cover
Contact Name
Him'mawan Adi Nugroho
Contact Email
himmwannugroho@unesa.ac.id
Phone
+6281334244887
Journal Mail Official
evarahmawati@unesa.ac.id
Editorial Address
English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya Building T4, 2nd floor, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Retain: Journal of Research in English Language Teaching
ISSN : 23562617     EISSN : 30322839     DOI : https://doi.org/10.26740/rt.v13i02
Core Subject : Education,
RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics. RETAIN publishes articles within the scope of English Language Teaching and Applied Linguistics.
Articles 947 Documents
THE IMPLEMENTATION OF NUMBERED HEADS TOGETHER IN TEACHING READING RECOUNT TEXTS TO THE TENTH GRADERS IN SMA NEGERI 1 KEDUNGPRING LAMONGAN
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study deals with the implementation of Numbered Heads Together in teaching reading recount texts to the tenth graders. The objectives of this study are: (1) to describe how the teacher implements “Numbered Heads Together” in teaching reading recount texts to the tenth graders, and (2) to describe the students’ attitudes toward the implementation of Numbered Heads Together in teaching reading recount texts. This research used descriptive qualitative research design. The technique was implemented in X-IIS 3 class of SMAN 1 Kedungpring Lamongan. To get the data of the study the researcher used two instruments. They were observation sheets and questionnaires. These analysis of the data showed that the teacher followed the procedures of Numbered Heads Together technique in teaching reading recount texts, and the students also participated during the implementation of Numbered Heads Together technique. The students’ attitudes showed that they reacted positively towards the implementation of the technique. In conclusion, Numbered Heads Together technique can be implemented in teaching reading because it helped the students read a recount text. There were many students of X-IIS 3 in SMAN 1 Kedungpring Lamongan agreed that they were enjoying the teaching and learning process when the technique was implemented. Since the teacher could modify the technique to make the students get more interested. Keywords: reading, Numbered Heads Together, recount texts Abstrak Penelitian ini berhubungan dengan penerapan Numbered Heads Together dalam pengajaran membaca teks recount untuk kelas sepuluh. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan bagaimana guru menerapkan Numbered Heads Together, dan (2) untuk mendeskripsikan sikap siswa terhadap penerapan Numbered Heads Together dalam pengajaran membaca teks recount. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif. Teknik ini diimplementasikan pada kelas X-IIS 3 di SMAN 1 Kedungpring Lamongan. Untuk mendapatkan data penelitian, peneliti menggunakan dua instrument, lembar observasi dan kuesioner. Data tersebut menunjukkan bahwa guru mengikuti prosedur Numbered Heads Together teknik dalam aktifitas membaca siswa, dan siswa juga berpartisipasi dalam pelaksanaan teknik tersebut. Sikap siswa menunjukkan bahwa mereka bereaksi positif terhadap pelaksanaan teknik. Kesimpulannya, Numbered Heads Together teknik dapat diimplementasikan dalam pengajaran membaca karena dapat membantu siswa dalam memahami teks bacaan recount. Ada banyak siswa dari kelas X-IIS 3 di SMA Negeri 1 Kedungpring Lamongan setuju bahwa mereka menikmati proses belajar dan mengajar ketika teknik diimplementasikan. Karena guru dapat memodifikasi teknik untuk membuat siswa lebih tertarik.. Kata Kunci: membaca, Numbered Heads Together, teks recount.
THE IMPLEMENTATION OF TASK BASED LEARNING IN TEACHING SPEAKING RECOUNT TEXTS TO THE EIGHT GRADE STUDENTS
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berbicara didefinisikan sebagai skill produk yang secara praktek dapat diobservasi dan dipengaruhi oleh komponen bahasa, seperti aksen, grammar, kosa kata, kelancaran dan comprehension (Brown, 2004). Sehingga, ini membuat siswa takut akan berbicara. Masalah yang ditemukan ketika siswa berbicara adalah kesalahan linguistik, keragu-raguan, dan rendahnya kelancaran siswa. Task Based Learning diimplementasikan untuk membantu siswa dalam berbicara. Dalam teknik ini, siswa – siswa dimotivasi untuk bekerja dalam grup, membantu dan mengecek tugas teman lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan implementasi Task Based Learning dalam pengajaran teks recount kepada siswa SMP kelas VIII dari SMP Negeri 28 Surabayadan untuk mendeskripsikan performansi siswa terhadap implementasi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengikuti prosedur Task Based Learning dengan beberapa modifikasi dalam pengajaran (Willis, 1996). Prosedurnya adalah Pre – task, during the Task, and Post Task. Dari hasil analisa performansi berbicara siswa menunjukkan bahwa performansi siswa sesuai dengan kriteria berbicara. Itu artinya siswa telah memenuhi kriteria dari performansi siswa. kesimpulannya, Task Based Learningdapat diimplementasikan dalam mengajar berbicara karena ini membantu siswa berlatih berbicara mereka. Kata Kunci: Berbicara, Teks Recount, Task Based Learning, Siswa kelas VIII. Abstract Speaking is defined as a productive skill which can be practically observed and affected by language components, such as accent, grammar, vocabulary, fluency, and comprehension (Brown, 2004). Thus, it makes the students afraid of speaking. The problems found when the students speak are linguistic errors, hesitance, and low speaking fluency. Task Based Learning is implemented to help the students to deal with speaking. In this technique, the students are driven to work in groups, help and check the others’s task This research was done to describe the implementation of Task Based Learning in teaching speaking recount texts to the eight grade students of SMP Negeri 28 Surabaya and to describe the students’ performance toward it. This isa descriptive qualitative research.The data are collected through observation. The result of this study reveals that the teacher followsTask Based Learning procedure with some modificationsin teaching speaking(Willis, 1996). The procedures arePre – task, during the Task, and Post Task. From the result of the analysis of students’ speaking performance, it reveals that it is accordance with the criteria of speaking.It means that the students have fulfilled the criteria of students’ performance.To sum up, Task Based Learning could be implemented in teachingspeaking because it helps students practise their speaking. Keywords: Speaking, Recount Texts, Task Based Learning, Eight Grade Students.
THE EFFECTIVENESS OF SCAFFOLDING TECHNIQUE TO IMPROVE READING COMPREHENSION IN NARRATIVE TEXT FOR EIGHTH GRADERS OF SMPN 43 SURABAYA Selmi
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membaca adalah salah satu skil yang harus dikuasai oleh siswa. Akan tetapi, di dalam kelas membaca, terutama membaca narrative text, siswa kurang motivasi dan merasa jenuh. Akibatnya, mereka kesulitan memahami teks yang mereka baca. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti perlu menggunakan pemahaman membaca yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan kemampuan membaca. Dalam hal ini, peneliti dapat menggunakan sebuah teknik yang dinamakan Scaffolding. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui keefektifan teknik scaffolding untuk menigkatkan pemahaman membaca teks naratif kepada siswa kelas delapan. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah “ apakah ada signifikan perbedaan pada kemampuan siswa membaca naratif teks diantara siswa yang diajarkan menggunakan scaffolding dan yang diajarkan tanpa menggunakan scaffolding? Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan eksperimental quantitatif dengan mengumpulkan data melalui pemberian pretes, pemberian dua tritmen, kemudian pemberian postes setelah tritmen untuk mendapatkan nilai siswa di dalam tritmen. Tetapi, sebelum pretes dilaksanakan, peneliti memberikan sebuah percobaan kepada kelas lain tidak untuk kelas yang mana dipilih sebagai eksperimen dan kontrol grup. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah tes bisa menjadi tes yang baik atau tidak sebelum diberikan sebagai pretes dan postes. Ada dua variabel dalam penelitian ini. Penggunaan teknikscaffolding dipilihsebagai variabelindependen danpemahamanmembaca siswaadalah variabeldependendaripenelitian ini.Populasinya adalahsiswa kelasdelapan SMPNegeri43dansampelpenelitian ini adalahdua kelasyangdipilihsecara tidak acaksebagai kelompokkontroldankelompok eksperimen. Untukinstrumenadalahtesdanuji coba. Penelitimenganalisissecara kuantitatifdengan menggunakant-test untuk mengetahuiperbedaan yang signifikandalam penguasaan membacaantara kelas delapanyangdiajarkanmenggunakanscaffoldingdalam teksnaratif danmereka yang tidak. Penelitimenemukan bahwaskorkelompok eksperimen(80,00) dankelompok kontrol(72,75). Ini berartibahwa adamaknayang berbedadalam penguasaan membacaantarasiswa kelasdelapanyangdiajarkanmenggunakanscaffoldingdalam teksnaratif danmereka yang tidak. Siswamendapatkankemajuanyang tinggikarena merekamendapatkan tritmen menggunakan teknikscaffolding. Penguasaanmembacamerekameningkat danjuga membuat merekamendapatkanskor yang lebih tinggidari sebelumnya. Berdasarkanhasil penelitian, teknikscaffolding cocok digunakanuntuk mengajarkan pemahaman membaca dalam teksnaratifuntukkelasdelapandalam meningkatkankemampuan membacamereka. Kata Kunci:Teknik Scaffolding, PemahamanMembaca, TeksNaratif. Abstract Reading is one of four skills that students have to master. However, in reading class, especially reading of narrative text the students lack of motivation and get bored. As a result, they feel difficult to comprehend the text they read. To solve this problem, the researcher needs to use reading comprehension which can motivate the students to improve their reading ability. Due to the need, the researcher can use a technique named Scaffolding. This research is designed to know the effectiveness of scaffolding technique to improve reading comprehension in narrative text to the eighth graders. The point of this research is on “Is there any significant difference in the students’ reading ability of narrative text between the students who taught by using scaffolding and those who are taught without using scaffolding? In conducting the research, the researcher used an experimental quantitative by collecting the data through giving pretest, giving two treatments, then giving posttest after treatment to get the students’ score in treatment. But, before pretest was held, the researcher gave a tryout to other class not for classes which were chosen as experimental and control group. This tryout was done to know whether the test could be the good test or not before it was given as pretest and posttest. There were two variables in this research. The use of scaffolding technique were chosen as independent variable and students’ reading comprehension were dependent variables of this research. The population was the eighth graders of SMP Negeri 43 and the samples of this research were two classes which were chosen not randomly as an experimental group and control group. For the instruments were test and tryout. The researcher analyzed quantitatively by using t-test to find out the significant difference in reading mastery between eight graders who are taught using scaffolding in narrative text and those who are not. The researcher found that the score of experimental group (80.00) and Control group (72.75). It means that there was significance different in reading mastery between the eighth graders who are taught using scaffolding in narrative text and those who are not. The students’ get high progress since they got treatment using scaffolding technique. Their reading mastery was increased and also make them get higher score than before. Based on the result of the research, scaffolding technique is appropriate to be used to teach reading comprehension in narrative text to the eight graders to improve their reading ability. Key Words: Scaffolding Technique, Reading Comprehension, Narrative Text
CODE-SWITCHING IN EFL CLASSROOM BY ENGLISH TEACHER OF SMP NEGERI 2 REMBANG
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study deals with teacher’s code-switching of teacher talk in EFL classroom. The objectives of this study are: (1) to find out the types of code-switching used by the teacher and its function, (2) to investigate the teacher’s reason in using code-switching, and (3) to investigate find out the student’s attitude towards teacher’s code-switching. This research is designed in descriptive qualitative research. An English teacher and her students of seventh graders in SMP Negeri 2 Rembang were observed during class session and recorded. The classroom talks that have been recorded was transcribed and analysed by the researcher to find out the answers of the first research questions. Moreover, audio interview was also employed to answer the second and third research questions. The result of this study shows that there were three types of code-switching used by the teacher namely tag-switching, inter-sentential switching and intra-sentential switching. Also, the teacher’s reason of using code-switching was explaining material, creating humor, conveying meaning and creating intimacy. In addition, dealing with this code-switching, student obviously have positive attitude and agreed that it brings a positive effect to them. Keywords: Teaching English as Foreign Language, Teacher Talk, Code-Switching Abstrak Penelitian ini berhubungan penggunaan alih kode dalam percakapan guru di kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Tujuan penelitian ini diantaranya adalah: (1) melacak tipe alih kode yang digunakan oleh guru dan fungsinya (2) melacak alasan guru dalam menggunakan alih kode, (3) mengetahui sikap murid menyikapi alih kode yang digunakan oleh guru. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif sebagai desain penelitian.Seorang guru bahasa inggris dan sejumlah siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Rembang telah diobservasi dan direkam selama proses belajar mengajar untuk menjawab pertanyaan penelitian yang pertama. Cek list dan wawancara juga digunakan untuk menjawab pertanyaan yang kedua dan ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan tiga jenis alih kode: tag-switching, inter-sentential switching, dan intra-sentential switching. dan alasan guru menggunakan alih kode adalah untuk menjelaskan materi, menciptakan humor, menjelaskan arti kata sulit, dan untuk kedekatan dengan murid. Dan terakhir, menghadapi alih kode guru, murid menyikapinya dengan positif dan percaya bahwa alih kode memberikan efek positif untuk mereka. Kata Kunci: Pengajaran bahasa Inggris untuk bahasa asing, Percakapan guru, Alih kode
THE IMPLEMENTATION OF LISTEN AND DRAW ACTIVITY TO TEACH LISTENING OF A DESCRIPTIVE TEXT TO THE SEVENTH GRADERS
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract In teaching listening, teachers often do a monotonous activity that is a conventional way by giving worksheet to the students, playing audio, and getting the students to write their answer. As a result, the students are able to answer the questions following the audio, but they cannot complete the task and fail to understand the message delivered. To solve the problem the writer investigated the implementation of “listen and draw” activity to teach listening of a descriptive text to the seventh graders. This research is aimed to describe not only the implementation of that technique but also the students’ attitude towards the implementation of “listen and draw” activity itself. The writer used descriptive research under qualitative approach to design the research. The subject of this study was the English teacher and the seventh grade students of SMPN 4 Gresik. The data were taken from the result of the two-meeting observation and also the result of the questionnaire. The findings show the teacher conducted the teaching and learning process in three phases, i.e. pre-listening, whilst-listening, and post-listening activities and implemented the procedure of “listen and draw” activity based on the theory with some adaptations to make the activities suitable for the learning steps suggested by 2013 curriculum. The students could draw the picture completely and interpret their idea about the text played by the audio. Moreover, the students could develop their imaginations about the picture. Furthermore, from the questionnaire it is found out that most students were interested in “listen and draw” activity and indicated positive attitudes. Keywords:“Listen and draw” activity, teaching listening, descriptive text. Abstrak Dalam pengajaran mendengarkan, para guru kerap kali melakukan kegiatan yang monoton seperti cara konvensional dengan memberikan lembar pekerjaan ke peserta didik, memutar audio, dan meminta peserta didik untuk menjawab pertanyaan. Sebagai hasilnya, siswa dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan audio akan tetapi mereka tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dan tidak dapat memahami pesan yang disampaikan audio. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, penulis meneliti penerapan kegiatan “mendengar dan menggambar” untuk pengajaran mendengarkan teks deskripsi ke siswa kelas tujuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tidak hanya penerapan dari teknik tersebut, tetapi juga tanggapan siswa kepada penerapan kegiatan “mendengar dan menggambar” itu sendiri. Penulis menggunakan penelitian deskripsi dalam pendekatan kualitatif untuk merencanakan penelitian. Subyek penelitian ini merupakan guru Bahasa Inggris dan siswa kelas tujuh di SMPN 4 Gresik. Data penelitian didapat dari hasil dua kali pengamatan dan juga hasil dari kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa guru melakukan kegiatan belajar mengajar dalam tiga sesi yaitu sebelum mendengarkan, selagi mendengarkan, dan setelah mendengarkan serta melaksanakan tata cara kegiatan “mendengarkan dan menggambar” sesuai dengan teori yang ada dengan beberapa adaptasi untuk membuat aktivitas-aktivitas tersebut cocok untuk langkah-langkah yang ada di kurikulum 2013. Selanjutnya, siswa dapat mengembangkan imajinasi mereka tentang gambar tersebut. Selain itu, kebanyakan dari siswa tertarik dengan kegiatan “mendengar dan menggambar” dan menunjukkan tanggapan yang positif. Kata Kunci: Kegiatan “mendengar dan menggambar”, pengajaran mendengarkan, teks deskripsi.
THE IMPLEMENTATION OF STORY PYRAMID IN TEACHING WRITING NARRATIVE TEXT FOR EIGHTH GRADERS AT SMPN 2 SIDOARJO  
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak MenulisadalahsalahsatuketrampilandalamBahasaInggris yang harusdikuasai. Hal iniberhubungandengantujuanpengajaranBahasaInggrisyaituuntukmengembangkankemampuanberbahasadalambentukberbicaradanmenulis. Selainitu, menulisdikenalsebagaiketrampilanBahasaInggris yang paling sulitbagisiswa. Merekamerasamenulismembingunkankarenatidakmempunyai ide dantakutuntukmembuatkesalahandalammenulis. Ditambahlagi, ketidaksukaanmenulis yang ditunjukkanolehsiswajugamemberipengaruh yang burukpadakeberhasilanmerekadalammenulis. Olehkarenaitu, guru harusmempunyaistrategidalampengajaranmenulisuntukmembantumasalahsiswa. Hal inipentingdalammemilihstrategi yang sesuaidanmenarikuntukmemotivasidanmenarikmerekauntukmeningkatkankemampuanmenulis. Story pyramid adalahsalahsatustrategi yang dapatdigunakandalampengajaranmenulis. Strategiiniadalahaktifitas yang dilakukansebelummenulis yang mendeskripsikaninformasipentingdarisebuahcerita, antara lain karakterutama, tempatkejadiandankejadianutamadalamalurcerita. Strategiinimembantuuntukmengumpulkandanmengorganisasikan ide secarajelassebelummenulisdimulai. Tujuandaripenelitianiniadalahmendeskripsikanpenerapan story pyramid dalampengajaranmenulisnaratifteksuntuksiswakelasdelapan, responsiswaterhadappenerapan story pyramid danhasiltugastulisansiswaselamapenerapan story pyramid. Penelitianiniadalahpenelitiandeskriptifqualitatif. Subjekdaripenelitianiniadalah 35 siswapadakelas 8-11 SMPN 2 Sidoarjo. Penelitianinimenggunakantigainstrrumenpenelitianuntukmemperoleh data, yaitulembarobservasi, quesionerdanhasiltugastulisansiswa. Berdasarkanhasildaripenelitian, hasil yang pertamadiperolehdenganmenggunakanlembarobservasi. Hal inimenunjukkanbahwapenerapan story pyramid dalampengajaranmenullisnaratifteksberjalandenganbaik. Prosedurdari story pyramid yang telahdilakukanoleh guru di dalamkelassesuaidenganteoridandilakukansecaraurut. Guru jugamemberikanpenjelasan yang jelassebelummenggunakan story pyramid dalampengajranmenulisnaratifteks. Hasil yang keduaadalahresponsiswaterhadappenerapan story pyramid. Data diperolehdariquesioner. Quesionerdiberikankepadasiswa yang tediridarisepuluhpertanyaandalambentukpilihanganda. Hal inimenunjukkanbahwahampirsemuasiswatertarikdalampenerapan story pyramid. Data yang terakhiradalahhasiltugastulisansiswa. Hasiltugastulisansiswa di analisisdenganmenggunakan ESL composition profile yang mempunyai lima kriteria, yaituisi, organisasi, penggunaanbahasa, kosa kata danmekanismetulisan. Kesimpulanya, story pyramid dapatdigunakandalampengajaranmenulisteksnaratifuntuksiswakelasdelapan. Story pyramid bergunauntukmembantusiswamengingat ide yang akanmerekadeskripsikansesuaidenganmaksudmereka. Kata Kunci: Story Pyramid, Menulis, TeksNaratif, ResponSiswa Abstract Writing is one of the English skills which has to be mastered. It is related to the purpose of teaching English, that is, to develop the linguistic competence both in spoken and written form. Moreover, writing is known as the most difficult skill in English for the students. They confused to start writing because they have no any ideas to write and afraid to make mistakes in their writing. In addition, the dislike of writing that is shown by the students also gives bad effect to their achievement in writing. That is why, the teacher should have strategy to help the students’ problem. It is important to choose an appropriate and interesting strategy to motivate and attract the students in improving their writing skill. Story pyramid is one of strategies that can be used in teaching writing. It is a pre-writing activity that describes important information from a story such as the main character, the setting and the major events in the plot. It helps to generate and organize the ideas clearly before it starts to write. The aims of this research are to describe the implementation of story pyramid in teaching writing narrative text for eighth graders, the students’ responses towards the implementation of story pyramid and the students’ writing task result during the implementation of story pyramid. This research is a descriptive qualitative research. The subjects of this research are 35 students in 8-11 of SMPN 2 Sidoarjo. It uses three research instruments to gain the data, those are observation checklist, questionnaire, and students’s writing task result. Based on the research finding, the first result was collected by using observation checklist. It showed that the implementation of story pyramid in teaching writing narrative text run well. The procedures of story pyramid that the teacher had been applied in a classroom appropriate with the theory and well organized. She also gave clear explanation before using story pyramid in teaching writing narrative text. The second result was students’response towards the implementation of story pyramid. The data were gotten from questionnaire. It was given to the students which consists of ten questions in the form of multiple choice. It showed that almost all of the students were interested in the implementation of story pyramid. The last result was students’writing task result. It was analyzed by using ESL composition profile which has five criteria, those are: content, organization, language use, vocabulary and mechanics. In conclusion, story pyramid can be used in teaching writing narrative text for eighth graders. It is useful to help the students to keep their ideas that they want to describe as their intention. Key Words: Story Pyramid, Writing, Narrative Text, Students’ response
AN ITEM ANALYSIS OF ENGLISH END-OF-TERM TEST WRITTEN FOR THE 9TH GRADE OF SMPN 28 SURABAYA
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tes memberi manfaat untuk guru maupun siswa. Dengan tes, guru dibantu untuk mengukur apakah tujuan pembelajaran telah tercapai. Untuk siswa, tes membuat mereka tau apakah guru mereka cukup baik dan konsisten dengan tujuan pembelajarannya ketika tes dikembalikan dan didiskusikan di kelas (Madsen, 1983:4). Sayangnya, siswa tidak mendapat manfaat tersebut karena faktanya tes jarang didiskusikan setelah pelaksanaan tes tersebut. Sebagian guru berpendapat bahwa tes sudah berakhir ketika siswa telah mendapat nilai tesnya (Heaton, 1988). Selain itu, guru kadang tidak membuat kisi-kisi soal yang merupakan hal penting dalam pembuatan soal tes. Hal ini membuat tes buatan guru tidak mempunyai karakteristik tes yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa salah satu tes buatan guru yaitu tes ujian akhir sekolah. Dengan menggunakan deskiptif sebagai desain penelitian, dan kuantitatif sebagai pendekatannya, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konten validitas, reliabilitas, tingkat kesulitan, dan tingkat diskriminasi dari tes tersebut. Melalui analisa oleh peneliti, didapatkan hasil bahwa tes ujian akhir sekolah relatif mempunyai konten validitas yang tinggi karena mencakup 75.4%. Namun, seharusnya tes dapat mencakup seluruh materi yang diajarkan guru. 24.6% dari soal yang tidak mempunyai konten validitas mengindikasikan tidak adanya kisi-kisi yang merupakan ilustrasi dari materi-materi yang ada di silabus. Tes ini juga mempunyai reliabilitas yang rata-rata karena koefisien reliabilitasnya 0.418, tingkat kesulitan yang rendah karena hanya sembilan dari tiga puluh lima soal yang berada di tingkat kesulitan yang tepat, dan tingkat diskriminasi yang kurang baik karena tes didominasi oleh soal yang kurang baik dalam mendiskriminasi siswa yang bisa dan yang kurang bisa. Kata Kunci: Analisis tes, Analisis butir soal, validitas, reliabilitas Abstract A test gives advantages to both teachers and students. For teachers, it can help them measure whether the learning objectives have been achieved or not. For students, it makes them know whether the teacher is fair and consistent with the learning objectives or not when the test is returned and discussed in the class (Madsen, 1983:4). Unfortunately, the students do not get those advantages because the test is rarely discussed after being administered. Most teachers assume that the test is over after they got the scores (Heaton, 1988). Moreover, teachers sometimes do not make item indicators that are essential in making a test. It makes the teacher-made test has no characteristics of a good test. This study was conducted to analyze one of the teacher-made tests, i.e end-of-term test. Using descriptive research as the design and quantitative as the approach, this study aims to analyze the content validity, the reliability, the index of difficulty, and the index of discrimination of the test. From the analysis, the result showed that the end-of-term test has relatively high content validity because it contains 75.4%. Ideally, it should cover the whole materials taught. The missing 24.6% indicates the absence of item indicators which are a portrayal of the materials in the syllabus. It also has moderate reliability because the coefficient of reliability is 0.418, low level index of difficulty because there are only nine out of thirty five items that are appropriate, and poor index of discrimination because the test is dominated by poor items which cannot discriminate the upper and lower group well. Keywords: Test Analysis, Item Analysis, Validity, Reliability
THE USE OF SINGLE PICTURES AS A MEDIA TO TEACH WRITING DESCRIPTIVE TEXT TO THE SEVEN GRADERS OF SMP ANGELUS CUSTOS II KEBRAON, SURABAYA
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Writing is a skill to enable the students to communicate in written. Besides, writing has much a difficulties process which is make the students who study English get difficulty because they have low mastery of vocabulary. The other problems are teaching method and environments are the main cause of students’ weaknesses in writing English and students’ difficulties in tenses. Based on those problems, the teacher can use single pictures as the alternative and interesting media in teaching writing. Single Pictures is an interesting media for teaching students in writing class. The aim of this research is to describe the implementation of single pictures to teach writing descriptive text taught by the teacher and to describe the students’ attitude toward the use of single pictures. The data of this study are obtained from the result of unstructured field notes and the result of questionnaire. The results of this study realize that the implementation of single pictures encourages the students to increase their vocabulary in writing descriptive text. In addition, the number of students’ bored on reduces through this media. It means that students feel interested in the implementation of single pictures. In conclusion, single pictures is a good and interesting media to be used in teaching writing descriptive text, especially for the seven graders, since it helps the students to solve their problems above in writing, stimulate the students’ creativity, and create an interesting atmosphere in the class. Kata Kunci: single pictures, teaching writing, descriptive text Abstrak Menulis adalah suatu keterampilan yang dapat memampukan siswa berkomunikasi dalam tulisan. Selain itu, menulis memiliki sangat banyak kesulitan dalam proses penulisan yang membuat siswa yang belajar bahasa inggris menjadi sulit karena mereka memiliki penguasaan kosakata yang rendah. Masalah yang lain adalah metode pengajaran dan lingkungan adalah merupakan masalah yang utama dari kelemahan siswa dalam menulis bahasa inggris dan kelemahan siswa dalam tenses. Berdasarkan masalah-masalah itu, guru dapat menggunakan single pictures sebagai media cadangan dan menarik dalam pengajaran menulis. Single Pictures adalah suatu media yang menarik untuk mengajar siswa dalam kelas menulis di pelajaran bahasa inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk medeskripsikan dari penggunaan single pictures untuk mengajar menulis deksriptif teks yang diajarkan oleh guru dan untuk mendeskripsikan sikap siswa terhadap penggunaan single pictures sebagai media untuk mengajar menulis deksriptif teks pada kelas tujuh. Data dari studi ini diperoleh dari hasil unstructured field notes dan hasil questionnaire. Hasil dari studi ini menyadari bahwa penerapan single pictures mendorong siswa-siswa untuk meningkatkan kosakata mereka dalam menulis deksriptif. Sebagai tambahan, angka kebosanan siswa dapat menurun melalui media ini. Itu menyimpulkan bahwa siswa-siswa merasa tertarik dalam penerapan dari single pictures. Secara kesimpulan, single pictures adalah media yang bagus dan menarik untuk digunakan dalam pengajaran menulis deksriptif teks, khususnya untuk kelas tujuh, selama itu dapat membantu siswa-siswa untuk mengatasi masalah-masalah mereka dalam menulis, merangsang kreatifitas siswa-siswa, dan menciptakan atmosfir yang menarik di dalam kelas. Key Words: single pictures, teaching writing, descriptive text
THE IMPLEMENTATION OF MAP-DRAWING AS A MEDIA TO TEACH LISTENING SKILL OF RECOUNT TEXTS TO THE TENTH GRADERS IN MA. ROUDLOTUL BANAT SIDOARJO
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study deals with the implementation of map-drawing to teach listening skill to the tenth graders. Based on the curriculum of 2013, listening of recount text is re-taught in the tenth grade. Here, the teacher is supposed to conduct listening activity of recount texts in this grade. However, the implementation of listening is sometimes neglected by some teachers. Besides, the students show a little interest in listening activity because of the task was boring. Furthermore, some students get difficulty gaining the information of the listening audio/task because they are busy with their long notes. As the result, they get a very little information, and they cannot do the task perfectly. This problem can be overcome by bringing a media, which is map-drawing. It is a media which presents incomplete map with pictures. The students’ job is to draw the lines from one place to others and put the numbers of the pictures which represent the story. In this study, the writer would like to describe the implementation of map-drawing as a media to teach listening skill of recount texts and students’ attitudes toward the implementation of this media. This study used descriptive qualitative design. The subjects chosen were the students of the tenth grade of MIA/IPA of MA. Roudlotul Banat. The observations were conducted twice. The writer used observation checklists and questionnaire to gain the data of the map-drawing implementation and students’ attitudes. The data of observation checklists were taken when the teaching-learning was conducted, and the questionnaires were given to the students after the program. From the results, the writer concluded that map-drawing could help the student do the listening activities of recount texts, because it released the students’ burdens while having listening practice by providing pictures and numbers. Besides the pictures and numbers could interest the students, so that they could do the task better. Moreover, the students also gave positive attitudes towards the implementation of map-drawing. It could be seen from the students’ ability in answering the teacher’s questions both orally and written. Key Words: Listening, Media, Map-drawing. Abstrak Penelitian ini berhubungan dengan penerapan media map-drawing dalam pengajaran listening recount teks untuk kelas x. Berdasarkan kurikulum 2013, mendengar teks recount kembali diajarkan pada kelas x. Disini, guru diharapkan untuk menerapkan latihan mendengar teks recount pada level ini. Tetapi kenyataannya praktik mendengar sering sekali diabaikan oleh guru karena latihan mendengar kurang dianggap penting. Disamping itu, siswa terkadang merasa bosan dengan pelajaran listening yang terkesan kurang menarik. Siswa juga sering kesulitan dalam menangkap informasi yang terkandung dalam audio atau teks yang dibacakan. Hal ini disebabkan karena kebanyakan siswa terlalu sibuk menulis semua apa yang mereka dengar yang pada akhirnya mereka kehilanggan informasi yang seharusnya mereka dapat, dan mereka tidak dapat mengerjakan soal mendengar dengan baik. Akan tetapi masalah ini dapat ditangani dengan menggunakan media map-drawing. Map-drawing sendiri berupa map yang berisi gambar. Tugas siswa disini adalah menggambar garis dri satu tempat ke tempat lain dan menomori lingkaran yang tersedia dengan angka pada gambar sesuai dengan ceritta. Dalam penelitian ini, penulis akan menggambarkan penerapan media map-drawing dalam mendengar teks recount untuk kelas X. Disamping itu, penulis juga akan mendiskripsikan hasil dari sikap siswa terhadap penerapan media ini. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif. Subjek yang dipilih untuk penelitihan ini adalah siswa-siswa kelas X MIA di MA. Roudlotul Banat. Penelitian dilaksanakan selama dua kali. Disamping itu, penulis menggunakan observasi ceklis dan kuesioner untuk mendapatkan data penerapan media map-drawing dan sikap siswa. Data dari observasi ceklis diambil ketika proses belajar-mengajar berlangsung, dan kuesioner dibagikan setelah proses belajar-mengajar. Dari hasil penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa map-drawing dapat membantu siswa dalam mengerjakan tugas mendengar teks recount, karena media ini dapat melepaskan sedikit beban pada siswa karena map-drawing berisi gambar dan angka. Gambar dan angka juga dapat membantu siswa tertarik terhadap praktik mendengar sehingga mereka dapat mengerjakannya dengan baik. Disamping itu, siswa juga menunjukkan sikap yang positif terhadap penerapan map-drawing. Hal ini dapat dilihat dari kemampusan siswa dalam menjawab pertanyaan guru secara lisan dan tertulis. Kata Kunci: Mendengar, Media, Map-drawing.
A Study of Teachers’ Opinion on English Textbook “When English Rings the Bell” for Seventh Graders in SMPN 1 Kota Mojokerto
RETAIN Vol 3 No 2 (2015): Volume 3, nomor 2, Mei-Agustus 2015
Publisher : RETAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu peralatan belajar mengajar adalah buku teks. Sedangkan buku teks sendiri sangat sangat membantu tugas guru dalam membuat RPP, memberikan inspirasi dalam membuat soal latihan dengan aktivitas yang selaras dengan kurikulum yang digunakan di sekolah. Di samping itu, buku teks juga digunakan oleh siswa untuk mempelajari dan juga pempraktekkan pengetahuan yang telah diberikan oleh guru pada saat pelajaran di sekolah. Pemerintah secara khusus telah membuat satu buku teks untuk masing masing mata pelajaran, untuk mengatasi permasalahan ekonomi dalam membeli buku teks yang dihadapi oleh orang tua di Indonesia. Bagaimanapun penggunaan buku teks harus memenuhi kriteria sebagai buku yang baik. Sehingga pendapat guru dapat dipertimbangakan sebagai saran untuk analisis buku teks. Penelitian ini fokus kepada pendapat guru mengenai buku teks “When English Rings the Bell”. SMPN 1 Kota Mojokerto adalah salah satu sekolah yang kini menggunakan kurikulum 2013 dan juga buku teks “When English Rings the Bell”. Dari penelitian didapat beberapa informasi mengenai buku teks seperti, pertama guru SMPN 1 Kota Mojokerto mempunyai pendapat bahwa buku teks “When English Rings the Bell” adalah buku yang baik bedasarkan literature study. Kedua, semua responden mempunyai argument yang hampir sama mengenai buku, contohnya guru harus bisa mempersiapkan sendiri banyak hal yang berhubungan dengan kebutuhan mengajar yang tidak dapat ditemukan di dalam buku. Disamping itu, saran untuk pembuat buku dalam pengembangan buku teks untuk kelas tujuh SMP, mempertimbangkan mengenai pendapat guru karena saran yang positif dapan membangun masa depan yang lebih baik. Kata Kunci: Buku Teks, Pendapat, Guru, Kurikulum Abstract One of important teaching and learning equipment is textbook. A textbook created to help both teachers and student in teaching learning process. Textbook is helpful tools for teachers to make lesson plan, giving inspiration to make exercises with activities which is in line with curriculum used in school. In English education for seventh graders is textbook titled “When English Rings the Bell”. However the use of textbook must fill some criteria of a good textbook. This study focuses on teachers’ opinion about the textbook “When English Rings the Bell”. SMPN 1 Kota Mojokerto is one of school who is currently use 2013 Curriculum and the textbook in Kota Mojokerto. Researcher collected some ideas and also suggestion for teacher about the textbook “When English Rings the Bell” as the result. From the research some information about the textbook such as first the teachers in SMPN 1 Kota Mojokerto have opinion that textbook “When English Rings the Bell” is a good book based on literature study. The textbook has good visualization. Furthermore, suggestion to the book creator in case of developing textbook for seventh graders and consider about teacher’s opinions because positive suggestion can make better future. Keyword: Textbook, Opinion, Teacher, Curriculum