cover
Contact Name
Zulkipli Lessy
Contact Email
jkiipasca@gmail.com
Phone
+6288227810471
Journal Mail Official
jkiipasca@gmail.com
Editorial Address
Published by Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta Website: http://ejournal.uin-suka.ac.id/pasca/jkii Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner
ISSN : 25794930     EISSN : 27758281     DOI : https://doi.org/10.14421/jkii.v6i2.1195
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner welcomes original research for manuscripts with various theoretical perspectives and methodological approaches. It invites researchers and scholars of all backgrounds related to Islamic studies to contribute their research covering all aspects of Islam and the Islamic world in the areas of philosophy, history, religion, political science, international relations, psychology, sociology, anthropology, economics, environmental and development issues etc. related to scientific research. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner offers an open platform for exchanging knowledge and ideas (with various perspectives) to facilitate methodological reform in Islamic studies and promote critical academic methodologies that respond to the current issues in Islam and the Islamic world.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2023)" : 5 Documents clear
Hijab sebagai Self Control terhadap Penetrasi Korean Wave Surawan Surawan; Endah Mustika Pertiwi
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1343

Abstract

Korean wave merupakan produk budaya sebagai dampak dari globalisasi yang disukai oleh masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Korean wave hadir dengan berbagai produk budaya yang menarik, salah satunya adalah daya berpakaian. Masalah kemudian muncul akibat tren pakaian korea yang dianggapcenderung lebih modern dan mengaburkan nuansa berpakaian sesuai dengan norma. Terlebih lagi penggunaan hijab di kalangan remaja muslimah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji persepsi penggunaan hijab sebagai bentuk self control terhadap Korean wave. Penulisan paper ini berupa kajian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data berupa dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah berupa catatan peristiwa yang sudah berlalu, gambar, tulisan, atau karya dari seseorang. Penggunaan hijab dinilai dapat menjadi self control bagi para penggemar sesuai dengan tiga aspek persepsi yaitu perilaku, kognitif, dan pengambilan keputusan. [The Korean wave is a cultural product because of globalization which is favored by the world community, and Indonesia is no exception. The Korean wave comes with a variety of interestingcultural products, one of which is the power of clothing. Problems then arise due to the trend of Korean clothing which is considered to be more modern and obscures the nuances of dressing according to the norm. Moreover, the use of hijab among Muslim youth. This article aims to examine the perception of wearing the hijab as a form of self-control towards the Korean wave. The writing of this paper is in the form of a descriptive library research. Data collection in the form of documentation referred to in this study is in the form of records of events that have passed, pictures, writings, or the workof someone. The use of the hijab is considered to be self-control for fans according to three aspects of perception, namely behavior, cognitive and decision-making.]
Agama Dan Identitas Diri Pada Waria di Surakarta Roudhotul Jannah
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1335

Abstract

Artikel ini dibuat untuk melihat bagaimana fungsi agama bagi waria dan juga berbagai perjalanan yang dialami oleh waria di Surakarta. Mereka sering memperoleh stigma, cemoohan dan label negatif dari masyarakat sekitar. Hal tersebut menjadikan mereka dikucilkan dan susah untuk memperoleh pekerjaan. Alhasil, karena kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik menjadikan mereka tidak jarang mengambil jalan menjadi pekerja seks komersial (PSK) dan mengamen untuk menyambung hidup. Padahal, dengan melakukan pekerjaan tersebut mereka sangat rentan terjangkit penyakit kelamin dan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Meski begitu, mereka pada hakikatnya sadar pada bahwa mencari nafkah dengan menjadi PSK adalah tidak benar. Dalam kehidupan sehari-hari mereka sangat rajin beribadah, bahkan dalam berdoa mereka sangat khusyuk dan memohon ampun kepadaNya atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang berupa wawancara kepada para waria di Surakarta. Selama ini banyak orang yang hanya menghakimi tanpa mampu memahami dari sisi kemanusiaan bahkan banyak yang menjadikan narasi agama sebagai cara untuk mengakiminya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa waria sebagaimana manusia lainnya juga mempunyai semangat sprititualitas. Bahkan mereka bisa lebih khusyuk daripada manusia pada umumnya beribadah sebab momentum ibadah mereka gunakan sebagai tempat mengadu atas berbagai tekanan yang mereka dapatkan dari masyarakat. [This study aims to examine how religion functions for waria in Surakarta, as well as the various journeys experienced by them because they often receive stigma, ridicule and negative labels from the surrounding community. This makes them isolated and difficult to get a job. As a result, due to increasingly suffocating economic needs, they often take the path of becoming commercial sex workers who are vulnerable to contracting venereal diseases and human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Even so, in their daily life they are very diligent in worship, even in prayer they are very solemn and ask Him for forgiveness for the mistakes they have made (the green ones are too detailed! Can you just summarize them?). The data source used is primary data in the form of interviews with four waria in Surakarta. So far, many people have only judged without being able to understand from a human standpoint, and many have even used religious narratives as a way to judge waria. This research shows that waria, like other humans, also have a spirit of spirituality. In fact, they can be more solemn than humans in general in worship because they use the momentum of their worship as a place to complain about the various pressures they get from society.]
Kontestasi Narasi Perempuan Dalam Website Islam: Analisis Perbandingan Mubadallah.id dan Muslimah.News Meri Andani; Romario Romario
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1342

Abstract

Artikel ini mengkaji narasi perempuan yang diproduksi oleh website Islam. Website telah menjadi sumber informasi sekaligus pengetahuan dalam memahami Islam. Salah satu isu yang menjadi sorotan dalam website Islam adalah persoalan perempuan. Penelitian ini mengambil website Mubalah.id dan Muslimahnews.com sebagai perbandingan dalam melihat narasi perempuan di website. Penelitian ini memetakan isu perempuan yang terdapat dalam website Mubadalah.id dan Muslimahnews.com. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa narasi perempuan dalam Mubadalah.id berisikan informasi dan narasi yang berupaya membuat perempuan setara, serta aktif terlibat dalam mengambil keputusan dan berisikan pesan moderat, sebaliknya dalam Muslimahnews.com, narasi perempuan seringkali menjadi subodinat dan kepatuhan, disisi lain Muslimahnews.com selalu menyampaikan bahwa Syariat Islam adalah solusi atas permasalahan perempuan. Kedua Website ini menunjukan bagaimana narasi perempuan digambarkan dalam dua sudut pandang yang berbeda, hal ini tidak lepas dari aflisiai Mubadalah.id dan Muslimahnews.com. [This article examines women’s narratives produced by Islamic websites. The website has become a source of information as well as knowledge in understanding Islam. One of the issues in the spotlight on Islamic websites is the issue of women. This study takes the websites Mubalah.id and Muslimahnews.com as a comparison in viewing women’s narratives on the website. This study maps women’s issues contained in the websites Mubdalam. id and Muslimahnews.com. The results of this study indicate that the women’s narrative in Mubidah.id contains information and narratives that seek to make women equal, and is actively involved in making decisions and contains moderate messages, on the contrary in Muslimahnews.com, women’s narratives are oftensubordinated and obedient, on the other hand, Muslimahnews. com always conveys that Islamic Shari’a is the solution to women’s problems. These two websites show how women’s narratives are described in two different perspectives, this cannot be separated from the affiliates of Mubidah.id and Muslimahnews.com.]
The Minimum Age For Marriage In Law Number 16 Of 2019 Perpective Maqashid Sharia Abdul Majid Al Najjar Ahmad Bahrul Ulum; Muslihun
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1346

Abstract

This research broadly wants to answer three problem formulations. First, the minimum age requirement for marriage. Second, the minimum age requirement for marriage in law number 19 of 2019. Third, the perspective of Maqasid al-Shari'ah Abdul Majid al-Najjar is the minimum age limit for marriage. By using the theory of Maqasid al-Shari'ah Abdul Majid al-Najjarr so that the right solution will be found regarding the problem within the minimum age limit of marriage. The results of this study indicate that the minimum age limit for marriage, which is 19 years for both men and women, is an appropriate and effective step in achieving universal benefit in the form of becoming an ideal individual. The ideal individual will produce an ideal family, where the ideal family can form an ideal society in the future. [Penelitian ini berangkat dari perubahan ketentuan batas minimal usia perkawinan dan realitas yang terjadi dalam masyarakat. Pada dasarnya, usia perkawinan bukan merupakah syarat dan rukun dalam perkawinan. Hanya saja, usia perkawinan membuktikan bahwa terdapat kemaslahatan yang akan tercapai dimasa depan apabila dilaksanakan dengan tepat. Adapun tujuan perkawinan sendiri, dimana seharusnya membawa kemaslahatan rupanya tidak dapat tercapai apabila ketentuan pembatasan tersebut tidak dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian supaya didapatkan solusi mengenai permasalahanpermasalahan tersebut. Penelitian ini secara garis besar hendak menjawab tiga rumusan masalah. Pertama, ketentuan usia minimal perkawinan. Kedua, ketentuan usia minimal perkawinan dalam undang-undang no.19 tahun 2019. Ketiga, perspektif Maqasid al-Shari’ah Abdul Majid al-Najjar dalam batas minimal usia perkawinan. Dengan menggunakan metodologi kualitatif dan dengan pendekatan Library Research, maka akan didapatkan datadata verbal mengenai ketentuan batas minimal usia perkawinan. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teori Maqasid al-Shari’ah Abdul Majid al-Najjar sehingga akan ditemukan solusi yang tepat mengenai permasalahan dalam batas minimal usia perkawinan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembatasan usia minimal perkawinan yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan, merupakan langkah yang tepat dan jitu dalam upaya mencapai kemaslahatan universal berupa menjadikan individu yang ideal. Individu yang ideal, akan menghasilkan keluarga yang ideal, dimana keluarga ideal, dapat membentu masyarakat yang ideal pada masa mendatang.]
Penerapan Hybrid Contract dalam Aplikasi BSI Mobile Banking (Analisis Hukum Ekonomi Syariah) Hasniati Hasni; Linda Amala Udzma
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v8i1.1347

Abstract

Bank Syariah Indonesia (BSI) adalah lembaga keuangan syariah yang menawarkan kemudahan dalam bertransaksi. Berbagai inovasi produk yang ditawarkan untuk bersaing di dunia perbankan. Produk tersebut berupa media aplikasi yang terhubung dengan jaringan internet dalam menggunakannya. Salah satu produknya yaitu aplikasi BSI Mobile dengan berbagai layanan yang disediakan dari pihak Bank Syariah Indonesia dalam bertransaksi. Aplikasi BSI Mobile menyediakan berbagai fitur dengan menggunakan hybrid contrak dalam penerapannya. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hukum penggunaan hybrid contract yang digunakan oleh aplikasi BSI Mobile dalam Islam. Penelitian yang digunakan ialah jenis penelitian literatre review dengan menggunakan pendekatan normative yang dijelaskan secara deskriftif. Teknik pengumpulan data menggunakan data skunder yang diperoeh dari undang-undang, buku, jurnal, artikel ilmiah dan literatur review. Fatwa DSN-MUI telah mengatur hybrid contract yang boleh di lakukan diantaranya yaitu musyarakah mutanaqisah, al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik, dan mudharabah musytarakah, musyarakah muntahiyah bi al-tamlik. akad-akad tersebut digunakan dalam transaksi aplikasi BSI Mobile. Sehingga penerapan hybrid contract dalam aplikasi BSI mobile sah untuk dilakukan dengan memenuhi rukun dan syarat akad, serta memperhatikan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. [Bank Syariah Indonesia (BSI) is a sharia financial institution that offers convenience in transactions. Various product innovations are offered to compete in the banking world. The product is in the form of a media application that is connected to the internet network to use it. One of its products is the BSI Mobile application with various services provided by Bank Syariah Indonesia in transactions. The BSI Mobile application provides various features by implementing a hybrid contract. Therefore this research was conducted to find out the law on the use of hybrid contracts used by the BSI Mobile application in Islam. The research used is a type of literature review research using a normative approach which is explained descriptively. Data collection techniques use secondary data obtained from laws, books, journals, scientific articles, and literature reviews. The DSNMUI fatwa has regulated hybrid contracts that may be carried out, including musyarakah mutanaqisah, al-ijarah al-muntakiyah bi al-tamlik, and mudharabah musytarakah, musyarakah lumpuriyah bi al-tamlik. these contracts are used in BSI Mobile application transactions. So that the application of hybrid contracts in the BSI mobile application is valid to be carried out by fulfilling the pillars and conditions of the contract, and taking into account the limitations set by Islamic law.]

Page 1 of 1 | Total Record : 5