cover
Contact Name
Dewi Perwito Sari
Contact Email
dewiperwito@unipasby.ac.id
Phone
+6282231054138
Journal Mail Official
Farmasis@unipasby.ac.id
Editorial Address
Jl. Dukuh Menanggal XII, Surabaya, 60234, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Farmasis: Jurnal Sains Farmasi
ISSN : -     EISSN : 27466418     DOI : https://doi.org/10.36456/
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Sains Farmasi (FARMASIS) adalah jurnal resmi yang diterbitkan oleh Prodi Farmasi, Fakultas Sains Kesehatan Universitas Adi Buana. Artikel dalam jurnal ini dapat diakses dan diunduh secara online oleh publik. Farmasis menerima artikel penelitian yang berfokus pada : Biologi farmasi, Kimia farmasi, Teknologi farmasi, Farmasi komunitas, Farmasi klinis
Articles 52 Documents
Formulasi dan Karakterisasi Nanokrim Ekstrak Bawang Hitam (Black Garlic) Fauzia Ningrum Syaputri, Fauzia Ningrum Syaputri
FARMASIS: Jurnal Sains Farmasi Vol 6 No 1 (2025): Farmasis: Jurnal Sains Farmasi
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/fs12nf26

Abstract

Pendahuluan: Salah satu sediaan topikal yang digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan krim. Namun sediaan krim tidak dapat menghantarkan zat aktif sampai ke bagian infra infundibulum yang terletak di lapisan kulit dermis tempat bakteri penyebab jerawat berada. Nanokrim merupakan sediaan krim dengan sistem nanoemulsi untuk meningkatkan penghantaran zat aktif. Tujuan: Mengetahui pengaruh kosurfaktan terhadap ukuran partikel yang didapatkan dan kestabilan sistem nanoemulsi yang dibuat menggunakan metode low-energy spontaneous emulsification dan menentukan rancangan formula optimum sediaan nanokrim. Metode: Pengujian meliputi skrining fitokimia ekstrak bawang hitam, optimasi formula dan karakterisasi sediaan. Hasil: Skrining fitokimia ekstrak bawang hitam positif mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid, flavonoid dan polifenol. Dari hasil karakterisasi fisik didapatkan nanoemulsi tipe minyak dalam air yang jernih dengan persen transmittan F1 = 99,24 persen; F2 = 99,27 persen; F3 = 99,27 persen, ukuran partikel F1 = 15,98 nm; F2 = 15,78 nm; F3 = 15,91 nm, indeks polidispersitas F1 = 0,0747; F2 = 0,0504; F3 = 0,0626 dengan nilai pH F1 = 4,63; F2 = 4,62; F3 = 4,59 dan dari uji One Way ANOVA dan Kruskall-Wallis, didapatkan nilai p > 0,05. Nanokrim yang dihasilkan memiliki tipe M/A, nilai pH = 6,02, viskositas 14028 – 49194 cPs, tipe aliran pseudoplastik, daya sebar 6,2 cm, dan waktu daya lekat 02.11 detik. Kesimpulan: Secara keseluruhan, kosurfaktan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil karakterisasi fisik nanoemulsi. Nanoemulsi F2 dengan konsentrasi kosurfaktan 5,5 persen merupakan formula optimal. Namun formulasi sediaan nanokrim dengan emulgator TEA dan asam stearat dalam penelitian ini kurang optimum. Pendahuluan: Salah satu sediaan topikal yang digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan krim. Namun sediaan krim tidak dapat menghantarkan zat aktif sampai ke bagian infra infundibulum yang terletak di lapisan kulit dermis tempat bakteri penyebab jerawat berada. Nanokrim merupakan sediaan krim dengan sistem nanoemulsi untuk meningkatkan penghantaran zat aktif. Tujuan: Mengetahui pengaruh kosurfaktan terhadap ukuran partikel yang didapatkan dan kestabilan sistem nanoemulsi yang dibuat menggunakan metode low-energy spontaneous emulsification dan menentukan rancangan formula optimum sediaan nanokrim. Metode: Pengujian meliputi skrining fitokimia ekstrak bawang hitam, optimasi formula dan karakterisasi sediaan. Hasil: Skrining fitokimia ekstrak bawang hitam positif mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid, flavonoid dan polifenol. Dari hasil karakterisasi fisik didapatkan nanoemulsi tipe minyak dalam air yang jernih dengan persen transmittan F1 = 99,24 persen; F2 = 99,27 persen; F3 = 99,27 persen, ukuran partikel F1 = 15,98 nm; F2 = 15,78 nm; F3 = 15,91 nm, indeks polidispersitas F1 = 0,0747; F2 = 0,0504; F3 = 0,0626 dengan nilai pH F1 = 4,63; F2 = 4,62; F3 = 4,59 dan dari uji One Way ANOVA dan Kruskall-Wallis, didapatkan nilai p > 0,05. Nanokrim yang dihasilkan memiliki tipe M/A, nilai pH = 6,02, viskositas 14028 – 49194 cPs, tipe aliran pseudoplastik, daya sebar 6,2 cm, dan waktu daya lekat 02.11 detik. Kesimpulan: Secara keseluruhan, kosurfaktan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil karakterisasi fisik nanoemulsi. Nanoemulsi F2 dengan konsentrasi kosurfaktan 5,5 persen merupakan formula optimal. Namun formulasi sediaan nanokrim dengan emulgator TEA dan asam stearat dalam penelitian ini kurang optimum.
Perbandingan Berbagai Pendekatan Gastroretentive Drug Delivery System (GRDDS): Floating, Mucoadhesive, Swelling, dan Expandable Systems Mutia, Annisa; Putri, Resti Aulia; Arvi Nanda, Ginna; Permata Auliya, Syakirah; Antoni, Naila Awalia; Tri Hartini, Putri
FARMASIS: Jurnal Sains Farmasi Vol 7 No 1 (2026): Farmasis: Jurnal Sains Farmasi Vol 7. No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/edryxg51

Abstract

Latar Belakang: Gastroretentive Drug Delivery System (GRDDS) dikembangkan untuk memperpanjang waktu tinggal sediaan oral di lambung sehingga meningkatkan bioavailabilitas obat yang memiliki jendela absorpsi sempit, kelarutan bergantung pH, atau aksi lokal di lambung. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan membandingkan berbagai pendekatan GRDDS, yaitu sistem floating, mucoadhesive, swelling, dan expandable, berdasarkan karakteristik formulasi, polimer yang digunakan, serta hasil kinerja yang dilaporkan. Metode: Kajian pustaka dilakukan menggunakan artikel penelitian asli yang diperoleh dari basis data Publish or Perish, Google Scholar, dan ScienceDirect yang diterbitkan pada tahun 2021–2026. Sebanyak 30 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dipilih dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa sistem floating merupakan pendekatan yang paling banyak diteliti dengan proporsi 63,3% dari seluruh studi, diikuti sistem mucoadhesive sebesar 23,3%, sedangkan sistem swelling dan expandable masing-masing sebesar 6,7%. Hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) merupakan polimer yang paling sering digunakan karena memiliki kemampuan mengembang yang baik, membentuk gel, dan mendukung pelepasan terkendali. Sistem floating memiliki keunggulan dalam kesederhanaan formulasi dan kemampuan mengapung yang lama, sedangkan sistem mucoadhesive memberikan retensi lokal yang lebih baik melalui adhesi pada mukosa lambung. Sistem swelling dan expandable menawarkan retensi mekanis yang lebih kuat, namun memerlukan optimasi formulasi yang lebih kompleks. Kesimpulan: Seluruh pendekatan GRDDS menunjukkan potensi yang signifikan dalam meningkatkan waktu retensi di lambung, mengendalikan pelepasan obat, mengurangi frekuensi pemberian, dan meningkatkan efektivitas terapi. Di antara pendekatan yang ditinjau, sistem floating muncul sebagai strategi yang paling banyak diteliti dan paling praktis untuk penghantaran obat gastroretentif.