cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2017)" : 6 Documents clear
Gambaran Indikator Klinis Diagnosis Keperawatan Insomnia Menggunakan Insomnia Severity Index pada Pasien Hemodialisis Ayu Dwi Silvia Putri; Totok Harjanto; Intansari Nurjannah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.691 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56584

Abstract

Background: End Stage Renal Disease is a condition of chronic kidney disease characterized by decreased renal function that requires hemodialysis therapy. Hemodialysis causes several effects, one of which is insomnia.Objective: To identify clinical indicator of nursing diagnosis for insomnia using Insomnia Severity Index (ISI) as the measuring instrument.Methods: This was descriptive research with cross-sectional design. Respondents in this study were patients undergoing hemodialysis which amounting in total to 72 patients. Two instruments, ISI and NANDA-I for Insomnia (an instrument developed from clinical indicators of nursing diagnosis), were used in this research. Then, the most appeared ISI’s clinical indicators at every level of insomnia were analyzed using univariate analysis.Results: The ISI’s clinical indicators which appear in all severe insomnia patients are: early awakening, difficulty in initiating sleep, difficulty in maintaining sleep, alteration in sleep pattern (sleep quantity and quality change), health status shifting, sleep disturbance with an impact on the next-day, exhausted, decreased quality of life, mood swing, and haggard. Only one ISI’s clinical indicator which appears in all moderate insomnia patients which is alteration in sleep pattern (sleep quality change). On the mild insomnia, there is not any clinical indicator which appear in every patient; however, patients are likely to experience alteration in sleep pattern (sleep quantity and quality change).Conclusions: Ten clinical indicators of insomnia nursing diagnosis found in patients with severe insomnia need to be considered as the main indicator in patients with insomniac nursing diagnosis. ABSTRAK Latar belakang: End Stage Renal Disease adalah penyakit ginjal kronis yang ditandai dengan menurunnya fungsi ginjal sehingga membutuhkan terapi hemodialisis. Hemodialisis menimbulkan beberapa dampak, salah satunya adalah insomnia.Tujuan: Mengetahui gambaran indikator klinis diagnosis keperawatan insomnia yang diukur menggunakan Insomnia Severity Index (ISI).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Responden dalam penelitian ini adalah 72 pasien yang menjalani hemodialisis. Pengukuran insomnia pada responden dilakukan menggunakan dua instrumen yaitu ISI dan instrumen yang disusun dari indikator klinis diagnosis keperawatan insomnia berdasarkan NANDA-I. Peneliti menganalisis indikator klinis yang muncul pada setiap tingkatan insomnia berdasarkan ISI.Hasil: Indikator klinis yang terdapat pada insomnia berat sesuai ISI adalah: bangun terlalu dini, kesulitan memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur, gangguan pola tidur (perubahan kuantitas dan kualitas tidur), perubahan status kesehatan, gangguan tidur yang berdampak pada keesokan hari, tidak berenergi, penurunan kualitas hidup, perubahan suasana hati, dan tidur tidak memuaskan. Indikator klinis yang terdapat pada pasien dengan insomnia sedang sesuai ISI adalah gangguan pola tidur (perubahan kualitas tidur). Pada insomnia ringan, tidak ada indikator klinis yang muncul pada pasien, namun pasien cenderung mengalami gangguan pola tidur (perubahan kuantitas dan kualitas tidur).Kesimpulan: Sepuluh indikator klinis diagnosis keperawatan insomnia yang terdapat pada pasien dengan insomnia berat perlu dipertimbangkan sebagai indikator utama pada pasien dengan diagnosis keperawatan insomnia.
Hubungan Nyeri Menstruasi dengan Konsentrasi Belajar pada Siswi SMA Negeri di Wilayah Cangkringan Rina Dewi Anggraeni; Wiwin Lismidiati; Totok Harjanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.435 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56586

Abstract

Background: Menstruation marks an important process in the life of adolescent girl because it shows that the adolescent is mature sexually. One of the occurring menstrual disorders is menstrual pain. Menstrual pain might hinder learning activities such as decreasing learning concentration, reducing sports activities, and skipping class, school, or social activities.Objective: To determine the relationship between menstrual pain and students’ learning concentration in a public high school in Cangkringan District.Method: This research used analytic survey with cross sectional research design. The sample was 37 female students at class X (Tenth) in a public high school in Cangkringan District. The data were obtained using two instruments, i.e. Visual Analog Scale (VAS) to measure the level of menstrual pain and Wechsler Adult Intelligance Scale (WAIS) to measure the respondents’ learning concentration. Data were analysed using Pearson Correlation Test.Result: The data analysis showed that most of the respondents had mild menstrual pain, 28 (75,7%) in their first cycle and 22 (59,5%) in second cycle. During luteal period (the last 14 days of menstrual cycle), most of the respondents (68% in first cycle and 78% in second cycle) had good learning concentration. On the other hand, during menstruation period, most of them (76% in the first cycle and 78% respondents in the second cycle) had less learning concentration. The result of Pearson Correlation Test showed significant relationship (p≤0,05) between menstrual pain and students learning concentration (p=0,000*, r = -0,663).Conclusion: There was a significant relationship between menstrual pain and students learning concentration in a public high school in Cangkringan District. ABSTRAKLatar belakang: Menstruasi menandai proses penting dalam kehidupan remaja putri karena menunjukkan kematangan seseorang secara seksual. Salah satu gangguan menstruasi yang dapat terjadi adalah nyeri menstruasi. Dampak nyeri menstruasi antara lain siswa dapat mengalami penurunan konsentrasi belajar, kurangnya aktivitas olahraga dan aktivitas sosial, serta absen pada saat jam pelajaran.Tujuan: Mengetahui  hubungan  nyeri  menstruasi  dengan  konsentrasi  belajar  siswi  di  salah  satu  SMA Negeri di Kecamatan Cangkringan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian yang digunakan adalah siswi kelas X di sebuah SMA Negeri di Kecamatan Cangkringan sebanyak  37  responden.  Data  diperoleh  dengan  2  instrumen  yakni  Skala  Analog  Visual  (SAV)  untuk mengukur  tingkat  nyeri  menstruasi  dan Wechsler  Adult  Intelegence  Scale (WAIS)  untuk  mengukur konsentrasi belajar responden. Analisis penelitian menggunakan uji korelasi Pearson.Hasil: Sebagian  besar  responden  mengalami  nyeri  menstruasi  ringan (75,7%  pada  siklus  pertama dan pada 59,5%siklus kedua). Pada masa luteal (14 hari terakhir masa menstruasi) sebagian besar responden memilikikonsentrasi belajar yang baik (68%pada siklus pertama dan 78%pada siklus kedua). Pada fase menstruasi, sebagian besar responden mengalami kurang konsentrasi (76%pada siklus pertama dan 78%pada  siklus  kedua).  Hasil  uji  korelasi Pearsonmemperlihatkan  hubungan  yang  signifikan  antara  nyeri menstruasi dengan konsentrasi belajar siswi (p= 0,000,r = -0,663).Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara nyeri menstruasi dan konsentrasi belajar siswi di salah satu SMA Negeri di Kecamatan Cangkringan.
Gambaran Tingkat Risiko Jatuh dan Penanganannya pada Pasien Jiwa di Rumah Sakit Tiara Sas Dhewanti; Intansari Nurjannah
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.08 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56589

Abstract

Background: One of the concerns associated with patient safety is prevention of falls. Patients with mental disorders have a higher risk of falling compared to other patient age, diagnosis of depression, use of antipsychotics medication, and medical therapy management of Electro Convulsive Therapy.Objective: This study was aimed to explore the description of risk for fall levels in the category of psychiatric patients and to identify risk for falls management of mental health patients based on Client Categorization System.Method: A descriptive quantitative research with case study design was performed on 20 psychiatric patients and 4 nurses. The instruments used were Edmonson Fall Risk Assessment Tool (EFRAT) to identify the risk for falls on patients, and Client Categorization System (CCS) to categorize the psychiatric patients. The univariate analysis was used to accomplish the aim of the study.Result: As much as 37,5% patients have risk for falls. The risk of falling level of psychiatric patients occurred mostly on respondents with crisis category (66,7%). No patients with health promotion category have risk for falls. The most activity done with the Nursing Intervention Classification (NIC) (environment modification is using safety equipment. Meanwhile, the most activities done on NIC fall prevention are preparing an appropriate lighting and collaborate with other medical team. Moreover collaboration with other medical team is also needed.Conclusions: Risk for falls on patients with mental health disorders can be found on patients with these category: crisis, acute, and maintenance. Management of patients with mental disorders based in NIC are Fall Prevention and Environmental Modification. ABSTRAKLatar belakang: Pencegahan jatuh merupakan bagian dari keselamatan pasien. Pasien dengan gangguan jiwa mempunyai risiko jatuh lebih tinggi karena usia, diagnosis depresi, penggunaan obat anti psikotik, dan penatalaksanaan terapi medis electro convulsive therapy.Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat risiko jatuh dan manajemen penanganannya pada pasien gangguan jiwa beradasarkan Client Categorization System(CCS).Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan case study. Responden terdiri dari 20 pasien gangguan jiwa dan 4 perawat. Instrumen yang digunakan adalah Edmonson Fall Risk Assessment Tool (EFRAT) untuk mengkaji risiko jatuh pada pasien. Sementara, pengkategorian pasien jiwa  dilakukan  menggunakan  instrumen Client  Categorization  System (CCS).  Data  hasil  penelitian dianalisis menggunakan analisis univariat.Hasil: Hasil penelitian didapatkan sebanyak 37,5% pasien memiliki risiko jatuh. Risiko jatuh pada pasien gangguan  jiwa  paling  banyak  terjadi  pada  responden  dengan  kategori  krisis  (66,67%). Pasien  dengan kategori health  promotion tidak  ada  yang  memiliki  risiko  jatuh.  Aktivitas  paling  banyak  dilakukan  pada Nursing   Intervention   Classification (NIC):   Modifikasi lingkungan   adalah   menggunakan   peralatan perlindungan, sedangkan aktivitas pada NIC: Pencegahan jatuh yang selalu dilakukan adalah: identifikasi perpindahan pasien,  menyediakan  pencahayaan  yang  cukup  dan  berkolaborasi  dengan  anggota  tim kesehatan lainKesimpulan: risiko jatuh pada pasien gangguan jiwa dapat terjadi pada pasien dengan kategori krisis, akut, dan maintenance. Manajemen  penanganan  pada  pasien  gangguan  jiwa  berdasarkan  NIC  adalah pencegahan jatuh dan manajemen lingkungan.
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Praktik Siswi Boarding School Mengenai Higiene Menstruasi Area Urban di Yogyakarta Dewi Fatma Mutiawati; Widyawati Widyawati; Wenny Artanty Nisman
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.561 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56590

Abstract

Background: The density of students’ activities in boarding school needs to get care, especially in the practice of personal hygiene during menstruation. Menstruation process can lead to germs infection on the genital area which may cause diseases to the reproductive tract. To prevent this problem, it is important to do proper menstrual hygiene.Objectives: To identify the account of a boarding school student girls’ level of knowledge and practice of Menstrual Hygiene in an urban area of Yogyakarta.Method: This study was a quantitative descriptive using cross-sectional approach. The research was conducted in February 2017. The population of the research was female students’ boarding school in an urban area of Yogyakarta; where 124 female students were recruited for samples. Questionnaire was used as the data collection technique. Statistic descriptive technique was used for data analysis.Results: In general, respondents’ knowledge and practice of menstrual hygiene were good. Almost all respondents (98%) answered correctly on menstruation statements as normal and statements with many incorrect answers were menstruation as a sign of puberty. The practice of menstrual hygiene is most often done by respondents bathing more than once a day during menstruation (99,2%). As for the practice of menstrual hygiene which is still not quite right, namely the direction of cleaning the pubic area (45,2%).Conclusion: Respondents have accurate knowledge about menstrual hygiene. School manager (counseling and knowledge department) can increase the inappropriate menstrual knowledge and hygiene practice regarding to: hormones that affect menstruation, menstrual period, the frequency of replacement of the pads, the selection of material for disposing the pads and choosing right places to dry the underwear. ABSTAKLatar belakang: Padatnya aktivitas siswi di boarding school perlu mendapat  perhatian terutama dalam penerapan kebersihan diri saat menstruasi. Proses menstruasi dapat mengakibatkan area genetalia rentan terinfeksi  kuman  sehingga  menimbulkan  penyakit  saluran  reproduksi. Untuk  mencegah  terjadinya permasalahan pada organ reproduksi maka perlu memperhatikan higiene menstruasi.Tujuan: Mengetahui  gambaran  tingkat  pengetahuan  dan  praktik  pada  siswi boarding  schoolmengenai higiene menstruasi area urban di Yogyakarta.Metode: Jenis  penelitian  ini  adalah  kuantitatif  deskriptif  dengan  pendekatan cross  sectional.  Penelitian dilaksanakan pada Februari 2017. Populasi penelitian adalah siswi di boarding schoolarea urban di Kota Yogyakartadengan besar sampel 124 siswi. Pengambilan data menggunakan kuesioner praktik higiene menstruasi. Data dianalisis dengan teknik statistik deskriptif.Hasil: Secara umumpengetahuan dan praktik higiene menstruasi responden sudah baik. Hampir semua responden (98%) menjawab tepat pada pernyataanmenstruasi sebagai hal yang normal dan pernyataan dengan banyak jawaban yang salah adalah menstruasi sebagai tanda masuknya masa pubertas.  Praktik higiene menstruasi yang paling seringdilakukan oleh responden mandi lebih dari satu kali sehari pada saat menstruasi(99,2%). Sementara  untuk  praktik  higiene  menstruasi  yang masih kurang  tepat  yaitu arah membersihkan daerah kemaluan(45,2%).Kesimpulan: Responden memiliki pengetahuan yang tepat terkait pengetahuan higiene menstruasi. Bagi pengelola sekolah pada bidang bimbingan dan konseling dapat meningkatkan pengetahuan serta praktik higiene  menstruasi  terhadap  aspek  yang  kurang  tepat seperti  hormon  yang  mempengaruhi  menstruasi, periode menstruasi, frekuensi penggantian pembalut, pemilahan wadah dalam pembuangan pembalut, dan tempat menjemur celana dalam. 
Hubungan antara Pengobatan Komplementer dengan Kualitas Hidup pada Pasien Diabetes Mellitus Nur Yusrin Husnati; Anita Kustanti; Heny Suseani Pangastuti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.735 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56593

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic disease that can affect physical, psychological, social and spiritual functional activity that requires special approach and treatment to improve patient's quality of life. One of treatments to improve quality of life is therapy management with alternative and complementary medicine.Objective: To determine the correlation between the use of complementary medicine with the quality of life among diabetes mellitus patients.Methods: This study used an analytic survey with cross-sectional design. Respondents involved in this study were 120 respondent diabetes mellitus patients in Yogyakarta city from August to September 2017 with purposive sampling technique. This study used Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionnaire-Revised Parameter (DQLCTQ-R) questionnaire to measure quality of life among diabetes mellitus patients. Researchers also included questions about the use of complementary therapies to measure the use of complementary therapies. Contingency coefficient correlation test was used to analyze the data statistically.Results: Most patients did not use complementary medicine (53,3%). Most users of complementary and non-complementary medicine had the same high quality of life (60,71% and 56,25%). The correlation test values between complementary medicine and quality of life in patients with diabetes mellitus showed p value = 0,621 (p> 0,05) and r = 0,045.Conclusion: There was no significant correlation between the uses of complementary medicine with quality of life among diabetes mellitus patients.ABSTRAKLatar  belakang: Diabetes mellitus  merupakan  penyakit  kronis  yang  dapat  mempengaruhi  aktivitas fungsional  fisik,  psikologis,  sosial  dan  spiritual  yang  memerlukan  pendekatan  dan  pengobatan  khusus untuk  meningkatkan  kualitas  hidup  pasien.  Salah  satu  perawatan  untuk  meningkatkan  kualitas  hidup adalah manajemen terapi dengan pengobatan komplementer.Tujuan: Mengetahui hubungan antarapengobatan komplementer dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus.Metode:  Penelitian  ini  menggunakan  survei  analitik  dengan  desain cross-sectional.  Responden  yang dilibatkan dalam penelitian ini 120 pasien diabetes mellitus di Kota Yogyakarta dari bulan Agustus sampai September 2017 yang diambil dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner Diabetes  Quality  of  Life  Clinical  Trial  Questionnare-Revised  Parameter (DQLCTQ-R) untuk  megukur kualitas  hidup  pasien  diabetes  mellitus. Peneliti  juga  mencantumkan  pertanyaan  tentang  penggunaan terapi komplementeruntuk mengukur penggunaan terapi komplementer. Uji korelasi koefisien kontingensi digunakan untuk menganalisis secara statistik.Hasil:  Mayoritas  pasien  tidak menggunakan  pengobatan  komplementer  (53,3%).  Mayoritas  pengguna pengobatan komplementer dan bukan pengguna pengobatan komplementer sama-sama memiliki kualitas hidup yang tinggi (60,71% dan 56,25%). Nilai uji korelasi antara pengobatan komplementer dengan kualitas hidup pada pasien diabetes mellitus menunjukkan nilai p = 0,621 (p> 0,05) dan r = 0,045.Kesimpulan:Tidak  ada  hubungan  yang  signifikan  antarapengobatan  komplementer  dengan  kualitas hidup pada pasien diabetes mellitus.
Gambaran Dukungan Suami Terhadap Istri yang Menjalani Persalinan di Usia Remaja Nika Susanti; Wiwin Lismidiati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.654 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.56594

Abstract

Background: Adolescent pregnancy is a pregnancy that occurs at age under 20 years old. Adolescent pregnancy can cause both physical and psychological complications, especially during labor because adolescent doesn’t have mature reproductive organs. Adolescent facing labor will also experience fear and anxiety. It is necessary to know the role of the husband towards his wife having labor in adolescence age.Objective: This study was aimed to describe the husband support toward wife laboring at the stage of adolescence.Methods: This research was a quantitative descriptive cross-sectional design. As many as 46 husbands were recruited for samples using total sampling method. The instruments used in this study was a questionnaire of husband support in labor modified by the researcher based on literature study results. The data analysis used univariate using descriptive analysis and bivariate analysis using chi-square.Results: In general, the husband’s support given to his wife during labor in adolescence was in the high support category (60,9%). More than 50% of respondents gave emotional, informational, and instrumental support in the high category. Value support has the highest category (73,9%). External factors affecting the husband support were education (p-value = 0,004) and salary (p-value = 0,029).Conclusion: Support given by the husbands is high toward wife laboring at the stage of adolescence is in the high category. ABSTRAK Latar  belakang: Kehamilan  remaja  adalah  kehamilan  yang  terjadi  pada  usia  di  bawah  20  tahun. Kehamilan remaja dapat menimbulkan komplikasi baik fisik maupun psikologis terutama saat persalinan. Remaja  yang  menghadapi  persalinan  juga  akan  mengalami  ketakutan  dan  kecemasan. Untuk  itu  perlu diketahui peran suami pada istri yang menjalani persalinan di usia remaja.Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dukungan suami terhadap istri yang menjalani persalinan diusia remaja.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak46 orang suami dengan menggunakan tekniktotal sampling. Alat ukur menggunakan kuesioner dukungan suami dalam persalinan yang telah dimodifikasi peneliti dari hasil studi pustaka. Analisa univariat menggunakan analisis deskriptif, analisis bivariate menggunakan chi-square.Hasil: Dukungan suami secara umum yang diberikan kepada istri saat menjalani persalinan di usia remaja termasuk kategori dukungan tinggi (60,9%). Dukungan penilaian mendapat kategori tinggi terbanyak yaitu sebesar 73,9%, sementara jenis dukungan instrumental paling sedikit (58,71%). Faktor yangberhubungan dengandukungan suami adalah pendidikan (p-value= 0,004) dan penghasilan (p-value = 0,029).Kesimpulan: Dukungan persalinan yang diberikan oleh suami terhadap istri usia remaja termasuk dalam kategori tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6