cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Manajemen Komprehensif Sepsis Akibat Infeksi Saluran Kemih pada Kehamilan Muhammad Habiburrahman; Afid Brilliana Putra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i6.919

Abstract

Ibu hamil rentan mengalami infeksi yang berujung sepsis akibat perubahan fisiologis signifikan berbagai sistem organ. Penyebab sepsis dalam kehamilan tersering bersumber dari saluran kemih, yang disebut urosepsis dengan tingkat mortalitas mencapai 20%–42%. Selain mengancam ibu hamil, sepsis juga berpotensi mengancam kesejahteraan janin. Oleh karena itu, diagnosis dan manajemen sepsis secara dini pada kehamilan sangatlah penting untuk mencegah morbiditas dan mortalitas janin dan ibu. Namun, panduan penatalaksanaan komprehensif sepsis pada kehamilan masih terbatas dan terpencar, sehingga membuat sulit dipahami. Tinjauan pustaka ini dibuat melalui penulusuran bukti ilmiah secara holistik untuk memberikan pemahaman mengenai konsep dasar urosepsis. Aspek diagnosis dan manajemen dirangkum secara komprehensif melalui ilustrasi dan algoritma yang mudah dipahami disertai dengan sistem skoring berkaitan dengan diagnosis dan pilihan terapi farmakologi untuk menangani urosepsis. Pregnant women are susceptible to infections that lead to sepsis due to significant physiological changes in various organ systems. The most common cause of infection in sepsis in pregnancy comes from the urinary tract, called urosepsis, with a mortality rate of 20%–42%. Sepsis also has the potential to endanger the fetus. This issue indicates that early diagnosis and management of sepsis in pregnancy is crucial to prevent fetal and maternal morbidity and mortality. Nonetheless, comprehensive guidelines for managing sepsis in pregnancy are still limited and scattered, making them difficult to understand. This literature review was created through a holistic appraisal of scientific evidence to understand the basic concepts of urosepsis. Aspects of diagnosis and management were summarised through illustrations and algorithms accompanied by scoring system related to diagnosis and pharmacological therapy.
Pendekatan Klinis Neonatus dan Bayi Ikterus Stephanie Taneysa Widodo; Theddyon Bhenlie Apry Kusbin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i6.921

Abstract

Ikterus atau jaundice sering dijumpai pada neonatus dan bayi. Ikterus dapat bersifat fisiologis atau patologis. Pada dasarnya, ikterus merupakan manifestasi klinis peningkatan kadar bilirubin dalam darah atau hiperbilirubinemia. Peningkatan bilirubin yang berlebihan berpotensi toksik dan dapat menyebabkan kematian. Pendekatan klinis yang baik dan terarah sangat penting untuk menentukan secara cepat dan tepat perlunya evaluasi dan intervensi medis lanjutan. Icterus or jaundice is a clinical symptom often found in neonates and infants. The condition might arise from physiological or pathological causes. Jaundice is a clinical manifestation signifying an elevated blood level of bilirubin (hyperbilirubinemia). Excessive increase in bilirubin is potentially toxic and might even lead to death. A good and directed clinical approach is very important to evaluate the need for further medical intervention.
Efektivitas Progesteron Oral dan Vagina pada Tata Laksana Abortus Imminens Pika Novriani Lubis
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i6.922

Abstract

Abortus imminens adalah perdarahan yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu, tanpa keluarnya janin. Selama kehamilan, progesteron berperan dalam proses implantasi janin ke dalam rahim. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa progesteron bermanfaat dalam penanganan abortus imminens, baik dalam bentuk oral maupun supositoria. Sediaan oral terbukti lebih efektif dibandingkan progesteron vaginal. Threatened miscarriage or imminent abortion is vaginal bleeding that happened before a 20-week gestation without fetus expulsion. During pregnancy, progesterone plays a role in the process of implanting the fetus into the uterus. Several studies have shown that oral and suppository progesterone are beneficial for imminent abortion treatment, both in oral and suppository form. Oral preparations have proved to be more effective than vaginal progesterone.
Proton Pump Inhibitor (PPI) sebagai Farmakoterapi GERD pada Lansia Josephine Herwita Atepela
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.635

Abstract

Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan salah satu penyakit gastrointestinal (GI) paling umum pada lanjut usia (lansia). Gejala GERD pada lansia umumnya atipikal dan tidak terlalu parah, namun lebih berisiko terjadi kelainan mukosa dan komplikasi. Proton pump inhibitor (PPI) masih menjadi sarana farmakoterapi terapi lini pertama pasien GERD lansia. Namun, penggunaan PPI pada lansia dikaitkan dengan beberapa efek samping. Hingga saat ini, belum ada konsensus mengenai durasi optimal penggunaan PPI pada lansia.   Gastroesophageal reflux disease (GERD) is one of the most common gastrointestinal (GI) diseases in the elderly. GERD symptoms in the elderly are generally atypical and less severe, but with a higher risk of mucosal abnormalities and complications. Proton pump inhibitor (PPI) therapy is still the first line pharmacotherapy for elderly GERD patients. However, PPI use in elderly are associated with several side effects. To date, there is no consensus yet on the optimal duration of PPI use in the elderly.
Gangguan Gerak Pada Stroke Yannuar Rifani Mandani; Gilang Nispu Saputra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.642

Abstract

Gangguan gerak merupakan kondisi kelainan neurologis yang memengaruhi kecepatan, kelancaran, kualitas, dan kemudahan bergerak. Gejala gangguan gerak pada pasien stroke dapat terjadi pada fase akut ataupun setelahnya. Gangguan gerak dapat khas sesuai lokasi lesi.   Movement disorder is a condition of neurological disorder that affects speed, smoothness, quality, and ease of movement. Symptoms of movement disorders in stroke patients can occur during and after the acute phase. Variations in movement disorders can be typical based on the location of the stroke lesion.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Toleransi Nyeri Pada Pasien Dengan Terapi Panretina Photocoagulasi Untuk Pasien Proliferative Diabetic Retinopathy vera sumual; Ade John Nursalim; Stevanus Josafat Loho; Christian Maramis Komaling; Oktavianus Makatipu
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.665

Abstract

Pasien retinopati diabetik (diabetic retinopathy/DR) sering mengalami nyeri saat menjalani terapi panretina photocoagulation (PRP). Hubungan dokter – pasien yang baik dapat membantu membangun kepercayaan yang mampu mengubah persepsi nyeri pasien. Keluarga juga berperan penting dalam mendukung pasien dan memengaruhi persepsi nyeri. Selain itu, faktor psikologis seperti level depresi juga berdampak besar pada persepsi nyeri. Upaya meningkatkan toleransi nyeri pasien dengan membangun hubungan baik dokter - pasien serta mendukung keluarga dalam memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien. Patients with diabetic retinopathy (DR) often experience pain during panretinal photocoagulation (PRP) therapy. A good doctor-patient relationship can help build trust that can change patients' pain perception. Family support is also important to influence their pain perception. Psychological factors such as level of depression also have a significant impact on pain perception. Efforts should be made to improve pain tolerance in patients by building a good doctor - patient relationship, as well as supporting the patient's family in providing support and attention to the patient.
Perjalanan Udara pada Penderita Penyakit Jantung: Amankah? Jonathan Koswara; Irianto Yap; Ricky Alexander Chandra; Denny Suwanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.869

Abstract

Perubahan tekanan, suhu, tingkat kelembapan, keadaan imobilisasi, suara bising, turbulensi, dan ekspansi udara di rongga tubuh yang berkaitan dengan perjalanan via udara dapat berdampak pada tubuh manusia. Para penumpang dengan riwayat penyakit jantung harus menyadari risikonya dan melakukan tindakan pencegahan.   Changes in pressure, temperature, humidity levels, immobilization, noise, turbulence, and expansion of air in the body cavity associated with air travel can all have an impact on the human body. Passengers with a history of heart disease must be aware of the risks and take the necessary precautions.
Assessment of Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) towards Hypertension in the Elderlies Rahmadia Kusumamardhika; Anis Puspita Utami; Hendro Darmawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.951

Abstract

Introduction: The role of knowledge, attitude, and practice (KAP) in hypertension is crucial in controlling prevalence and preventing longterm complications against cardiovascular diseases. Method: Cross-sectional study on the elderlies with hypertension in Wijayakusuma Geriatric Outpatient Main Clinic, Bogor using valid KAP questionnaire. Results: The sample was 100 elderly hypertensive patients, 33% were male and 67% were female with an average of 67.43+5.13 years of age. As many as 75% of patients with controlled hypertension, 68% with obesity, 56% with hypertension less than 5 years, 54% had a family history of hypertension, and 2% had a history of smoking. The comorbidities were diabetes (40%), congestive heart disease (15%), and stroke (12%). The average knowledge is 81.88+16.8% (very good), the average attitude is 67.33+25.06% (good), and practice average 95+11.79% (very good). Knowledge is associated with education level (p=0.008) and hypertension duration (p=0.05). Attitudes are associated with controlled hypertension (p=0.008), whereas practice is related to age < 70 years (p=0.05). There is a relationship between knowledge and attitude (p=0.029). Conclusion: The role of KAP on hypertension in the elderly with hypertension are adequate, but can be improved.   Pendahuluan: Peran pengetahuan, sikap, dan perilaku (PSP) pada hipertensi penting untuk mengontrol prevalensi dan mencegah komplikasi jangka panjang. Metode: Studi cross-sectional menggunakan kuesioner yang valid terkait PSP pada pasien lanjut usia (lansia) hipertensi di poliklinik Klinik Utama Geriatri Wijayakusuma, Bogor. Hasil: Didapatkan 100 orang pasien terdiri dari 33% laki-laki dan 67% perempuan dengan rerata umur 67,43±5,13 tahun. Sebanyak 75% pasien dengan hipertensi terkontrol, 68% dengan obesitas, 56% dengan hipertensi di bawah 5 tahun, 54% memiliki riwayat hipertensi pada keluarga, dan 2% dengan riwayat merokok. Komorbid adalah diabetes (40%), penyakit jantung kongestif (15%), dan stroke (12%). Rerata pengetahuan adalah 81,88±16,8% (sangat baik), rerata sikap adalah 67,33±25,06% (baik), dan rerata perilaku adalah 95±11,79% (sangat baik). Pengetahuan berkaitan dengan tingkat pendidikan (p=0,008) dan durasi hipertensi (p=0,05). Sikap berkaitan dengan hipertensi terkontrol (p=0,008) dan terkait pada kelompok usia ≤ 70 tahun (p=0,05). Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap (p=0,029). Simpulan: Peran PSP terkait hipertensi pada lansia sudah adekuat tetapi dapat ditingkatkan. 
Tinjauan atas Age-related Macular Degeneration Anak Agung Fridami Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.953

Abstract

Age-related macular degeneration (AMD) merupakan penyakit degeneratif makula yang mengakibatkan gangguan penglihatan sentral pada usia lanjut. AMD yang didapatkan pada sekitar 5,8% individu dengan kebutaan, merupakan penyebab kebutaan keempat terbanyak di dunia. Faktor risiko AMD meliputi usia, genetik, merokok, dan nutrisi. AMD diklasifikasikan menjadi AMD non-neovaskular (dry) dan neovaskular (wet). Pada tahap awal AMD sering tidak bergejala, pada tahap lanjut dapat ditemukan hilang penglihatan sentral disertai distorsi visual dengan gambaran drusen, geographic atrophy, atau neovaskularisasi koroid pada pemeriksaan fundus. Pencitraan retina diperlukan untuk menentukan tata laksana sesuai derajat penyakit. Penanganan AMD non-neovaskular saat ini ditekankan pada observasi dan kemampuan pasien untuk mengenali perubahan fungsi visual serta deteksi dini neovaskularisasi koroid. Modifikasi gaya hidup, seperti berhenti merokok dan suplementasi nutrisi, dapat dilakukan untuk mencegah progresivitas AMD. Terapi anti-VEGF (vascular endothelial growth factor) saat ini merupakan pilihan untuk tata laksana AMD neovaskular.   Age-related macular degeneration (AMD) is a macular degenerative disease causing impaired central vision in elderly. AMD occurs in approximately 5.8% of individuals with blindness; it is the fourth leading cause of blindness in the world. The risk factors of AMD include age, genetics, smoking, and nutrition. AMD is classified into non-neovascular (dry) and neovascular (wet) AMD. Early AMD is often asymptomatic, loss of central vision with visual distortion can happen in the later stages. Drusen, geographic atrophy, or choroidal neovascularization can be observed in fundus examination. Retinal imaging is needed to determine management according to the stage of the disease. Current management of non-neovascular AMD is emphasized through observation and the patient’s ability to recognize changes in visual function as well as early detection of choroidal neovascularization. Lifestyle modifications such as smoking cessation and nutritional supplementation can prevent the progression of AMD. Anti-VEGF (vascular endothelial growth factor) therapy is currently an option for the management of neovascular AMD.
Efek Neurologis Hipernatremia Carmenita; Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i7.954

Abstract

Aktivitas otak memerlukan kondisi yang optimal, termasuk lingkungan elektrolit yang ideal. Salah satu elektrolit utama dalam tubuh yang juga penting untuk aktivitas otak adalah natrium. Hipernatremia yang tidak terkoreksi dapat menyebabkan berbagai manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari rasa haus, kelemahan, eksitabilitas neuromuskular, hiperrefleks, letargi, confusion, kejang, atau koma. Oleh karena itu, penyebab, gejala, diagnosis, dan penanganan yang tepat perlu untuk mencegah penurunan kualitas hidup pasien.   Brain activities need optimal conditions, including an ideal electrolyte environment. One of the main electrolytes in the body that is also essential for brain activity is sodium. Uncorrected hypernatremia may manifest in symptoms of thirst, weakness, neuromuscular excitability, hyperreflexia, lethargy, confusion, seizure, and coma. Therefore, the causes, symptoms, diagnosis, and appropriate treatment are necessary to prevent a decline in the patient’s quality of life.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue