cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2015)" : 11 Documents clear
WOMEN AND POLITICS IN MICHELLE MORAN’S CLEOPATRA’S DAUGHTER RAHMANIA ISWIN CINDYTHYA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10243

Abstract

Abstrak Skripsi ini fokus terhadap peran wanita dalam politik di Mesir dan Romawi kuno yang di tampilkan oleh tiga karakter dalam novel. Setiap karakter memiliki persamaan dan perbedaan peran dalam berpolitik. Persamaan antara Selene dan Kleopatra VII ialah sukses mencapai peran strategis dalam politik sebagai pemimpin di kerajaan mereka masing-masing. Meskipun demikian, perbedaan masyarakat dimana mereka hidup mempengaruhi kesuksesan mereka dalam mencapai tahta. Sebaliknya, peran Julia adalah gambaran sebagai wanita pada umumnya yang hidup pada era tersebut. Oleh karena itu, dalam studi ini analisis didasarkan pada dua rumusan masalah: (1) Bagaimana Cleopatra menjalani dua fungsinya sekaligus sebagai seorang pemimpin di negerinya dan sebagai seorang istri untuk keluarganya ? (2) apa saja perbedaan antara Cleopatra VII dan Cleopatra Selene dalam berpolitik terkait dengan perbedaan kehidupan masyarakatnya? Analisis dilakukan dengan menggunakan teori Liberal Feminism yang menganalisi peran wanita dalam politik dan hak- hak dasar lainnya. Selain itu, pendekatan Feminism juga digunakan untuk mendukung dan menganalisis kondisi wanita di dalam masyarakat. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa wanita mampu untuk menjadi adil menjalankan kedua fungsinya sekaligus. Ini dibuktikan oleh Kleopatra yang mampu memimpin negerinya menuju kejayaan, dan disaat yang sama dia mampu mengatur kelurganya dengan baik. Pada analysis ini juga membuktikan bahwa Kleopatra lebih leluasa dalam berpolitik daripada putrinya, Selene. Hal ini terjadi karena masyarakat dimana Kleopatra hidup, masyarakat Mesir adalah masyarakat yang menghormati wanita dan memperlakukan mereka sejajar. Sebaliknya, lingkungan dimana Selene hidup adalah masyarakat Roma yang memperlakukan wanita sebagai individu yang lebih rendah dan sama sekali tidak dihormati sehingga wanita tidak memiliki kesempatan untuk berpolitik. Kata kunci: Liberal Feminism, peran wanita dalam politik, Mesir dan Roma kuno Abstract Key words: Liberal Feminism, Women’s role in politics, ancient Egypt and Rome. This thesis is focused on the women’s role in politics in ancient Egypt and Rome that are performed by three characters in the novel. Each character has similarity and different experiences roles in politics. The similarity between Selene and Cleopatra VII is succeeds to reach the important role in politics as the ruler in each kingdom. Nevertheless, different societies where both live influence their success in reaching the throne. In contrary, Julia portrays the common roles of women in that era. Based on these conditions, the analysis of this thesis is grounded on these two main questions: (1) how does Cleopatra cover her function both as the leader in her country and as a housewife for her family? And (2) what are the differences between Cleopatra VII and Cleopatra Selene in their political roles within different society? The analysis is done using Liberal Feminism theory which analyzes the women’s role in politics and other fundamental rights. Besides, the feminism approach supports to analyze the women condition in society. The result of the analysis shows that women are able to be equal in both lives. It is proved by Cleopatra who is able to lead the country into the victory, and at the same time she is able to manage the family well. The analysis also reveals whether Cleopatra has more freedom to play her role in politics rather than her daughter Selene. This happens because the society where Cleopatra lives, Egypt is a society that tends to put respect more on women and treat them equally. On the contrary, the society where Selene lives is Rome society, that treats women as an inferior and respectless so women have limit access in politics.
TOTALITARIANISM IN MO YAN’S BIG BREASTS AND WIDE HIPS
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10294

Abstract

Abstrak Totalitarianisme adalah suatu konsep yang digunakan untuk menggambarkan sistem politik negara yang mengatur hampir di setiap aspek kehidupan publik dan pribadi. Di novel Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan, negara menggunakan kekuasaan politik totaliter untuk mengatur masyarakatnya. Sesuatu yang dipertunjukkan, setiap individu di negara itu mendapatkan kontrol total dari pemerintah atau rezim di sana. Mereka tidak bisa melakukan apapun dengan bebas dan menghindar dari sistem. Dari fakta-fakta tersebut, permasalahan itu menghasilkan dua pertanyaan utama yaitu : Bagaimana totalitarianisme digambarkan dalam novel Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan ? dan Bagaimana keluarga Shangguan Lu dan masyarakat Gaomi Timur Laut melawan totalitarianisme di novel Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan ? Bentuk totalitarianisme diperoleh untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik totalitarianisme. Untuk menjawab permasalahan pertama, penelitian ini menggunakan teori totalitarianisme menurut Carl Joachim Friedrich dan Zbigniew K Bzezinski. Masalah kedua dijawab dengan menggunakan konsep dari Amartya Sen tentang bagaimana mendapatkan kebebasan politik dari sistem totalitarianisme. Data ini menyajikan gambaran negara totaliter yang memiliki kontrol total dari pemerintah China atau rezim dan bagaimana masyarakatnya dan tokoh-tokoh dalam novel ini melawan terjadinya totaliter. Analisis ini menggambarkan sistem politik totalitarianisme di Cina di era Mao Zedong dan cara untuk melawan totalitarianisme itu. Bentuk-bentuk totalitarianisme digunakan untuk menggambarkan karakteristik totalitarianisme yang terjadi di masyarakat Gaomi Timur Laut. Selain itu, pengalaman ideologi totaliter membawa tindakan untuk melawannya dalam kehidupan mereka. Keluarga Shangguan Lu dan masyarakat memperlihatkan kecemasan dan ketakutan, lalu dari perlawanan terhadap totalitarianisme, mereka mencapai kebebasan politik. Akibat-akibat dan perlawanan itu muncul karena pengalaman kontrol total mereka. Kata kunci: totalitarianisme, kecemasan, ketakutan, kebebasan politik Abstract Totalitarianism is a concept used to describe political systems to a state regulates nearly every aspect of public and private life. In Mo Yan’s Big Breasts and Wide Hips, the state uses totalitarian political rule to manage the societies. Something that is presented, every individual in the state get total control from the government or regime in there. They cannot do anything free and run from the system. From the facts, the problem delivered into two main questions of How is totalitarianism depicted in Mo Yan’s Big Breasts and Wide Hips ? and How do Shangguan Lu’s family and Northeast Gaomi society resist against totalitarianism in Mo Yan’s Big Breasts and Wide Hips ? Features of totalitarianism occur to give better understanding about characteristics of totalitarianism. To answer the first problem, this study uses the theory of totalitarianism by Carl Joachim Friedrich and Zbigniew K Bzezinski. The second problem is answered by using the concept from Amartya Sen about how to get the political freedom from totalitarianism system. The data presents the image of totalitarian country which has total control from the government of China or the regime and how do their societies and the characters in the novel resist against totalitarian experiences. The analysis depicts political system of totalitarianism in China in the Mao Zedong era and the way to resist againts the totalitarianism. The features of totalitarianism are used to depict the characteristics of totalitarianism that happens in Northeast Gaomi society. Furthermore, the totalitarian ideology experience brings action to resist againts it in their life. Shangguan Lu’s family and societies appearance anxiety and fear, then from the resist againts totalitarianism, they achieve political freedom. Those effects and resist arise because of their total control experience. Key words: totalitarianism, anxiety, fear, political freedom
LESTER BALLARD’S NECROPHILIA IN CORMAC MCCARTHY’S CHILD OF GOD MARATUS SHOLICHA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10295

Abstract

Abstrak Studi ini bertujuan untuk mengungkap nerophilia pada karakter Lester Ballard. Lester Ballard adalah karakter utama dalam novel Child of God karya Cormac McCarthy dan digambarkan sebagai seorang necrophil karena dia telah melakukan hubungan seksual dengan mayat wanita dan secara seksual tertarik pada mayat tersebut. Studi ini berfokus pada dua masalah utama (1) Bagaimana penggambaran necrophilia dalam novel Child of God karya Cormac McCarthy? (2) Bagaimana necrophilia menunjukkan hasrat Lester Ballard akan dominasi? Teori psikologi necrophilia digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hasil dari pokok permasalahan pertama ditemukan bahwa Lester Ballard adalah seorang necrophil. Dia juga menunjukkan karakteristik-karakteristik yang biasa muncul dalam diri necrophil seperti kecintaan akan kekerasan, sifat kekanak-kanakan dan antisosial. Necrophilia dalam diri Lester Ballard juga dapat dilihat dari tingkah lakunya. Awalnya dia tidak tertarik pada mayat dan hanya mendambakan wanita hidup. Kesempatan untuk merasakan tubuh wanitalah yang mendorongnya untuk melakukan aksinya. Itu membuatnya digolongkan sebagai Opportunistic Necrophile, tapi setelah merasakan kepuasan seksual dia mulai membunuhi wanita untuk kemudian memperkosa mayat mereka, hal itu merubahnya menjadi seorang Homicidal Necrophile dan pembunuh. Dalam analisa kedua, studi ini mendiskusikan tentang hasrat Lester Ballard akan dominasi. Dengan necrophilia dia bisa mengontrol orang lain. Dia merasa dominan setelah membunuh dan memperkosa mayat korbannya karena mayat tidak dapat melakukan penolakan terhadap hal-hal seksual yang dia lakukan, dan itu memberikan kepuasaan yang paling besar bagi Lester Ballard. Kata kunci: necrophilia, kekerasan, ketidakdewasaan, antisosial, dominasi Abstract This study focuses to expose the necrophilia in Lester Ballard’s character. Lester Ballard, the main character in Cormac McCarthy’s novel Child of God, is described as a Necrophile because he has done unbelievable action by has sex with a dead woman and sexually attracted to her. This study is focused on two major problems: (1) How is Lester Ballard’s necrophilia depicted in Cormac McCarthy’s novel Child of God?, and (2) How is Lester Ballard’s necrophilia represent his desire for domination in Cormac McCarthy’s novel Child of God? This study is using psychology of necrophilia theory to answer all of the problems. The result of the first statement of problems was found that Lester Ballard is a necrophile. Ballard also shows the characteristics of necrophile such as being violent, immature and antisocial. Lester Ballard’s character toward necrophilia also can be seen in his action. At first he does not have any interest with dead people and prefer to lust living woman. The opportunity to feels the girl body is the factor that make him doing his action. It makes him fall into the class of Opportunistic Necrophile, but after feels the sexual satisfaction, he kills women to rape their corpses, makes him into homicidal necrophile and murder. In the second analysis, this study discusses about Lester Ballard’s desire for domination. Necrophilia has given him control to other people. He feels dominant after killing and raping his victims because corpses can not reject him no matter what he has done to them and it gives him a greatest satisfaction. Key words: necrophilia, violence, immaturity, antisocial, domination
ENNIS AND JACKS SEXUAL ORIENTATION IN ANIIE PROULX’S BROKEBACK MOUNTAIN EKA DEWI SOFIA PUTRI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10353

Abstract

Abstrak Orientasi seksual adalah bagian dari identitas seseorang. Hal ini tidak terbentuk secara alamiah tetapi terbentuk dari lingkungan di sekitar subjek. Dengan kata lain, tidak ada orientasi seksual yang menyimpang karena hal tersebut tidak tercipta sebagaimana mestinya. Dan identitas seseorang adalah sebuah aksi permormatif dari seorang individu tanpa terhubung dengan esensi dari si individu tersebut. Penelitian ini berfokus pada analisis terhadap orientasi seksual seseorang dalam novelet Brokeback Mountain oleh Annie Proulx. Dengan menganalisis topik ini, skripsi ini dibuat untuk menggambarkan orientasi seksual dari tokon Ennis dan Jack dalam novelet Brokeback Mountain oleh Annie Proulx. Selain itu, mengungkapkan factor-faktor yang berkontribusi dalam pembentukan orientasi seksual Ennis dan Jack merupakan tujuan berikutnya dari skripsi ini. Dalam menganalisis topic ini, penelitian pustaka digunakan. Sumber data didapatkan dari buku dan jurnal. Teori Queer dari Judith Butler digunakan dalam penelitian ini. Data utama dari penelitian ini adalah novelet Brokeback Mountain oleh Annie Proulx. Data didapatkan dalam bentuk kutipan, frase, monolog, dialog dan deskripsi di dalam novelet Brokeback Mountain oleh Annie Proulx yang mengindikasikan orintasi seksual dari Ennis dan Jack. Sebagai hasil dari penelitain ini, skripsi ini mengungkapkan elemen-elemen di atas yang berhubungan orientasi seksual sebagai bagian dari identitas seseorang. Hal tersebut terlihat dari interaksi dan perlakuan Ennis dan Jack terhadap satu sama lain. Faktor-faktor yang berkontribusi dalam pembentukan orientasi seksual mereka adalah peran mereka dalam masyarakat dan kebutuhan seksual mreka. Kata kunci: orientasi seksual, peran sosial, aturan sosial, homoseksualitas, biseksualitas Abstract Sexual orientation is a part of someone’s identity. It is not formed naturally but rather formed by the environment around the subject. In other words, there is no deviate sexual orientation because it is not created the way it is. And someone’s identity is a performative act of an individual without relating to the essence of that individual. This study focuses on analyzing one’s sexual orientation in Annie Proulx’s Brokeback Mountain. By analyzing the study, this thesis is made for depicting Ennis and Jack’s sexual orientation in Annie Proulx’s Brokeback Mountain. Besides that, revealing the factors that contribute in shaping Ennis and Jack’s sexual orientation is the next purpose of this thesis. In analyzing the study, library research is used. The data sources are from books and journals. Queer theory by Judith Butler is used in this study. The main data of this study is Annie Proulx’s Brokeback Mountain. The data is gained in the form of quotations, phrases, monologues, dialogues and descriptions within Annie Proulx’s Brokeback Mountain that indicate Ennis and Jack’s sexual orientation. As the result of the study, this thesis reveals the elements above that related with sexual orientation as a part of someone’s identity. It is showed in Ennis and Jack’s interaction and treatment toward each other. The factors that contribute in forming their sexual orientation are their role in society and their sexual needs. Key words: sexual orientation, social role, social rule, homosexuality, bisexuality
ANNA FITZGERALD’S ALTRUISM IN JODI PICOULT’S MY SISTER’S KEEPER DIAH MAYASARI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10355

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis altruisme pada karakter Anna Fitzgerald. Anna Fitzgerald dalam novel My Sister’s Keeper ciptaan Jodi Picoult adalah karakter utama yang merupakan seorang altruistik. Sebagai seorang altruistik, Anna Fitzgerald selalu fokus pada kebaikan kakak perempuannya daripada kebaikannya sendiri. Dia selalu membantu kakak perempuannya, Kate Fitzgerald, untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Dia tidak memikirkan akan dirinya sendiri. Dia telah menyumbangkan darah, sum sum tulang belakang, dan bagian tubuh lainnya untuk mempertahankan hidup Kate. Hal ini sama seperti konsep altruisme. Altruisme adalah salah satu tipe tingkah laku manusia yang memfokuskan diri pada kesejahteraan orang lain dari pada kesejahteraan dirinya sendiri. Keberadaan altruisme dipengaruhi oleh adanya faktor penyebab. Faktor penyebab tersebut adalah perasaan empati kepada seseorang. Dengan kata lain, empati merupakan akar dari altruisme. Konsep ini digagas oleh C. Daniel Baston dalam bukunya yang berjudul Altruism in Human. Konsep tersebut digunakan dalam studi ini untuk menjawab dua permasalahan pokok. Dua permasalahan tersebut adalah bagaimana altruisme dalam diri Anna Fitzgerald yang ada dalam novel My Sister’s Keeper, karangan Jodi Picoult dan pengaruh apa saja yang timbul sebagai akibat dari altruisme dalam hidup Anna Fitzgerald. Pembelajaran ini menunjukkan bahwa Anna merupakan seorang altruistik. Dia memiliki keempat karakteristik dari altruisme, yaitu dia senang membantu Kate; apa yang telah dia lakukan pada Kate bukan hanya untuk kebaikan Kate tapi juga untuk keluarganya; dia telah memperoleh resiko besar karena pengorbanannya; dan dia tidak mengharapkan hadiah. Karena sifat altruismenya, Anna telah memperoleh dua akibat, akibat positif dan negatif. Dampak positif dalam hidup Anna adalah Anna Fitzgerald lebih sensitif pada orang lain; Anna Fitzgerald senang menolong orang lain, tidak hanya Kate; orang lain percaya pada Anna Fitzgerald; dan altruisme telah membuat Anna dekat dengan Kate. Sedangkan dampak negatifnya yaitu Kate menjadi ketergantungan pada Anna dan altruisme telah membuat Anna tidak memikirkan dirinya sendiri. Kata Kunci: Altruisme, Empati, Sakit, Kesejahteraan Abstract This study aims to analyze altruism in Anna Fitzgerald’s character. Anna Fitzgerald in Jodi Picoult’s My Sister’s Keeper is as main character who is an altruistic person. As an altruistic person, Anna Fitzgerals always focuses on her older sister’s goodness rather than herself. She always helps her older sister, Kate Fitzgerald, to recover from her illness. She does not think about herself. She has already given her blood, bone marrow, and the other part of her body to make her older sister alive. It is same with the concept of altruism. Altruism is type of human behavior that tends to focus on the welfare of others rather than his own. Existence of altruism has casual factor. The casual factor of altruism is feeling empathy to someone else. In other hand, empathic is the root of altruism. This concept is inspired by C. Daniel Batson in his book, Altruism in Human. The concepts have used in the study to answer the two statements of the problems. Those are how is Anna Fitzgerald’s altruism in Jodi Picoult’s My Sister’s Keeper and what are the impacts of altruism in Anna Fitzgerald’s life. The study showed that Anna Fitzgerald is an altruistic. She has four characteristics of altruism. They are: she likes to help Kate; all of she has done to Kate is not only for Kate but also for her family; she has received high risk because of her sacrifice; and the last, she didn’t expect any external reward. Because of Anna’s altruism, Anna has given two impacts in her life. They are positive and negative effects. The positive effects are The positive impacts of altruism in Anna Fitzgerald’s life are: Anna Fitzgerald is more sensitive to other people; Anna Fitzgerald likes to help another, it is not just Kate; other people believe on Anna Fitzgerald; and altruism has made Anna close to Kate. Then the negative effect are altruism has made Kate being addicted to Anna and altruism has made Anna didn’t think about her. Key Words: Altruism, Empathy, Illness, Welfare
ANIMAL SYMBOLISM IN YANN MARTEL’S LIFE OF PI SRI AJI DARMASTUTI
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10382

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis arti dan pengaruh dari kemunculan empat hewan sebagai simbolisasi pada karakter utama di novel Yann Martel Life of Pi. Didalam penganalisisan simbolisasi hewan yang terdiri dari empat hewan yaitu; Zebra, Orangutan, Hyena dan Harimau dinovel Yann Martel Life of Pi, membutuhkan tiga teori yang telah diterapkan untuk menemukan makna simbolisasi binatang tersebut dan pengaruhnya dalam perkembangan psikologis tokoh utama dalam novel Yann Martel Life of Pi. Dan teori tersebut terdiri dari teori semiotic dari Roland Barthes, teori simbolisme dari Northrop Frye dan teori perkembangan pisikologis pada remaja dari Erik Erikson. Dan dengan cara menggabungkan ketiga teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan Yann Martel memunculkan empat hewan sebagai tokoh utama hewan yang memiliki karakter fisik dan tingkah laku yang berbeda merupakan sebuah konsep simbolisme yang menunjukkan bahwa dibalik kekuatan, kesadaran dan rasa sakit yang diderita keempat hewan tersebut telah menggambarkan sebuah arti filosofis yang terhubung dengan konsep kehidupan manusia dalam pencarian jati diri dan penghargaan diri oleh karakter utama di Yann Martel Life of Pi. Kata Kunci: Hewan, Simbolisasi dan Perkembangan Pisikologis Abstract This study aims to analyze the four main animals and the influence in Pi’s or the main character psychology development in Yann Martel’s Life of Pi.The focused objective is to find what the meaning of four main animals to development of the sixteenth year old boy psychologists when mingling together in the lifeboat. In order to analyze Yann Martel’s Life of Pi, this research was using the theory of symbolism by Northrop Frye, semiotic theory by Roland Barthes, and psychological development of adolescent by Erik Erikson. And for the result with combine the three theories, the analyses find out that the used of different animals physical characteristic and behavior is the concept of symbolism process, which explain the animal awareness, strength and pain to represent mostly human concepts of life, sense of identity and self-esteem of the main character in Yann Martel’s Life of Pi. Keywords: Animal, Symbolism, and Psychology Development
SOCIAL CLASS AND CLASS STRUGGLE IN SUZANNE COLLINS’S THE HUNGER GAMES MOH. ARIFIN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10431

Abstract

Abstrak Perjuangankelasadalahmasalah yang selalumunculdalamsejarahperjalananmanusia, bahkandalamkehidupanmasyarakat modern perjuangankelasmasihdapatditemui.Dalam novel The Hunger GameskaryaSuzanne Collins, diceritakanduakelompokmasyarakat yang masing-masingmewakiliduakelas yang berbedadalamstruktur social masyarakat.MerekaadalahCapitol sebagaikaumpemilik modal yang memilikikuasadankekayaan, sehinggamerekabebasmelakukanapapun demi kepentinganmereka.Sebaliknya, masyarakatdistrik 12 sebagaikelasbawahtidakmemilikiapapun.Fakta-fakta yang muncultersebutmelatarbelakangimasalah-masalah yang munculseperti(1) bagaimanakehidupankelas-kelas social digambarkandalam novel The Hunger Gameskarya Suzanne Collins ? Dan (2) bagaimanaperjuangankelasdapatmunculdalam novel The Hunger Gameskarya Suzanne Collins? Metode yang digunakanadalahhermeneutika yang jugasekaligussebagaiteknik, sedangkanpendekatan yang digunakanadalahpendekatanpragmatik.Hasil yang didapatkanakanmenjelaskanbahwakeduakelompokmasyarakat yang berbedaterlibatdalamkonflik yang berkepanjangan. Kaumproletarselalumenjadiobyekeksploitasibagikaumborjuis.Tetapihalinilah yang memunculkankesadarankelasbagikaumproletar, sehinggaperjuangankelasakanmunculsebagaibentukperlawananterhadapkaumborjuis. Padaakhirnyakaumproletarharusbersatuuntukmenghancurkanmusuhmerekayaitukapitalisme yang di bawaolehkaumborjuis.Merekaharusmelenyapkankepemilikanpribadiuntukmewujudkanmasyarakattanpakelas. Kata Kunci: marxisme, perjuangankelas, dankelassosial Abstract Class struggle has a very real existence in modern society. In Suzanne Collins’s The Hunger Games there are two different classes in Panem social structure. The Capitol as a representative of the bourgeoisie and District 12 become representatives of the proletariat. The Capitol as the owner of the mode of production has wealth and power. It is make them able to do anything they want. While District 12 is the lower classes who do not have anything. They can only work for the bourgeoisie to survive. Based on that presumptively facts, problems arise along with questionings, which are delivered to two main questions of (1) How is social class depicted in Suzanne Collin’s The Hunger Games ?and (2) How does class struggle rise in Suzanne Collins’s The Hunger Games ? The used method must not get rid of hermeneutics, the approach is classified to pragmatics, while the technique scopes on the way of interpretations work on. As the result describes that different social class bring both parties engage in sustainable conflict. The proletariat as the powerless one was oppressed by bourgeois, they become object of exploitation. This raises their class consciousness. And lead to the emergence of the class struggle among them. Lastly, proletariat must unite in order to destroy their real enemy, capitalism, which was brought by the bourgeoisie. They have to abolish private property in order to establish classless society. Keywords: Marxism, class struggle, and social class
MENACE AND REASSURANCE IN HAROLD PINTER’S THE ROOM: A DECONSTRUCTIVE READING NESSA REKANOVANDA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10434

Abstract

Abstrak Penelitian ini dibuat berdasarkan masalah absurd yang banyak terjadi dalam penulisan drama yang pada akhirnya menawarkan kepada pembaca sebuah keambiguitasan yang bertujuan untuk menggali aspek yang paling penting dari sebuah ambiguitas ancaman yang bisa dilihat didalam drama komedy ancaman oleh Harold Pinter yang berjudul The Room. Harold Pinter sendiri adalah seorang pembuat drama absurd yang terkenal dan berasal dari Inggris. Dari drama absurd yang dibuat Pinter akan selalu menawarkan atau menghadirkan sebuah keambiguitasan. Drama pertama yang diciptakan oleh Harold Pinter adalah The Room, dimana dalam drama ini Pinter ingin menyampaikan sesuatu yang membingungkan tentang sebuah ancaman dari gangguan melalui penciptaan narasi yang dibuat oleh Rose yang merasa aman dan nyaman berada didalam dan merasa ada sebuah ancaman atau gangguan ketika ada tamu yang mencoba datang ke ruangannya. Bagaimanapun juga, Rose selalu mencoba untuk menerima sekaligus membantah perasaan gangguan yang dirasakan Rose ketika menerima tamu dari luar. Namun, perasaan gangguan akan ancaman itu semakin menjadi ambigu karena itu dapat menjadi menace and reassurance. Ambiguitas dalam The Room menjadi hal penting untuk menciptakan karakter yang kuat dalam drama ini. Sementara itu, dalam drama The Room, Pinter juga mencoba merubah alur cerita seperti hal lucu yang kemudian berubah menjadi kekerasan fisik yang tragis, psikologi, dan potensi ketakutan dan terror yang pada akhirnya menghasilkan menace dalam drama Pinter, The Room. Digunakan teori deconstructive reading untuk menganalisa permasalahan dalam drama ini. Batasan yang mengikat menace akan dipecah menjadi makna yang tersebar lebih luas tentang ambiguitas, bahwa ambiguitas bisa bermakna jamak. Oleh karena itu, untuk menganalisa bahasan ini kita perlu menggali keambiguitasan tentang menace melalui drama karya Harold Pinter, The Room. Kata Kunci: Absurd, menace and reassurance, deconstructive reading. Abstract This research basically problematizes the way absurd drama offers ambiguity, it aims to dig the most important aspect of the ambiguity of menace can be occupied in one of Harold Pinter’s comedy of menace, entitled The Room. Pinter is famous as an English absurdist drama, while in his drama, the ambiguity can be taken. His first play, The Room, delivers something confusing in the way the menace is brought through a narration about how Rose feels secured inside and feels that the visitors are the menace. However, Rose tries to both accept and refuse, and then the menace she means grow ambiguous, it can be menace and reassurance. Ambiguity is only particular thing of The Room’s characteristic, while Pinter also has changings in his play such as comical thing that turns to physical, psychological and potential tragic violence at the end with generating fear and terror, especially to specify the menace in Pinter’s The Room. To solve these blended components, through deconstructive reading, the boundary that binds menace is near to be broken down into scattered meaning ambiguously. Hence, to see these all out, this paper can be effort to dig the ambiguous menace up, mainly through Pinter’s The Room. Keywords: Absurd, menace and reassurance, deconstructive reading.
MARY TURNER’S MARRIAGE LIFE IN DORIS LESSING’S THE GRASS IS SINGING MONALISA VIDIA RATNA
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10490

Abstract

Abstrak Penelitian ini berjudul Mary Turner’s Marriage Life In Doris Lessing’s ‘The Grass Is Singing’. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana kehidupan pernikahan dari Mary Turner dan bagaimana reaksi penentangannya terhadap kehidupan pernikahannya sendiri. Penelitian ini akan menjelaskan hubungan antara karya sastra dan masa penulisan karya sastra tersebut. novel yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Grass Is Singing karya Doris Lessing. Sumber data diambil dari novel tersebut, sumber-sumber tertulis, dan berbagai macam sumber dari internet lainnya; dalam bentuk kutipan, komentar, dan percakapan yang menggambarkan kehidupan pernikahan Mary Turner dan bagaimana reaksinya terhadap kehidupan pernikahannya. Permasalahan tersebut akan dianalisis menggunakan teori sastra terkait. Teori-teori tersebut erdiri dari eksistensi feminism dan konsep pernikahan. Teori eksistesi feminism digunakan untuk menganalisis eksistensi wanita, terutama Mary, yang membuat posisinya lebih rendah daripada pria. Kosep pernikahan digunakan untuk menganalisis peraturan pernikahan yang membuat Mary terkekang dan merasa tidak nyaman dalam pernikahannya sendiri. Sementara itu, metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif. Penelitian ini menjawab pertanyaan dari rumusan masalah bahwa kehidupan pernikahan Mary Turner jauh dari kata bahagia, karena tekanan dari masyarakat. Terlebih lagi, ia kehilangan jati dirinya dan harus berjuang untuk menemukannya kembali di dalam pernikannya sendiri. Hal itu membuat Mary berjuang demi situasi yang sama sekali tidak diinginkannya. Reaksi atas penentangannya terhadap kehidupan pernikannya dapat dilihat ketia ia seara tidak sadar mempunyai ketertarikan seksualitas terhadap Moses. Kata Kunci: perlawanan perempuan, kehidupan pernikahan, penikahan paksa, eksistensi wanita, feminism, deskriptif-kualitatif, jurnal. Abstract This study entitles Mary Turner’s Marriage Life In Doris Lessing’s ‘The Grass Is Singing’. The purpose of this study is to describe Mary Turner’s marriage life and how to reveal her resistance towards her own marriage. This study explains the correlation between works of literature and the writing time of the works of literature. The novel used in this study is The Grass Is Singing by Doris Lessing. The data sources are taken from the novel mentioned, textual sources, and other sources from the internet; in the form of quotations, comments, and dialogue that represent how Mary Turner’s marriage life is and her resistance towards it. It is analyzed using the related literary theories. They are the theory of existetialist feminism and the concept of marriage. The theory of existetialist feminism is used to analyze the women’s existence especially Mary’s, that makes her subordinate to men. The concept of marriage is used to analyze the marriage rules that make Mary struggle in her own marriage and feel uncomfortable in her marriage. While the research methodology used is descriptive-qualitative approach. This study gives the conclusion that Mary Turner’s marriage life is unhappy, because of the social pressure. Moreover, she is losing her identity and has to fight to find herself in her marriage life. That makes her fights back on her situation she does not comfortable with. Her resistance can be seen when she unconsciously has a feeling for Moses. Keywords: woman’s resistance, marriage life, unwanted marriage, woman’s existence, feminism, descriptive-qualitative, journal.
POSTCOLONIALISM AS SPATIAL POLITICS IN ARAVIND ADIGA’S THE WHITE TIGER IRAWAN KAHARUDIN
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v3i1.10532

Abstract

Abstrak Fiksi postkolonial memiliki kecenderungan untuk memberikan perlawanan terhadap orang yang dijajah, tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya harus diyakini benar adanya, karena adakalanya penulis fiksi post-kolonial belum berhasil menawarkan ruang alternatif bagi yang dijajah. Oleh karena itu, perlu dipikirkan kembali bahwa penulis fiksi postkolonial tidak hanya menawarkan perlawanan tetapi juga kelangsungan proyek kolonial . Dengan teori politik spasial yang meliputi tempat (Place) , ruang (Space), kekacauan (Chaos) , mengganti (Overwrite), dan pasca – ruang (Post-Space) sehingga memunculkan gagasan. Dengan menggunakan salah satu novel karangan Aravind Adiga, The White Tiger . Dengan mengumpulkan serta berdasarkan fakta-fakta yang didapat. Sehingga dapat menggambarkan bagaimana perlawanan dari India pasca dijajah dan bagaimana postkolonialisme digambarkan sebagai politik spasial di dalam novel karya Aravind Adiga yang berjudul The White Tiger . Sehingga, politik spasial dapat ditemukan Kata Kunci: Fiksi Postkolonial , Resistensi , dan Politik Spasial . Abstract Postcolonial fiction has tendency to give the resistance of post colonized people, but it does not have to be trusted at all because sometimes the author of postcolonial fiction fails to offer the alternative space for the post colonized. Therefore, it should be rethought that author of postcolonial fiction is not only offering the resistance but also the continuity of colonial project. With the theory of spatial politics which includes the place, space, chaos, overwrite, and post-space, this suspicion can be made true. One of the novels that can be studied is Aravind Adiga’s The White Tiger. From this can describe the resistance of post colonized Indian and how post colonialism described as spatial politics in Aravind Adiga’s The White Tiger. Therefore, the spatial politics can be truly uncovered. Keywords: Postcolonial fiction, Resistance, and Spatial politics.

Page 1 of 2 | Total Record : 11