cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Penggunaan Media Informasi yang Bijak untuk Anak Usia Dini di Era Digital Suryadi Limardi; Sardono Widinugroho; Consistania Ribuan
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i11.412

Abstract

Usia dini merupakan masa penting bagi anak untuk membangun hubungan erat dengan orang lain dan lingkungan sekitar, membentuk kebiasaan hidup sehat, serta menjadi masa emas perkembangan otak. Inovasi teknologi telah mengubah pola penggunaan media oleh anak usia dini. Penggunaan media digital yang berlebihan saat usia dini dapat mengakibatkan gangguan fisik, psikologis, dan perkembangan anak. Orang tua memiliki peranan penting dalam membentuk kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak. Pembatasan durasi penggunaan media, pemantauan aktivitas media anak, serta interaksi antara orang tua dan anak saat penggunaan media merupakan langkah-langkah penting untuk menciptakan kebiasaan penggunaan media yang bijak bagi anak usia dini. Early age is a golden period for brain development; it is an important period for children to build a close relationship with other person and their surrounding environment, to form a healthy living habit. Excessive digital media use in this period could lead to impairment in children’s physical, psychological, and developmental condition. Parents have an important role in forming a healthy media use habit in children. Restriction on media use duration, monitoring on children’s media activities, as well as interactions between parents and children while using the media are important steps to create a healthy habit in promoting wise media use in young children.
Tinjauan atas Norepinephrine – First Line Vasopressor for Septic Shock Martinova Sari Panggabean
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i11.413

Abstract

Syok sepsis termasuk kedaruratan medis yang memerlukan resusitasi adekuat. Salah satu hal penting saat resusitasi awal adalah penggunaan vasoaktif untuk mencapai target MAP 65 mmHg sesegera mungkin. Terapi agen vasoaktif harus dimulai untuk mempertahankan tekanan arteri dan perfusi organ yang adekuat. Norepinephrine merupakan vasopressor pilihan pertama pada pasien syok sepsis. Septic shock is a life-threatening emergency that require adequate resuscitation. The use of vasoactive is important to achieve the 65 mmHg MAP target as soon as possible. Vasoactive agents should be initiated to restore adequate arterial pressure and organ perfusion. Norepinephrine is the first line vasopressor in patients with septic shock.
Medium Chain Triglyceride (MCT) Ketogenic Diet and Its Role in Epilepsy Muthmainah
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i10.414

Abstract

Brain mainly uses glucose as its energy sources; it can also use ketone bodies and free fatty acids for oxidative fuel. Decreased energy production in seizure is commonly caused by the lack of TCA cycle intermediates and acetyl-CoA. MCT diet induces ketosis and facilitates anaplerosis to provide intermediate substrates that can be used to support brain metabolism. MCT diet has been shown to help control seizure. Otak menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Otak juga dapat menggunakan badan keton dan asam lemak bebas sebagai sumber energi oksidatif. Penurunan produksi energi dalam kasus kejang sering disebabkan karena kekurangan zat antara dan asetil-KoA dalam siklus asam trikarboksilat (siklus Krebs). Diet MCT dapat menginduksi ketosis dan anaplerosis untuk menghasilkan substrat antara dalam siklus Krebs yang dapat dipakai untuk menopang metabolisme di otak. Diet MCT terbukti dapat membantu mengontrol kejang.
Manfaat Omega-3 Parenteral di Dunia Medis Laurencia Ardi
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i10.415

Abstract

Emulsi lemak intravena merupakan komponen penting nutrisi parenteral. Awalnya emulsi lemak digunakan sebagai sumber energi non-glukosa yang efisien untuk mengurangi efek samping hiperglikemia dan sebagai sumber asam lemak esensial. Penelitian menunjukkan efek omega-3 dan omega-6 pada metabolisme, inflamasi, respons kekebalan tubuh, koagulasi, dan sinyal sel, sehingga dapat bermanfaat untuk terapi bedah, kanker, dan penyakit kritis serta pada pasien yang membutuhkan nutrisi parenteral jangka panjang. Pembahasan berikut meliputi mekanisme kerja dan manfaat omega-3 di dunia medis. Intravenous lipid emulsions are essential component of parenteral nutrition regimens, originally employed as an efficient non-glucose energy source to reduce the adverse effects of high glucose intake and provide essential fatty acids. Research demonstrates the effects of omega-3 and omega-6 polyunsaturated fatty acids (PUFA) on key metabolic functions, inflammatory, and immune response, coagulation, and cell signaling; potentially benefit surgical, cancer, and critically ill patients as well as patients requiring long-term parenteral nutrition. This review provides an overview on the mechanisms of action and benefits of omega-3 in medicine.
Diagnosis dan Manajemen Jangka Panjang Asma pada Balita Talita Clarissa Sinatra
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i10.416

Abstract

Asma merupakan penyakit kronis yang paling umum pada anak. Diagnosis asma pada balita sebagian besar dinilai lewat gejala klinis, riwayat keluarga, dan pemeriksaan fisik. Pemberian beta 2 agonis kerja singkat per inhalasi harus dimulai pada setiap balita dengan episode mengi, meskipun diagnosis asma belum ditegakkan. Uji terapi pengendali asma diberikan pada balita dengan gejala klinis mengarah ke asma dan gejala saluran napas tidak terkontrol dan/ atau episode mengi yang sangat sering atau berat. Asthma is the most common chronic disease of childhood. A diagnosis of asthma in young children is based largely on symptom patterns combined with a careful clinical assessment of family history and physical findings. Wheezing episodes in young children should be treated initially with inhaled short-acting beta2-agonists. A trial of controller therapy should be given if the symptom pattern suggests asthma and respiratory symptoms are uncontrolled and/or wheezing episodes are frequent or severe.
Rifampisin Ofloksasin Minosiklin (ROM) sebagai Terapi Alternatif Morbus Hansen Riza Deviana
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i10.417

Abstract

Morbus Hansen merupakan penyakit infeksi yang masih terus muncul. Multi-drug therapy (MDT) dari WHO banyak bermanfaat, namun masih belum bisa mengeradikasi penyakit ini. Kombinasi Rifampisin-Ofloksasin-Minosiklin memiliki efek anti-kusta yang menjanjikan dan mungkin dapat digunakan sebagai terapi alternatif Morbus Hansen. Morbus Hansen is an infectious disease that is still a problem. MDT from WHO have been very useful, but still can’t eradicate leprosy. A combination therapy of Rifampicin-Ofloxacin-Minocyclin appeared to be promising and can be used as an alternative therapy.
Peran Vitamin D pada Epilepsi Anak Ratna Suwita Batubara; Johannes Harlan Saing; Pertin Sianturi; Yazid Dimyati; Cynthea Prima Destariani
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i10.418

Abstract

Vitamin D memiliki peran penting selama perkembangan otak, proliferasi, diferensiasi, neurotrofik, dan neuroprotektif. Bentuk aktif vitamin D menekan inflamasi dan mengubah keseimbangan antara penghambat sitokin dan sitokin eksitasi. Bentuk aktif vitamin D menunjukkan efek imunomodulator dan secara efektif dapat menekan inflamasi, sehingga mempunyai efek antikonvulsan. Penderita epilepsi anak berisiko tinggi mengalami defisiensi vitamin D. Pemakaian obat antiepilepsi sebagai politerapi dihubungkan dengan penurunan kadar vitamin D yang lebih besar dibandingkan obat anti-epilepsi sebagai monoterapi. Pemberian vitamin D harus cukup untuk mempertahankan kadar normal 25(OH) D (≥30 ng/mL). Pemberian vitamin D pada epilepsi dapat meningkatkan batas ambang kejang secara signifikan dan mengurangi keparahan kejang. Vitamin D has an important role during brain development, proliferation, differentiation, neurotrophic, and neuroprotection. The active form of vitamin D suppresses inflammation and changes the balance between inhibitory cytokines and excitatory cytokines. The active form of vitamin D shows an immunomodulatory effect and can effectively suppress inflammation so that it has an anticonvulsant effect. Epileptic children are in high risk of vitamin D deficiency. Antiepileptic polytherapy is associated with a greater reduction in vitamin D levels than in monotherapy. Vitamin D supplementation must be sufficient to maintain normal level of 25(OH)D (≥30 ng/mL). Vitamin D can significantly increase the seizure threshold and reduce the severity of seizure.
Incidence of Peripheral Neuropathy in Major BetaThalassemia Patients at Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia Fanny Adhy Putri; Uni Gamayani; Nushrotul Lailiyya; Ramdan Panigoro
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 9 (2019): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i9.419

Abstract

Bakground. Beta major thalassemia is the most common inherited blood disorder worldwide. It can lead to various neurological complications such as peripheral neuropathy. Toronto Clinical Neuropathy Score (TCNS) is helpful for peripheral neuropathy screening especially in diabetes mellitus. Objective. To investigate the prevalence of peripheral neuropathy in beta major thalassemia patient using Toronto Clinical Neuropathy Score (TCNS). Method. A descriptive study on beta major thalassemia patients aged more than 14 years who regularly underwent blood transfusions in Hasan Sadikin General Hospital Bandung, from July to August 2017. Normal TCNS value was < 4, mild neuropathy 5-7, moderate neuropathy 8-10 and severe neuropathy > 10. Results. Sixty subjects met the inclusion criteria, 48.3% were male with the mean (SD) age of 20.7 ± 7.6 years. Mean hemoglobin value was 6.7 ± 0.9 g/dL and median (IQR) blood ferritin serum was 2873 (1900-3859) μg/L. Thirty-two subjects had neuropathy; 19 (31.7%) with mild neuropathy and 13 (21.6%) with moderate neuropathy. Conclusion. The incidence of peripheral neuropathy in patients with thalassemia according to TCNS score is fairly high. Latar Belakang. Talasemia beta mayor adalah kelainan darah bawaan paling umum di dunia dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya neuropati perifer. Toronto Clinical Neuropathy Score (TCNS) dapat digunakan untuk penilaian neuropati perifer terutama pada pasien diabetes melitus. Objektif. Menyelidiki prevalensi neuropati perifer pada pasien talasemia beta mayor menggunakan Toronto Clinical Neuropathy Score (TCNS). Metode. Penelitian ini studi deskriptif skrining menggunakan TCNS pada pasien thalassaemia beta mayor berusia lebih dari 14 tahun yang secara teratur menjalani transfusi darah di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung, dari Juli hingga Agustus 2017. Nilai TCNS normal adalah <4, neuropati ringan 5-7, neuropati sedang 8-10 dan neuropati berat >10. Hasil. Sebanyak 60 subjek memenuhi kriteria inklusi, 48,3% laki-laki dengan usia rata-rata (SD) 20,7 ± 7,6 tahun. Nilai hemoglobin rata-rata 6,7 ± 0,9 g/dL dan serum ferritin darah median (IQR) adalah 2873 (1900-3859) μg/L. Tiga puluh dua subjek mengalami neuropati; 19 (31,7%) pasien dengan neuropati ringan dan 13 (21,6%) pasien dengan neuropati sedang. Simpulan. Insidens neuropati perifer pada pasien dengan thalasemia menurut skor TCNS cukup tinggi.
Krim Ekstrak Bawang Hitam (Allium sativum Linn) Mencegah Peningkatan Ekspresi MMP-1 dan Penurunan Jumlah Kolagen Dermis Kulit Tikus (Rattus norvegicus) Wistar Jantan yang Dipapar Sinar UV-B Balqis Wasliati; Wimpie Pangkahila; A.A.G.P Wiraguna
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i8.420

Abstract

Pendahuluan: Bawang hitam berasal dari bawang putih (Allium sativum Linn) melalui proses pemanasan, sehingga terjadi peningkatan kandungan antioksidan: fenolik, flavonoid (quarcetin), dan DPPH (IC-50). Tujuan penelitian ini adalah membuktikan krim ekstrak bawang hitam (Allium sativum Linn) mencegah peningkatan ekspresi MMP-1 dan penurunan jumlah kolagen dermis pada kulit tikus (Rattus norvegicus) Wistar jantan yang dipapar sinar UV-B. Metode: Penelitan ini adalah penelitian eksperimental post-test only control group design. Sampel penelitian ini terdiri dari 36 ekor tikus (Rattus norvegicus) Wistar jantan, dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan secara acak. Tikus diberi bahan dasar krim dan dipapar sinar UV-B disebut kelompok kontrol, tikus diberi krim ekstrak bawang hitam 15% dan dipapar sinar UV-B disebut kelompok perlakuan. Total dosis UV-B 840 mJ/cm2 selama 4 minggu. Setelah perlakuan, tikus dieuthanasia dengan ketamine-xylazine lalu ekspresi MMP-1 diperiksa secara imunohistokimia dan jumlah kolagen dermis kulitnya menggunakan pewarnaan Pico-Sirius-Red. Hasil: Rerata ekspresi MMP-1 kelompok kontrol 28,58% dan kelompok perlakuan 8,60%; p<0,001 (uji t independent); terdapat perbedaan bermakna ekspresi MMP-1 antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Rerata jumlah kolagen kelompok kontrol 57,53% dan kelompok perlakuan 83,80%; p<0,001 (uji t independent); terdapat perbedaan bermakna jumlah kolagen antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Simpulan: Krim ekstrak bawang hitam (Allium sativum Linn) 15% mencegah peningkatan ekspresi MMP-1 dan penurunan jumlah kolagen dermis kulit tikus (Rattus norvegicus) Wistar jantan yang dipapar sinar UV-B. Aim: Black garlic was produced from garlic (Allium sativum Linn) through the heating process to increase the antioxidant content: phenolic, flavonoid (quarcetin), and DPPH (IC-50). The aim of this study is to prove that black garlic extract cream (Allium sativum Linn) application prevents enhancement of MMP-1 expression and reduction of dermal collagen in male Wistar rat (Rattus norvegicus) skin which has been exposed to UV-B light. Method: An experimental research using post-test only control group design. Total samples of 36 male Wistar rats (Rattus norvegicus) were divided into 2 groups. Control group were given cream and UV-B exposure (P0), treatment group were given 15% black garlic cream extract and UV-B exposure (P1). The total dose of UV-B was mJ/cm2 for 4 weeks. The rats were euthanized with ketamine-xylazine after treatment; MMP1 expression was examined using immunohistochemistry and dermal collagen using Pico-Sirius-Red staining. Result: MMP-1 expression of control group 28.58% and of treatment group 8.60% (independent t test, p<0.001). Mean of collagen in control group 57.53% and in treatment group 83.8% (independent t test, p<0.001). Conclusion: Black garlic extract cream 15% prevents the enhancement of MMP-1 expression and the reduction of dermal collagen in male Wistar rat (Rattus norvegicus) skin which has been exposed to UV-B light.
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Tajam Penglihatan Menggunakan Kartu Snellen dan Aplikasi Smartphone PEEK Acuity pada Anak Usia 5-6 Tahun Saphira Evani; Andika A. Witono; Fabian J. Junaidi
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i8.421

Abstract

Tajam penglihatan adalah parameter penting kualitas penglihatan. Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen umum dilakukan pada praktik klinis. Penggunaan kartu Snellen pada pasien anak usia pra-sekolah/taman kanak-kanak membutuhkan kooperasi penuh antara pemeriksa dan pasien serta tergantung kemampuan membaca huruf. Aplikasi smartphone sebagai alat bantu pemeriksaan tajam penglihatan yang mudah digunakan salah satunya adalah aplikasi PEEK (portable eye examination kit) Acuity. Peneliti hendak membandingkan validitas hasil tajam penglihatan menggunakan aplikasi PEEK Acuity dengan kartu Snellen pada anak usia pra-sekolah (5-6 tahun). Visual acuity is an important parameter to describe the quality of vision. Snellen chart is frequently used for visual acuity assessment in daily medical practice. Using Snellen chart in pre-school age patient needs good cooperation between examiner and patient and it depends on the recognition of alphabets. PEEK (portable eye examination kit) Acuity application is a smartphone application to make visual acuity assessment more convenient. This survey is to compare the validity of visual acuity assessment with PEEK Acuity application compared with Snellen chart in pre-school age children (5-6 years old).

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue