cover
Contact Name
Susi Susantijo
Contact Email
susi.susantijo@uph.edu
Phone
+622125535168
Journal Mail Official
notary.journal@uph.edu
Editorial Address
Universitas Pelita Harapan Graduate Campus Plaza Semanggi lt. 3 dan 16, Jl. Jend. Sudirman No. 50, RT.1/RW.4, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Notary Journal
ISSN : 27970213     EISSN : 27766616     DOI : -
Core Subject : Social,
Notary Journal is published by the Master of Notary Study Program of the Faculty of Law at Universitas Pelita Harapan and serves as a venue for scientific information in the notary field resulting from scientific research or research-based scientific law writing. The journal aims to provide a venue for academicians, researchers, and practitioners to publish original research including, but not limited to, Notary Law and Regulation, Business Law, Agrarian Law, and Intellectual Property Rights Law.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2026): April" : 3 Documents clear
Kompleksitas Notaris dalam Penerapan Prinsip Mengenali Penguna Jasa Fransisca, Lydia; Rahman, Eli
Notary Journal Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nj.v6i1.10593

Abstract

Notary profession is inherently vulnerable to being exploited by clients seeking to conceal the proceeds of Money Laundering and the financing of Terrorism. Therefore, notaries are designated as reporting parties who are obligated to implement the Know Your Customer (KYC) Principle. This principle requires notaries to conduct identification, verification, and ongoing monitoring of their clients. This research is a normative legal study employing a descriptive approach. The method used to analyze the issues is normative approach. This study aims to analyze the complexity of the application of Know Your Customer principle by notaries and the legal protection for notaries as reporting parties in efforts to prevent money laundering crimes. Based on the findings, it is evident that notaries, as reporting parties, continue to encounter various obstacles in the application of the Know Your Customer principle. Furthermore, to prevent notaries from being misused as intermediaries for the commission of Money Laundering and Terrorism Financing crimes, it is necessary to strengthen notaries capacity through continuous education, enhanced regulatory guidelines, and the support of a more integrated data verification system in collaboration with relevant institutions and a shift from conventional identification methods toward a due-diligence mechanism that utilizes advanced technologies to address modes of operation involving artificial-intelligence–based manipulation, deepfake identity fraud, and crypto-mixer transactions. This transformation is essential to ensure that the notary’s obligations in preventing Money Laundering and Terrorist Financing can be carried out in a more coherent, effective, and compliant manner with the evolving Anti-Money Laundering and Counter-Terrorist Financing regime. Bahasa Indonesia Abstract: Notaris merupakan jabatan yang rentan untuk dimanfaatkan oleh pengguna jasa dalam upaya menyembunyikan hasil Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. Oleh karena itu, notaris ditetapkan sebagai salah satu pihak pelapor yang berkewajiban menerapkan prinsip mengenali pengguna jasa. Prinsip ini mengharuskan notaris untuk melakukan identifikasi, verifikasi dan pemantauan terhadap pengguna jasanya. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan normatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompleksitas penerapan prinsip mengenali pengguna jasa oleh notaris serta perlindungan hukum bagi notaris sebagai pihak pelapor dalam upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang. Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa notaris sebagai pihak pelapor masih menghadapi sejumlah hambatan dalam penerapan prinsip mengenali pengguna jasa. Kemudian untuk mencegah keterlibatan notaris sebagai pihak yang rentan dimanfaatkan dalam Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, maka perlu dilakukan penguatan kapasitas notaris melalui pendidikan berkelanjutan, peningkatan regulasi teknis, serta dukungan sistem verifikasi data yang lebih terintegrasi dengan lembaga-lembaga terkait dan perubahan pola identifikasi konvensional menuju mekanisme due diligence yang memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menghadapi modus berbasis kecerdasan artifisial, Deepfake, dan crypto mixer sehingga kewajiban pencegahan TPPU/TPPT oleh notaris dapat terlaksana secara lebih sinkron, efektif, dan sejalan dengan perkembangan rezim Anti TPPU dan TPPT.
Keabsahan Akta Pengikatan Jual Beli yang Dibatalkan oleh Pengadilan dan Akibat Hukum Terhadap Notaris Herman, Jesselyn Valerie; Wartoyo, Franciscus Xaverius
Notary Journal Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nj.v6i1.10452

Abstract

The problem examined in this study arises from Supreme Court Decision No. 903 PK/Pdt/2025, which annulled a Deed of Sale and Purchase Agreement (Akta Pengikatan Jual Beli, or APJB) due to misuse of its legal function. The APJB, which is originally intended as a preliminary agreement prior to the transfer of land rights, was instead used as collateral for a loan. This misuse created a defect of consent, as the formal structure of the deed did not reflect the parties’ true intentions. The purpose of this research is to analyze the legal validity of the annulled APJB and to examine the notary’s professional responsibility in the creation of a deed containing such a defect of consent. This study employs a normative-empirical legal research method by reviewing legislation, legal doctrines, and field data related to notarial practice. The findings indicate that although the deed formally meets the requirements of an authentic deed, it is materially defective due to a discrepancy between the expressed and actual intentions of the parties. Therefore, the annulment should be based on a defect of consent rather than a latent defect. This study emphasizes the importance of prudence, ethical responsibility, and procedural integrity in notarial practice to ensure legal certainty and protection for all parties. Bahasa Indonesia Abstract: Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari Putusan Mahkamah Agung Nomor 903 PK/Pdt/2025 yang membatalkan Akta Pengikatan Jual Beli (APJB) karena penyalahgunaan fungsi akta. APJB yang seharusnya berperan sebagai perjanjian pendahuluan sebelum peralihan hak atas tanah, dalam kasus tersebut justru digunakan sebagai jaminan pinjaman uang. Penyimpangan ini menimbulkan cacat kehendak karena bentuk formal akta tidak mencerminkan maksud sebenarnya para pihak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keabsahan hukum APJB yang dibatalkan tersebut serta mengkaji akibat hukum notaris terhadap lahirnya akta yang mengandung cacat kehendak. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-empiris dengan menelaah peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, serta data lapangan terkait praktik kenotariatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun akta memenuhi syarat formal sebagai akta otentik, secara materiil akta tersebut cacat karena adanya ketidaksesuaian antara kehendak dan pernyataan para pihak. Dengan demikian, pembatalan seharusnya didasarkan pada cacat kehendak, bukan cacat tersembunyi. Penelitian ini menegaskan pentingnya kehati-hatian, tanggung jawab etis, dan integritas profesional notaris dalam pembuatan akta untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak.
Strategi Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dalam Implementasi Peraturan Perlindungan Data Pribadi: Studi Kasus di Kecamatan Sibolangit Ginting, Jamin; Sukardi, Ellora; Roseny, Chelsea Surya; Maya Puteri, Elisabeth Ryanthie
Notary Journal Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nj.v6i1.10329

Abstract

This study analyzes the strategy of the Deli Serdang Regency Government in implementing personal data protection regulations, especially in Sibolangit District. In technological developments, the advancement of information technology has increased individual privacy risks, such as identity theft and data leaks. Law Number 27 of 2022 concerning Personal Data Protection (UU PDP) serves as a significant step to protect individual rights in the collection, use, and exchange of personal data. However, implementation at the local level faces challenges. This research uses a qualitative approach with a case study design, involving interviews, observations, and the distribution of questionnaires to 80 respondents from various backgrounds in Sibolangit District. The results show several challenges, such as some community members not fully understanding the UU PDP, a high incidence of data misuse, and a gap between normative awareness and practical caution in managing personal data. Although the public is aware of the importance of data protection, 64 out of 80 respondents are still willing to provide personal data for promotions or certain application registrations. In response, the Deli Serdang Regency Government has implemented strategies that include socializing the dangers of social media use and commercial service registration. The government has also integrated the Satu Data Indonesia program for human resource development and information dissemination through various media. This study recommends the need to strengthen infrastructure, improve human resource capacity, and conduct more targeted education for the public, especially young people and government employees, to be more prudent in managing personal data. Bahasa Indonesia Abstract: Penelitian ini menganalisis strategi Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dalam mengimplementasikan peraturan perlindungan data pribadi, khususnya di Kecamatan Sibolangit. Perkembangan digital, kemajuan teknologi informasi telah meningkatkan risiko privasi individu, seperti pencurian identitas dan kebocoran data. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) hadir sebagai langkah signifikan untuk melindungi hak-hak individu dalam pengumpulan, penggunaan, dan pertukaran data pribadi. Namun, implementasi di daerah menghadapi tantangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner kepada 80 responden dari berbagai latar belakang di Kecamatan Sibolangit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tantangan, seperti sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami UU PDP, tingginya insiden penyalahgunaan data, dan adanya celah antara kesadaran normatif dan kehati-hatian praktis dalam mengelola data pribadi. Meskipun masyarakat menyadari pentingnya perlindungan data, 64 dari 80 responden masih bersedia memberikan data pribadi untuk promosi atau pendaftaran aplikasi tertentu. Sebagai respons, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menerapkan strategi yang meliputi sosialisasi bahaya penggunaan media sosial dan pendaftaran layanan komersial. Pemerintah juga telah mengintegrasikan program Satu Data Indonesia untuk pengembangan sumber daya manusia dan diseminasi informasi melalui berbagai media. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan infrastruktur, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan edukasi yang lebih terarah kepada masyarakat, khususnya kaum muda dan pegawai pemerintah, agar lebih bijaksana dalam mengelola data pribadi.

Page 1 of 1 | Total Record : 3