cover
Contact Name
-
Contact Email
bastrajurnal01@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bastrajurnal01@gmail.com
Editorial Address
https://dmi-journals.org/deiktis/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : -     EISSN : 28077504     DOI : https://doi.org/10.53769/deiktis
DEIKTIS: Journal of Language and Literature Education is an academic journal published in April, August and December by the Indonesian Muslim Lecturer Association. This journal presents scientific articles on Learning, Education, Literature, Linguistics, Culture
Articles 209 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 209 Documents clear
Bahasa Hak Istimewa dan Krisis Legitimasi: Analisis Wacana Kritis atas Kontroversi Tunjangan Perumahan DPR 2025 Andi Sahtiani Jahrir; Muhammad Tahir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2672

Abstract

Kontroversi tunjangan perumahan DPR tahun 2025 memicu krisis legitimasi nasional yang tidak hanya bersumber dari substansi kebijakan, tetapi terutama dari performativitas linguistik para legislator. Studi ini menganalisis bagaimana strategi retorika—normalisasi, minimisasi, dan legitimasi digunakan dalam ujaran publik anggota DPR, serta bagaimana strategi tersebut gagal ketika bertemu dengan ekologi media dan model mental publik. Menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Fairclough yang dipadukan dengan model sosiokognitif van Dijk, penelitian ini mengkaji lima ujaran legislator yang viral, liputan media, serta artefak digital seperti meme, potongan video, komentar warganet, dan tagar kritik. Temuan menunjukkan bahwa pilihan leksikal seperti hanya, wajar, kompensasi, dan hak berfungsi menormalkan privilese namun justru dibaca publik sebagai arogansi moral di tengah krisis ekonomi. Media arus utama dan media sosial memperkuat delegitimasi melalui reframing, viralitas klip pendek, serta produksi satir dan meme yang menggeser makna dari entitlement menjadi greed. Pada level makro, wacana ini membentuk konflik simbolik antara elite dan rakyat, menempatkan DPR sebagai aktor yang tidak peka terhadap penderitaan publik. Analisis sosiokognitif memperlihatkan bahwa reaksi publik dipengaruhi oleh skema ketidakadilan, memori skandal politik, dan afek kolektif. Studi ini menyimpulkan bahwa legitimasi politik dalam era politik yang termediatisasi sangat ditentukan oleh kesesuaian antara bahasa elite dan model mental publik; ketika keduanya tidak selaras, delegitimasi multisitus muncul dengan cepat, viral, dan masif.
Denotative and Connotative Meaning in Bugis: Undergraduate Semantic Competence in a Multilingual Teacher Education Context Andi Fatimah Junus
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2673

Abstract

This study investigates how undergraduate students conceptualise and articulate denotative and connotative meanings in Bugis, a major regional language in South Sulawesi, Indonesia. Framed within semantic theory, cognitive linguistics, and Cultural Linguistics, the research responds to a gap in the literature that has largely focused on Bahasa Indonesia while overlooking regional languages as sites of semantic and cultural competence. Using a qualitative descriptive design supported by descriptive statistics, data were collected from written assignments completed by 11 first-year students in a language and literature education programme. Each student produced one denotative and one connotative Bugis sentence and provided written explanations of meaning. Responses were scored separately for denotative and connotative accuracy and analysed through thematic coding. Findings show that students exhibit near-perfect mastery of denotative meaning (M = 48.6/50), with highly consistent performance across participants. By contrast, connotative meaning (M = 46.8/50) reveals greater variability in depth, clarity, and cultural precision. Qualitative analysis identifies four interpretive patterns: reliance on familiar metaphors, emotional and relational focus, limited metalinguistic vocabulary, and strong influence of cultural familiarity. These results suggest that while literal semantic competence is well established, figurative competence remains uneven and deeply tied to cultural experience. The study argues that semantics teaching in teacher education should explicitly incorporate regional languages such as Bugis as rich semantic and cultural resources, foregrounding figurative language, metalanguage, and multilingual repertoires to strengthen future teachers’ ability to guide learners across literal and figurative levels of meaning.
Locutionary, Illocutionary, and Perlocutionary Acts in Henry Johnson Movie (2025): A Speech Act Analysis Nova Dyah Pitaloka; Sulistiani Sulistiani; Dini Arsya Kamila; Amanda Ravinska; Farrel Adhiyatmika
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2675

Abstract

This study examines the types of speech acts in Henry Johnson's film (2025) using Austin's (1962) framework of locutionary, illocutionary, and perlocutionary acts and Searle's (1969) classification of speech acts. This study employs a qualitative descriptive methodology to collect and analyze the film's dialogue, elucidating the pragmatic functions inherent in the characters' speech acts. The analysis stated that speech acts function as important tools in the process of negotiation, emotion management, trust building, and interpersonal dynamics between characters. In general, this study emphasized that the film Henry Johnson (2025) practices natural communication and demonstrates the power of language in establishing social relationships, creating psychological impressions, and directing systematic interactions. This study also shown how the specific medium of film can serve as a rich venue for representation to deepen understanding of pragmatic phenomena in socialization. Thus, the results of this study are expected to add insight into the role of speech acts in constructing meaning, conflict, and resolution in cinematographic works.
Respon Pembaca pada Situs Goodreads terhadap Novel Kita Pergi Hari Ini Karya Ziggy Z. Khadijah Khadijah; Mohamad Quraisy; Maman Abdul Djaliel
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2681

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kategori respon pembaca terhadap novel Kita Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang dipublikasikan melalui platform Goodreads. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan sumber data berupa 15 ulasan pembaca yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui teknik distribusional dan teknik padan dengan memanfaatkan landasan teori kategori respon pembaca dari Beach (1993), yang mencakup lima kategori utama: textual, experiential, psychological, social, dan cultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori respon pembaca yang paling dominan adalah kategori textual, di mana pembaca lebih banyak menyoroti unsur intrinsik novel seperti gaya bahasa, alur, dan unsur struktural lainnya. Selain itu, kategori experiential dan psychological juga ditemukan, meskipun tidak sebanyak kategori textual. Temuan ini menunjukkan bahwa pembaca tidak hanya terlibat secara emosional, namun juga aktif menilai struktur naratif yang disajikan dalam novel tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran mengenai bentuk apresiasi dan interpretasi pembaca sastra di era digital melalui media sosial literasi, serta memperlihatkan bagaimana media daring seperti Goodreads berperan dalam mengonstruksi makna karya sastra secara kolektif.
Analisis Makna Konotatif pada Slogan Iklan Makanan di Media Elektronik Najwa Salma Difa; Hanin Mumtazah Putri Widyaningtyas; Said Mursalin; Dodi Firmansyah; Dase Erwin Juansah; Mulya Tiara Fauziah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2682

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna konotatif dalam slogan iklan makanan Indonesia yang ditayangkan melalui media elektronik menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kerangka semiotika Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keenam slogan yang dianalisis membangun struktur lapisan makna, yakni denotatif, konotatif, bahkan mitos. Slogan-slogan ini mengubah produk biasa menjadi simbol nilai-nilai emosional, budaya, dan sosial yang diinginkan oleh konsumen Indonesia. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa slogan iklan makanan berfungsi sebagai mekanisme ideologis yang membentuk produk makanan sehari-hari menjadi representasi kenikmatan, keaslian, identitas, dan gaya hidup dalam budaya Indonesia.
Analisis Makna Denotatif dan Konotatif pada Lirik Lagu “Sepatu” Karya Tulus Arum Handayani; Nurkaila Navita; Dodi Firmansyah; Dase Erwin Juansah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2693

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotatif dan konotatif dalam lirik lagu berjudul “Sepatu” yang ditulis oleh Tulus. Lagu ini dipilih karena memiliki simbolisme yang mendalam, yang menggambarkan hubungan cinta manusia melalui objek sederhana yaitu sepasang sepatu. Penelitian ini sangat penting karena mampu menunjukkan bagaimana perasaan dan realitas hubungan dapat diungkapkan melalui bahasa kiasan dalam musik yang populer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis semantik tentang makna denotatif dan konotatif. Data utama berupa lirik lagu “Sepatu” dianalisis untuk mengidentifikasi tanda-tanda linguistik yang merepresentasikan dua lapisan makna tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam makna harfiah, sepatu digambarkan sebagai benda mati yang berfungsi berpasangan, sementara dalam makna tersirat, sepatu menjadi simbol hubungan cinta yang saling melengkapi namun terpisah oleh keadaan. Lagu ini menggambarkan cinta yang tulus, sangat penuh pengorbanan, dan terkadang tidak berujung pada kebersamaan. Temuan ini menegaskan bahwa analisis semantik mampu mengungkap makna simbolik yang mendalam dalam karya sastra populer, serta memperdalam pemahaman tentang bagaimana bahasa digunakan untuk menggambarkan pengalaman emosional manusia.
Social Class Representation in Emily Brontë’s Wuthering Heights: A Marxist Descriptive Analysis Ahmad Rizal Abdullah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2696

Abstract

This study examines the representation of social class in Emily Brontë’s Wuthering Heights through the lens of Marxist literary criticism. While previous research has discussed themes such as class hierarchy, symbolic power, and economic determinism, limited attention has been given to how these dynamics are directly embedded in the novel’s dialogue and narrative interactions. To address this gap, this research analyzes twenty selected textual excerpts using key Marxist concepts, including class struggle, ideology, and material conditions. The study employs a qualitative descriptive approach, drawing on the works of Marx and Engels, Eagleton, and other theorists to interpret how language and character behavior reflect social positioning. The findings show that Wuthering Heights portrays a deeply stratified social environment in which identities, decisions, and conflicts are shaped by class-based power relations. Heathcliff’s marginalization, Catherine’s status-driven choices, and Hindley’s abusive dominance embody recurring patterns of oppression and resistance consistent with Marxist theory. The study concludes that Brontë’s novel not only dramatizes interpersonal tensions but also exposes the structural inequalities that govern them, offering a more nuanced understanding of how Victorian literature reflects and critiques social class. This research contributes to existing scholarship by providing a dialogue-centered, textually grounded analysis that clarifies the mechanisms of class representation more precisely than broader thematic studies.
Enhancing Students’ Reader Response through Intellectual Diary in Hemingways’ The Old Man and The Sea Ahmad Rizal Abdullah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2697

Abstract

This study investigates the effectiveness of the Intellectual Diary (ID) strategy in enhancing EFL students' Reader Response Competence during the reading of Ernest Hemingway’s novella, The Old Man and the Sea. Grounded in Rosenblatt's (1978) transactional theory, the study addresses the challenge of passive reading by implementing the ID as a structured reflective tool. This qualitative descriptive research involved 28 undergraduate students from an Indonesian state university. Data were collected from 112 Intellectual Diary entries, supplemented by interviews and field notes, and analyzed using thematic analysis. The analysis focused on four dimensions of response: interpretative depth, emotional engagement, critical inquiry, and personal reflection. Findings revealed a substantial improvement across all four dimensions, with high overall mean scores (2.75 to 4.00). The ID successfully fostered deeper symbolic understanding (interpretative depth) and significantly enhanced students' personal connection and empathy for Santiago's struggle (emotional engagement and personal reflection). Furthermore, reflective writing encouraged a more critical and questioning stance toward the text. In conclusion, the Intellectual Diary is an effective and theoretically sound pedagogical strategy for transforming reading into an active, transformative process. Its use is strongly recommended for EFL literature classrooms aiming to cultivate reflective, analytical, and emotionally engaged readers.
Impilkatur Percakapan dalam Fenomena Humor Digital pada Program Televisi "Lapor Pak" : Suatu Kajian Pragmatik Arlin Septia Basana Siagian; Rahma Hidayati; Nasya Nabila Said; Nabilla Agustina Batubara; Ferdinand Simbolon
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2703

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan guna mendeskripsikan jenis implikatur percakapan dan fungsi komunikatif yang terkandung dalam tuturan humor pada program televisi "Lapor Pak". Implikatur percakapan dikaji berdasarkan teori H.P. Grice yang meliputi implikatur umum dan implikatur khusus, serta pelanggaran maksim-maksim percakapan (kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara) yang memunculkan efek humor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Sumber data penelitian adalah percakapan dalam satu video program "Lapor Pak" yang ditayangkan di Platform YouTube Trans7 Official. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan catat dengan memanfaatkan teknik rekam. Teknik analisis data menggunakan metode padan pragmatis dengan tahapan identifikasi, klasifikasi, analisis, dan interpretasi data. Hasil penelitian menghasilkan berbagai bentuk penggunaan implikatur percakapan yang memperlihatkan kekayaan makna dan strategi komunikasi para penuturnya.Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman dinamika komunikasi pragmatik dalam humor digital Indonesia.
Transformasi Bahasa dan Konteks Sosial dalam Praktik Komunikasi Digital Gen-Z di TikTok: Suatu Kajian Pragmatik Stevani Situmorang
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2704

Abstract

Penelitian ini berfokus pada transformasi bahasa dan konteks sosial yang terjadi di kalangan Generasi Z dalam praktik komunikasi digital di media sosial TikTok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk perubahan bahasa yang digunakan Gen-Z serta memahami bagaimana konteks sosial memengaruhi cara mereka berkomunikasi di ruang digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi terhadap konten TikTok yang mencerminkan gaya bahasa khas Gen-Z, seperti penggunaan slang, campur kode, singkatan, serta ekspresi khas media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan Gen-Z di TikTok mengalami transformasi dari bentuk formal ke bentuk yang lebih kreatif, ekspresif, dan kontekstual. Ungkapan seperti “menyala abangku,” “gaskeun,” “slay,” “bestie,” dan “it’s giving” menjadi bagian dari identitas sosial Gen-Z yang menunjukkan keakraban, solidaritas, serta pengaruh budaya global. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa di TikTok juga berfungsi sebagai sarana pembentukan identitas, ekspresi diri, dan refleksi terhadap dinamika sosial di era digital. Dengan demikian, TikTok menjadi ruang baru bagi Gen-Z dalam membangun makna sosial melalui bahasa yang terus berkembang sesuai perubahan zaman.