cover
Contact Name
-
Contact Email
bastrajurnal01@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bastrajurnal01@gmail.com
Editorial Address
https://dmi-journals.org/deiktis/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : -     EISSN : 28077504     DOI : https://doi.org/10.53769/deiktis
DEIKTIS: Journal of Language and Literature Education is an academic journal published in April, August and December by the Indonesian Muslim Lecturer Association. This journal presents scientific articles on Learning, Education, Literature, Linguistics, Culture
Articles 158 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 158 Documents clear
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Berbantuan Video Interaktif terhadap Pemahaman Teks Negosiasi Siswa Kelas X SMK PAB 2 Medan Helvetia Azrina Wulan Dari; Edy Suprayetno
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2051

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pemahaman siswa terhadap teks negosiasi akibat penggunaan metode pembelajaran konvensional yang kurang interaktif dan tidak mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan video interaktif terhadap pemahaman teks negosiasi siswa kelas X SMK PAB 2 Medan Helvetia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experimental) dan desain One Group Pretest-Posttest. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes objektif pilihan ganda yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam nilai rata-rata siswa, dari 57,28 pada pretest menjadi 82,88 pada posttest. Uji normalitas menunjukkan data pretest berdistribusi normal dan data posttest berdistribusi normal, namun uji-t tetap dapat digunakan karena jumlah sampel mendekati 30. Uji-t menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000 yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest. Kesimpulannya, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan video interaktif efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks negosiasi. Implikasinya, model ini dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, dan menyenangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMK.
Emoji Sebagai Strategi Komunikasi Sosial: Analisis Sosiolinguistik terhadap Teks Digital Dinda Ramdani; Nurhilaliah Fitri Sholehah; Ade Nandang
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2054

Abstract

Perkembangan komunikasi digital telah mendorong perubahan cara individu berinteraksi, salah satunya melalui penggunaan emoji sebagai simbol visual yang memiliki fungsi sosial dan pragmatik dalam teks digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan emoji sebagai strategi komunikasi sosial dalam interaksi daring, dengan fokus pada fungsi, konteks, dan makna sosiolinguistik emoji dalam teks digital. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan analisis tangkapan layar dari dua platform media sosial yaitu Instagram dan TikTok. Data dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi dan analisis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emoji tidak hanya berperan sebagai pelengkap ekspresi, tetapi juga sebagai alat strategi komunikasi yang mencerminkan emosi, menjaga kesinambungan percakapan, menyampaikan sindiran, membentuk solidaritas komunitas, serta mencerminkan identitas sosial dan budaya digital pengguna. Dengan demikian, emoji dapat dipahami sebagai entitas sosiolinguistik yang dinamis dan reflektif terhadap praktik kebahasaan dalam masyarakat digital masa kini.
Implikatur Percakapan Antara Penjual Sayuran dan Pembeli di Desa Kradenanrejo : Analisis Wacana Pragmatik Fungsional Nur Khalimatush Sadiyah; Hendrik Furqon; Irmayani Irmayani
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2058

Abstract

Analisis wacana merupakan pendekatan linguistik yang memungkinkan pemahaman yang lebih dalam terhadap makna, struktur, dan fungsi bahasa yang terkandung di dalamnya. Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan pragmatik fungsional, yang menekankan pentingnya fungsi komunikatif bahasa dalam konteks sosial, budaya, dan situasional. Penelitian ini mengambil fokus pada analisis implikatur dalam percakapan transaksi jual beli di Desa Kradenanrejo. Dengan menggunakan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data simak catat dan rekam, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pragmatik dalam percakapan tersebut. Data-data percakapan yang diperoleh dari Desa Kradenanrejo direkam, ditranskripsikan, dan dianalisis untuk mengidentifikasi implikatur percakapan serta tindak tutur yang terjadi. Langkah-langkah analisis melibatkan pengidentifikasian data sesuai dengan prinsip kerja sama model Paul Grice yang menyangkut adanya maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Jadi, kesimpulan pada penelitian ini tidak hanya memperkaya pemahaman terhadap implikatur dalam percakapan, tetapi juga menghadirkan pemahaman yang lebih baik terhadap prinsip- prinsip komunikasi yang dijunjung dalam interaksi sosial, khususnya dalam konteks jual beli di Desa Kradenanrejo.
Can Subject Speak? Umar Thamrin; Ridwan Ridwan
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2060

Abstract

Why we ask the wrong questions and why we engage in circular reasoning in our debate on subjectivity are the questions I attempt to answer. By applying Greimasian narrative semiotics, I analyze the deep structure of subjectivity and apply the structure to trace the complex layers of subjectivity on which the postcolonial and postmodern critiques are founded. I argue that central to subjectivity is value, and the problem of subjectivity is not to define it but to locate power and desire that constitute the value. They are located in the triangle relationship between subject, object, and sender. The subject desires an object only when the sender creates value for the object. Problematizing and critiquing the position of the subject in the oppressive narrative, or asking who owns the narrative, are the gates to the labyrinth of irrelevant inquiries into subjectivity. This is the underlying reason for the failure of postmodern and postcolonial interventions, for they provide no solution to the ongoing oppression of marginal subjects. Agency and freedom are only myths constituted by the postmodern and postcolonial narratives. The subject is scandalous. It does not exist in its own narrative. The subject never speaks for itself. It is condemned to self-alienation.
Pergeseran Register Bahasa Formal ke Kasual dalam Retorika Presiden: Kajian Fonetik dan Dampaknya Pada Etika Publik Erna Sri Mardani; Adjeng Putri Wahyoerie; Sahida Nur Arofah; Hendra Apriyadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2074

Abstract

Fenomena pergeseran gaya komunikasi politik dari formal ke kasual dalam pidato presiden mencerminkan perubahan dalam strategi retorika yang memengaruhi persepsi publik terhadap etika berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk penyimpangan register, aspek fonetik, dan unsur retorika dalam pidato presiden yang diunggah melalui kanal YouTube resmi, serta dampaknya pada etika publik. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dengan teknik simak dan catat sebagai metode pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan register kasual dalam ujaran presiden, terutama pada kata “ndasmu” yang mengandung makna emosional, ejekan, serta ketegasan penolakan terhadap kritik publik. Kajian fonetik mengungkap bahwa intonasi, tekanan kata, tempo, dan kualitas suara dalam ujaran tersebut memperkuat kesan emosional pidato. Secara retoris, presiden menggunakan pendekatan pathos, ethos, dan logos untuk memperkuat citra kepemimpinan dan merespons kritik. Namun, pergeseran bahasa tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama terkait etika komunikasi publik. Implikasi dari temuan ini menyoroti pentingnya menjaga kesantunan dan keteladanan dalam komunikasi resmi seorang pemimpin negara, agar tidak mengaburkan batas antara ekspresi pribadi dan tanggung jawab moral dalam ruang publik.
The Society’s Perception of Social Justice and Gender Injustice in Film Enola Holmes 2 Putri Arviani Azzahra; Danang Dwi Harmoko
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2093

Abstract

This study analyzes society’s perception of social justice and gender injustice issues in film Enola Holmes 2. Set in the Victorian era, this film presents a powerful narrative about social struggles and inequalities. This study uses a descriptive qualitative method with data collection trough an online questionnaire distributed using Google Form. The data is interpreted using Fiske and Taylor’s Social Cognition Theory, which focuses on how individuals process social information to form perceptions. The result shows that the audience has a very positive perception of the character Enola Holmes as a symbol of female empowerment. A total of 40% of respondents perceive Enola as independent, 27% as smart, and 20% as strong. This consensus reflects the strong activation of modern gender schemas in the audience. Regarding social issues. 85% of the audience agreed that the film depicts gender injustice, while 75% agreed that it depicts social justice. This study concludes that the film Enola Holmes 2 is effective in communicating its social message.
Transformasi Nilai Karakter dalam Sastra Lisan Bugis Nénék Pakandé sebagai Media Pendidikan Intergenerasional Bungatang Bungatang; Ita Rosvita; Ilma Rahim
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2099

Abstract

Penelitian ini mengkaji sastra lisan Nénék Pakandé sebagai warisan budaya yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan potensi sebagai media pendidikan intergenerasional. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menelaah struktur naratif dan konteks historis cerita, mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya, serta mengeksplorasi relevansi dan kontribusinya terhadap pembentukan karakter dalam konteks masyarakat modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Nénék Pakandé tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan tradisional, tetapi juga mengandung pesan moral mendalam yang mencerminkan nilai-nilai seperti keberanian, kewaspadaan, rasa hormat, dan solidaritas sosial. Aspek-aspek kearifan lokal seperti aspek pendidikan, aspek sosial budaya, dan aspek kultural mampu menjembatani pembelajaran lintas generasi dan tetap relevan digunakan sebagai bahan ajar kontekstual dalam pendidikan karakter pada era modern.
Slapstick Humor Komentar Netizen dalam Postingan Instagram @awreceh.id Nabila Tasya Aulia; Sri Yanuarsih
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2101

Abstract

Tujuan utama penelitian untuk menganalisis penggunaan humor slapstick dalam konten Instagram @awreceh.id, khususnya bagaimana gaya humor tersebut memengaruhi interaksi netizen. Bahasa humor slapstick merupakan gaya komunikasi mengandalkan aksi atau narasi berlebihan, kejutan, absurditas untuk menciptakan efek lucu mudah dipahami dan menghibur audiens. Memberikan wawasan tentang peran humor dalam membangun keterikatan emosional antara pembuat konten dan audiens, sekaligus menunjukkan bagaimana humor dapat menjadi alat komunikasi efektif di era media sosial. Dalam teori bahasa dan humor, pendekatan yang relevan adalah teori Incongruity. Menjelaskan bahwa humor muncul ketika terdapat ketidaksesuaian antara ekspektasi dan kenyataan. Ketidaksesuaian menciptakan kejutan yang menghasilkan efek komedi dan memancing tawa. Dalam konteks bahasa, humor sering muncul melalui permainan kata, ironi, atau ambiguitas. Sangat relevan untuk menganalisis konten @awreceh.id menggunakan perpaduan narasi dan visual untuk menciptakan humor efektif. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, pendekatan analisis isi untuk memahami humor slapstick dalam konten Instagram @awreceh.id. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi unggahan serta komentar netizen, kemudian dianalisis berdasarkan teori Incongruity. Validitas data dijaga dengan triangulasi antara sumber primer dan sekunder untuk memperoleh gambaran peran humor dalam interaksi media sosial. Postingan Instagram @awreceh.id cenderung menggunakan humor slapstick mengandalkan absurditas, hiperbola, dan kejutan untuk memancing tawa. Komentar-komentar lucu dari netizen memperkuat narasi dengan logika tidak masuk akal namun menghibur. Humor terasa sederhana dan relatable, sehingga mampu melibatkan audiens secara emosional. Gaya bahasa santai dan penggunaan istilah populer menambah daya tarik di kalangan muda. Tingginya interaksi seperti komentar dan like menunjukkan bahwa pendekatan humor efektif membangun komunitas daring yang aktif.
Sentimen Negatif atas Kebijakan Prabowo Subianto dalam Komentar pada Akun Instagram Folkative Khoirun Nisa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2102

Abstract

Sentimen negatif merupakan pandangan, emosi, atau sikap yang kurang baik terhadap suatu topik, produk, maupun layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketidaksantunan berbahasa dalam komentar warganet pada akun Instagram Folkative terkait kebijakan Prabowo Subianto, dengan menggunakan teori ketidaksantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Culpeper (1996) yaitu (1) ketidaksantunan secara langsung, (2) ketidaksantunan positif, (3) ketidaksantunan negatif, (4) sarkasme atau kesantunan semu, (5) menahan kesantunan. Fokus penelitian adalah untuk memahami pola ketidaksantunan tersebut dalam konteks interaksi digital, khususnya pada unggahan tentang kebijakan pemerintah di Instagram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi digital. Data berupa komentar yang mencerminkan ketidaksantunan berbahasa yang diambil dari unggahan populer Folkative mengenai kebijakan Prabowo Subianto pada periode November 2024 yang membahas tiga kebijakan utama, yaitu Investasi Luar Negeri, Kenaikan Gaji Guru, dan Program Makan Bergizi Gratis. Data dianalisis melalui pendekatan tematik untuk menemukan pola utama ketidaksantunan serta pendekatan pragmatik untuk memahami konteks dan makna komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ketidaksantunan berbahasa yang paling dominan adalah ketidaksantunan negatif, diikuti dengan sarkasme dan ketidaksantunan langsung. Komentar warganet banyak berisi kritik frontal, ejekan, serta sindiran sinis terhadap kebijakan pemerintah. Faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut meliputi skeptisisme terhadap transparansi kebijakan, ketidakpercayaan pada janji politik, serta kebebasan berekspresi di media sosial yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik tanpa batasan etika. Peneliti menyimpulkan bahwa ketidaksantunan berbahasa di media sosial mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Fenomena ini menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran etika komunikasi di ruang digital guna menciptakan interaksi yang lebih sehat dan konstruktif. Penelitian ini memberikan wawasan tentang dinamika komunikasi digital yang relevan dalam memahami hubungan antara masyarakat dan kebijakan pemerintah, sekaligus mendorong perlunya penguatan literasi digital untuk meminimalisasi ketidaksantunan dalam komunikasi daring, sehingga tercipta ruang diskusi yang lebih positif dan produktif.
Penerapan Metode Belajar Aktif Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas VII di MTs Roudlotur Rosmani Rendy Ario Pratama; Irwan Satria; Welti Wediasti
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan pendidikan di kelas VII, di mana siswa mulai mempelajari berbagai mata pelajaran yang lebih mendalam dibandingkan dengan pendidikan dasar. Dalam konteks ini, interaksi antara guru, siswa, dan materi ajar menjadi sangat penting untuk menciptakan proses pembelajaran yang optimal. Penerapan pendidikan menurut Slameto menekankan integrasi antara teori pendidikan yang ada dengan kebutuhan nyata di lapangan, yang mencakup kurikulum, strategi pengajaran, dan evaluasi untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Siswa sebagai individu unik memiliki kesiapan dan kemampuan fisik, psikis, serta intelektual yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami karakteristik masing-masing siswa agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini, siswa berperan sebagai komponen inti dalam kegiatan pendidikan. Melalui penelitian ini, penulis juga mengungkapkan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran, terutama dalam pelajaran Bahasa Inggris atau Bahasa daerah. Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai pengantar dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik, sehingga proses pembelajaran tidak terhambat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode pengajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa dikelas VII serta memberikan wawasan bagi pendidik dalam menghadapi tantangan di lapangan dengan demikian diharapkan proses pembelajaran dapat berjalan secara harmonis dan mencapai tujuan pendidikan yang di inginkan.