cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalteokristi@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Jl. Raya Solo Purwodadi km 7, Selorejo, Wonorejo, Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27971651     DOI : -
Teokristi adalah akronim dari Teologi dan Pelayanan Kristiani. Penggunaan nama Teokristi sebagai nama jurnal merujuk kepada focus dan scope jurnal ini. Teokristi adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Injili, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Focus dan Scope penelitian Teokristi adalah Teologi Kontekstual, Teologi Pastoral, Misiologi, Pelayanan Kristiani. Teokristi menerima artikel dari dosen dan para teolog yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya dalam proses peer-review sebelum diterbitkan. Teokristi terbit dua kali setiap tahun, Mei dan November.
Articles 88 Documents
Tinjauan Proses Pembentukan Kepemimpinan Rasul Petrus dan Implementasinya dalam Pelayanan Mentoring Christian Daniel Raharjo
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan gereja dan pelayanan akan tersedianya pemimpin yang efektif menjadi salah satu isu penting yang terus menjadi pergumulan bagi Tubuh Kristus. Kurangnya pemimpin yang efektif mengakibatkan gereja mengalami stagnansi, tidak sedikit juga yang mengalami kemunduran, bahkan skandal. Dalam upaya untuk memberikan masukan bagi kepemimpinan gereja dan pelayanan, peneliti mencoba untuk meneliti proses pembentukan kepemimpinan melalui pelayanan mentoring. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Adapun yang menjadi problem riset artikel ini ialah bagaimana proses pembentukan kepemimpinan rasul Petrus dan penerapannya dalam pelayanan mentoring. Melalui analisa yang dilakukan, penulis mendapati ada lima tahapan pembentukan kepemimpinan rasul Petrus, yaitu: terinspirasi, termotivasi, dibimbing, diperluas wawasannya, dan terlatih oleh pengalaman. Kemudian tahapan-tahapan ini yang diterapkan dalam pelayanan mentoring melalui sudut pandang mentor, tahapan-tahapan itu ialah : inspirasi, motivasi, navigasi, edukasi, dan eksplorasi. 
Peran Gereja dalam Meningkatkan Peran Misi Penginjilan Jemaat Selvira Atika Situmorang; Yanto Paulus Hermanto
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractChristianity and the church have an important role to play in enhancing godlike missions by carrying out the commandments of God's Great Commission. The gospel as good news and the tidings of joy for the world and the multitude must then be preached, and evangelism as the commandment of the Great Commission to be worked out. The importance of the Church's role in enhancing the role of the Congregational Evangelism Mission, because the Church has now begun to lose its essence and purpose for preaching the gospel, and making disciples of each congregation in order to win many souls for God. The existence of a leadership figure in a Church or mission body also affects the role of the congregation in carrying out its mission, the need for a leader or shepherd who can foster, guide, guide, and motivate the congregation. The strategies, methods, and models described in this discussion may be able to help the role of the church in the role of its congregation's mission. AbstrakKekristenan dan gereja memiliki peran penting dalam meningkatkan misi bagi Tuhan dengan melaksanakan perintah Amanat Agung Tuhan. Injil sebagai kabar baik dan berita sukacita bagi dunia dan orang banyak maka haruslah itu diberitakan,dan penginjilan sebagai perintah Amanat Agung yang harus dikerjakan. Pentingnya peran gereja dalam meningkatkan peran Misi Penginjilan Jemaat, karena gereja sekarang ini sudah mulai kehilangan esensi dan tujuan untuk memberitakan Injil, dan memuridkan setiap jemaat agar dapat banyak memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Adanya sosok kepemimpinan dalam sebuah Gereja atau badan misi juga mempengaruhi peran jemaat dalam menjalankan misinya, dibutuhkannya sosok pemimpin atau gembala yang dapat membina, menuntun, membimbing, dan memotivasi jemaat. Strategi, metode, dan model yang sudah dijelaskan dalam pembahasan ini kiranya dapat membantu peran gereja dalam peran misi jemaat. 
Transformasi Injil Dalam Ritus Ma’ dulang di Nosu Sebagai Keyakinan Bahwa Tuhan Ada dan Diresapi dalam Ciptaan-Nya Jumreni Tina
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa Injil telah hadir mengubah banyak hal dalam berbagai aspek, khususnya dalam hal ritus agama. Kehadiran Injil mengubah dunia secara perlahan. Dalam beberapa kasus penginjil tiba-tiba mengubah suatu keyakinan dan ritus agama yang telah melekat dalam jiwa umat, dan menganggap bahwa ritus yang mereka lakukan sebelumnya bertentangan dengan Injil dan tidak akan memberi keselamatan bagi penganutnya, meskipun dalam perjalanannya keyakinan dan ritus tersebut sudah terbilang cukup lama. Salah satu keyakinan yang melekat dalam diri masyarakat ialah keyakinan akan Aluk to Dolo di kalangan masyarakat Nosu yang hingga saat ini masih dipegang teguh dan diwujudkan melalu sebuah ritus Ma’dulang. Penulis menggunakan metode pendekatan model sintesis yang mengkaji transformasi Injil ke dalam ritus budaya Ma’dulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritus Ma’dulang adalah konsep keliru dalam perspektif teologis, karena seharusnya manusia sadar dengan penuh bahwa Tuhan akan memberi jaminan hidup kekal dalam kerajaan surga. Injil tidak diragukan lagi kebenarannya, tidak perlu didampingi oleh ritus-ritus budaya.
Studi Eksegesis Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 Victorius Wau
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amanat Agung merupakan pesan terakhir yang Yesus berikan kepada para murid sebelum kenaikan-Nya ke sorga. Amanat Agung adalah perintah yang bersifat mutlak harus dikerjakan oleh setiap orang yang percaya kepada Kristus. Amanat Agung (The Great Commission) menjadi landasan untuk kegiatan pekabaran Injil. Tujuan dari kegiatan Amanat Agung adalah mengabarkan bahwa keselamatan telah disediakan di dalam Yesus sehingga keselamatan yang merupakan anugerah kasih Bapa dapat dirasakan oleh semua orang yang memberi respon dan menjadi percaya.  Penelitian ini menggunakan metode eksegesis untuk menemukan arti teks berdasarkan pengggalian bahasa asli sehingga dapat dimengerti dengan benar dan mampu menarik kesimpulkan berdasarkan kebenaran. Tujuan utama dari Amanat Agung adalah “menjadikan semua bangsa murid Kristus”. Proses menjadikan murid dimulai dengan pengutusan, diikuti dengan baptisan dan pengajaran. Frasa “menjadikan semua bangsa murid” memiliki arti menjadikan semua orang non-Yahudi atau orang-orang yang belum mengenal Allah, orang kafir atau orang di luar Israel, menjadi pengikut Kristus. Tuhan Allah menghendaki supaya semua bangsa menjadi murid-Nya. Pemuridan membutuhkan suatu ketaatan sehingga menghasilkan pelipatgandaan atau terjadi multiplikasi murid-murid yang taat pula. Gereja atau setiap orang percaya harus menyadari tugas ini (marturia) sebagai tugas utama yang harus dikerjakan. Gereja tidak boleh menjadikan penginjilan hanya sebatas tema khotbah atau retorika belaka, bukan hanya sekedar ditulis di kotak persembahan atau bahkan hanya sekedar dipelajari melalui seminar atau bahan diskusi.  Penginjilan harus dilakukan segera dan menjadi gaya hidup orang percaya. Artinya, penginjilan harus dikerjakan setiap saat, dimana pun dan kapan pun. Ketika orang percaya tidak menginjil, maka itu membuktikan bahwa orang percaya tidak peduli akan keselamatan orang lain.  Ketika tidak peduli dengan keselamatan orang lain maka dalam hal ini gereja berdosa, berdosa karena tidak taat terhadap perintah Tuhan.
Kesukaran Hidup Menurut Teologi Lukas dan Aplikasinya bagi Hidup Orang Kristen pada Masa Kini Sinaga, Efraim
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i1.120

Abstract

Everyone's difficulties in life can be experienced. And usually they are always shunned because this is uncomfortable for the human mind and body. Every human being always tries to make the difficulties live away from their life. But the reality is that life's hardships are unavoidable, especially during the Covid-19 Pandemic. All affected people, even many believe, are also affected in terms of economy, work, health and so on. Many of them respond by complaining, grumbling and even blaming God for making their faith weaker, but there are also those who respond by bringing themselves closer to God. Therefore, it is necessary for a Christian to know how the Bible views the difficulties of life that they are experiencing, so that their faith does not deteriorate further, they can be strengthened and continue to struggle in facing any difficulties in life that they experience. This paper will answer it, but the writing only contains the viewpoint of a Luke only. Luke's guide to life's difficulties can be explained by a simple exegesis of Luke's writings, namely the Gospel of Luke and the Acts of the Apostles.Kesukaran hidup dapat dialami oleh setiap orang. Dan biasanya selalu dijauhi karena hal ini tidak mengenakkan bagi fisik maupun batin manusia. Setiap manusia selalu berusaha supaya Kesukaran hidup jauh dari kehidupan mereka. Tetapi kenyataanya Kesukaran hidup tidak dapat dihindarkan, secara khusus di masa Pandemi Covid-19 ini. Semua orang terdampak bahkan banyak percaya pun juga ikut terdampak baik dari segi ekonomi, pekerjaan, kesehatan dan lain sebagainya. Banyak di anatara mereka yang meresponinya dengan mengeluh, bersungut-sungut bahkan sampai menyalahkan Tuhan yang membuat iman mereka menjadi semakian lemah, tetapi ada juga yang meresponinya dengan membawa dirinya semakin dekat kepada Tuhan. Oleh sebab itu perlu bagi seorang Kristen untuk mengetahui bagaimana pandangan Alkitab tentang kesukaran hidup yang sedang mereka alami, sehingga mereka iman mereka tidak semakin merosot, mereka dapat semakin dikuatkan dan terus berjuang dalam menghadapi setiap Kesukaran hidup yang mereka alami. Tulisan ini akan menjawabnya tetapi tulisan hanyalah memuat tentang pandagan seorang Lukas saja. Pandangan Lukas mengenai kesukaran hidup ini akan dapat dijelaskan melalui eksegesis sederhana terhadap tulisan-tulisan Lukas, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul.
Pandangan Rasul Paulus terhadap Penganiayaan yang Dialami Orang Kristen Nessy, Jeffry Octavianus
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i1.121

Abstract

This article discusses the persecution of believers based and experienced by Paul. As the Lord Jesus has been persecuted, so believers as followers of Christ will be persecuted. Throughout the history of Christianity,it has been proven that believers often experience obstacles and suffering in carrying out their worship. For believers the persecution is not a defeat or even punishment, but a victory. The inhibition and suffering experienced by believers is certainly known by God. God has such a wonderful purpose that he allows the persecution of His children. The purpose is for the glory of Christ to mature believers spiritually, to create the unity of the body of Christ, the church is growing, and evangelism is growing to win souls for the glory of His name. The progress of the gospel is not determined by any circumstances or anyone’s motivation because what the Lord has opened, no man can ever shut.Artikel ini membahas tentang penganiayaan terhadap orang percaya dan yang dialami oleh Paulus. Sebagaimanana Tuhan Yesus telah dianiaya, demikian juga orang-orang percaya sebagai pengikut Kristus akan dianiaya. Di sepanjang sejarah kekristenan terbukti bahwa orang-orang percaya sering mengalami penghambatan serta penderitaan dalam menjalankan ibadahnya. Bagi orang percaya,penganiayaan bukanlah merupakan suatu kekalahan atau bahkan hukuman, melainkan kemenangan. Penghambatan dan penderitaan yang dialami oleh orang percaya tentu diketahui oleh Allah. Allah mempunyai maksud yang indah sehingga ia mengijinkan terjadinya penganiayaan terhadap anak-anak-Nya. Tujuan itu adalah untuk kemuliaan Kristus yang mendewasakan orang-orang percaya dalam rohani, mencipakan kesatuan tubuh Kristus, gereja semakin bertumbuh, serta penginjilan yang semakin berkembang untuk memenangkan jiwa bagi kemuliaan nama-Nya. Kemajuan Injil tidak ditentukan oleh situasi apapun atau motivasi siapapun karena apa yang sudah Tuhan bukakan, tidak ada siapapun juga yang akan bisa menutupnya. 
Kesukaran Hidup Manusia dalam Perspektif Injil Yohanes Afandi, Kriswahono Umbar
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i1.122

Abstract

The background of the writing of this paper is the hardships of life that humans experience in living their lives. The difficulties of life are not only false shadows, but are facts that exist in human life that cannot be avoided in human life. In particular, this paper discusses difficulties according to John's view. The problematic issue of this problem is the hardships of life experienced by humans when Jesus served his ministry. Are the difficulties in life experienced by people is the result of their sins or is there something else? To answer this problem, the researcher used the literature method with a descriptive qualitative approach, the researcher also conducted studies from several sources in the form of theological journals, theology books related to the theme and used the Bible as the primary source. From the research results, the researcher found the answer that the difficulties of living according to Gospel of John are aimed at revealing God's works to humans.Penulisan paper ini dilatarbelakangi dengan adanya kesukaran hidup yang dialami manusia dalam menjalani kehidupanya. Kesukaran hidup bukan hanya bayang-bayang semu saja, tetapi merupakan fakta-fakta yang ada kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Secara khusus paper ini membahas kesukaran menurut pandangan Yohanes, pokok problematis permasalahan ini adalah adanya kesukaran hidup yang dialami oleh manusia pada saat Yesus menjalani pelayananya. Apakah kesukaran hidup yang dialami orang merupakan akibat dari dosanya atau ada yang lain. Untuk menjawab permasalahan ini peneliti menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti juga melakukakan kajian dari beberapa sumber berupa jurnal teologi, buku-buku teologi yang berhubungan dengan tema dan menggunakan Alkitab sebagai sumber primer. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan jawaban bahwa kesukaran hidup menurut teologi Yohanes bertujuan untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah  kepada manusia
Sikap Orang Percaya dalam Menghadapi Kesukaran: Refleksi Surat-surat Petrus Molina, Soleman Daud
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i1.123

Abstract

The background of this paper is the hardships of life that humans experience universally. Life difficulties are facts of human life that cannot be avoided in human life, one of which is the Covid-19 pandemic that has hit the world. In particular, this paper discusses the hardships of life experienced by believers in the letter of Peter. The problematic issue of this problem is the hardships of life experienced by followers of Christ who experienced cruel persecution in the mass of Nero's reign. Whether the hardships of life experienced by believers become a force of faith, or do they leave their faith in Christ because of the suffering they have experienced. To answer this problem the researcher used the literature method with a descriptive qualitative approach, the researcher also conducted studies from several sources in the form of theological journals, theology books related to the theme and used the Bible as the primary source. From the research results, the researcher found the answer that the difficulties of living according to Peter's theology are life difficulties experienced by the Lord's congregation which can prove the purity of their faith, the hardships or sufferings experienced because Christ is the grace of God, the suffering of Christ is an example that must be imitated and follow in his footsteps. suffering for Christ is a joyPenulisan paper ini dilatarbelakangi dengan adanya kesukaran hidup yang dialami manusia secara universal. Kesukaran hidup merupakan fakta-fakta kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia salah satunya adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Secara khusus paper ini membahas kesukaran hidup yang dialami orang percaya dalam surat Petrus, pokok problematis permasalahan ini adalah adanya kesukaran hidup yang dialami oleh pengikut Kristus yang mengalami penganiayaan yang kejam pada massa pemerintahan Nero. Apakah kesukaran hidup yang dialami orang percaya menjadi kekuatan iman, atau sebaliknya mereka meninggalkan iman percaya mereka kepada Kristus karena penderitaan yang mereka alami. Untuk menjawab permasalahan ini peneliti menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti juga melakukakan kajian dari beberapa sumber berupa jurnal teologi, buku-buku teologi yang berhubungan dengan tema dan menggunakan Alkitab sebagai sumber primer. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan jawaban bahwa kesukaran hidup menurut teologi Petrus merupakan  kesukaran hidup yang dialami jemaat Tuhan dapat membuktikan kemurnian iman mereka, kesukaran atau penderitaan yang dialami karena Kristus adalah kasih karunia Allah, penderitaan Kristus adalah sebuah teladan yang harus dicontoh dan mengikuti jejaknya, menderita bagi Kristus adalah suatu kebahagiaan.
Penderitaan Manusia dalam Pandangan Surat Yakobus Widayanti, Pipit
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i1.124

Abstract

Everyone has experienced problems or suffering in their life. Sometimes in his suffering the question arises why this should be so. The epistle of James contains lessons for its readers in dealing with suffering. This research was conducted with the aim of describing human suffering in light of the epistle of James and its application to Christian life today. The method used is descriptive qualitative through a literature study approach. The results of this study indicate that God's purpose behind human suffering is that God wants His people to be perfect, God wants his people to obey, and God wants to test His people.Setiap orang pernah mengalami masalah atau penderitaan dalam hidupnya. Kadang-kadang dalam penderitaannya tersebut muncul pertanyaan mengapa hal itu harus terjadi. Surat Yakobus berisi tutunan bagi pembacanya dalam menghadapi penderitaan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan penderitaan manusia dalam pandangan surat Yakobus dan penerapannya bagi kehidupan orang Kristen pada masa sekarang. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan Allah di balik penderitaan manusia adalah Allah ingin umat-Nya menjadi sempurna, Allah ingin umatnya dapat taat, dan Allah ingin menguji umat-Nya.
Konsep Penderitaan dalam Injil Matius dan Relevansinya dengan Penderitaan Manusia Masa Kini Neto, Yuas
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v1i1.125

Abstract

Human suffering experienced can occur due to various causes, for example due to disease outbreaks or natural disasters. The impact of this suffering can be felt in various sectors of human life. This research was conducted to describe the proper attitude of Christians towards suffering that occurs from the point of view of the Gospel of Matthew. This study uses a descriptive approach through literature studies. The research results show that Jesus is the source of the solution to human suffering, but the suffering experienced is also an inseparable part of human life, even the increasing intensity of suffering shows that the end of time is getting closer.Penderitaan yang dialami manusia dapat terjadi karena berbagai penyebab, misalnya karena wabah penyakit atau bencana alam. Dampak penderitaan ini dapat dirasakan di berbagai sektor kehidupan manusia. Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan sikap seharusnya dari orang Kristen terhadap penderitaan yang terjadi dari sudut pandang Injil Matius. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskritif melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus adalah sumber penyelesaian dari penderitaan manusia, namun penderitaan yang dialami juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia, bahkan intensitas penderitaan yang semakin meningkat menunjukkan bahwa akhir zaman semakin dekat.