cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019)" : 3 Documents clear
Kontestasi Identitas dalam Pengobatan ala Nabi; Kajian Fenomenologi atas Munculnya Jam’iyah Ruqyah Aswaja Rofik Maftuh
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1078

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang fenomena persaingan antar komunitas ruqyah di Kabupaten Kebumen hususnya, pasca munculnya Jam’iyah Ruqyah Aswaja yang telah menyatakan afiliasi dengan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Penulis melihat ada motif-motif lain selain dakwah dan pengobatan, seperti motif ekonomi dan persaingan komunitas muslim. Telah diketahui sebelumnya bahwa ruqyah syar’iyah cenderung pada ideologi salafi, sehingga Jam’iyah Ruqyah Aswaja sebagai langkah untuk mengcounter merebaknya ruqyah syar’iyah yang secara ideologi berbeda dengan kebanyakan umat muslim di Indonesia dan hususnya di Kebumen. Terdapat tiga komunitas yang ambil bagian dalam persaingan ini, yaitu Jam’iyah Ruqyah Aswaja (JRA), Komunitas Ruqyah Kebumen (KRK) yang secara ideologi berafiliasi pada salafi dan sempalan dari Komunitas Ruqyah Kebumen. Untuk melihat hal itu, penulis mencoba menggali data dengan cara observasi dan mengumpulkan buku-buku panduan ruqyah. Selain fenomena persaingan, tulisan ini juga melihat pola transformasi ruqyah dari segi hermeneutis dan performatifnya.[This paper examines the phenomenon of competition between ruqyah communities in the Kebumen Regency, particularly after the emergence of Jam'iyah Ruqyah Aswaja, which has declared affiliation with Jam'iyah Nahdlatul Ulama. The author sees other motives besides preaching and healing, such as economic motives and Muslim community competition. It has been known before that ruqyah shariah tends to a Salafi ideology, so Jam'iyah Ruqyah Aswaja is a step to counter the spread of ruqyah Syariah is ideologically different from most Muslims in Indonesia and especially in Kebumen. Three communities took part in this competition: Jam'iyah Ruqyah Aswaja (JRA), Ruqyah Kebumen Community (KRK) which is ideologically affiliated with Salafis and a splinter from the Ruqyah Kebumen Community. To see this, the writer tries to dig up the data through observation and collect ruqyah guidebooks. Apart from the competition phenomenon, this paper also looks at the transformation pattern of the ruqyah from a hermeneutical and performative perspective.]
Niqabstyle: Media Sosial, Fashion, dan Kesalehan Sadid Halim Asnawi; Akhmad Sulaiman
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1107

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang adanya sebuah diskursus baru pada media sosial, yakni kemunculan niqabstyle. Diskursus ini mewakili sebuah tren dimana perempuan-perempuan bercadar menampilkan dirinya di media sosial dengan gaya mereka masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna-makna di balik fenomena tersebut. Pengambilan data diawali dengan pengumpulan postingan-postingan terkumpul dalam #niqabstyle. Data telah terkumpul kemudian dikategorikan berdasarkan kriteria tertentu dan dianalisis dengan Semiotika Peirce. Analisis ini memperhatikan ground, representament, dan interpretant dari objek-objek yang dikaji. Sehinga ditemukan makna-makna yang ada di balik objek tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemunculan #niqabstyle merupakan hasil dialektika antara komitmen untuk mempertahankan kesalehan dengan keinginan untuk tampil stylish dari para perempuan bercadar. Dialektika ini mendorong mereka untuk tampil stylish dengan tetap menggunakan cadar. Penampilan mereka yang seperti ini memiliki makna bahwa mereka tetap bias tampil modish dengan tetap mempertahankan komitmen mereka untuk menjadi wanita-wanita salehah.[This paper describes a new discourse on social media, namely the emergence of the niqab style. This discourse represents a trend where veiled women present themselves on social media in their own style. This study aims to reveal the meanings behind this phenomenon. Data collection begins with the collection of posts collected in #niqabstyle. The data has been collected and then categorized based on certain criteria and analyzed by Peirce's Semiotics. This analysis pays attention to the ground, representant, and interpretant of the objects being studied. The meanings behind the object are found. This research concludes that the appearance  of #niqabstyle is the dialectical result of the commitment to maintain piety and the desire to look stylish by veiled women. This dialectic encourages them to look stylish while still wearing the veil. Their appearance like this means that they can still appear modish while maintaining their commitment to becoming pious women.]
Eksistensi Malala Yousafzai Dalam Mengubah Perspektif Dunia Barat Terhadap Perempuan Muslim Zainun Wafiqatun Niam
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v4i1.1113

Abstract

The tragedy of the shooting of Malala Yousafzai by the Taliban army in 2012 opened the eyes of the world that the suppression of women's rights under the pretext of religion or culture must be resisted. As a Muslim women activist, Malala has contributed in the Islamic world, particularly in voicing women's rights to education and roles in the public sphere. The emergence of Malala played a role in shifting the negative stereotypes of the western world towards Islam in treating women. For a long time the western world assumed that Islam was discriminatory towards women, this is due to Western media coverage of Islam which often discusses distortions and misinterpretations of gender texts against the Qur'an and Hadith. This paper is intended to see the role of Malala Yousafzai in changing the negative view of the western world towards Islam in treating women. The method used is the phenomonological analysis of the Malala case and analysis of the literature on gender. The results of the study showed that the negative view of the western world regarding Islamic treatment of women is based on blind cynicism and religious fanaticism and the lack of dialogue on religious texts about gender. The emergence of Malala Yousafzai provided space for the world to dialogue religious texts that were considered gender biased. Basically, Islam has placed men and women in proportional equality. Historically, the rise of Islam has succeeded in elevating women to a high position.[Tragedi penembakan Malala Yousafzai oleh tentara Taliban pada tahun 2012 telah membuka mata dunia bahwa penindasan terhadap hak-hak perempuan dengan dalih agama ataupun budaya harus dilawan. Sebagai aktivis perempuan muslim, Malala telah memberikan kontribusi di dunia Islam, khususnya dalam menyuarakan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan peran di ruang publik. Kemunculan Malala berperan dalam menggeser stereotipe negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Sejak lama dunia barat menganggap bahwa Islam bersikap diskriminatif terhadap perempuan, hal ini dikarenakan pemberitaan media Barat tentang Islam yang sering mengalami distorsi dan kesalahan tafsir atas teks gender terhadap Al Qur'an maupun Hadis. Tulisan ini ditujukan untuk melihat peran Malala Yousafzai dalam mengubah pandangan negatif dunia barat terhadap Islam dalam memperlakukan wanita. Metode yang digunakan adalah analisis fenomonologi kasus Malala dan analisis literatur tentang gender. Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa pandangan negatif dunia barat terkait perlakuan Islam terhadap wanita didasari sinisme dan fanatisme beragama yang buta dan minimnya dialog terhadap teks keagamaan tentang gender. Kemunculan Malala Yousafzai memberikan ruang bagi dunia untuk mendialogkan teks keagamaan yang dianggap bias gender tersebut. Pada dasarnya Islam telah menempatkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan yang proporsional. Secara historis, kemunculan Islam telah berhasil mengangkat derajat wanita ke dalam kedudukan yang tinggi.]

Page 1 of 1 | Total Record : 3