cover
Contact Name
-
Contact Email
bastrajurnal01@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bastrajurnal01@gmail.com
Editorial Address
https://dmi-journals.org/deiktis/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : -     EISSN : 28077504     DOI : https://doi.org/10.53769/deiktis
DEIKTIS: Journal of Language and Literature Education is an academic journal published in April, August and December by the Indonesian Muslim Lecturer Association. This journal presents scientific articles on Learning, Education, Literature, Linguistics, Culture
Articles 158 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 158 Documents clear
Role Play & Visual Storytelling as an Innovative Solution to Overcome English Grammar Learning for Sixth-Grade Students of SDN 064037 Medan Tembung on Comparative Adjectives and Prepositions Material Nanda Ramadani; Sri Rahayu Simanullang; Indah Nur Utami Br Simatupang; Putri Olivia Munthe; Siti Sarah Harahap
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1896

Abstract

This study aims to identify and analyze the various challenges experienced by students in understanding two important aspects of English grammar, namely comparative adjectives and prepositions. Based on the results of observations and interviews, it was found that the main obstacle for students lies in the lack of conceptual understanding due to teaching methods that are too theoretical and the minimal use of supporting visual media. In addition, the differences in language structure between Indonesian and English also become obstacles in the learning process. To answer these problems, this study developed and implemented a contextual learning strategy that combines role play and visual storytelling approaches to create an interactive, communicative, and enjoyable learning atmosphere. Through this approach, students not only find it easier to understand the function and use of comparative adjectives and prepositions, but also show significant improvements in active participation, confident when speaking in English, and overall grammar understanding. This study uses a qualitative method with data collection techniques through in-depth interviews and documentation, thus providing a complete picture of the effectiveness of this innovative learning strategy in the context of elementary schools.
Tongkonan is One of The Cultural Symbols For The Toraja People That Has Noble Values Asniati Kuasa Rombelinggi'; Bahar Bahar; Akbar Abu Thalib; Heppy Lismayanti
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1897

Abstract

Tongkonan is a traditional house of Torajan people. Tongkonan is a place to discuss or conduct traditional affairs, not just an extendeed family home and a place to maintain community ties. The aim of this research is to identify the meanings contained in tongkonan. In this research, researcher using qualitative methods, with the aim of researchers to find out the meaning of tongkonan for Torajan people. The meanings of tongkonan from Torajan cultural perspective are; tongkonan is symbol of lineage and family identity, tongkonan served as the center of traditional government, tongkonan is a center of traditional ceremonies and rituals, and tongkonan as symbol of cosmic harmony (Aluk Todolo). The research result show that Tongkonan is a source of pride and splendor for the entire Torajan tribe, as this traditional house serves not only as a residence but also as a kinship symbol for the entire Torajan family, even if some family members have passed away. Tongkonan is not only a place to live with extended family, but also a place to perform various traditional rituals and ceremonies, also tongkonan is not something that is 'chosen', but something that is determined by descent.
Penggunaan Acronyms dalam Komunitas Mobile Legends Indonesia syarif Hidayatullah; M. Imron Abadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1898

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan akronim sebagai neologisme dalam komunitas game Mobile Legends di Indonesia, dengan menerapkan teori Newmark (1988). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi dan dokumentasi komunikasi selama bermain game serta interaksi di media sosial dalam komunitas game Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan kerangka prosedur penerjemahan Newmark. Temuan menunjukkan bahwa pemain Mobile Legends Indonesia secara ekstensif menciptakan dan menggunakan akronim sebagai bentuk adaptasi linguistik, dengan akronim yang teridentifikasi mengikuti prosedur transferensi Newmark, di mana terminologi game bahasa Inggris dipinjam dan disingkat secara langsung ke dalam wacana game Indonesia. Penelitian ini mengidentifikasi 10 akronim unik yang dikategorikan menjadi tiga jenis utama: akronim berbasis keterampilan, singkatan item, dan akronim meta-game wilayah. Melalui proses naturalisasi Newmark, akronim-akronim ini mengalami adaptasi fonologis dan morfologis agar sesuai dengan pola linguistik Indonesia dengan tetap mempertahankan makna semantik aslinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan neologisme akronim dalam komunitas game berfungsi sebagai jembatan budaya, memfasilitasi komunikasi cepat sekaligus mempertahankan terminologi game internasional. Fenomena linguistik ini mencerminkan evolusi bahasa yang dinamis di ruang digital dan menyoroti peran penting teori penerjemahan dalam memahami pola komunikasi kontemporer dalam komunitas wacana tertentu.
Analisis Partisipasi Aktif Peserta Didik Kelas IV terhadap Penggunaan Metode Ceramah Interaktif di SD Negeri 071028 Luzamanu Indah Wijaya Lase; Eka Periaman Zai; Operianus Mendrofa; Recy Harviani Zurwanty
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1904

Abstract

Penelitian yang dilakukan ini berfokus dalam menganalisis partisipasi dan keterlibatan peserta didik dengan penggunaan metode ceramah interaktif di SD Negeri 071028 Luzamanu. Rendahnya partisipasi aktif peserta didik terjadi dikarenakan pembelajaran tidak efektif dan menarik perhatian peserta didik. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan kualitatif secara deskriptif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini ialah peserta didik dan guru kelas IV. Hasil dari penelitian mengungkapkan bahwa penggunanan metode pembelajaran ceramah secara interaktif dalam proses belajar meningkatkan partisipasi peserta didik secara aktif melalui penerapan metode secara inovatif sesuai kemampuan dan daya seorang guru. Hubungan interaksi yang dibangun dan terjalin antar peserta didik dengan guru juga menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran. Penelitian ini merekomendasikan perlunya daya guru dalam mengupayakan pembelajaran yang menarik minat, motivasi dan interaksi peserta didik yang menyenangkan dan edukatif.
Tingkat Tutur Bahasa Jawa Ngoko pada Santri Putri di Pondok Pesantren Al-Hasyimi Sukolilo Bancar Tuban Aulia Rahmawati; M. Imron Abadi; Sri Yanuarsih
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1905

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan tingkat tutur ngoko dalam interaksi santri putri di Pondok Pesantren Al-Hasyimi, Desa Sukolilo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban. Ragam tutur ngoko merupakan variasi bahasa Jawa yang umumnya digunakan dalam situasi informal, akrab, atau antar penutur yang memiliki hubungan dekat dan setara. Dalam konteks kehidupan pesantren, ragam ini digunakan santri untuk berkomunikasi sehari-hari, khususnya di lingkungan asrama atau saat berinteraksi dengan teman sebaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, rekaman, dan dokumentasi terhadap tuturan santri. Data dianalisis menggunakan teori tingkat tutur dari Sasangka (2019), yang membagi ngoko menjadi dua jenis, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ngoko lugu dominan digunakan saat berbicara dengan teman seangkatan dalam suasana santai tanpa memperhatikan unsur kesopanan secara khusus. Sementara itu, ngoko alus digunakan untuk menunjukkan sikap hormat kepada teman yang lebih senior atau dalam situasi semi formal yang tidak menuntut penggunaan krama. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan ragam ngoko oleh santri tidak hanya didasarkan pada kedekatan hubungan, melainkan juga pada kesadaran terhadap norma kesantunan dalam komunikasi.
Analisis Tiga Jenis Praanggapan dalam Dua Episode Talk Show Lapor Pak di Trans 7 Susanti Susanti; M. Imron Abadi; Sri Yanuarsih
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1906

Abstract

Peneliti ini membahas jenis-jenis praanggapan yang terdapat dalam tuturan para pemain talk show Lapor Pak di Trans 7. Praanggapan merupakan salah satu objek dari kajian pragmatik yang merujuk pada asumsi atau informasi yang dianggap telah diketahui, diterima dan disepakati oleh penutur serta lawan tutur sebelum suatu tuturan diucapkan. Dalam peneliti ini menggunakan teori praanggapan yang dikemukakan oleh George Yule, yang membagi praanggapan ke dalam enam jenis yaitu: praanggapan eksistensial, faktif, leksikal, struktural, nonfaktif, dan konterfaktual. Namun, penelitian ini hanya memfokuskan analisis pada tiga jenis praanggapan, yaitu eksistensial, faktif, dan struktural. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan praagmatik, data dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan mengintrepetasi jenis-jenis praanggapan yang muncul berdasarkan konteks tuturan dalam program tersebut. Data dikumpulkan melalui transkrip tuturan dari dua episode talk show, yaitu Efisiensi Anggaran Makan Korban! (5/03/25)dan Dar Der Dor! Valentinus Siaran di RLP FM, Pedas Banget! (24/03/25). Kehadiran praanggapan menunjukkan bahwa berperan penting dalam pemahaman dan mendukung kelancaran komunikasi. Dengan memahami praanggapan, para penutur dan lawan tutur mamppu menangkap makna lebih jelas dan utuh dalam interaksi agar lebih efektif.
Pelanggaran Prinsip Kerjasama Maksim Kuantitas dalam Acara Rakyat Bersuara M. Alfan Fatkhur Rohman; M. Imron Abadi; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1907

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memosres gambaran secara obyektif. tentang pelanggaran prinsip kerjasama pada acara Rakyat Bersuara, khususnya pada maksim kuantitas. Fokus penelitian untuk mengetahui bagaimana pembawa acara dan narasumber menyampaikan informasi secara berlebihan atau justru tidak memberikan informasi yang cukup sesuai konteks pembicaraan. Jenis penelitiannya deskriptif kualitatif untuk menguraikan data. Data diambil dari transkrip percakapan pada acara rakyat bersuara episode “Kasus Keramat Harun Masiku, Siapa yang Dituju”. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam dialog publik di media televisi, pelanggaran maksim kuantitas sering terjadi karena berbagai faktor, seperti strategi komunikasi dan kepentingan narasumber dalam berpendapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa tuturan yang tidak memenuhi prinsip maksim kuantitas yaitu Informasi yang diucapkan tidak boleh melebihi informasi sebenarnya, sehingga pesan yang disampaikan kurang efektif dan menimbulkan multitafsir.
Analisis Wacana pada Talkshow Festival LIKE 2 dengan Tema “10 Tahun untuk Sustainabilitas”: Kajian Ekolinguistik Kritis Nurlaila Manja; Dwi Widayati; Rosliana Lubis
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1918

Abstract

Wacana lingkungan memiliki strategi komunikasi tertentu, salah satunya melalui penggunaan bahasa yang dihaluskan (eufemisme) guna menyamarkan atau menghindari makna yang lebih kasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur wacana, identifikasi bentuk dan motif penggunaan eufemisme dalam Talkshow Festival LIKE 2. Jenis penelitian ini kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pada elemen teks, struktur makro (judul wacana yang menggambarkan isi talkshow wacana ), superstruktur (kerangka wacana tekanan suatu masalah, lalu menyampaikan informasi penting tentang upaya penyelesaiannya), pada struktur mikro (menggunakan istilah teknis, kalimat aktif, kata ganti yang membangun kesan kebersamaan, dan gaya pengungkapan menggunakan gambar). Berdasarkan klasifikasi Allan dan Burridge, bentuk eufemisme dalam Talkshow Konversi Motor Listrik terdiri atas pernyataan yang meremehkan (45%), pergantian pemain satu-untuk-satu (33%), pembicaraan yang berbelit-belit (11%), dan kesembronoan (11%). Sedangkan dalam Talkshow Minim Sampah ditemukan one-for-one substitutions (57%), understatement (15%), akronim (14%), dan sirkumlocutions (14%). Motif penggunaan eufemisme pada talkshow konversi motor listrik terdiri dari dua motif, yatitu penyembunyian fakta (2 data) dan reifikasi (1 data). Sedangkan pada talkshow minim sampah, motif yang muncul hanya berupa penyembunyian fakta (2 data).
Penyimpangan Bahasa: Analisis Kesalahan Bahasa Anak di Bawah Umur dalam Komunikasi Game Online Indah Sulmayanti; Amelia Putri Kurniawan; Desti Yana Juwita; Ersi Purwa Ningsih
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1919

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh anak di bawah umur dalam komunikasi melalui game online. Komunikasi dalam dunia digital, terutama pada platform game online, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Namun, penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah kebahasaan sering kali terjadi dan berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan bahasa anak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi terhadap percakapan anak-anak dalam game online populer. Data dianalisis untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi jenis-jenis kesalahan bahasa yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis kesalahan kebahasaan utama, yaitu: (1) kesalahan morfologi, yang mencakup penggunaan bentuk kata yang tidak tepat seperti afiksasi yang salah atau pemotongan kata secara tidak sesuai; (2) kesalahan ejaan, yang meliputi penulisan huruf kapital yang tidak tepat, penyingkatan yang berlebihan, serta kesalahan penulisan kata; dan (3) kesalahan sintaksis, yang ditandai dengan susunan kalimat yang tidak sesuai kaidah tata bahasa, seperti struktur kalimat yang tidak lengkap atau penggunaan konjungsi yang tidak tepat. Faktor penyebab kesalahan antara lain karena pengaruh bahasa lisan yang dibawa ke dalam teks tertulis, kurangnya pemahaman terhadap kaidah bahasa Indonesia, serta kebiasaan penggunaan bahasa informal dalam komunitas game online. Penelitian ini menekankan pentingnya pendampingan dan pembinaan penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam media digital agar tidak terjadi degradasi kemampuan berbahasa anak.
Representasi Perbedaan Nilai Budaya Visual dalam Film Pee Mak dan Kang Mak from Pee Mak sebagai Cirikhas Budaya Elsa Nur Khamilia; Bisarul Ihsan; Laila Tri Lestari
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1954

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan nilai budaya visual yang terdapat dalam kedua film. Peneliti ini memilih metode penelitian deskriptif kualitatif dengan audio visual yang melibatkan penggunaan gambar dan suara untuk melihat dan mendengar suatu objek. Data yang diambil melalui tangkapan layar yang sesuai dengan nilai buday visual. Hasil penelitian dapat disimpulkan kedua film ini memiliki perbedaan niali budaya visual, peneliti menemukan beberapa temuan dalam penelitian ini terkait perbedaan nilai budaya visual, ditemukan 4 data perbedaan yang digambarkan dalam film Pee Mak dan Kang Mak From Pee Mak , yaitu (1) busana (2) Arsitektur rumah (3) Spiritual (4) simbol Spiritual ke empat data tersebut mencerminkan nilai budaya visual masing-masing yang digambarkan melalui film Pee Mak dan Kang Mak From Pee Mak.