cover
Contact Name
Donna Sampaleng
Contact Email
donna@gmail.com
Phone
+628129929141
Journal Mail Official
donna@gmail.com
Editorial Address
Jl. Rempoa Permai No. 2 Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12330
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 25022156     EISSN : 27160556     DOI : 10.52220
Core Subject : Religion, Education,
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan isu-isu Teologi dan Kepemimpinan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta. Focus dan Scope penelitian MAGNUM OPUS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Kepemimpinan Kristen MAGNUM OPUS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019" : 5 Documents clear
Trinitas dalam Konsep Sang Logos Bersama Sang Theos Menurut Yohanes 1:1 Untoro, Tri
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.264 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.24

Abstract

Trinity or often also so called the Trinity is a discussion of theology that continues to cause dynamics. Various accusations and theological attacks have come about this understanding of the Trinity. This article is a qualitative study of literature using the method of text analysis in John 1: 1. By using the word study approach to the words logos and theos in John 1: 1, an understanding is obtained that the two concepts refer to two distinct, but one-person, or different existences. Thus the concept in John 1: 1 refers to the existence of a trinity of God. Abstract Trinitas atau sering juga disebut tritunggal adalah bahasan teologi yang terus menimbulkan dinamika. Berbagai tudingan dan serangan teologi datang terkait pemahaman Allah Trinitas ini. Artikel ini merupakan kajian kualitatif literatur dengaan menggunakan metode analisis teks pada Yohanes 1:1. Dengan menggunakan pendekatan studi kata pada kata logos dan theos dalam Yohanes 1:1 tersebut maka diperoleh pengertian bahwa kedua konsep itu menunjuk pada dua pribadi atau eksistensi yang berbeda namun sehakikat. Dengan demikian konsep tersebut dalam Yohanes 1:1 menunjuk pada keberadaan Allah trinitas.
Memahami Missio Dei sebagai Suatu Perjumpaan Misioner dengan Budaya Amtiran, Abdon Arnolus
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.065 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.26

Abstract

 Mission is the embodiment of the great commission, and the expression of all the Bible's message, both the Old and New Testaments, about the mission of saving human life from sin. However, there are things to consider in carrying out this divine mission, namely the metaphor between missionaries and culture. This study uses a qualitative approach with descriptive methods and literature analysis. The conclusion obtained, missiono Deo is always in contact with culture, so that culture does not need to be disputed if it can be a bridge into the gospel. Abstrak Misi merupakan perwujudan dari amanat agung, dan ekspresi dari keseluruah berita Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, tentang misi menyelamatkan kehidupan manusia dari dosa. Namun demikian ada hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan misi ilahi ini, yaitu perjumpamaan antara misioner dengn budaya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan analisis literatur. Kesimpulan yang diperoleh, misio Deo selalu bersentuhan dengan budaya, sehingga budaya tidak perlu dipertentangkan jika itu dapat menjadi jembatan masuknya Injil.
Menerapkan Prinsip 2 Timotius 1:7 dalam Pelayanan Penginjilan Prabowo, Wisnu
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.534 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.31

Abstract

As God's creation, humans are given spirits by God; the spirit has various functions and uses in life. In 2 Timothy 1: 7 it is written about the spirit of fear, a spirit that awakens strength, love and order. This article examines the meaning of "the spirit of fear, the spirit that awakens strength, love and order" in 2 Timothy 1: 7. This study is a qualitative study using descriptive methods of literature and text analysis. The results obtained are: First, God never gave a spirit that made the servants of God afraid in preaching the Gospel, but God gave a spirit that was able to have strength, love and self-control. So that, despite pressure and obstacles, God's servant is still able to carry out and finish his ministry in preaching the gospel. Abstract Sebagai ciptaan Allah, manusia diberikan roh oleh Allah; roh tersebut mempunyai berbagai fungsi dan juga kegunaan di dalam kehidupan. Di dalam 2 Timotius 1:7 tertulis tentang roh ketakutan, roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Artikel ini mengkaji arti dari ungkapn “roh ketakutan, roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” dalam 2 Timotius 1:7 tersebut. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif literatur dan analisis teks. Hasil yang diperoleh adalah: Pertama, Tuhan tidak pernah memberikan roh yang menjadikan para pelayan Tuhan takut di dalam memberitakan Injil, namun Tuhan memberikan roh yang memampukan untuk mempunyai kekuatan, kasih dan penguasaan diri. Sehingga, walaupun mendapatkan tekanan dan hambatan, pelayan Tuhan tetap mampu melaksanakan dan menyelesaiakan pelayanannya dalam memberitakan Injil.
Repudiasi terhadap Anak Ditinjau dari Kitab Hakim-Hakim 11:1-11 Pakpahan, Dedek Pranto
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.44 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.32

Abstract

Repudiation of children is done with various arguments that can be accepted logically, but on the other hand it is conveyed about children who experience it. Repudiation that occurs to children is sometimes done intentionally and unintentionally by parents in various forms, including through additions in composition, abortion, mental and physical conversations and so on. Based on the book of Judges 11: 1-11, review the case approved by Jephthah. Rejection of Jephthah was carried out because of the selfish nature possessed by his brothers. Hoping that his brothers would not want Jephthah to have the inheritance of his parents. Jephthah received rejection from home. This article provides a correct understanding, how to deal with and the effects of Repudiation. Abstract Repudiasi (penolakan) terhadap anak dilakukan dengan berbagai argumentasi yang dapat diterima secara logis namun disisi lain hal tersebut membawa dampak buruk bagi anak-anak yang mengalaminya. Repudiasi yang terjadi terhadap anak kadangkala dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja oleh orang tua dalam berbagai macam bentuk, antara lain melalui penolakan dalam kandungan, aborsi, penolakan akibat cacat mental dan fisik dan lain sebagainya. Berdasarkan kitab Hakim-hakim 11:1-11, menggambarkan sebuah kasus penolakan yang dialami oleh Yefta. Penolakan terhadap Yefta dilakukan karena adanya sifat keegoisan yang dimiliki oleh saudara-saudaranya. Artinya saudara-saudaranya tidak menghendaki Yefta memiliki harta pusaka orang tuanya. Persoalan warisan inilah yang mengakibatkan Yefta mendapatkan penolakan dari keluarganya. Artikel ini bermaksud memberikan pemahaman yang benar, cara penanggulanganya serta dampak yang ditimbulkan dari tindakan repudiasi
Mengajarkan Konsep Trinitas sebagai Pembekalan Apologetis Jemaat di Era Disruptif Tatulus, Fekky Daniel Yermia
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.092 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.25

Abstract

The subject of the Trinity in the Christian faith is often the subject of questions from other religious groups that are posted to the congregation. The concept of the Trinity is not easy to understand, but the church must strive to teach the congregation so that they can become apologetic in this disruptive era. The method used in this study is descriptive and phenomenological analysis, giving an overview of the situation in the disruptive era and its effect on the lives of believers. The conclusion of this study is that the pastor as a leader has the responsibility to teach the subject of the Trinity through weekly sermons. Abstrak Pokok Trinitas dalam iman Kristen sering menjadi bahan pertanyaan dari kelompok agama lain yang dilayangkan kepada jemaat. Konsep Trinitas memang tidak mudah dipahami namun gereja tetap harus berusaha untuk mengajarkan kepada jemaat agar dapat menjadi bekal apologetis di era disruptif ini. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif dan analisis fenomenologis, memberikan gambaran tentang situasi di era disruptif dan efeknye terhadap hidup orang percaya. Kesimpulan dari kajian ini adalah, gembala sidang sebagai pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan pokok Trinitas melalui khotbah mingguan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5