cover
Contact Name
Fitrahayunitisna
Contact Email
fitrahayunitisna@ub.ac.id
Phone
+6285777556060
Journal Mail Official
kusalawafibub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran, Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Kusa Lawa
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 28278194     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.kusalawa
Jurnal ini mewadahi gagasan ilmiah dan publikasi hasil penelitian dari para ilmuwan, akademisi, maupun peneliti. Untuk itu jurnal ini terbuka dan menerima artikel ilmiah yang berupa hasil penelitian, gagasan ilmiah, dan penciptaan seni.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2021)" : 8 Documents clear
KAJIAN BUNGA MAWAR SEBAGAI SIMBOL BUDAYA LOKAL DAN AGAMA MELALUI PANDANGAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Aziz Al Bilad
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.02

Abstract

Until now, the rose has various meanings, namely as a symbol of love, beauty, respect, and joy and sorrow. There are lots of red roses that are very popular with many people. Like the flame on a red rose which is used as a symbol of affection. But apart from being a rose that has been applied above, flowers are also widely used for cultural and religious purposes. For example in culture, namely the Javanese custom which uses roses as a wedding ceremony, and roses as a death ceremony. In the formulation of the research problem, what is the meaning of denotation, connotation, and myth in roses as symbols of local culture and religion through Roland Barthes' semiotic method. The purpose of this research is to describe and examine the meaning of the rose symbol through denotation, connotation, and myth. From the research results, it can be seen that the denotation of roses or rose petals and the connotation of red roses is a symbol of affection.
Islam Jawa Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Grafis Iqbal Misbahuddin M
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.07

Abstract

Java as one of the largest landmasses in Indonesia has many unsolved mysteries until now because it is considered as mystical and forbidden to touch for the inexperienced. For a long time, Java made a history that many people can still feel, from the history of power, mysticism, culture to religious affairs. In the beginning, Java itself already had a belief in the strongest entity called God and already had its own thoughts on how God exists and is felt. Some people recognize that belief as animism and dynamism, which believes that certain spirits or objects have a power that is considered their God, others consider Java to have a more complex religion or belief which is often called Kejawen, Kapitaian, Sundanese Wiwitan, and so on. If drawn straight with the beliefs recognized today it is believed by some to have the same as the teachings of Islam. Why can it be called similar to Islamic teachings, because there are some beliefs that believe that there is only one God who must be worshiped for them in a predetermined manner. From this restlessness, the writer wants to dissect these problems into graphic art works.
KAJIAN BUDAYA PETUAH JAWA “SAPA SING NANDHUR BAKALE NGUNDHUH” DALAM RUANG LINGKUP HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK Abida Bahriatussifa'
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.03

Abstract

Kajian Budaya Petuah Jawa “Sapa Sing Nandhur Bakale Ngundhuh” dalam Ruang Lingkup Hubungan Orang Tua dan Anak. Penelitian ini memiliki tujuan mengedukasi masyarakat mengenai makna mendalam yang dapat diambil dari petuah Jawa “Sapa sing nandhur bakale ngundhuh”, serta megambil pelajaran dari kaitan petuah Jawa tersebut dalam ruang lingkup orang tua dan anak. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.  Metode wawancara dilakukan untuk mencari tahu tentang presepsi masyarakat lokal pada umumya terhadap makna petuah Jawa “Sapa sing nandhur bakale ngundhuh” serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-sehari yang biasa ditemui. Metode observasi dilakukan untuk memperkuat opini penulis maupun masyarakat atas keterkaitan petuah Jawa yang diteliti dengan hubungan orang tua dan anak. Sedangkan metode dokumentasi dilakukan untuk mengetahui seperti apa sudut pandang penelitian terdahulu yang membahas objek yang sama dengan penelitian ini. Hasil pengumpulan data nantinya akan dianalisis secara naratif kualitatif. Pengambilan data dilakukan di Desa Mojotengah, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.  
EKSISTENSI TATO MENTAWAI SEBAGAI BENTUK RESISTENSI KEBUDAYAAN SOSIAL DI KEPULAUAN SUMATERA BARAT Socha Indra Mulia
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.08

Abstract

Eksistensi Tato Mentawai sebagai Bentuk Resistensi Kebudayaan Sosial di Kepulauan Sumatera Barat. Eksistensi budaya tato Mentawai di Sumatera Barat pada zaman sekarang yang semakin modern menjadi pertanyaan sebagian kalangan. Kebudayaan tato yang kuat akan asal usulnya dibudayakan secara turun temurun apakah masih diteruskan oleh anak muda zaman sekarang ini? Proses pentatoan yang masih menggunakan teknik, alat, dan bahan yang masih tradisional mungkin menjadi salah satu alasan anak muda sekarang. Kaum anak muda lebih tertarik dengan motif dan teknik tato yang lebih modern, disisi lain sejak dikeluarkan melalui SK No.167/PROMOSI/1954 yang memerintahkan suku Mentawai meninggalkan tradisi tato dan kepercayaan mereka, Arat Sabulungan. Masyarakat Mentawai mulai meninggalkan kebudayaan tersebut dan membangun kehidupan mengikutin zamannya. Namun kebudayaan tato itu sendiri telah menjadi identitas Mentawai yang telah banyak dikenal oleh rakyat Indonesia melalui asal usul, teknik, motif, alat, dan bahan yang digunakan dalam proses tersebut memiliki keunikan tersendiri bagi masyarakat Mentawai. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari informasi mengenai tato Mentawai dari asal-usul hingga keberadaan tato saat ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara studi literatur. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara utuh. Hasil yang kemungkinan ditemukan adalah penerimaan diri, merasa setara dengan orang lain, konsep diri yang dibangun, dan sisa-sisa keberadaan tato yang tidak lagi dibudayakan.
YAYOI KUSAMA DAN NARASI FEMINIST ART KARYA SENINYA//NARASI FEMINIST ART PADA KARYA YAYOI KUSAMA Ainur Khafifah
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.04

Abstract

This article is a literacy study of the development of the subject into an object: Yayoi Kusama in the development of his art and how his cultural background, race and gender identity and his body values lead him to the flow of feminist arts which is usually published by each curator and critic on themes. his work. This paper uses a psychoanalytic approach in identifying objects and tendencies that Kusama has brought along in his career. How the charm and existence of Kusama bring along the goals of feminist thought itself, this is one of the feminist thought tools accepted by the audience without having to present upheaval by various people, art is a container of thought that can be accepted by society widely and clearly both from in terms of aesthetics and in terms of value.
HEWAN SINGA SIMBOL IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT MALANG Rizaldi Rahmadan Ashari
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.05

Abstract

Hewan Singa Simbol Identitas Budaya Masyarakat Malang. Identitas suatu kota tidak hanya dibentuk melalui warisan kebudayaan atau peninggalan sejarah. Secara tidak langsung, perilaku masyarakat juga dapat membentuk identitas sebuah kota. Kota Malang identik dengan klub sepak bola Arema dan simbolisme simbol hewan singa yang hadir bersamanya. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan pemaknaan hewan singa sebagai identitas masyarakat Kota Malang. Tulisan ini dapat menjadi acuan dalam pengembangan identitas kebudayaan masyarakat Kota Malang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan dilakukan dengan menggunakan teknik analisis observasi dan studi literatur. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Kota Malang menjadikan simbolisme hewan singa sebagai falsafah berkehidupan. Pemaknaan simbolisme singa diwujudkan ke dalam gagasan dan ekspresi budayanya. Hal ini ditunjukkan melalui perwujudannya ke dalam berbagai aspek kebudayaan masyarakat Kota Malang. 
KAJIAN ESTETIKA VISUAL TARI KIPRAH GLIPANG PROBOLINGGO Rosalia Febidyahwati
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.01

Abstract

Kajian Estetika Visual Tari Kiprah Glipang Probolinggo. Tari Kiprah Glipang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang berasal dari Desa Pendhil Kabupaten Probolinggo.  Seiring perkembangan zaman, kesenian tari ini semakin memudar khususnya di lingkungan masyarakat Probolinggo sendiri sehingga eksistensi dan wawasan yang berkaitan dengan tari kiprah glipang ini turut mengalami penurunan. Akibatnya, semakin banyak masyarakat khususnya Probolinggo yang tidak mengenal kesenian asli daerahnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis visual tari glipang berdasarkan pada aspek busana, tata rias, dan gerak tubuh dengan tujuan untuk memberikan gambaran secara rinci sekaligus mengenalkan kesenian tari glipang kepada masyarakat luas. Metode yang digunakan adalah kritik seni E.B. Feldman dengan data yang didapat melalui studi pustaka dan dokumentasi.  Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa tari kiprah glipang merupakan sebuah tarian yang merepresentasikan keberanian seseorang dalam membela kebenaran serta keadilan di mana hal itu diwujudkan dalam aspek busana yang menggunakan warna-warna berani, tata rias yang menciptakan ekspresi tegas, dan juga gerak tubuh patah-patah yang banyak mengadopsi dari gerakan beladiri.
Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce Karya Lukis Erica Hestu Wahyuni “Vacation in Prosperity Land” Areel Nindan Ajeng
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.06

Abstract

Painting is a two-dimensional art consisting of lines, fields, shapes and colors. Painting works are made not without reason, artists create works often for expression as well as expressing ideas and creativity. In addition, there are many values contained in art. This article discusses the meanings contained in the painting “Vacation in Prosperity Land” by Erica Hestu Wahyuni. This work is a work that explains how happy the world of children is, which is not full of falsehoods. The review in this work was conducted to prove the correlation between visual and its meaning, so that it can become a medium of information. The results of the semiotic study in this painting show that there are visuals and color compositions that show that Erica has succeeded in elevating something complex into a simple thing.

Page 1 of 1 | Total Record : 8