cover
Contact Name
Muhammad Sandi Rosyadi
Contact Email
muasarah@uin-antasari.ac.id
Phone
+6281253539509
Journal Mail Official
muasarah@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/muasharah/about/editorialTeam
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer
ISSN : -     EISSN : 28287746     DOI : -
Fokus dalam jurnal ini adalah "Islam Kontemporer" dan lingkupnya adalah: Islam sebagai Ajaran Islam sebagai lembaga Islam sebagai praktik ekonomi Islam dan politik Islam dan kebudayaan Penerapan Islam oleh penganutnya
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2021): Juli" : 6 Documents clear
ESENSI DAN URGENSI BUMI SEBAGAI RESERVOIR AIR (TINJAUAN TAFSIR EKOLOGI) Munawarah Munawarah
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.061 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4956

Abstract

Earth has a major role in maintaining the balance of the water cycle as an essential element of life. However, humans, as agents who should participate in maintaining the balance, do the opposite. Deforestation, irresponsible mining and littering by humans have disrupted the function of the earth as a water reservoir. Climate change, floods, clean water crises, landslides, droughts and ecosystem damage are the impacts. This article aims to explore the main principles in the Qur'an regarding the essence and urgency of maintaining the balance of the earth's role as a water reservoir. In the perspective of ecological interpretation, there are ethical-theological principles in the management of natural resources offered by the Qur'an, namely: First, the principle of al 'adalah is (does not apply persecution to nature and the environment). Second, the principle of al-tawâzun (maintaining the balance of the functions of nature and the environment). Third, the principle of al-intifa’ dûn al-fasad (taking benefits without destroying). Fourth, the principle of al-ri'âyah dûn al-isrâf (use while maintaining and caring for). Fifth, the principle of al-tahdits wa al-istikhlaf (renewal of natural resources that are indeed possible to be renewed). Bumi memiliki peran utama dalam menjaga keseimbangan siklus air sebagai unsur esensial kehidupan. Meskipun demikian, manusia sebagai sebagai agen yang seharusnya turut memelihara keseimbangan itu melakukan tindakan yang sebaliknya. Penggundulan hutan, penambangan tidak bertanggung jawab dan buang sampah sembarangan yang dilakukan manusi menyebabkan fungsi bumi sebagai reservoir air menjadi terganggu. Perubahan iklim, banjir, krisis air bersih, tanah longsor, kekeringan dan kerusakan ekosistem menjadi dampaknya. Artikel ini bertujuan menggali prinsip-prinsip utama dalam Al Qur’an tentang esensi dan urgensi pemeliharaan keseimbangan peran bumi sebagai reservoir air. Dalam perspektif tafsir ekologi, ada prinsip-prinsip etis-teologis dalam pengelolaan sumber daya alam yang ditawarkan al-Qur’an, yaitu: Pertama, prinsip al ‘adalah (tidak berlaku aniaya terhadap alam dan lingkungan). Kedua, prinsip al-tawâzun (menjaga keseimbangan fungsi alam dan lingkungan). Ketiga, prinsip al- intifa’ dûn al-fasad (mengambil manfaat tanpa merusak). Keempat, prinsip al-ri’âyah dûn al-isrâf (mamanfaatkan sembari memelihara dan merawat). Kelima, prinsip al-tahdits wa al-istikhlaf (pembaharuan sumber daya alam yang memang memungkinkan untuk diperbaharui).
NILAI SUFISTIK PADA 13 WASIAT GURU SEKUMPUL DAN RELEVANSINYA TERHADAP MASYARAKAT MODERN Khairatun Nisa
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.011 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4960

Abstract

Guru Sekumpul, also known as KH. M. Zaini Ghani bin Abdul Ghani, is a charismatic preacher from Sekumpul, Martapura, South Kalimantan, with thousands of followers. Even after his death, the number of haul congregations presents increased year after year. Guru Sekumpul taught many Sufi teachings during his lifetime, one of which was to purify the heart. In addition, he left 13 wills to be used in community life. Given the close proximity of Guru Sekumpul's Sufi teachings to society, this study seeks to discover the value of Sufism contained in the will and its relevance in the context of modern society. This research is a review of the literature using qualitative descriptive analysis. This study demonstrates that the Sufistic value in Guru Sekumpul's will is very relevant to the conditions of modern society, which is complex and spiritually dry. The values contained are moral Sufi values, such as qana'ah, which means being grateful for what one has and not being greedy. given the many cases of corruption; patience in the face of lustful desires for the world, patience in every situation, do not give up in life seeing the many cases that occur due to inability to bear the burden of life; gratitude for all the favors that have been possessed by using it for positive things, and trust in God for all matters in life, including confronting a variety of information that is divisive in society Guru Sekumpul atau KH. M. Zaini Ghani bin Abdul Ghani merupakan ulama kharismatik dari Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan yang memiliki ribuan jama‟ah. Bahkan setelah wafatnya, jama‟ah haul yang hadir terus bertambah setiap tahunnya. Semasa hidupnya Guru Sekumpul banyak mengajarkan ajaran tasawuf salah satunya adalah cara membersihkan hati, ia juga meninggalkan 13 wasiat agar diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mengingat bahwa ajaran sufistik Guru Sekumpul yang sangat dekat dengan masyarakat, maka kajian ini ingin menemukan nilai tasawuf yang terkandung dalam wasiat tersebut dan relevansinya dalam konteks kehidupan masyarakat modern. Kajian ini merupakan kajian kepustakaan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa nilai sufistik dalam wasiat Guru Sekumpul sangatlah relevan dengan kondisi masyarakat modern yang sangat kompleks dan kering spiritual. Nilai yang terkandung adalah nilai-nilai tasawuf akhlaki, diantaranya; qana’ah, yang berarti mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak serakah, mengingat banyaknya kasus korupsi; sabar dalam menghadapi keinginan dari nafsu terhadap dunia, sabar dalam setiap keadaan, tidak berputus asa dalam hidup melihat banyaknya kasus yang terjadi karena ketidaksanggupan menanggung beban hidup; syukur atas segala nikmat yang telah dimiliki dengan menggunakannya kepada hal-hal positif, dan tawakkal kepada Allah atas segala urusan dalam hidup termasuk menghadapi berbagai informasi yang bersifat memecah belah masyarakat
PEMAKNAAN LIVING QUR’AN DALAM TRADISI BAHUMA DI DESA SUNGAI HARANG, KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Mildawati Mildawati
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.514 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4962

Abstract

The Qur'an is the primary guide for Muslims in dealing with various problems of life. The Qur'an is not only read and understood its meaning but also integrated into many social and cultural activities, even considered as something that must be done. The research method used is descriptive qualitative. The research subjects were the community and religious leaders of Sungai Harang Village. The results showed that the people of Sungai Harang always recite Al Fatihah, Al Ikhlas, An Falaq and An Nâs at every activity bahuma. The community interprets that the recitation is to get blessings, habl min al bi'ah and a means to get closer and ask for protection from Allah Al Qur’an adalah pedoman utama bagi umat Islam dalam menghadapi pelbagai problematika kehidupan. Al Qur’an tidak hanya sekedar dibaca dan dipahami maknanya, namun juga di integrasikan dalam banyak kegiatan sosial dan budaya, bahkan dianggap sebagai suatu hal yang harus dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah masyarakat dan tokoh agama Desa Sungai Harang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Sungai Harang selalu membaca surah Al Fatihah, Al Ikhlas, An Falaq serta An Nâs pada setiap kegiatan bahuma. Masyarakat memaknai bahwa pembacaan surah tersebut dalam rangka untuk mendapatkan berkah, habl min al bi’ah dan sarana mendekatkan diri dan memohon perlindungan kepada Allah
PENAFSIRAN KONTEKSTUAL AYAT PERANG DAN PENGAMALANNYA DALAM KONTEKS SOSIO-HISTORIS INDONESIA KONTEMPORER Lina Aniqoh
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.388 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4947

Abstract

It is proven in the Qur'an that several verses textually seem to command Muslims to commit violence (qital verse). This paper attempts to elaborate on the contextual interpretation of QS Muhammad verse 4 and QS at Taubah verse 5. Two verses that extremist Islamic groups often misinterpret to legitimize their destructive acts. The interpretation is carried out using Fazlur Rahman's hermeneutical methodology, double movement. The interpretation results show that the two verses contain moral values in war. Namely, war must be reactive, use the ethics of "violence," and be the last option. The main mission of warfare in the Qur'an is to construct the benefit of humanity in the world by destroying every evil. In the socio-historical context of contemporary Indonesia, the practice of these two verses is among others the basis for arguments to refute the textual interpretation of extremist Islamic groups, combating hoax issues and condemning corruption because this is part of the crime that is rife in Indonesia and has great potential to divide the unity of the Indonesian nationTerbukti dalam al Qur’an terdapat beberapa ayat yang secara tekstualis seolah memerintahkan umat Islam untuk berbuat kekerasan (ayat qital). Tulisan ini berupaya untuk mengelaborasi penafsiran kontekstual Q.S Muhammad ayat 4 dan Q.S at Taubah ayat 5. Dua ayat yang seringkali dimisinterpretasikan oleh kelompok Islam ekstrimis untuk melegitimasi tindak destruktifnya. Penafsiran dilakukan dengan menggunakan metodologi hermenutika milik Fazlur Rahman, double movement. Hasil dari penafsiran menunjukkan bahwa kedua ayat tersebut mengandung nilai moral dalam peperangan yaitu peperangan harus bersifat reaktif, menggunakan etika “kekerasan” dan menjadi opsi terakhir. Misi utama peperangan dalam al Qur’an adalah untuk mengkonstruk kemaslahatan manusia di dunia dengan membumihanguskan setiap kejahatan. Dalam konteks sosio-historis Indonesia kontemporer, pengamalan kedua ayat tersebut di antaranya sebagai landasan dalil untuk menyanggah penafsiran tekstualis kelompok Islam ekstrimis, memerangi isu hoax dan mengecam tindak korupsi. Sebab hal tersebut merupakan bagian dari tindak kejahatan yang marak terjadi di Indonesia serta berpotensi besar memecah belah persatuan bangsa Indonesia
KESENIAN DAN TEKNOLOGI SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAKWAH (STUDI TERHADAP AKUN INSTAGRAM @gazali_rumi) Rahmi Hartati
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.387 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4954

Abstract

Instagram is one of the most popular social media in today's new media era, and Indonesian people are no exception. A survey released by Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) shows that in 2016 there were 19.9 million registered Instagram accounts. If it is linked in the context of dakwah communication, Instagram can be a very promising dakwah medium with a very large potential for dakwah communicants (mad'u). However, in its delivery, the right method is needed so that dakwah communication is effective. One interesting method to use is to combine technology with art. This method is applied by the Instagram account @gazali_rumi. The account conveys Madihin's art through a video feature themed on the latest social issues and inserts dakwah messages in his poetry. The dakwah communication of the @gazali_rumi account is interesting to research in the context of developing the theory and methodology of dakwah communication in accordance with the times and technology. The purpose of this research is to find out and describe how Madihin art is presented through Instagram videos as a medium of dakwah communication and how netizens respond to the dakwah communication method. This research is a case study with a descriptive method which find the results that dakwah communication on the @gazali_rumi account is through two media at once, these are Instagram as social media and Madihin traditional art media. The number of followers on this Instagram account is more than 46,600, the videos are watched by more than 26,700 viewers and are liked by more than 8000 times for each post. This shows the enthusiasm and interest of netizens for the content and methods.Instagram adalah salah satu media sosial terpopuler di masyarakat zaman new media saat ini, termasuk  masyarakat Indonesia.  Survei  yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan bahwa di tahun 2016 saja sudah ada 19,9 juta akun Instagram yang terdaftar. Jika dikaitkan dalam konteks komunikasi dakwah, Instagram dapat menjadi media dakwah yang sangat menjanjikan dengan potensi komunikan dakwah (mad’u)  yang sangat besar.  Namun  dalam penyampaiannya diperlukan metode yang tepat agar komunikasi dakwah tersebut efektif. Salah satu metode yang menarik untuk digunakan ialah memadukan teknologi dengan kesenian. Metode inilah yang diaplikasikan oleh akun Instagram @gazali_rumi. Akun tersebut menyampaikan kesenian Madihin melalui fitur vidgram bertema isu sosial terkini dan menyelipkan pesan dakwah dalam syairnya. Komunikasi dakwah akun @gazali_rumi ini menarik untuk diteliti dalam rangka pengembangan teori dan metodologi komunikasi dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana kesenian Madihin disajikan melalui video Instagram sebagai media komunikasi dakwah dan bagaimana tanggapan warga net (netizen) terhadap metode komunikasi dakwah tersebut. Penelitian ini adalah kajian studi kasus dengan metode deskriptif yang menghasilkan temuan bahwa komunikasi dakwah pada akun @gazali_rumi melalui dua media sekaligus, yaitu media sosial Instagram dan media kesenian tradisional Madihin. Jumlah pengikut akun Instagramnya lebih dari 46.600 orang, video kirimannya ditonton oleh lebih dari 26.700 orang dan disukai oleh 8000 orang lebih setiap kirimannya. Ini menunjukan antusias dan ketertarikan netizen atas konten dan metodenya.
POPULARISASI IHYÂ ‘ULÛM AL-DÎN DI NUSANTARA: MELACAK AKAR HISTORIS MELALUI SUDUT PANDANG SUFISTIK DAN HADIS In’amul Hasan
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 3, No 1 (2021): Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.425 KB) | DOI: 10.18592/msr.v3i1.4955

Abstract

al-Ghazali as the author of the Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn has an interesting life journey background. He had been an ahlu al-ra'yi (philosopher) then turned into a Sufi in his old age. This change is indicated by several his books (kitab). One of them is Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn. This literature later became popular in the Nusantara. Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn is also used as the main reference for a Muslim's life guide. However, behind the popularity of this book, many hadith scholars (muhadditsîn) gave controversial comments on the hadis that contained in this book. Although there are many critical comments, the popularity of Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn has not been forgotten in Nusantara, and it still exists today. This was seen during the Musabaqah Qiraah al-Kutub (MQK). At the event, this book was used as one of the books contested for the branch of morality. This article discusses the reasons or causes for this book to still exist, especially in Nusantara. The research was conducted with a historical approach. Then the history of the arrival of Islam to Nusantara will be explored, which is accompanied by Sufi and muhadditsîn interpretations of the hadis that contained in this book. So this article will show the popularization of Ihyâ 'Ulûm al-Dîn in Nusantara.Imam al-Ghazali sebagai pengarang kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn memiliki latar belakang yang menarik. Ia pernah menjadi ahlu al-ra’yi  (filsuf) kemudian beralih menjadi seorang sufi pada masa tuanya. Perubahan tersebut ditunjukan oleh beberapa karangannya (kitab). Salah satunya adalah Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn ini. Literatur inilah di kemudian hari menjadi populer di Nusantara. Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn juga dijadikan sebagai rujukan utama panduan hidup seorang muslim.  Namun, dibalik kepopuleran kitab ini, banyak ulama hadis (muhadditsîn) memberikan komentar yang kontroversial terhadap hadis-hadis yang dimuat dalam kitab ini. Walaupun komentar miring tersebut banyak, kepopuleran kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn tidak lusuh di Nusantara, bahkan bisa bertahan hingga saat ini. Hal itu terlihat pada saat Musabaqah Qiraah al-Kutub (MQK). Pada event tersebut, kitab ini dijadikan sebagai salah satu kitab yang dilombakan pada cabang akhlak. Artikel ini membahas alasan atau penyebab kitab ini tetap eksis, terutama di Nusantara. Penelitian dilakukan dengan pendekatan historis. Maka sejarah masuknya Islam ke Nusantara akan digali, yang diiringi dengan interpretasi sufi dan muhadditsîn terhadap hadis-hadis yang ada dalam kitab ini. Sehingga artikel ini akan menunjukan popularisasi Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn di Nusantara

Page 1 of 1 | Total Record : 6