Media Pustakawan
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 17, No 3"
:
8 Documents
clear
Kelompok Kerja Tenaga Fungsional Pustakawan Sebagai Sarana Menuju Pustakawan Profesional: Contoh Kasus Di Lingkungan Perpustakaan Nasional RI
Wartini Santoso
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (186.731 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.881
Kondisi lingkungan bekerja sangat mempengaruhi terbentuknya jiwa, sikap mental dan kinerja pustakawan sebagai pengawai negeri sipil yang lebih mengedepankan profesionalitas sebagai tolok ukur penilaiannya. Pustakawan Perpustakaan Nasional RI misalnya, keterpurukannya (tidak pede atau nyaman dengan profesinya menurut padangan umum tentang pustakawan Prof. DR. Azyumardi Azra, 2005) lebih disebabkan karena terposisikan sebagai staf bidang dan tidak adanya pembinaan profesi yang terorganisir akibat dari belum berfungsinya ”sarang tawon” sebagai wadah pustakawan yang telah disediakan, di samping masih banyaknya pustakawan hasil impasing. Untuk dapat merubah citra ini, selain dengan peningkatan kompetensi, dengan self-esteem dan self-respect perlu adanya peran aktif Perpustakakan Nasional RI sebagai institusi induk yang berperan ganda pula sebagai pembina sumber daya perpustakaan, termasuk di dalamnya pustakawan. Makalah ini berusaha mengungkap kondisi lapangan pustakawan Perpustakaan Nasional RI
Pengembangan Kepribadian Pustakawan
Endang Fatmawati
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (262.424 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.877
Konsep kepribadian (personality) pustakawan itu juga sangat penting untuk terus diperhatikan. Walaupun konsep kepribadian pustakawan ini sebenarnya merupakan konsep pemikiran dan agenda lama yang pernah ada dan pernah kita bicarakan. Namun saat ini seolah-olah hilang bagai ditiup angin. Padahal bukankah pustakawan menjadi garda terdepan yang memberikan layanan langsung kepada pemustakanya? Mengapa pustakawan perlu mengembangkan kepribadian? Bagaimana pustakawan mengenal konsep diri? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menghambat kepribadian pustakawan? Hal-hal apa saja yang berkaitan dengan upaya pengembangan kepribadian pustakawan? Merupakan permasalahan yang akan dibahas pada artikel ini. Beberapa hal yang menurut saya sekiranya berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan kepribadian pustakawan adalah who I am?; Identitas Jati Diri; Character Building; Mind Set; Courtesy; Etiket.
Pengembangan Perpustakaan Dijital Untuk Meningkatkan Pemanfaatan Grey Literature Di Indonesia
Eka Meifrina Suminarsih
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (313.49 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.878
Sebagian besar perpustakaan sudah beralih bentuk dari perpustakaan tradisional yang mengolah dan memberikan layanan secara manual ke arah perpustakaan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dalam pengolahan bahan pustaka dan pemberian layanan kepada masyarakat. Perpustakaan modern ini banyak disebut sebagai Perpustakaan Dijital. Pada perpustakaan terdapat koleksi grey literature yang memiliki arti merupakan seluruh terbitan yang dihasilkan oleh lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, kalangan bisnis dan industri, baik dalam format tercetak maupun format elektronik, tetapi tidak dikendalikan oleh kepentingan komersial dan kegiatan publikasinya bukan merupakan kegiatan utama organisasinya. Penelusuran kembali grey literature tidaklah semudah yang diperkirakan pustakawan karena banyak grey literature yang belum diolah dan disimpan dengan benar. Perpustakaan dijital yang telah mendesain website mereka dengan menu-menu yang mudah diakses dan informatif akan sangat membantu pemustaka dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya. Oleh karena itu pengelolaan grey literature dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi menjadi sesuatu yang sangat penting.
Pengembangan Profesi Pustakawan?
Blasius Sudarsono
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (137.636 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.874
Di Indonesia, profesi pustakawan belum sepenuhnya diterima sejajar dengan profesi lain. Pustakawan masih dianggap sebagai tenaga administratif. Pengertian pustakawan kebanyakan masih mengacu pada batasan yang ada di Keputusan Menpan. Tuntutan bagi pustakawan sendiri yaitu harus memiliki tanggung jawab dan kompetensi kepustakawanan yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Juga perlu diberlakukannya akreditasi bagi lembaga pendidikan pustakawan guna mengesahkan kompetensi dan mutu dari para lulusannya oleh otoritas tertinggi dalam profesi pustakawan. Adapun dalam lingkup keprofesionalan dikenal istilah Continuing Professional Development (Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan) tentang aturan jabatan fungsional kepustakawanan. Pada rumusan dokumen IFLA pun dinyatakan bahwa Pustakawan adalah penghubung aktif antara pemustaka dan sumberdaya informasi maupun pengetahuan. Berarti kemampuan dan kualitas pustakawan harus dipelihara dan selalu ditingkatkan.
Perpustakaan Sebagai Service Provider Dalam Konteks Pelayanan Prima
Hotman Nababan
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (255.525 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.879
Perpustakaan hadir bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Dalam wacana pelayanan prima, terlebih setelah bergulirnya otonomi daerah, petugas perpustakaan (pustakawan) sudah seharusnya meninggalkan pelayanan publik yang secara mencolok melahirkan masyarakat birokrat yang makin berciri individual-materialistik. Perpustakaan harus hadir untuk melayani pemustaka dengan pelayanan prima. Pelayanan prima adalah upaya maksimal yang diberikan oleh petugas layanan dari suatu organisasi/lembaga jasa pelayanan untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan sehingga tercapai suatu kepuasan. Perpustakaan diharapkan mampu memahami strategi 7 (tujuh) P dan kriteria pelayanan prima model 7 (tujuh) S dari Mc. Kinsey. Tentu saja yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman visi dan misi. Untuk itu pustakawan perlu memiliki kompetensi sesuai bidang keahlian/skill yang digelutinya, yang bisa didapat dan ditingkatkan melalui pengalaman, pendidikan dan pelatihan bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
Pustakawan Kreatif Stakeholder Aktif
Sumini Ambuliyani
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (160.384 KB)
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.880
Keterkaitan koleksi perpustakaan di lingkungan sekolah masih dirasa kurang. Dalam permasalahan ini, peranan pustakawan perlu ditingkatkan kreativitasnya untuk memunculkan ide-ide baru yang dapat menggugah minat pengunjung. Hal ini merupakan kunci keberhasilan dalam menarik pengunjung. Pustakawan memegang peran strategis dalam pemberdayaan perpustakaan untuk menunjang keberhasilan dan ketercapaian tujuan pendidikan. Sekolah sebagai tempat anak didik menimba ilmu pengetahuan dan informasi maka perlu disediakan sarana dan prasarana yang memadai sesuai kebutuhan termasuk ketersedian perpustakaan.
Mari Berkenalan Dengan Klasifikasi Persepuluhan Jepang
Francisca Sinai Patmadiwiria
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.875
Saat ini klasifikasi persepuluhan seperti DDC, LC, maupun UDC dan sebagainya para pustakawan telah banyak mengenalnya dan dipakai di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Selain klasifikasi tersebut ada klasifikasi persepuluhan yang dipergunakan oleh perpustakaan-perpustakaan jepang dikenal dengan nama Nippon Decimal Classification (NDC) atau Nihon Jushin Bunrui Ho. NDC ini sebetulnya hasil pengolahan dari DDC dengan Bapak Klasifikasinya Melvil Dewey (1851-1931), Cutter’s Expansive Classification (EC) dengan tokohnya Charles Ammi Cutter (1837-1903) dan Library of Congress. Dan sudah pasti NDC ini telah disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan Jepang, lebih luas dan rinci. Secara umum perbagian digital pada NDC lebih sederhana, dan memiliki perbedaan dengan DDC yaitu pada pembagian kelompok subjek antara Bahasa dan kesusastreraan pada NDC berdekatan yaitu 800 dan 900. Sedangkan pada DDC yaitu 400 dan 800. Begitu pula pada NDC sejarah ilmu bumi termasuk kelas 200 dan pada DDC masuk kepada kelas 900. Hasil pengolahan subjek-subjeknya, NDC ini lebih cenderung mendekati subjek Library of Congress.
Dampak Antara Ilmu Epistimologi Dengan Fungsional Pustakawan Terhadap Pelaksanaan Tugas Di Perputakaan (Sebuah Opini tentang Cabang Ilmu Filsafat)
Dian Puspitasari
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.876
Peran manajemen sumber daya manusia dalam suatu organisasi tidak hanya sekedar sebagai administratif, tetapi justru lebih mengarah bagaimana cara mengembangkan potensi sumber daya manusia agar menjadi lebih kreatif dan inovatif. Seorang manajer harus mampu mendelegasikan kegiatan secara penuh kepada bawahan sesuai kompetensi masing-masing dibarengi dengan pengetahuan tentang tugas pokok yang diembannya. Kegiatan yang diemban harus terprogram, pustakawan selaku garda terdepan perlu belajar ilmu filsafat khususnya epistimologi agar dapat memberikan pelayanan dengan baik masyarakat.