cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 4 (2012): Desember" : 5 Documents clear
Pengembangan Profesi Pustakawan melalui Pembuatan Karya Tulis Ilmiah Endang Fatmawati
Media Pustakawan Vol 19, No 4 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.653 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v19i4.891

Abstract

Salah satu kegiatan pengembangan profesi pustakawan adalah membuat karya tulis ilmiah. Ketrampilan menulis pustakawan tidak dapat dipisahkan dengan kemampuan berpikir. Membaca sebagai langkah awal untuk bisa menulis. Ketrampilan menulis bukan bakat pustakawan, melainkan merupakan proses pembelajaran. Jenis karya tulis/karya ilmiah dapat berupa karya tulis ilmiah hasil penelitian, karya ilmiah, dan karya ilmiah populer. Karya tulis ilmiah dalam butir kegiatan pengembangan profesi bisa berupa: karya tulis ilmiah di bidang perpusdokinfo, laporan hasil kegiatan ilmiah, makalah ilmiah, makalah prasaran, buku, dan artikel majalah. Pustakawan harus memiliki kepekaan terhadap keadaan sekitarnya agar tujuan penulisannya dapat dipahami oleh pembaca. Metode quantum writing dan creative writing menjadi tantangan pustakawan. Menulis dapat mengolah berbagai potensi yang ada di dalam diri pustakawan menjadi “pancaran cahaya”. Menulis bukanlah bakat, namun ketrampilan yang dapat dipelajari disertai latihan yang tekun dan terus-menerus. Agar otak tidak mengalami penyusutan (entropi) dan mati, maka pustakawan perlu memfungsikan sel-sel otak dengan membaca dan menulis.
Mencegah Disharmoni Dua Standar Nasional Bidang Perpustakaan (SNI dan SNP) Tisyo Haryono
Media Pustakawan Vol 19, No 4 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.62 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v19i4.887

Abstract

Dalam sebuah acara sosialisasi tentang standardisasi di suatu provinsi di Pulau Jawa, secara spontan seorang peserta mengajukan pertanyaan singkat yang sangat menarik untuk disimak. Pertanyaannya adalah: “Mengapa ada dua standar nasional di bidang perpustakaan di Indonesia, yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang perpustakaan dan Standar Nasional Perpustakaan (SNP). Mana yang harus kami ikuti? Terus terang ini sangat membingungkan bagi kami pustakawan di daerah”. Dapat dimaklumi, memang tidak mudah bagi para pustakawan pada umumnya untuk memahami dua jenis dokumen yang sangat mirip, apalagi dokumen tersebut memiliki nama yang hampir sama, yaitu: Standar Nasional Perpustakaan (SNP) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) bidang Perpustakaan. Keduanya menggunakan nama ‘standar nasional’, keduanya tentang perpustakaan, dan keduanya ditetapkan oleh pemerintah. Jika tidak dipahami dengan baik, hal ini bisa menjadi masalah serius bagi kemantapan perkembangan perpustakaan di Indonesia. Tulisan ini merupakan hasil telaahan dari seorang pustakawan yang kebetulan menjadi anggota Panitia Teknis Perumusan Standar Nasional Indonesia di bidang perpustakaan. Harapannya dapat membantu para pustakawan untuk memahami kedua dokumen tersebut dengan baik. Mencegah
Kajian Kualitas Layanan Perpustakaan Pusat IPB Subagyo Subagyo; Janti G Sujana
Media Pustakawan Vol 19, No 4 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v19i4.888

Abstract

ajian ini diselenggarakan pada bulan Maret-Mei 2011 di Perpustakaan Pusat IPB. Tujuan umum adalah  mengetahui kualitas layanan Perpustakaan Pusat IPB, dan tujuan khusus: mengukur hubungan karakteristik responden dengan persepsi, harapan maupun kualitas layanan serta indeks persepsi harapan layanan perpustakaan. Kajian menggunakan model survey secara deskriptif dengan populasi responden adalah anggota perpustakaan dengan jenjang pendidikan strata satu, strata dua, maupun strata tiga. Pengambilan sampel digunakan metode stratified random sampling, dengan teknik pengumpulan data secara accidental sampling. Analisis data digunakan metode Servqual dan korelasi rank Spearman’s rho serta modifikasi indeks KEP/25/M.PAN/2/2004. Hasil kajian diperoleh rata-rata skor servqual sebesar -0,41, maknanya harapan yang diinginkan belum sesuai dengan persepsi yang dirasakan. Demikian juga setiap dimensi layanan perpustakaan (tangible, realibity, responsiveness, assurance, dan emphaty)  belum sesuai dengan harapan. Berdasarkan penyusunan bentuk Two-Dimensional Differing Plane, ternyata tidak ada dimensi layanan perpustakaan yang mendesak untuk perbaikan. Namun peningkatan layanan perpustakaan masih dibutuhkan terutama  dimensi tangible dan emphaty, karena  posisi titik kontingensi dimensi tersebut berada di kuadran III.  Sedangkan analisis  karakteristik pemustaka, bahwa aspek gender tidak diperoleh perbedaaan nyata dengan persepsi, harapan maupun kualitas layanan. Jenjang pendidikan berhubungan sangat lemah dengan seluruh dimensi dari persepsi layanan, dimensi realibility dari harapan layanan, dimensi responsiveness dan emphaty dari kualitas layanan. Indeks Persepsi Pemustaka (IPP) diperoleh nilai 76,47 (huruf mutu B) atau kinerja unit layanan termasuk kategori baik. Indeks Harapan Pemustaka (IHP) diperoleh nilai 82,55 (huruf mutu B) atau harapan kinerja unit layanan termasuk
Pustakawan Akademik: Siapakah yang Kita Maksud? Kalarensi Naibaho
Media Pustakawan Vol 19, No 4 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v19i4.889

Abstract

Diskusi mengenai kepustakawanan selalu menarik dicermati, seringkali juga menjadi polemik berkepanjangan, tidak hanya bagi masyarakat luas tapi khususnya di kalangan pustakawan sendiri. Beberapa hal yang seringkali menjadi tema sentral untuk diperdebatkan adalah apakah Perpustakaan itu termasuk disiplin ilmu, dan apakah pustakawan itu termasuk profesi. Pro dan kontra pun terus menyeruak di kalangan pustakawan sehingga topik ini nampaknya akan terus memancing perhatian dan menarik untuk dikaji. Khusus mengenai pustakawan, hal-hal yang sering dibicarakan adalah soal profesionalismenya. Keluhan dari pemustaka masih lazim ditemui di berbagai perpustakaan yang berdampak pada penurunan citra pustakawan itu sendiri. Beberapa media pernah melansir berita tentang betapa buruknya layanan pustakawan di beberapa Perpustakaan Umum akibat kualitas dan kompetensi pustakawan yang tidak sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Kondisi ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di Perpustakaan Umum, namun juga di lembaga pendidikan tinggi. Ini menandakan bahwa kita memang mengalami persoalan yang sangat serius mengenai kualitas dan kompetensi pustakawan! Artikel pendek ini tidak akan membahas topik tersebut secara ilmiah dan rinci. Sebagai seorang pustakawan yang  (1Pustakawan Universitas Indonesia)bekerja di perguruan tinggi, penulis hanya ingin berbagi pandangan atau pengalaman tentang pustakawan yang bekerja di pendidikan tinggi, yang disebut dengan ’pustakawan akademik’. Hal-hal apa saja yang penting menjadi fokus bagi pustakawan di perguruan tinggi, dan apa yang dapat dilakukan untuk mewujudkannya. Penulis menganggap topik ini sangat relevan dibicarakan karena menyangkut kepentingan kepustakawanan di Indonesia secara umum, dan kepentingan perpustakaan perguruan tinggi Indonesia secara khusus.
Manajemen Berbasis Perpustakaan: Penerapan Konsep Pemberdayaan Masyarakat untuk Membangun Perpustakaan Arief Wicaksono
Media Pustakawan Vol 19, No 4 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v19i4.890

Abstract

Pemberdayaan masyarakat merupakan paradigma baru yang menekankan pada peran serta masyarakat yang berkesinambungan dalam pembangunan. Konsep ini adalah salah satu alternatif pembangunan dengan pendekatan yang lebih partisipatif.Peran serta masyarakat dapat meminimasi ketidakpuasan masyarakat terhadap program pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah. Dalam era pembangunan yang semakin maju, peran serta masyarakat diharapkan dapat terwujud bukan hanya dalam format kerja bakti dan donasi, tetapi masyarakat juga harus diberikan kesempatan untuk terlibat lebih banyak dalam pengambilan keputusan dan penyusunan program pembangunan sehingga program yang disusun dapat lebih sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi publik.Perpustakaan sebaiknya menerapkan konsep pemberdayaan masyarakat ini dalam membangun perpustakaan. Jika ini dilakukan maka masyarakat akan merasa memiliki perpustakaan. Sehingga jika masyarakat sudah merasa memiliki perpustakaan maka fungsi yang dimiliki perpustakaan akan dimanfaatkan oleh masyarakat secara mandiri tanpa harus perpustakaan bersusah payah lagi mengajak masyarakat untuk datang ke perpustakaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue