Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Immune Thrombocytopenia
Sandy Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.402
Immune thrombocytopenia (ITP) merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan destruksi dan penurunan produksi trombosit. Gejala yang sering adalah perdarahan mukokutan serta penurunan jumlah trombosit hingga kurang dari 100.000/µL. Terapi terdiri dari beberapa lini sesuai keadaan klinis untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. Immune thrombocytopenia (ITP) is an autoimmune disease that causes destruction and decrease in platelet production. The most common symptom is mucocutaneous bleeding and platelet count decrease to less than 100,000/µL. Therapy consists of several modalities depending on clinical condition to improve quality of life.
Anemia Hemolitik Autoimun pada Anak
Bella Kurnia;
Theatania Trisna Yonathan
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.403
Anemia hemolitik autoimun (AIHA) disebabkan oleh antibodi terhadap eritrosit sendiri yang menyebabkan hemolisis dan anemia. Penyebab yang paling sering idiopatik. Pada anak, biasanya bersifat akut dan dapat mengancam jiwa. Terapi lini pertama AIHA adalah kortikosteroid dan imunoglobulin. Respons paling baik terhadap steroid didapatkan pada anak. Autoimmune hemolytic anemia (AIHA) is caused by autoantibodies against own erythrocytes leading to hemolysis and anemia. The most common cause is idiopathic. In children, this anemia is usually acute and can be life-threatening. First line therapy is corticosteroid and can be combined with intravenous immunoglobulin. Best response to steroids is among children.
Tatalaksana Vitiligo
Caryn Miranda Saptari
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.404
Vitiligo merupakan kelainan depigmentasi kulit yang ditandai dengan lesi klinis makula atau plak depigmentasi berbatas tegas, diperkirakan karena faktor imun, genetik, disfungsi sekunder dan kehilangan melanosit. Terdapat 3 tipe vitiligo : vitiligo segmental (VS), vitiligo non-segmental (NSV) dan vitiligo campuran. Penatalaksanaan vitiligo secara medikamentosa dan non – medikamentosa. Vitiligo is a skin disease characterized by a clinically well-defined macular or depigmented plaque; may be due to immune factors, genetics, secondary dysfunction and loss of melanocytes. There are 3 types of vitiligo: segmental vitiligo (VS), non-segmental vitiligo (NSV) and mixed vitiligo. Management of vitiligo is generally divided into medical treatment and procedural treatments.
Manajemen Varisela Neonatal
Rohmatul Hajiriah Nurhayati
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.405
Infeksi primer varicella-zoster virus (VZV) neonatal sangat menular dan berisiko tinggi menyebabkan kematian. Diagnosis klinis varisela neonatal melalui temuan lesi patognomonik dalam berbagai stadia di saat bersamaan. Infeksi ini dapat diatasi dengan terapi asiklovir; penelitian terbaru lebih merekomendasikan rute intravena dibandingkan rute oral, terutama untuk infeksi yang telah menyebar. Selain pengobatan, dilakukan pencegahan untuk meminimalkan penularan virus. Primary infections of varicella-zoster virus (VZV) in neonatus are highly contagious and have a high risk of death. Neonatal varicella can be diagnosed clinically through simultanous pathognomonic lesions at various stages. Recent research shows that intravenous route is recommended, especially in systemic infections. Preventive measures should be taken to minimize virus transmission.
Giant Cell Tumor of Tendon Sheath
Timotius Benedict Djitro;
Dyonesia Ary Harjanti;
Kidyarto Suryawinata;
Iwan Irawan Karman
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.406
Giant cell tumor of tendon sheath (GCTTS) adalah tumor kedua tersering di tangan, tetapi relatif jarang ditemui pada praktek sehari-hari. Tumor yang lebih sering terjadi pada wanita berusia 30-50 tahun ini tidak memiliki gejala spesifik sehingga sulit dibedakan dari tumor lain yang ditemukan pada tangan. Angka rekurensi tinggi sehingga sering muncul kembali setelah eksisi. Pemeriksaan histopatologi pre-operatif penting untuk diagnosis agar penanganan tepat untuk menekan rekurensi. Giant cell tumor of tendon sheath (GCTTS) is the 2nd most common tumor in the hand but is rarely encountered in everyday practice. The tumor has a tendency to develop in women aged 30-50 years and has no specific symptoms, making GCTTS difficult to be distinguished clinically from other tumors occurring mainly in the hand. High recurrence rate also made these tumors often reappear despite having been excised. Pre-operative histopathology examination is important in diagnosis so appropriate steps can be taken to suppress the recurrence rate.
Acute Embolic Stroke as the Sole Presentation of Infective Endocarditis in Mitral Valve Prolapse
Andreas Hartanto Santoso;
Leonardo Paskah Suciadi;
Frandy Susatia
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.407
Case: A 43 yo. male was hospitalized with acute drowsiness and left-sided hemiparesis. Stroke was confirmed by head CT scan. Diagnosis of definite infective endocarditis (IE) was made by 1 major criterion (vegetation at mitral valve on echocardiography) and 3 minor criteria (mitral valve prolapse, persistent fever, and stroke). However, blood cultures were negative presumably due to early antibiotics administration. He was treated with parenteral antibiotics for 10 days, and continued with outpatient parenteral antibiotic therapy (OPAT). A clinical improvement was observed. Conclusion: Acute stroke can be an early manifestation of IE without any cardiac symptoms. Kasus: Laki-laki usia 43 tahun masuk rumah sakit dengan penurunan kesadaran dan hemiparesis sinistra. CT scan kepala sesuai gambaran stroke non-hemoragik. Diagnosis endokarditis infektif ditegakkan berdasarkan kriteria Duke, yaitu 1 kriteria mayor (vegetasi katup mitral pada ekokardiografi) dan 3 kriteria minor (prolapsus katup mitral sebagai faktor predisposisi, demam menetap, dan stroke). Hasil kultur darah negatif dapat disebabkan pemberian antibiotik dini. Pasien diterapi dengan antibiotik parenteral selama 10 hari di rumah sakit dilanjutkan pada rawat jalan. Kondisi klinis pasien membaik. Simpulan: Stroke akut dapat merupakan manifestasi awal endokarditis infektif, meskipun tanpa keluhan jantung.
Update Tatalaksana Sepsis
Ivan Aristo Suprapto Putra
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.408
Pembaharuan definsi dan kriteria sepsis dari menggunakan istilah Sindrom Respons Inflamasi Sistemik (SIRS) menjadi Sequential Organ Failure Assessment (SOFA); SOFA merupakan kriteria penilaian kerusakan organ. SOFA score ≥2 dan qSOFA ≥2 menunjukkan adanya sepsis. Manajemen resusitasi awal sepsis meliputi: resusitasi cairan awal, pemberian antibiotik spektrum luas, kultur darah, dan pengukuran kadar laktat. Renewal of definitions and sepsis criteria from Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) to Sequential Organ Failure Assessment (SOFA); SOFA is a criterion to assess organ damage. SOFA score ≥2 and qSOFA ≥2 indicate sepsis. Early resuscitation management consist of initial fluid resuscitation, broad-spectrum antibiotics, blood culture, and measurement of lactate levels. I
Diagnosis Demam Rematik pada Anak: Update
Felicia Dewi;
Pamela
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.409
Demam rematik adalah penyakit non-supuratif setelah terinfeksi streptokokus beta hemolitik grup A. Gejala demam rematik muncul jika terjadi respons autoimun tubuh yang disebabkan oleh kemiripan antigen streptokokus dengan sel tubuh. Revisi American Heart Association (AHA) tahun 2015 berisi pembagian kriteria mayor dan minor berdasarkan populasi berisiko rendah dan sedang-tinggi, serta pentingnya ekokardiografi pada karditis subklinis. Revisi kriteria Jones bertujuan mempertajam diagnosis untuk tatalaksana yang lebih cepat dan akurat. Rheumatic fever is a non-suppurative disease caused by Group A beta-hemolytic streptococcal (GAS) infection. Symptoms arose from an autoimmune response inflicted by streptococcal antigen molecular mimicry with host cell. American Heart Association (AHA) revision in 2015 contained mayor and minor criteria classification based on low, medium, and high-risk population, with the importance of echocardiography in subclinical carditis. The Jones Criteria revision aimed to improving diagnosis as an approach for early and accurate treatment.
Red cell Distribution Width sebagai Prediktor Penyakit Kardiovaskuler
Bagus Fitriadi Kurnia Putra;
Ugroseno Yudho Bintoro
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.410
Baru-baru ini, sejumlah besar penelitian telah menemukan hubungan independen di luar faktor risiko tradisional antara peningkatan RDW (anisositosis) dan penyakit kardiovaskuler. Red cell distribution width (RDW) adalah ukuran variasi ukuran dan indeks heterogenitas eritrosit. RDW juga dikaitkan dengan mortalitas penyakit kardiovaskuler dan mortalitas umum pada populasi yang berbeda. Masih harus diteliti lebih lanjut, apakah RDW hanya suatu biomarker atau juga mediator patogen untuk penyakit kardiovaskuler tertentu. Recently, a large number of studies have found an independent association beyond traditional risk factors between increased RDW (anisocytosis) and cardiovascular diseases (CVDs). Red cell distribution width (RDW) is a measure of size variation and heterogeneity index of erythrocytes. RDW is also associated with cardiovascular disease mortality and general mortality in different populations. It remains to be determined whether RDW is only a biomarker or also a pathogenic mediator for certain CVDs.
Potensi Thioridazine Terenkapsulasi Nanopartikel Poly (Lactic-Co-Glycolic) Acid (PLGA) sebagai Inovasi Terapi Baru dalam Tatalaksana TB Resisten Obat
Steven Johanes Adrian;
Tommy
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i11.411
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi dengan tingkat kematian tertinggi kedua secara global. Sebanyak 1,4 juta kematian terjadi pada tahun 2015. TB-Multi Drugs Resistance (TB-MDR) menyebabkan 200.000 kematian. Prevalensi TB resisten obat yang tinggi membutuhkan tatalaksana baru yang efektif dan efisien. Penggunaan thioridazine pada penderita TB resisten obat memberikan perbaikan dan dapat ditoleransi dengan baik. Thioridazine menghambat ekspresi berlebihan pompa efflux pada sel, sehingga obat-obatan TB yang sebelumnya telah resisten dapat bekerja kembali. Teknologi nanopartikel dapat digunakan untuk membawa obat sehingga lebih efektif dan efisien. Poly (lactic-co-glycolic) acid (PLGA) adalah salah satu nanopartikel yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA). Penelitian menggunakan model larva zebrafish menunjukkan penggunaan thioridazine terenkapsulasi PLGA meningkatkan kemampuan rifampicin dalam mengeliminasi bakteri M.tuberculosis dan M.bovis sebanyak 6,3-7 kali. Penggunaan PLGA juga mengurangi efek samping dari thioridazine yang berbahaya seperti kardiotoksisitas. Thioridazine terenkapsulasi PLGA sebagai tatalaksana terhadap TB resisten obat mampu memberikan perbaikan yang signifikan terhadap subjek penelitian, sehingga dapat dijadikan sebagai terapi potensial dalam kasus TB resisten obat di Indonesia, namun dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang penggunaannya terutama karena masih terbatasnya studi atau penelitian klinis di Indonesia. Tuberculosis (TB) is an infectious disease with the second highest mortality rate in the world. There were 1,4 million deaths in 2015. Multi-Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB) causes 200.000 deaths. High prevalence of drug resistant-TB needs a novel therapy which is effective and efficient. The use of thioridazine on drug resistant TB reduce morbidity and well tolerated. Thioridazine inhibits the excessive expression of cellular efflux pump, so the resistant TB drugs can function. Nanoparticle technology can be used to as drug carrier. Poly (lactic-co-glycolic) acid (PLGA) is one of the nanoparticle approved by Food and Drug Administration (FDA). Studies used zebrafish larva model showed the use of thioridazine encapsulated by PLGA increased the ability of rifampicin in eliminating M. tuberculosis and M. bovis 6,3-7 times. The use of PLGA also reduced the dangerous side effects of thioridazine such as cardiotoxicity. Thioridazine encapsulated by PLGA as the treatment for drugresistant can significantly improve the subject, thus it can be used as a potential treatment for drug-resistant TB. More studies about the use of the drug are needed because the studies are limited.