cover
Contact Name
gempur sentosa
Contact Email
pepep.dw@gmail.com
Phone
+6281931254247
Journal Mail Official
jurnal.paraguna@isbi.ac.id
Editorial Address
Program Studi Seni Karawitan - Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265, Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) – 7303021
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
PARAGUNA : Jurnal Ilmiah Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Seni Karawitan
ISSN : 24076716     EISSN : 28284240     DOI : 10.26742/para
Jurnal Paraguna merupakan jurnal di lingkungan Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, yang mengedepankan pelestarian, pengelolaan dan pengembangan potensi seni, serta budaya dan kearifan lokal nusantara yang berdaya saing dalam percaturan global. Karawitan secara khusus dapat diartikan sebagai seni musik tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia. Khususnya di Pulau Jawa, Madura dan Bali. Dalam hal ini, jurusan karawitan ISBI Bandung menjadikan kebudayan Sunda sebagai kekhususan etnis yang dimaksud.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN" : 8 Documents clear
MUSIK SUNDA MODERN DAN SIARAN RADIO DI JAWA BARAT Ridwan, S.Sos., M.Sn., M.A., PhD., Indra
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1883

Abstract

Perkembangan musik Sunda modern sangat berkaitan erat dengan keberadaan stasiun radio di Jawa Barat. Pada tahun 1930-an, radio siaran digunakan untuk memromosikan, menyebarkan, dan memomulerkan berba-gai genre musik, termasuk musik Sunda modern. Musik populer dan musik Barat yang menjadi salah satu konten penting yang disiarkan melalui stasiun radio telah menginspirasi dan mendorong musisi Sunda, seperti Menir Moéda dan Soéhji Soébandi, untuk memodernisir musik Sunda. Tulisan ini mem-bahas tentang bagaimana metode dan teknik yang diciptakan dan digunakan kedua musisi Sunda tersebut dalam memodernisir musik Sunda? Apa arti modern bagi kedua musisi tersebut serta bagaimana mereka mewujudkan rasa modernitasnya ke dalam bentuk musik?            Penulis menganalisis sumber-sumber tertulis, termasuk informasi yang tercetak dalam piringan hitam dan majalah radio yang diproduksi NIROM dan VORL untuk mendeskripsikan bagaimana program musik yang dibuat dan konten musik yang disiarkan menginspirasi sekaligus memo-mulerkan hasil kreasi kedua musisi tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua musisi tersebut mengadopsi elemen-elemen, gaya, teknik, dan metode permainan yang biasa digunakan dalam musik Barat, dan menga-daptasikannya ke dalam musik demi mewujudkan rasa modernitas mereka.
KREATIVITAS PEDALANGAN WAYANG GOLEK PURWA SUNDA DI ANTARA BAYANG-BAYANG “TETEKON” S.Sn., M.Sn, Lili Suparli
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1884

Abstract

Wayang Golek adalah salah satu jenis kesenian yang saat ini masih bertahan hidup dan menunjukkan eksistensinya di antara kesenian-kesenian lainnya. Hal itu tidak terlepas dari kreativitas para senimannya, untuk mengembangkan setiap unsur seni yang terdapat di dalamnya, seperti unsur seni rupa, unsur seni sastra, unsur seni drama, unsur seni karawitan, dan unsur seni tari. Di sisi lain, kreativitas itu sering dipandang negatif terutama oleh generasi sebelumnya, dengan alasan ‘merusak’ tatanan yang telah ada, sehingga muncul pernyataan “Leupas tina tetekon” (keluar dari ketentuan-/aturan). Hal itu menyebabkan proses kreatif para pelaku seni wayang, ter-utama para dalang terhambat, karena tidak berani mengambil risiko dijuluki “dalang leupas tina tetekon”.Persoalan kreativitas dalam hal ini adalah fenoma yang ‘paradoks’, di satu sisi kreativitas mampu mempertahankan eksistensi seni wayang, tetapi di sisi lain dipandang sebagai perusak tetekon. Melalui tulisan ini, penulis a-kan membahas kaitan antara kreativitas dan tetekon, untuk memperjelas ke-dudukan kreativitas dalam tetekon Padalangan Wayang Golek Purwa Sunda.
Kendang Jaipong Dalam Iringan Pakeliran Wayang Kulit di Sanggar Warga Laras Pimpinan Seno Nugroho Yogyakarta, Indonesia Saepudin, Asep
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1885

Abstract

Penelitian ini bertujuan mencari alasan mengapa Seno Nugroho meng-gunakan kendang jaipong, fungsi Kendang Jaipong, serta menganalisis motif kendang Jaipong dalam iringan Wayang Kulit Warga Laras pimpinan Seno Nugroho di Yogyakarta. Metode observasi digunakan dalam melakukan penelitian untuk mencari data tentang tempat pertunjukan, pelaku kegiatan, waktu pertunjukan, serta peristiwa di lapangan agar tujuan penelitian dapat tercapai.Meskipun dalam iringan Wayang Kulit di Sanggar Warga Laras pim-pinan Seno Nugroho telah memiliki kendang Jawa, namun kendang Jaipong yang berasal dari Sunda Jawa Barat tetap digunakan dalam mengiringi pakeliran Wayang Kulit. Alasannya antara lain: kendang Jaipong memiliki suara lebih kumplit, memberi nuansa lain terhadap lagu, kendang Jaipong bisa digunakan dalam berbagai garap karawitan, serta kendang Jaipong sudah baku/mutlak sangat dibutuhkan untuk keberhasilan pertunjukan. Adapun fungsi kendang Jaipong terdiri atas dua yaitu fungsi yang ber-orientasi pada pasar/bisnis (yaitu untuk memenuhi selera masyarakat) dan fungsi musikal (yakni sebagai iringan tari wayang dan sebagai iringan lagu).Motif kendang Jaipong yang sering digunakan dalam iringan Wayang Kulit antara lain: improvisasi, pola ayak-ayakan, pola mandiri hasil kreativi-tas seniman, serta ragam motif tepak kendang Jaipongan. Semua motif ken-dang Jaipong ditanggapi secara kreatif oleh pengendang Seno Nugroho se-hingga hasil garapannya tidak bernuansa Sunda akan tetapi bernuansa Jawa.
NANO SURATNO, THE AGENT OF CHANGE DALAM KREATIVITAS DEGUNG Y. Widyaningsih, Aloisia Yuliana
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1887

Abstract

Kreativitas dalam degung merupakan wujud nyata dari berkembang-nya konsep musik para seniman Sunda mengikuti era perkembangan zaman. Berbagai ide muncul dengan inovasinya masing-masing dalam menciptakan kreasi-kreasi baru degung. Hal tersebut menjadi fenomena dalam karawitan Sunda dengan memunculkan fase baru yang dinamakan degung kreasi. Nano yang muncul sebagai agen perubahan di dalamnya berhasil menjadi pintu gerbang semakin maraknya kreativitas yang terjadi. Perubahan yang muncul menjauhkannya dari akar ke-klasik-an degung. Namun, model-model kreatif yang muncul kemudian tetap memiliki modal awal yang sama yaitu tradisi, baik instrumen, laras, pola-pola garapan, penggarap, hingga penik-matnya, sehingga masyarakat merasa cocok dan tetap menerima serta meli-hatnya sebagai bentuk perkembangan degung.
BUDAYA SEBAGAI LANDASAN KREATIVITAS SENIMAN Suganda, Dadang
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1888

Abstract

Kreativitas seniman dalam proses penciptaan karya-karya seninya adalah kemampuan daya cipta untuk mewujudkan karya seni yang belum pernah ada atau karya seni yang sudah ada, akan tetapi disajikan  dengan kreasi baru. Lahirnya karya-karya seni unggulan dengan ide-ide baru meru-pakan hasil  proses berfikir kreatif dari para seniman. Perkembangan budaya yang tengah terjadi saat ini, menuntut para seniman untuk terus me-ningkatkan dan mengembangkan kreativitasnya agar dapat menghasilkan karya-karya seni yang penuh inovasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat para pendukungnya. Salah satu yang dapat dijadikan landasan untuk menentukan  ide kreativitas dalam proses penciptakan karya seni, a-dalah Budaya. Kajian-kajian karya seni dalam bingkai budaya, meliputi  hal-hal yang terkait langsung mapun tidak langsung dengan realitas sosial, tra-disi, adat-istiadat, historis, religi, ekonomi, dan sistem pemerintahan.
KACAPI INDUNG TEMBANG SUNDA CIANJURAN: KAJIAN ORGANOLOGI MENGGUNAKAN METODE ORGANOGRAFI DAN ORGANOGRAM DARI MANTLE HOOD Andriani, Ani
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1889

Abstract

Organografi dan organogram adalah sebuah metode yang diciptakan oleh Mantle Hood untuk menyederhanakan instrumen dari bentuk aslinya. Organografi dan organogram dapat digunakan oleh kolektor dan museum untuk mengelompokkan instrumen musik dengan jumlah yang cukup banyak. Instrumen yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah kacapi indung tembang Sunda cianjuran. Dalam mendeskripsikan instrumen ter-dapat berbagai cara, salah satunya dengan organografi dan organogram yang wujudnya berupa gabungan-gabungan dari simbol. Hasil akhirnya, ka-capi indung tembang  Sunda cianjuran diinterpretasikan melalui gabungan simbol-simbol yang dijelaskan secara visual serta dapat menyampaikan ba-nyak informasi secara singkat padat dan jelas.
PENGALAMAN INTELEKTUAL DAN EMOSIONAL DI BALIK KESUKSESAN YUS WIRADIREDJA Ghaliyah, Bunga Dessri Nur
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1890

Abstract

Seniman merupakan salah satu faktor penentu keberlangsungan sua-tu kesenian. Salah satu seniman unggul di Jawa Barat yang telah diakui potensi dan kontribusinya adalah Yus Wiradiredja. Untuk menjadi seniman unggul, Yus Wiradiredja telah menempuh proses yang cukup panjang. Faktor keluarga, lingkungan pergaulan, pendidikan, serta pengalamannya juga turut mengantarkannya pada keberhasilan.Segala pengalaman intelektual dan emosional Yus Wiradiredja men-jadi modal baginya untuk menjadi seniman yang patut dijadikan teladan oleh para seniman generasi selanjutnya. Maka dari itu, penelitian ini akan fokus mengkaji faktor-faktor dibalik kesuksesannya tersebut yakni berupa pengala-man intelektual dan pengalaman emosional Yus Wiradiredja yang dibedah menggunakan teori sosiopsikologi Carl I Hovland, dengan menggunakan metode deskriptif analisis melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara
FUNGSI GAMELAN DEGUNG DALAM IBADAH MINGGU DI GJKI MOTEKAR JAMBUDIPA BANDUNG BARAT Wahyudin, Udin
Paraguna Vol 6 No 1 (2019): WACANA ENTITAS KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v6i1.1891

Abstract

Tulisan ini membahas tentang fungsi gamelan degung dalam ibadah umat Kristen di Gereja Jemaat Kristus Indonesia (GJKI) Motekar. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, penggunaan  karawitan dalam konteks ibadah umat Kristen sudah biasa dilakukan. Namun, di Jawa Barat sendiri penggunaan gamelan degung dalam ibadah umat Kristen masih jarang dilakukan, kecuali di GJKI Motekar Jambudipa Bandung Barat. Fenomena ini menarik untuk dikaji sekaitan dengan bagaimana pandangan dan tanggapan mereka (Jemaat GJKI Motekar) ketika tata cara ibadahnya diiringi oleh gamelan degung.Permasalahan ini akan dikaji dengan menggunakan teori fungsi Alan P. Merriam yang terdiri atas 10 fungsi musik. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis, dengan salah satu tujuannya adalah:  menjelaskan  secara deskriptif bagaimana penggunaan gamelan degung dalam konteks ibadah umat Kristen, dampak kehadiran gamelan degung yang dirasakan jemaat, proses berlangsungnya ibadah dari awal sampai akhir, dan di bagian mana saja gamelan degung digunakan.Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan gamelan degung dalam ibadah umat Kristen mampu membuat jemaat bersemangat dalam memuji Tuhan, membuat suasan hati menjadi riang, dan suasana ibadah yang cukup hangat. Kehadiran gamelan degung juga mampu menarik perhatian jemaat GJKI Motekar yang nonsuku Sunda. Mereka merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan jemaat suku Sunda yaitu adanya kenyamanan dalam ibadah, rasa senang, tenang, dan agung dalam menyembah Tuhan melalui pujian yang diiringi gamelan degung.

Page 1 of 1 | Total Record : 8