cover
Contact Name
Noel Ghota Prima Bayu Surbakti
Contact Email
noelsurbakti1993@gmail.com
Phone
+6285221243925
Journal Mail Official
sttsriwijaya@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Boom Pecah, Desa Pangkalan Benteng, Kec. Talang Kelapa, Kab. Banyuasin (30761), Sumatera Selatan
Location
Kab. banyuasin,
Sumatera selatan
INDONESIA
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 2723326X     EISSN : 27228487     DOI : https://doi.org/10.46974/ms
Mitra Sriwijaya merupakan jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang menjadi wadah publikasi penelitian STT Sriwijaya. Adapun tema-tema yang menjadi scope jurnal ini yakni: kebangsaan, ekologi dan kontekstualisasi. Mitra Sriwijaya menerima penelitian akan tema-tema tersebut yang ditinjau dari bidang: 1. Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Sejarah Gereja 4. Pastoral 5. Pendidikan Agama Kristen 6. Etika Kristen 7. Misiologi dll. Mitra Sriwijaya terbit dua kali dalam setahun yakni pada bulan Juli dan Desember
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021" : 5 Documents clear
Kriminalisasi Ulama dalam Teori Kekuasaan: Studi tentang Teori kekuasaan Michel Foucault dalam Kasus Kriminalisasi Kyai Sadrach di Era Penjajahan Belanda Gultom, Charles Marulan
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.512 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.31

Abstract

Abstract: The term "Criminalization of Ulama" has recently been heard in the public sphere related to political issues. In history, this is not a new issue. Criminalization has occurred since the Dutch colonial era. Why is it called criminalization of ulama? To reveal this reality, I will show the relevance of this theory of power promoted by Michel Foucault. The purpose of this explanation is to find out the patterns of criminalization of ulama. The method used is a qualitative approach by digging into the primary source of kyai sadrach's story. The variety of data collected will be reduced according to the needs and purposes of the research with analysis from various points of view. The paper will first reveal how Sadrach experienced clerical criminalization. Furthermore, Foucault's theory of power will define how power plays a role in the case of criminalization of clerics. From both exposures, researchers saw that the criminalization of clerics has political motives, in addition to the law.  Abstrak: Istilah “Kriminalisasi Ulama” baru baru ini sering terdengar di ruang publik terkait isu politik. Di dalam sejarah, hal ini bukan isu baru. Kriminalisasi sudah terjadi semenjak era penjajahan Belanda. Mengapa disebut kriminalisasi ulama? Untuk menyingkapkan realitas ini, saya akan menunjukkan relevansi ini dari teori kekuasaan yang diusung oleh Michel Foucault. Tujuan dari penjelasan tersebut kita dapat mengetahui pola-pola kriminalisasi ulama. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggali sumber primer dari kisah Kyai Sadrach. Ragam data yang terkumpul akan direduksi sesuai kebutuhan dan tujuan penelitian dengan analisa dari berbagai sudut pandang. Makalah ini pertama-tama akan mengungkapkan bagaimana Sadrach mengalami kriminaliasi ulama. Selanjutnya teori kekuasaan Foucault akan mendedah bagaimana kuasa sangat berperan dalam kasus kriminalisasi ulama. Dari kedua pemaparan tersebut, peneliti melihat bahwa bahwa kriminalisasi ulama memiliki motif politis, selain hukum.
Implementasi Pendidikan Karakter Kristiani dalam Merawat Kemajemukan Rewasan, Ruben
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.619 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.32

Abstract

Abstract: The problem of pluralism in Indonesia is still a hot topic of discussion in society. Even though in formal meetings, most accept pluralism in Indonesia as a gift. However, in reality, in grassroots society, pluralism still faces serious challenges. Perhaps because of this condition, conflicts with a plurality background are still common in Indonesia. In this situation, many people say that the conflicts were triggered by various provocations of elite interests. However, the main problem of various conflicts that occur at the grassroots is because the religious character that characterizes the spirit of pluralism is not well understood. As a result, many people are easily caught up in provocations that tear tolerance. Starting from this fact, instilling a character that accepts and appreciates and implements the spirit of accepting pluralism through a religious education approach is a priority. This is because strengthening a character that is loyal to pluralism is a solid foundation to fend off all forms of provocation that divides the nation. It is also in this interest that character education that is oriented to self-integrity that lives pluralism is the main goal. In this connection, the role of Christian Religious Education is needed in its implementation.  Abstrak: Masalah kemajemukan di Indonesia masih menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat. Walau pun dalam pertemuan-pertemuan formal sebagian besar menerima kemajemukan di Indonesia sebagai anugerah. Akan tetapi dalam kenyataannya pada masyarakat akar rumput, kemajemukan masih mendapat tantangan yang berat. Mungkin karena kondisi ini, konflik-konflik yang berlatar belakang masalah kemajemukan masih sering dijumpai di Indonesia. dalam situasi ini, banyak orang menyebutkan bahwa berbagai konflik itu dipicu oleh berbagai provokasi kepentingan para elit. Namun masalah utama dari berbagai konflik yang terjadi pada akar rumput lebih disebabkan karena karakter keagamaan yang mencirikan spirit kemajemukan tidak dihayati dengan baik. Akibatnya banyak orang dengan mudah terjebak dalam provokasi yang mengoyak toleransi. Bertolak dari kenyataan ini maka menanamkan karakter yang menerima dan menghayati serta mengimplementasikan spirit menerima kemajemukan melalui pendekatan pendidikan agama merupakan prioritasnya. Hal ini disebabkan karena dengan mengokohkan karakter yang loyal terhadap kemajemukan merupakan fondasi kokoh guna menangkis segala bentuk provokasi yang memecah-belah bangsa. Dalam kepentingan ini pula maka pendidikan karakter yang berorientasi pada integritas diri yang menghayati kemajemukan adalah tujuan utamanya. Dalam hubungan ini, peran Pendidikan Agama Kristen sangat dibutuhkan dalam implementasinya. Ini juga yang menjadi tujuan penulisan ini, yaitu sebagai sumbangan untuk menegaskan karakter kristiani yang bercirikan spirit toleran terhadap kemajemukan.  
Hospitalitas Abimelekh dan Peringatan Allah: Analisis Naratif Kejadian 20:1-18 dan Relevansinya Terhadap Peringatan yang Disertai Kekerasan Patandianan, Cindy; Rumbi, Frans Paillin; Sumiati
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.432 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.39

Abstract

Abstract: This paper aims to examine the story of Abimelech and God by using narrative interpretation as a model approach to answer the question of how is the hospitality shown by Abimelech? Does a good host deserve a warning for the fault of the guest's carelessness? Does the host need to resort to violence against a stranger who harms him? From this article, we will explore what is the background of God's stern warning to Abimelech through dreams. The approach used is the approach approach. The results of the study show that God Abimelech strictly when he was not married Sarah was already married, namely (1) the possibility of Abimelech from the danger of committing sins. (2) the punishment, preventing "all the women in Abimelech's house from becoming pregnant", lasted only so long as Abimelech was in danger of sleeping with Sarah. it was to change the situation, not for Abimelech. (3) the punishment clearly shows that Abraham was in fellowship with Almighty God. this incident probably made Abimelech respect and fear the God of Abraham. Thus, it can be said that the memory of virtue values ​​when directing a person to turn away from deviant behavior. Abstrak: Tulisan ini hendak mengkaji  kisah Abimelekh dan Tuhan dengan menggunakan tafsir naratif sebagai model pendekatan untuk menjawab pertanyaan bagaimana hospitalitas yang ditunjukkan oleh Abimelekh? Apakah seorang tuan rumah yang baik patut mendapat peringatan karena kesalahan yang ditimbulkan oleh kecorobohan sang tamu?  Apakah sang tuan rumah perlu melakukan kekerasan terhadap orang asing yang mencelakakkannya?. Dari tulisan ini akan mendalami apa yang menjadi latar belakang dari peringatan keras Allah kepada Abimelekh melalui mimpi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Tuhan memperingatkan Abimelekh dengan keras ketika dia tidak tahu Sarah sudah menikah, yaitu (1) menjauhkan Abimelekh dari bahaya berbuat dosa. (2) hukuman, mencegah "semua wanita di rumah Abimelekh untuk hamil," hanya berlangsung selama Abimelekh dalam bahaya tidur dengan Sarah. itu dimaksudkan untuk mengubah situasi, bukan untuk menyakiti Abimelekh. (3) hukuman dengan jelas menunjukkan bahwa Abraham bersekutu dengan Tuhan Yang Mahakuasa. kejadian ini mungkin membuat Abimelekh menghormati dan takut akan Tuhan Abraham. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ingatan menampakkan  nilai kebajikan ketika ditujukan untuk mengarahkan seseorang berbalik dari perilaku menyimpang.
Yesus Sang Imanuel sebagai Pembebas: Pencarian Gagasan Pembebasan dalam Injil Matius dan Implikasinya bagi Gereja di Indonesia Surbakti, Noel
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.909 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.43

Abstract

Abstract: Liberation Theology once a new hope for the Third World theology. Not only for its efforts to “liberate” Third World theology from domination of West Theology, but also for its concerns of social prolems in society. Lately, there many critics come from scholars which addressed to Liberation Theology. They declared that Liberation Theology was nurtured from wrong biblical interpretation. I see that statement not completely true. Because of that, I will observe the bible to find a liberation theme in the bible. Therefore, the purpose of this paper is to find liberation theme in the bible especially in Gospel of Matthew. For that, I will interpret several texts of Matthew which related to Jesus Emmanuel which become special characteristic in Gospel of Matthew. In my work, I will combine literer analysis with context historism of the first reader from Matthew (Matthean Community). It will find that Gospel of Matthew speak about liberation theme which presented by Jesus Emmanuel. Finally, liberation theme which Liberation Theology speak out actually have a biblical foundation. As its implication, churches in Indonesia also play a role as liberator because Jesus as head of churches is a liberator. Abstrak: Teologi Pembebasan merupakan sebuah harapan baru dalam berteologi di Dunia Ketiga. Bukan hanya karena upayanya “membebaskan diri” dari pengaruh teologi Barat, tetapi juga karena upayanya dalam memperhatikan permasalahan sosial dalam masyarakat. Tetapi belakangan ini, para ahli mengkritik Teologi Pembebasan. Beberapa ahli menyatakan bahwa Teologi Pembebasan berasal dari penafsiran Alkitab yang salah. Penulis melihat pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena itu penulis berupaya menemukan gagasan pembebasan di dalam Alkitab khususnya dalam Injil Matius. Untuk itu, penulis akan menafsirkan beberapa unit teks dalam Injil Matius yang berkaitan dengan sosok Yesus sang Imanuel yang begitu ditonjolkan dalam Injil Matius. Penafsiran tersebut memperhatikan analisis literer dan konteks historis pembaca pertama Injil Matius (komunitas Matius). Melalui kajian tersebut ditemukan bahwa Injil Matius memuat gagasan pembebasan yang diwujudkan melalui Yesus sang Imanuel. Dengan demikian gagasan pembebasan yang diusung dalam Teologi Pembebasan sesungguhnya memiliki landasan alkitabiah. Sebagai implikasinya, gereja-gereja di Indonesia juga berperan sebagai “pembebas” karena Yesus sebagai kepala gereja merupakan sosok “pembebas.”    
Pendidikan Kristen bagi Usia Lanjut di Gereja Tobing, Nancy F.L.
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.518 KB) | DOI: 10.46974/ms.v2i2.44

Abstract

Abstract: Christian education for the elderly is a teaching task that requires special attention. Because they are present among younger family members with various life problems. The church as a place for implementing Christian education requires educators who understand every struggle of the elderly and are able to contribute to the maturity of the faith of the elderly. This paper describes Christian education for the elderly in the church that can contribute to the congregation in carrying out their role in educating the elderly. The author uses a descriptive method based on the author's experiences and observations with the elderly in the Church. With this method, the writer analyzes to formulate the conception of Christian education learning for older adults. Then the author describes the strategies, principles and practices of Christian education for the elderly. Thus this paper can be useful for readers and educators to carry out the task of Christian education for the elderly in the Church. Abstrak: Pendidikan Kristen bagi lanjut usia adalah tugas pengajaran yang membutuhkan perhatian khusus. Karena mereka hadir di antara anggota keluarga yang usianya lebih muda dengan persoalan kehidupan yang beragam. Gereja sebagai wadah pelaksanaan pendidikan Kristen membutuhkan pendidik yang memahami setiap pergumulan lansia dan mampu berkontribusi untuk mendewasakan iman lansia. Makalah ini mendeskripsikan tentang  pendidikan Kristen bagi lansia di dalam gereja yang dapat berkontribusi bagi warga jemaat dalam menjalankan peran mereka untuk membelajarkan lansia. Penulis menggunakan metode deskripsi yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan penulis bersama para lansia di Gereja. Dengan metode ini, penulis menganalisis untuk merumuskan konsepsi pembelajaran pendidikan Kristen untuk orang dewasa yang lebih tua. Kemudian penulis memaparkan tentang strategi, prinsip dan praktik pendidikan Kristen untuk lanjut usia. Demikianlah makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan para pendidik untuk melaksanakan tugas pendidikan Kristen bagi para lanjut usia di Gereja.

Page 1 of 1 | Total Record : 5