempat utama berikatan COVID-19. Faktor lain juga tingginya sel natural killer (NK).Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) caused by the SARS-CoV-2 virus was first reported in Wuhan, China in December 2019. Symptoms in children are generally mild. Factors that can contribute including innate immune response in children under 10 year-old, healthier airways, lower exposure to cigarette smoke and pollution compared to adult, and immaturity of the angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) receptor, the most frequent binding site for COVID-19. Another factor that can contribute is the high level of natural killer (NK) cells.
Membedakan Acute Fatty Liver of Pregnancy dan HELLP Syndrome
Nicholas Marco AH Hutauruk;
Wulan Ardhana Iswari;
Tiarma Uli Pardede;
Febriansyah Darus;
Bintari Puspitasari;
Sanny Santana;
Finekri Abidin;
Judi J Endjun
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i8.739
Sindrom HELLP dan Acute Fatty Liver of Pregnancy (AFLP) merupakan komplikasi berat kehamilan. Kedua kondisi ini dapat mengancam jiwa dan diagnosis awal amat penting untuk mencegah kematian. Gejala sindrom HELLP dan AFLP sekilas nampak sama, namun etio-patogenesis serta penanganan keduanya berbeda. Pembahasan kasus ini bermaksud mengingatkan klinisi agar mempertajam diagnosis dan penanganan untuk hasil yang lebih baik. Penanganan yang cepat dan tepat menjadi tantangan bagi dokter umum dan spesialis kebidanan di negara-negara berkembang, di mana kehamilan dengan komplikasi sering kurang tertangani.HELLP syndrome and Acute Fatty Liver of Pregnancy (AFLP) are very serious complications in pregnancy. These conditions are life threatening and early diagnosis is the most important step to prevent mortality. HELLP syndrome and AFLP have similarities in symptoms and clinical appearance but different in etio-pathogenesis and treatment. Even though AFLP is rare, it is associated with high maternal and neonatal mortality. This case serves as a reminder to early diagnosis and treatment for a better outcome. This will be a challenge for general practitioners and obstetrician in developing countries, where pregnancies with complications often remain undersupervised.