cover
Contact Name
gempur sentosa
Contact Email
pepep.dw@gmail.com
Phone
+6281931254247
Journal Mail Official
jurnal.paraguna@isbi.ac.id
Editorial Address
Program Studi Seni Karawitan - Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265, Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) – 7303021
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
PARAGUNA : Jurnal Ilmiah Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Seni Karawitan
ISSN : 24076716     EISSN : 28284240     DOI : 10.26742/para
Jurnal Paraguna merupakan jurnal di lingkungan Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, yang mengedepankan pelestarian, pengelolaan dan pengembangan potensi seni, serta budaya dan kearifan lokal nusantara yang berdaya saing dalam percaturan global. Karawitan secara khusus dapat diartikan sebagai seni musik tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia. Khususnya di Pulau Jawa, Madura dan Bali. Dalam hal ini, jurusan karawitan ISBI Bandung menjadikan kebudayan Sunda sebagai kekhususan etnis yang dimaksud.
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN" : 3 Documents clear
Es Lilin Mursih dan Fenomena Anonim Lagu Sunda Wiradiredja, Yusuf
Paraguna Vol 9 No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2138

Abstract

Adjip Rosidi dalam bukunya yang berjudul “Tembang Jeung Kawih” (2013), memaparkan 61 buah judul yang dikategorikan sebagai “tembang”, dari 61 judul tersebut 35 di antaranya dicatat sebagai NN (anonim). Apa yang melatarbelakangi banyaknya “NN” dalam tradisi musik di Sunda? Padahal, sebagaimana dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Herdini (2014), bahwa setiap karya yang merepresentasikan zaman, kreator merupakan unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam merepresentasikan pembabakan kreatifitas musikal.[1] Dari pembabakan zaman tersebut, maka muncullah nama-nama seperti; Mang Koko di era pertengahan abad ke 20, hingga Ismet Ruchimat bersama Samba Sunda di era mutakhir.Fakta yang ditunjukkan Rosidi (2014) terkait banyaknya karya musik Sunda yang “tanpa pencipta”, bisa ditemukan tidak hanya untuk lagu-lagu yang dikenal dikalangan tertentu secara terbatas saja, melainkan juga untuk lagu-lagu yang sudah populer di pentas nasional hingga internasional. Sebut saja lagu “es lilin”, di mana lagu tersebut selain sudah dikenal luas di lingkungan masyarakat Sunda dan Jawa Barat, secara nasional juga telah dikenal sebagai identitias musik Sunda, dan tak jarang sudah banyak dipentaskan dalam mewakili Indonesia di pentas dunia.Namun demikian, kenyataan popularitas lagu-nya berbanding terbalik dengan sosok penciptanya yang hingga kini tidak diketahui secara umum.Mengetahui siapa pencipta lagu di antara fenomena “NN”, tidak hanya penting dalam menemukan empu-nya lagu, tetapi dalam konteks masa kini juga penting untuk mengisi semangat riset akademik yang masih dianggap “belum tersentuh”. Dalam batas peristiwa “NN” dan sosok pencipta lagu “es lilin” itulah tulisan ini memfokuskan diri. 
Proses Pembuatan Gamelan Awi Karya Mang Dedi Kab. Sumedang Koncara, Braja Musti
Paraguna Vol 9 No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2153

Abstract

Gamelan Awi is a traditional musical instrument from Sundanese which is the result of an adaptation of a metal-based gamelan. Mang Dedi is one of the bamboo gamelan craftsmen with a form that adapts other Sundanese bamboo musical instruments. In this innovation, Mang Dedi managed to make a gamelan at a low price, this has the potential to preserve bronze gamelan which is rarely found and even very few people have it.
DAMPAK MEDIA SOSIAL DALAM FENOMENA “NYAMBAT” OLEH WIRASWARA (ALOK) SUNDA PADA KILININGAN WAYANG GOLEK Meilani, Dewi Wulan
Paraguna Vol 9 No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2175

Abstract

The presence of social media as a communication tool for people in urban and rural areas has an impact on traditional culture in Indonesia. There is an interesting phenomenon about traditional music in the commercial sphere in the West Java community in particular. This phenomenon is commonly referred to as nyambat. The emergence of this phenomenon usually occurs in arts that invite large audiences, such as wayang golek and kiliningan. Interestingly, this phenomenon can be a selling point for an entrepreneur or alok. This study uses a qualitative method with a number of data obtained through observation, interviews and documentation techniques with an ethnographic approach. Through this article, researchers will discuss the phenomenon of nyambat wiraswara in wayang golek performances, kiliningan and the impact of social media on this phenomenon. 

Page 1 of 1 | Total Record : 3