Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Deteksi Dini untuk Mencegah Kematian Mendadak Akibat Aritmia
Evelyne Chandra;
Denny Suwanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.77
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab 30% kematian di dunia (~17 juta jiwa) dan 25% nya (~4 juta jiwa) merupakan kematian jantung mendadak. Kematian jantung mendadak menggambarkan kematian alami yang tidak terduga dengan penyebab kardiovaskular sebagai etilogi terduga, umumnya ≤1 jam sejak timbulnya gejala, pada seseorang yang tidak memiliki keluhan sebelumnya. Salah satu etiologi kematian jantung mendadak adalah aritmia jantung, yang umumnya dapat dicegah dengan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Skrining dan penilaian derajat risiko dapat mencegah kematian jantung mendadak. Artikel ini membahas deteksi dini potensi kematian jantung mendadak untuk pencegahan primer berkelanjutan. Cardiovascular diseases are responsible for 30% of global mortality rate annually, approximately 25% of which caused by sudden cardiac deaths. Sudden cardiac death is defined as unpredictable death, with cardiovascular cause as the presumed etiology, within 1 hour from the onset of symptoms in previously asymptomatic individual. Arrhythmia is one of the most prevalent causes, potentially preventable with implantable cardioverter defibrillator (ICD). Sudden cardiac death may be preventable by risk screening and severity assessment. This article sought to elaborate early detection as a part of primary prevention continuum in sudden cardiac death.
Peranan Inotropik dan Vasopresor dalam Terapi Syok Kardiogenik
Agung Rizka Pratama;
Muhammad Fadil
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.78
Syok kardiogenik merupakan keadaan darurat medis yang mengancam jiwa dengan terjadinya hipoperfusi jaringan akibat berkurangnya curah jantung. Penyebab utama syok kardiogenik, yaitu infark miokard akut dengan angka mortalitas mencapai 50%. Inotropik dan vasopresor telah menjadi landasan untuk stabilisasi gangguan hemodinamik dan curah jantung pada syok kardiogenik. Beberapa penelitian dan rekomendasi terbaru mengajukan dobutamin sebagai agen inotropik dan norepinefrin dibandingkan dopamin sebagai vasopressor lini pertama untuk tatalaksana syok kardiogenik. Cardiogenic shock is a life-threatening medical emergency because of tissue hypoperfusion due to reduced cardiac output. The main cause of cardiogenic shock is acute myocardial infarction with mortality rate reaching 50%. Inotropics and vasopressors have been the basis for stabilization of hemodynamic instability and cardiac output in cardiogenic shock. Recent studies and recommendations recommend that dobutamine and norepinephrine is preferred over dopamine as a first-line vasopressor for patients with cardiogenic shock.
Angina Prinzmetal - Diagnosis dan Tatalaksana
Tommy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.79
Angina Prinzmetal merupakan sindrom klinis yang dicirikan dengan nyeri dada saat istirahat disertai perubahan elektrokardiogram sementara. Insidens lebih tinggi pada populasi Asia dengan rentang usia di atas 50 tahun. Merokok dan penggunaan obat-obatan tertentu dapat meningkatkan risiko angina Prinzmetal. Penyakit ini jarang terdiagnosis sehingga tatalaksananya belum optimal. Diagnosis berdasarkan kriteria Coronary Vasomotion Disorders International Study Group dan pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi, uji provokatif, atau pencitraan intrakoroner. Tatalaksana mencakup perubahan gaya hidup, terapi farmaka, atau intervensi koroner perkutan. Prognosis mengacu pada hasil skor risiko Japanese Coronary Spasm Association, umumnya baik. Prinzmetal’s angina is a clinical syndrome in which angina occurs at rest with transient electrocardiogram changes. The incidence is higher in the Asian population with age ranges above 50 years. Smoking and use of certain drugs can increase the risk of Prinzmetal’s angina. This disease is underdiagnosed so that the treatment is not optimal. Diagnosis is made based on the Coronary Vasomotion Disorders International Study Group Criteria and workups examinations such as electrocardiography, provocative test, or intracoronary imaging. The management includes lifestyle changes, pharmacotherapy, or percutaneous coronary intervention. Prognosis refers to the Japanese Coronary Spasm Association risk score, is generally good.
Tatalaksana Penutupan Duktus Arteriosus Persisten Transkateter
Muhammad Irfan;
Muhammad Ali;
Tina Christina Lumban Tobing;
Rizky Adriansyah;
Hafaz Zakky;
Abdillah;
Putri Amelia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.80
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu kelainan bawaan terbanyak di dunia. Secara umum, kelainan ini dibagi menjadi tipe sianotik dan asianotik. Duktus arteriosus persisten (DAP) merupakan salah satu tipe PJB asianotik dan menduduki peringkat ke-3 dari seluruh kelainan jantung bawaan. Penutupan DAP secara transkateter saat ini menjadi pilihan utama jika gagal dengan obat-obatan dan ukuran defek memungkinkan. Pengamatan pasca-penutupan transkateter penting untuk menilai perubahan klinis dan kemungkinan komplikasi. Congenital heart disease (CHD) is one of the most frequent congenital anomalies in the world. These anomalies are usually divided into cyanotic and acyanotic type. Patent ductus arteriosus (PDA) is acyanotic type of CHD and ranked 3rd of all CHD. Transcatheter PDA closure now becomes first choice if drug treatment fails and the size of the defect is qualified for nonsurgery closure. Post-closure observation is important to assess clinical changes and possible complications.
Cardiorenal Syndrome: Patofisiologi, Diagnosis, dan Tatalaksana
Karina Puspaseruni
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.81
Sindrom kardiorenal merupakan gangguan yang melibatkan jantung dan ginjal; disfungsi akut atau kronik satu organ dapat menginduksi disfungsi akut atau kronik organ lain. Disfungsi ginjal terkait gagal jantung akut, dan sebaliknya, menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Tinjauan ini membantu menjelaskan hubungan antara cedera ginjal dan gagal jantung dan faktor-faktor yang berperan penting dalam kedua patologi ini. Identifikasi dini memungkinkan perawatan yang lebih efektif dan rawat inap yang lebih singkat. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli jantung dan ginjal sangat penting. Cardiorenal syndrome is a disorder involving both the heart and kidneys; acute orchronic dysfunction in one organ may induce acute or chronic dysfunctionin the other organ. Renal dysfunction associated with acute heart failure, and vice versa, causes fairly high morbidity and mortality. This review explains the relationship between kidney injury and heart failure and factors that play an important role in both pathologies. Early identification will allow more effective treatment and shorter hospitalizations. A multidisciplinary approach involving cardiologists and nephrologists is imperative.
Diagnosis of Jejuno-ileal Atresia vs. Malrotationassociated Midgut Volvulus in Neonates
Ovamelia Julio;
Irene Lokananta;
Hing Theddy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.82
Background. In developing countries, diagnosis and treatment of congenital anomaly in neonates is quite challenging due to limited facilities and resources. Case. A 3 day-old male neonates with clinical presentation of small bowel obstruction and suspected jejuno-ileal atresia in plain abdominal radiograph. Volvulus-associated congenital malrotation with gangrenous intestines was found during surgical exploration. Resection was performed and Bishop-Koop procedure was done. Patient’s condition was deteriorated and succumbed to sepsis on day-three post-operative. Conclusion. This case illustrates potential pitfalls in clinical presentation and interpretation of plain abdominal radiographs that may negatively impact the management of neonatal obstructive ileus. Latar Belakang. Diagnosis dan tatalaksana kelainan kongenital pada neonatus di beberapa negara berkembang cukup sulit karena keterbatasan fasilitas dan sumber daya. Kasus. Neonatus laki-laki berusia 3 hari dengan gejala klinis obstruksi usus halus dan gambaran foto polos abdomen mengarah pada atresia jejunoileal. Intraoperatif dijumpai volvulus disebabkan malrotasi kongenital disertai gangren usus. Dilakukan reseksi usus dan prosedur Bishop-Koop. Kondisi pasien memburuk dan meninggal karena sepsis pada hari ketiga post-operasi. Simpulan. Kasus ini menggambarkan beberapa potensi pitfalls dalam interpretasi gejala klinis dan foto polos abdomen yang dapat berdampak negatif pada penanganan.
Asthma of Cardiac Origin in a 66-Year Old Male
Kevin Wibawa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.83
Heart failure is a disease with high morbidity and mortality. Wheezing, suggesting cardiac asthma, is one of the signs of heart failure. Treatment of cardiac asthma is different from bronchial asthma. An accurate history and physical examination may lead to appropriate diagnosis and treatment. Gagal jantung adalah penyakit dengan morbiditas dan mortalitas tinggi. Mengi, yang menandakan asma kardial, adalah salah satu tanda gagal jantung. Tatalaksana asma kardial berbeda dari asma bronkial. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat, didukung pemeriksaan penunjang, dapat membimbing klinisi untuk diagnosis dan tatalaksana yang tepat.
Terapi Antikoagulan pada COVID-19
Jane Chaerub
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.84
Coronavirus disease-2019 (COVID-19) yang disebabkan infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2 (SARS-CoV-2) terutama bermanifestasi sebagai infeksi pernapasan, dengan salah satu komplikasi gangguan pembekuan darah yang dapat menyebabkan kesakitan hingga kematian. Dijumpai aktivasi kaskade koagulasi tidak terkontrol akibat berbagai efek sitokin proinflamasi yang dapat menyebabkan koagulopati konsumtif termasuk sepsis induced coagulopathy (SIC) dan disseminated intravascular coagulation (DIC). Unfractionated heparin (UFH) dan low-molecular-weight heparin (LMWH) secara umum digunakan sebagai terapi pasien COVID-19. Fondaparinux dapat menjadi alternatif untuk pasien COVID-19 rawat inap. Tromboprofilaksis extended dengan LMWH atau direct oral anticoagulants (DOAC) harus dipertimbangkan pada pasien COVID-19 dengan risiko perdarahan rendah. Coronavirus disease-2019 (COVID-19) caused by Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus 2 (SARS-CoV-2) mainly manifests as a respiratory infection, with complications of blood clotting disorders in severe infection which can cause severe illness to death. Uncontrolled activation of the coagulation cascade due to various effects of proinflammatory cytokines can result inconsumptive coagulopathy. Coagulation disorders can occur including sepsis-induced coagulopathy (SIC) and disseminated intravascular coagulation (DIC). Unfractionated heparin (UFH) and lowmolecular-weight heparin (LMWH) are widely used in the management of COVID-19 patients. Fondaparinux may be an alternative. Extended thromboprophylaxis with LMWH or direct oral anticoagulants (DOAC) with a low risk of bleeding should be considered in COVID-19 patients.
Obesity and Endometrial Cancer: Mechanism and How to Deal with?
Tricia Dewi Anggraeni;
Raymond Surya;
Andrew Pratama Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.85
Obesity is strongly associated with development of endometrial cancer more than any other cancer type. The relationship between obesity and endometrial cancer risk is combination of inflammation, insulin resistance, and increased bioavailability of estrogen. Obesity can increase risk to develop endometrial cancer as exogenous estrogen has impact for tumorigenesis. The best method to reduce the risk of endometrial cancer in obese women is through progesterone medication and lifestyle intervention. Obesitas erat kaitannya dengan terjadinya kanker endometrium lebih dari jenis kanker lainnya. Hubungan antara obesitas dan risiko kanker endometrium adalah kombinasi antara inflamasi, resistensi insulin, dan peningkatan bioavailabilitas estrogen. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium karena estrogen eksogen berdampak pada tumorigenesis. Metode terbaik untuk mengurangi risiko kanker endometrium pada wanita yang obese adalah melalui pengobatan progesteron dan intervensi gaya hidup.
Pemilihan Pemeriksaan Imaging untuk Skrining Karsinoma Mammae
Andrey Gunawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i6.86
Di seluruh dunia, kanker payudara adalah kanker yang paling sering didiagnosis dan penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan wanita. Risiko terkena karsinoma mammae pada wanita sebesar 12,2%. Oleh karena itu, skrining karsinoma mammae pada wanita usia produktif sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Mammografi tetap menjadi pilihan utama imaging untuk skrining karsinoma mammae. Pada kasus payudara padat, USG mungkin dapat membantu diagnosis. MRI merupakan modalitas tambahan, dan memiliki sensitivitas tinggi bila digabung dengan mammografi dan pemeriksaan klinis, namun tingginya biaya pemeriksaan MRI perlu menjadi pertimbangan. Breast cancer is the most frequently diagnosed life-threatening cancer in women and the leading cause of cancer death among women worldwide. Women have 12.2% risk for developing breast carcinoma. Screening for breast carcinoma in reproductive women should be done as early as possible. Mammography remains the modality of choice for screening. In case of dense breasts, ultrasound may help the diagnosis. MRI is an additional modality, and has a high sensitivity when combined with mammography and clinical examination, but the high cost of MRI examination needs to be considered.