cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2018)" : 6 Documents clear
Hubungan Distres Emosional dan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Lansia Penderita Diabetes Melitus di Kabupaten Sleman Reka Septiara Irawati; Heru Subekti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44242

Abstract

Background: Diabetes mellitus is one of the degenerative illnesses in elderly caused by inadequate production of insulin. Diabetes mellitus need a long-term management which can lead to emotional distress and diminishing life quality. Social support is playing an important role toward diabetic management and distress coping. Diabetics patient needs social support to lower emotional distress and improve quality of life.Objective: To determine the correlation between emotional distress, social support with quality of life among elderly patients with Diabetes Mellitus in Sleman Regency.Method: This was a correlational study using cross sectional design. Subjects were 188 elderlies with Diabetes Mellitus in Sleman Regency, selected by purposive sampling method. Data were collected using questionnaire of Problem Area in Diabetic, social support (by Kim, Shimada, Sakano), and WHO Quality of Life-BREF (WHOQOL-Bref). Data was analysed using Spearman correlation.Results: The Spearman Rank analysis result for emotional distress and quality of life variables is r=-0,289, p=0,000; and r=0,230, p=0,002 for social support and quality of life variables. While for social support and emotional distress variables the result is r=0,038, p=0,605.Conclusion:  There is significant negative correlation between emotional distress and quality of life among elderly with DM; while there is positive significant correlation between social support and quality of life. However, there is no significant correlation between social support and emotional distress among elderly with DM in Sleman regency. Therefore, it was necessary to pay attention to the psychosocial aspects in providing nursing care for type 2 diabetes patient.ABSTRAKLatar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif pada lansia karena produksi insulin yang tidak adekuat. Diabetes melitus membutuhkan manajemen jangka panjang sehingga penderitanya berisiko mengalami distres emosional dan menurunkan kualitas hidup. Dukungan sosial penting dalam manajemen diabates dan koping distres emosional. Penderita diabetes melitus memerlukan dukungan sosial untuk menurunkan distres emosional dan meningkatkan kualitas hidup.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan distres emosional dan dukungan sosial dengan kualitas hidup lansia penderita diabetes melitus di Kabupaten Sleman.Metode:Penelitian correlational menggunakan rancangan cross sectional pada 188 responden lansia penderita DM di Kabupaten Sleman yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data penelitian diperoleh menggunakan kuesioner Problem Area in Diabetic (PAID); Dukungan Sosial oleh Kim, Shimada dan Sakano; dan WHO Quality of Life-BREF (WHOQOL-Bref). Analisis data menggunakan uji Spearman correlation.Hasil: Hasil analisis Spearman untuk variabel distres emosional dan kualitas hidup didapatkan nilai r=-0,289, p=0,000; dan r=0,230, p=0,002 untuk variabel dukungan sosial dan kualitas hidup. Sementara untuk variabel diukungan sosial dengan distres emosional nilai r=0,038, p=0,605.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara distres emosional dengan kualitas hidup lansia dengan DM dengan arah negatif. Sementara ada hubungan yang signifikan dengan arah positif antara dukungan sosial dengan kualitas hidup lansia dengan DM. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara distres emosional dan dukungan sosial pada lansia dengan DM di Kab Sleman. Oleh karena itu perlu diperhatikan aspek psikososial dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita DM tipe 2.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Pemanfaatan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja Dias Putri Kusumastuti; Wiwin Lismidiati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44246

Abstract

Background: Adolescents are vulnerable to reproductive health problems. National Family Planning Coordinating Board (or Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN in Bahasa Indonesia’s term), as government agency, has implemented reproductive health services program called Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) in certain schools. The problem was there are differences in the utilization of PIK-KRR in some areas in Indonesia. Knowledge about reproductive health and attitude on the program were some factors that may cause the differences in utilization of PIK-KRR.Objective: To identify the correlation between knowledge and attitude on reproductive health with the utilization of  the PIK-KRR.Methods: It was a non-experimental study using cross sectional approach. Sample of the research were 157 students among XI and XII grader of public high school 1 Srandakan. The research variables were knowledge about reproductive health, attitude on reproductive health, and PIK-KRR utilization. This research used total sampling technique and data were analysed using univariate and bivariate analysis. Fisher and Chi-Square test were used for bivariate analysis.Results: Respondents in this study were 143 of 157 students in XI and XII (91,07%). The result of the analysis showed that there were 95,1% of the respondents with a high level of knowledge about reproductive health, 53,1% of  respondents had the positive attitude to the reproductive health, and the utilization of PIK-KRR was in a high category (48,2%). There was a significant correlation between reproductive health knowledge and the utilization of PIK-KRR (p= 0,002) and between the attitude of reproductive health with PIK-KRR (p= 0,006).Conclusion: There was a correlation between knowledge about reproductive health and attitude on it with the utilization of PIK-KRR. ABSTRAKLatar Belakang: Masa remaja memerlukan perhatian serius karena rentan terjadi permasalahan kesehatan reproduksi. Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah melaksanakan program kesehatan reproduksi bernama Pusat Informasi Kesehatan Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) di sekolah. Masalah yang dihadapi yaitu adanya perbedaan pemanfaatan PIK-KRR di beberapa wilayah Indonesia. Banyak faktor yang memengaruhi pemanfaatan PIK-KRR, antara lain pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi dengan pemanfaatan PIK-KRR.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan studi cross sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan total sampling. Sampel penelitian sebanyak 157 siswa SMA kelas XI dan XII. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan, sikap tentang kesehatan reproduksi, dan pemanfaatan PIK-KRR. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan Uji Fisher dan Uji Chi-Square.Hasil: Responden dalam penelitian ini adalah 143 responden dari 157 siswa kelas XI dan XII (91,07%). Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja dengan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dalam kategori tinggi sebanyak 136 orang (95,1%), remaja yang memiliki sikap positif terhadap kesehatan reproduksi sebanyak 76 orang (53,1%), tingkat pemanfaataan PIK-KRR dalam kategori tinggi sebanyak 69 orang (48,2%). Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan pemanfaatan PIK-KRR (p=0,002) dan sikap tentang kesehatan repoduksi dengan pemanfaatan PIK-KRR (p=0,006).Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi berhubungan dengan pemanfaatan PIK-KRR.
Interrater Reliability dari Checklist OSCE Keterampilan Mencuci Tangan dan Memakai Sarung Tangan di Program Studi Ilmu Keperawatan UGM Nur Fajriyah Rosyidah; Eri Yanuar Akhmad Budi Sunaryo; Totok Harjanto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44249

Abstract

Background: Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is a method to evaluate students’ nursing skills. OSCE uses checklist as an instrument to test hand washing and gloving skills. While reliability values of both checklists are vital aspect for the instrument, they have not been measured in PSIK FKKMK UGM.Objective: To identify the interrater reliability in the hand washing and gloving skills of OSCE checklists at PSIK FKKMK UGM.Method: This research used non-experimental descriptive quantitative research type with cross-sectional design. The respondents were 92 first-year students at PSIK FKKMK UGM participating in the OSCE examination. Assessment on students performance were conducted using hand washing and gloving checklists by two raters. The scores were analyzed using Kappa and percent agreement (PA).Result: Hand washing checklist had Kappa value of 0,146 (quite poor) and PA 80,40% (acceptable). Gloving checklist had Kappa value of 0,228 (poor) and PA 78,20% (acceptable). The results were divided into two categories, first Kappa not acceptable and PA acceptable or called Kappa paradox consisting of 14 checklist items. Furthermore, there were 11 checklist items in the second category namely Kappa not acceptable and PA not acceptable.Conclusion: Hand washing and gloving skill checklists which are used by PSIK FKKMK UGM do not possess good interrater reliability in measuring the skills of nursing students. These checklists need revision and statistical test in order to improve education quality at School of Nursing at FKKMK UGM.ABSTRAKLatar belakang: Salah satu metode untuk mengevaluasi keterampilan keperawatan mahasiswa adalah menggunakan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Instrumen yang dapat digunakan dalam OSCE adalah checklist. Reliabilitas merupakan aspek penting dalam suatu instrumen. Pengujian reliabilitas dari checklist mencuci tangan dan memakai sarung tangan di PSIK FKKMK UGM belum pernah dilakukan.Tujuan: Untuk mengetahui interrater reliability pada checklist OSCE keterampilan mencuci tangan dan memakai sarung tangan di PSIK FKKMK UGM.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross-sectional. Responden pada penelitian adalah 92 mahasiswa PSIK FKKMK UGM tahun pertama yang mengikuti ujian OSCE. Penilaian performa mahasiswa dilakukan menggunakan instrumen checklist mencuci tangan dan memakai sarung tangan oleh dua orang penguji. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Kappa dan percent agreement (PA).Hasil: Checklist mencuci tangan memiliki nilai Kappa 0,146 (cukup buruk) dan PA 80,40% (dapat diterima). Checklist memakai sarung tangan memiliki nilai Kappa 0,228 (buruk) dan PA 78,20% (dapat diterima). Terdapat 14-unit checklist yang masuk dalam kategori Kappa tidak dapat diterima, namun PA dapat diterima (paradoks Kappa). Terdapat 11-unit checklist yang masuk dalam kategori Kappa dan PA tidak dapat diterima.Kesimpulan: Checklist keterampilan mencuci tangan dan memakai sarung tangan di PSIK FKKMK UGM belum memiliki interrater reliability yang baik dalam mengukur keterampilan mahasiswa. Checklist tersebut memerlukan perbaikan untuk menghasilkan reliabilitas baik demi kualitas pendidikan di Program Studi Ilmu Keperawatan FKKMK UGM yang lebih baik.
Hubungan antara Dukungan Sosial dan Aktivitas Fisik pada Kelompok Risiko Sindrom Metabolik di Wilayah Kerja Puskesmas Turi Sleman Imah Nur Chasanah; Melyza Perdana
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44268

Abstract

Background: Hypertension and diabetes mellitus cases, as part of the metabolic syndrome, are increasing in the working area of Puskesmas Turi. One of the preventive efforts is promoting physical activity. On the other hand, physical activity is influenced by internal and external factors, such as social support from the environment.Objective: To determine the relationship between social support and physical activity in the risk group for metabolic syndrome in the working area of Puskesmas Turi, Sleman Regency.Methods: This study was a descriptive correlational study with a cross-sectional design. The research respondents were 87 people categorized in metabolic syndrome risk group with inclusion criteria, i.e. BMI ≥ 23; abdomen circumference >90 cm for male and >80 cm for female; and aged 30 to 60 years. Data collected using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) questionnaire to measure the level of physical activity and to measure the level of social support was using social support and exercise surveys. Data was analyzed using univariate analysis and Spearman Rank.Result: The level of physical activity of most of the respondents were 43,8% (moderate). Respondents received social support mostly from friends rather than family members. Spearman Rank score for testing the correlation between social support (from family and friend) and respondents’ physical activity achieved r = -0,117; p = 0,282 and r = 0,036; p = 0,740.Conclusion: There is no significant relationship between social support and physical activity in the metabolic syndrome risk groups in the working area of Puskesmas Turi, Sleman Regency.ABSTRAKLatar belakang: Kasus hipertensi dan diabetes sebagai bagian dari sindrom metabolik, mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di wilayah kerja Puskesmas Turi. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan suatu pencegahan agar menekan angka sindrom metabolik. Salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik, dipengaruhi faktor internal dan eksternal, seperti dukungan sosial dari lingkungan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan aktivitas fisik pada kelompok risiko sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten SlemanMetode: Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 87 orang yang termasuk dalam kategori kelompok risiko sindrom metabolik dengan kriteria inklusi, IMT ≥ 23; lingkar perut >90 cm pada pria dan >80 cm pada wanita; dan berusia 30 sampai 60 tahun. Proses pengambilan data menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) untuk mengukur tingkat aktivitas fisik dan Social Support and Exercise Survey untuk mengukur tingkat dukungan sosial. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan Spearman Rank.Hasil: Aktivitas fisik sebagian besar kelompok risiko sindrom metabolik sebesar 43,7% atau termasuk dalam tingkat aktivitas fisik sedang. Dukungan sosial dari teman lebih tinggi dibandingkan dukungan sosial dari keluarga. Dari hasil uji Spearman Rank, didapatkan hubungan dukungan sosial keluarga dan teman terhadap aktivitas fisik sebesar r=-0,117; p=0,282 dan r=0,036; p=0,740.Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan sosial dengan aktivitas fisik pada kelompok risiko sindrom metabolik di wilayah kerja Puskesmas Turi Kabupaten Sleman.
Gejala Depresi pada Remaja Korban Bullying: A Scoping Review Muhammad Yusuf Anshori; Azzam David Saifullah; Ayyu Sandhi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44273

Abstract

Background: Depression is of major causes for disease and disability in adolescents. One of many factors that make teenager more vulnerable to depression is bullying. Identification of depression symptoms among adolescent is important to be investigated, especially due to bullying.Objective: To review the symptoms of depression in adolescents caused by bullying.Method: This is a scoping review research. Databases used were PubMed, EBSCOhost, Cochrane, and PsycNET. Inclusion criteria were: English and Bahasa Indonesia literature, published from 2013 to 2018, quantitative and/or qualitative research adolescent who suffered from depression due to bullying as the research subject, and available free full text. The article screening was based on PRISMA guidance; articles were assessed with the Crowe Critical Appraisal Tool (CCAT), extraction was done on Google form, and synthesis was performed on the extraction resultResults: 19 articles were obtained from the literature screening. Signs and symptoms of depression due to bullying were divided into three groups: psychic symptoms, physical symptoms, and social symptoms. A common symptom of depression in adolescents suffered from bullying was the desire for death, and the desire for death became the most general signs and symptoms of the adolescents who became bullying victims.Conclusions: Being a victim of bullying may cause adolescents to suffer from symptoms of depression in the form of psychic symptoms, physical symptoms, and social symptoms.ABSTRAKLatar belakang: Depresi merupakan pemicu penyakit hingga kecacatan pada usia remaja. Salah satu faktor yang menjadikan usia remaja rentan mengalami depresi adalah bullying. Identifikasi gejala depresi pada remaja penting untuk dipelajari, terutama akibat bullying.Tujuan: Melakukan review gejala-gejala depresi pada remaja korban bullying.Metode: Penelitian ini merupakan scoping review, artikel diperoleh dari proses pencarian pada database PubMed, EBSCOhost, Cochrane, dan PsycNET. Kriteria inklusi artikel yaitu literatur berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia, terbit dari tahun 2013-2018, penelitian kuantitatif dan/atau kualitatif dengan populasi penelitian berupa remaja korban bullying, serta artikel penuhnya dapat diakses. Skrining bertahap dilakukan dan didokumentasikan sesuai bagan alir PRISMA. Artikel hasil skrining dinilai dengan Crowe Critical Appraisal Tool (CCAT), ekstraksi dan sintesis artikel dilakukan pada Google Form.Hasil: Dalam proses screening, diperoleh 19 artikel. Gejala depresi pada remaja korban bullying dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu gejala psikis, gejala fisik, dan gejala sosial. Gejala khas depresi pada remaja korban bullying adalah gejala psikis berupa ide bunuh diri. Ide bunuh diri ini menjadi tanda dan gejala depresi yang paling banyak ditemukan pada remaja korban bullying.Kesimpulan: Kejadian bullying selama masa remaja berpengaruh secara potensial untuk menyebabkan gejala depresi baik gejala psikis, gejala fisik, maupun gejala sosial.
Hubungan Penyesuaian Diri dengan Stres pada Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta Kartika Aulia Ulfah Rachmayani; Puji Sutarjo; Ibrahim Rahmat
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.74003

Abstract

Background: A convicted criminal may experience loss of access to life facility, independency, and social relationships, which may lead to stress. One of stress symptom is self adjustment. Self adjustment is very much needed to get through prison life.Objective: To identify the correlation between self adjustment and stress in female prisoners at Class II B Female Prison in Yogyakarta.Method: This was correlational and analytical research with a cross-sectional design. Sample was taken using a consecutive sampling technique among 67 female prisoners at Class II B Female Prison in Yogyakarta during December 2017. Data was analysed using Pearson’s correlation test.Result: There were 50,7% female prisoners who had positive self adjustment, while the rest (49,3%) had negative self adjustment. The majority (80,6%) of female prisoners endured low level stress. Statistical test found a negative correlation between self adjustment and stress (r= -0,574; p value= 0,000).Conclusion: There is a negative correlation between self adjustment and stress in female prisoners at Class II B Female Prison in Yogyakarta.ABSTRAKLatar belakang: Seseorang yang masuk ke dalam lembaga pemasyarakatan dan mengalami perubahan status menjadi seorang narapidana, dapat mengalami kehilangan fasilitas, kontrol hidup, dan hubungan sosial yang berujung pada terjadinya stres. Seseorang yang mengalami stres, menunjukkan adanya kesulitan dalam penyesuaian diri. Penyesuaian diri di lembaga pemasyarakatan merupakan hal yang penting bagi seorang narapidana.Tujuan: Mengetahui hubungan antara penyesuaian diri dengan stres pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II B Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik korelasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017 kepada 67 orang narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II B Yogyakarta dengan teknik consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson.Hasil penelitian: Narapidana wanita yang memiliki penyesuaian diri positif sebanyak 50,7%. Sementara 49,3% narapidana lainnya, memiliki penyesuaian diri negatif. Mayoritas (80,6%) narapidana wanita memiliki stress pada kategori rendah. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan negatif antara penyesuaian diri dengan stres (r= -0,574; p value= 0,000).Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif antara penyesuaian diri dengan stres pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II B Yogyakarta.

Page 1 of 1 | Total Record : 6