Media Pustakawan
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15, No 1"
:
9 Documents
clear
Jadikan Aku Pustakawan
Fitri Hafifah;
Ikhwan Arif
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (304.938 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.928
Dalam tulisan ini menguraikan tentang usaha yang dicapai untuk mengaktualisasikan profesi Pustakawan di masyarakat. Di bab lain berisi analisa minimnya jumlah Pustakawan di Indonesia dibandingkan dengan jumlah kebutuhan tenaga ini khususnya bidang sekolah. Perpustakaan seharusnya dapat dijadikan tempat atau sarana untuk membantu menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca dan mendorong untuk membiasakan siswa belajar secara mandiri, karena perpustakaan berfungsi sebagai sarana edukatif, informatif, riset dan rekreatif. Namun kenyataannya belum semua sekolah memiliki perpustakaan. Sedangkan sekolah yang telah mempunyai perpustakaan, belum memenuhi harapan tersebut, yang disebabkan oleh berbagai kendala, antara lain: (1) Lokasi perpustakaan yang kurang nyaman (kondusif), jam buka yang sangat terbatas (hanya pada saat jam istirahat sekolah), koleksi buku terbatas, fasilitas kurang memadai, dana terbatas; (2) Pengelolaan yang kurang profesional; (3) Guru kurang berpartisipasi dalam pemanfaatan perpustakaan bagi siswa; dan (4) Kurangnya koordinasi antar perpustakaan. Perlu dilakukan langkah-langkah yang nyata untuk mengembangkan pustakawan menjadi profesi yang bisa dibanggakan. Mengingat arti penting perpustakaan dalam proses pendidikan dan usaha pencerdasan bangsa, keberadaan perpustakaan perlu diikuti dengan jumlah Pustakawan yang memadai.
Pengaruh Pameran Buku Baru Terhadap Minat Baca Masyarakat Di Perpustakaan Umum Kabupaten Magelang
Lilik Suhaeli
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (180.446 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.924
Kegiatan penambahan buku baru di Perpustakaan Umum Kabupaten Magelang seharusnya menjadi faktor pendorong meningkatnya minat baca masyarakat. Namun sayangnya kegiatan tersebut tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Penelitian ini menggunakan pameran buku baru sebagai media promosi untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Pameran ini telah diselenggarakan pada tanggal 5-17 Desember 2005 di dalam gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Magelang. Metode penelitian menggunakan metode kausal-komparatif yaitu membandingkan antara minat baca masyarakat di Perpustakaan Umum Kab. Magelang sebelum dan sesudah adanya pameran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pameran buku baru terhadap minat baca masyarakat di Perpustakaan Umum Kabupaten Magelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diselenggarakan pameran buku baru, terdapat perbedaan kenaikan data statistik yang cukup besar antara periode sebelum dan sesudah adanya pameran buku baru. Sebelum adanya pameran buku baru kenaikan data statistik untuk periode satu bulan hanya 0% - 9%, untuk periode satu tahun 1% - 14% bahkan untuk jumlah anggota baru mengalami penurunan sebesar 16%. Namun setelah adanya pameran, kenaikan untuk periode satu bulan sebesar 110%-203%, untuk periode satu tahun sebesar 21%-59%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh pameran buku baru terhadap minat baca masyarakat di Perpustakaan Umum Kabupaten Magelang cukup besar.
Pemimpin Perpustakaan Di Masa Mendatang
I Made Sudja Yadnya
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.966 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.929
Pemimpin Perpustakaan Di Masa Mendatang”, “merupakan tulisan yang bermaksud membahas ciri-ciri kepemimpinan perpustakaan. Kepemimpinan perpustakaan di masa mendatang adalah setiap pustakawan yang mempunyai hak menjadi pemimpin asalkan memenuhi persyaratan seperti pembahasan tersebut di atas serta berdasarkan pemilihan dari sesama profesi pustakawan. Di samping hal tersebut, topik ini penulis angkat karena dilatarbelakangi oleh munculnya tulisan pada Media Pustakawan Volume 13 Nomor 1 dan 2 terbit bulan Juni 2006. Tulisan Ibu Dra. Titiek Kismiyati, M. Hum dengan judul “Standar Kompetensi Pustakawan” yang menyimpulkan bahwa kompetensi dan profesionalisme sudah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi oleh pustakawan. Sudah saatnya pengembangan karier pustakawan tidak hanya didasarkan pada sekedar terselesaikan suatu pekerjaan, tetapi harus didasarkan pada kualitas hasil. Tulisan lainnya adalah tulisan Ibu Luki Wijayanti dengan judul Reenginering (penataan ulang) Profesi Pustakawan: “Sertifikasi dan uji kompetensi profesi pustakawan perpustakaan perguruan tinggi” dimana ada dua pernyataan yang perlu penulis garis bawahi yaitu sifat sertifikasi permanen yang pemberiannya diprioritaskan kepada Pustakawan yang telah meraih master bidang perpustakaan dan informasi di perguruan tinggi yang diakui oleh asosiasi profesi dan pustakawan yang menduduki jabatan sebagai kepala perpustakaan dipersyaratkan bergelar magister di bidang perpustakaan dan informasi. Kesimpulan yaitu standar kompetensi pustakawan di saat sekarang ini belum waktunya untuk dilaksanakan karena di pedesaan atau di kota kecil jabatan fungsional pustakawan belum dikenal secara umum oleh masyarakat. Oleh karena itu, sebaiknya jabatan fungsional pustakawan lebih dahulu dipromosikan di masyarakat melalui penyuluhan tentang perpustakaan dan kepustakawanan.
E-Literacy Dan Peran Pustakawan Di Masyarakat
Ade Abdul Hak
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (209.608 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.925
Lemahnya tingkat e-literacy termasuk pada kalangan pustakawan dikarenakan berbagai kendala dan keterbatasan akses informasi dan pengetahuan. Kondisi ini selain karena keterbatasan sarana teknologi informasi dan komunikasi yang ada di setiap perpustakaan, juga ada yang karena para pustakawan disibukkan dengan pekerjaan teknis sehari-hari tanpa ada kesempatan untuk mengembangkan diri secara keilmuan. “e-literacy” diartikan sebagai kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi. Mengingat tidak setiap pustakawan mempunyai e-literacy/ICT literacy yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan kerja yang diembannya, maka diperlukan upaya untuk memetakan e-literacy/ICT literacy masing-masing pustakawan yang ada pada setiap lembaga tersebut. Bahkan mungkin terjadi bahwa pemahaman e-literacy/ICT literacy pada setiap pustakawan akan berbeda walaupun berada pada jenjang kepangkatan yang sama. Hal inilah yang dikenal dengan kesenjangan digital (digital divide) antar pustakawan. Berhasil atau tidaknya tugas yang diemban oleh pustakawan dalam mengembangkan e-literacy/ICT literacy ini, dikembalikan lagi pada kemampuan pustakawan itu sendiri dalam memahahi e-literacy/ICT literacy tersebut. Hal inilah yang perlu kita kaji ulang dan merupakan PR khusus buat Pusat Pengembangan Pustakawan, Perpusnas RI atau bahkan kalau bisa memberikan sertifikat pemahaman e-literacy/ICT literacy.
Kompetensi Pustakawan Dalam Mewujudkan Kinerja Berprestasi
Suwardi Suwardi
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.775 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.930
Salah satu indikator pustakawan berprestasi dapat dilihat dari pencapaian hasil kerja pustakawan tersebut. Pustakawan berprestasi adalah pustakawan yang melalui perannya dapat menciptakan strategi kerja yang memudahkan pustakawan tersebut mencapai harapan dan minat berprestasi yang tinggi. Perpustakaan yang membangun suasana kondusif bagi pustakawan agar dapat berkompetisi dan berprestasi merupakan upaya kerja yang memerlukan komitmen semua pihak yaitu; manajemen, pustakawan, dan para pengambil keputusan. Agar komitmen ini dapat dilakukan secara serius, salah satu cara yang dapat dipakai ialah membuat dan mengaplikasikan ukuran kinerja pustakawan yang terbuka dan mengacu pada Standar Kompetensi Pustakawan. Ukuran yang terbuka akan menumbuhkan motivasi bagi pustakawan untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Kinerja pustakawan yang baik pada akhirnya akan membawa dampak positif bagi kemajuan perpustakaan.
Pemberdayaan Organisasi Profesi Pustakawan, Sebuah Harapan Pasca Pengesahan UU Perpustakaan
Zubairi Hasan
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (152.194 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.926
Pemberdayaan organisasi profesi pustakawan merupakan pemberian kekuasaan dan otoritas berdasarkan peraturan perundang-undangan kepada organisasi profesi pustakawan untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalismenya sehingga bisa memberikan jasa layanan kepustakaan kepada masyarakat dengan baik dan memuaskan. Pada 6 Juli 1973 lahirlah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) melalui Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor. Program kerja IPI dapat dikatakan sama dengan The Royal Charter 1898, walaupun dengan rumusan dan bahasa berbeda. Salah satu kelemahan mendasar dari organisasi profesi pustakawan di Indonesia adalah ketiadaan payung hukum yang memperkuat posisinya atau mendorong kemajuannya. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang terbit sejak Indonesia merdeka 1945 sampai minggu kedua Agustus 2007, belum ada pasal-pasal yang secara tegas mendorong kemajuan pustakawan dan organisasi profesi pustakawan. Inti dari pemberdayaan organisasi profesi pustakawan adalah adanya kekuasaan dan otoritas yang diperoleh organisasi profesi pustakawan berdasarkan ketentuan dari peraturan perundang-undangan, pasca disyahkannya Undang Undang No. 43 Th. 2007 tentang Perpustakaan, sehingga organisasi profesi pustakawan mempunyai dasar hukum untuk mengembangkan diri dan menjalin kerja sama dengan pihak lain.
Menjadi Pustakawan: Memaknai Hidup
Luthfiati Makarim
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.394 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.927
Semua pribadi yang normal tentu menginginkan menjadi individu produktif. Individu produktif adalah pribadi yang dapat menghasilkan suatu objek, gagasan, pemecahan masalah atau menyelesaikan tugas pekerjaan dan seterusnya. Individu yang produktif akan selalu mengupayakan apa yang diperbuat secara efektif, efisien dan berkualitas. Sesuai dengan profesi kita sebagai pustakawan, berikut adalah 7 poin profesionalisme pustakawan hasil penelitian Sulistyo Basuki terhadap pustakawan alumni UI yaitu: 1. Memiliki keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge) dan kemampuan (ability) yang memadai sesuai kriteria yang ditetapkan institusi masing-masing; 2. Memiliki kedewasaan psikologi dalam menjalankan pekerjaan dan tugas yang dibebankan kepadanya; 3. Ia harus termasuk dalam kategori high growth need employee; 4. Memiliki kesadaran bahwa kesuksesan dalam tugas atau pekerjaan tidak harus selalu diukur dari jumlah gaji dan imbalan materi yang diperolehnya; 5. Memiliki kesadaran bahwa tugas dan tanggung jawab yang utama adalah memberikan layanan informasi yang sebaik-baiknya kepada masyarakat; 6. Memiliki kemampuan untuk bertindak komunikatif serta edukatif; 7. Dalam melaksanakan tugas/pekerjaannya, ia tidak bersitegang dengan hal-hal rutin dan bersifat kaku, namun berani menggali hal-hal baru dan bermanfaat bagi instansi dan masyarakat yang dilayaninya. Selain itu kompetensi pustakawan didasari oleh hal-hal seperti keterampilan, pengetahuan, peran sosial, citra diri, watak, dan motif. Keenam hal tersebut strukturnya dalam diri seseorang mirip gunung es, yang puncaknya adalah keterampilan dan pengetahuan. Memiliki nilai tambah dalam diri individu pustakawan sangat diperlukan agar pustakawan memiliki kompetensi pembeda yang membedakannya dari regular performer dengan outstanding performer.
Kompetensi Informasi Dan Kompetensi Pustakawan
Putu Laxman Pendit
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.931
Kompetensi pustakawan Indonesia sebaiknya ditempatkan di dalam sistem profesionalisme yang lebih luas, bukan hanya sebagai standar atau alat ukur untuk menilai kinerja individual. Sebelum menerapkan pendekatan berbasis kompetensi, seluruh jajaran Kepustakawanan Indonesia harus terlebih dahulu memastikan ketersediaan sumberdaya profesional bagi para pustakawan Indonesia. Peran organisasi-organisasi profesi pustakawan menjadi sangat penting, terutama sebagai katalisator bagi penetapan kompetensi inti (core competency) yang memungkinkan para anggotanya memiliki posisi seimbang dalam penentuan kompetensi di tempat kerja. Tulisan ini merupakan tinjuan kontekstual terhadap penerapan pendekatan berbasis kompetensi. Ulasan akan dimulai dari pengertian kompetensi secara umum di dalam masyarakat informasi, sebagai sebuah masyarakat berciri khusus yang mengandalkan kegiatan penyimpanan, pencarian, dan penggunaan informasi di berbagai aspek kehidupannya. Kompetensi Pustakawan Indonesia memiliki 3 hal penting yaitu perkembangan masyarakat dan teknologi informasi yang secara langsung memengaruhi kebutuhan akan masyarakat yang kompeten di bidang informasi; posisi pustakawan dalam sistem kerja yang didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan menentukan bagaimana kompetensi ditetapkan dan dijadikan alat ukur; ketersediaan sarana pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi merupakan “harga mati” jika kompetensi ingin dikaitkan dengan kinerja keseluruhan sebuah organisasi. Dalam konteks Kepustakawanan Indonesia, maka penerapan pendekatan berbasis kompetensi juga harus segera dikaitkan dengan otonomi profesi pustakawan. Otonomi ini berkaitan dengan kemampuan sebuah profesi menetapkan sendiri batas kinerjanya.
Gambaran Pustakawan Ideal: Cerdas, Luwes, Dan Suka Menolong
Doddy Rusmono
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.932
Bagi pengguna yang mencari berbagai sumber informasi di perpustakaan, hanya ada satu keinginan yaitu disambut pustakawan yang memiliki tiga karakteristik berpengetahuan luas, pandai menangani keberagaman permintaan apapun, dan tulus membantu pemenuhan kebutuhan informasi. Kontras dengan gambaran tadi, atau tepatnya mimpi buruk bagi pengguna adalah sosok pustakawan yang terkesan enggan, sedikit murung dan jauh dari sikap tanggap terhadap kebutuhan pengguna yang sebenarnya harus cepat dipenuhi. Kesadaran akan keberadaannya di tengah komunitas intelektual sepatutnya memacu semangat pustakawan ideal untuk mengembangkan diri menggapai kesempurnaan yang utuh sebagai penyedia informasi. Ketiga karakteristik sebagai modal dasar dalam mengembangkan diri kearah kesempurnaan citra perlu dilandasi oleh hasil evaluasi-diri yang bersinambungan, berketetapan, dan berpandangan jauh ke depan.