Jurnal Penelitian Agama
Jurnal Penelitian Agama is a journal that specifically become a communication medium for scholars, researchers and practitioners to public for the results of religious research. This journal is published two times a year by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Purwokerto. This journal aims to provide readers with a better understanding of religious studies in Indonesia and around the world. The Journal invites scholars, researchers, and practitioners who focuses on religious studies to submit articles in this journal. Articles will be reviewed by selected expert in this field. The editor is able to make editorial changes without altering the substance of writing.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 24 No. 1 (2023)"
:
9 Documents
clear
Perkawinan pring sedapur : Tinjauan Urf’ dan Masalahah Mursalah
Dwi Sus Arianto;
Nabila Luthvita Rahma
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp35-48
The prohibition of pring sedapur marriage is a marriage performed between a man and a woman who have the exact same weton. Although the majority of the residents of Kedungsari Village are Muslims, they still think that if this marriage is carried out, it will bring disaster. This study aims to find out in detail the explanation of pring sedapur marriage and to find out the review of Islamic law against the prohibition of pring sedapur marriage in Kedungsari, Tayu District, Pati Regency. This study uses the field research method with a qualitative approach. The sources of data for this study were primary data sources and secondary data. The subjects of this study were weton experts, village elders, community leaders, religious leaders, and perpetrators of the marriage. Data collection techniques in this study were carried out by means of observation, interviews, and documentation. Based on the data collected and analysed, it can be concluded that: 1) The definition of pringsedapur marriage is a marriage performed by a man and a woman where the couple has the exact same weton. This tradition still applies in Kedungsari village because the community believes that if the marriage is carried out, it will bring disaster to the perpetrators of the marriage itself and their families. 2) The prohibition of pringsedapur marriage cannot be used as a benchmark that prevents marriage because it is not compatible with slamic law and not regulated in the Qur'an or hadits. In terms of 'urf including 'urf fasid, and maslahah mursalah including maslahah mulghah.
Rekonstruksi Keputusan Dirjen Bimas Islam No. 189 Tahun 2021 Sebagai Upaya Mewujudkan Ketahanan Keluarga (Studi Kasus Di Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo)
Puteri Amalia Puteri
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp21-34
Bimbingan Perkawinan merupakan upaya Kementrian Agama dalam menyiapkan pasangan calon pengantin dengan pengetahuan dan kemampuan menglola rumah tangga. Hal tersebut menjadi upaya dalam meminimalisir perceraian dan menghadapi problema rumah tangga yang semakin dinamis. Adapun permasalahan yang akan diteliti adalah: 1. Mengapa Bimbingan Perkawinan sebagai upaya mewujudkan ketahan keluarga bagi calon pengantin belum efektif meminimalisir perceraian 2. Bagaimana rekonstruksi Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No. 189 Tahun 2021 sebagai upaya mewujudkan ketahanan keluarga. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penulis menggunakan penelitian yang bersifat deskriptif evaluatif dengan menyajikan data-data dalam bentuk deskriptif dan dianalisis secara sistematis untuk dievaluasi dan mendapatkan konklusi. Dengan teknis analisis data kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah beberapa perubahan yang pada Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No. 189 Tahun 2021 sudah menjawab kekurangan aturan sebelumnya yaitu Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No. 379 tahun 2018. Hambatan pelaksanaan Bimbingan Perkawinan sebab petunjuk teknis pelaksanaan belum jelas, lengkap, dan tegas. Untuk lebih memperoleh hasil yang lebih baik dalam pelaksanaan Bimbingan Perkawinan dipandang perlu merekonstruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No. 189 Tahun 2021 karena masih terdapat beberapa hal yang belum diatur yang dipandang sangat berpengaruh terhadap berhasil tidaknya Bimbingan Perkawinan.
Dampak Socio-Ekonomi Standarisasi Jaminan Produk Halal Pada Usaha Mikro Dan Kecil: Dampak Socio-Ekonomi Standarisasi Jaminan Produk Halal Pada Usaha Mikro Dan Kecil
Ahmad Muttaqin;
Vierri Adam Aziz
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp1-19
This article aims to describe the social and economic impacts of implementing the Halal Product Guarantee for micro and small business groups in Purwokerto. JPH is a halal quality standard implemented by the government for goods and services distributed on the national market to provide protection to consumers who are generally Muslim. As a halal standard, JPH implements a quality system in several models according to the characteristics of the product to be guaranteed. It is in this process that micro and small business groups experience obstacles, especially at the institutional and management levels which then lead to a tendency to respond to indifference, indifference and apathy. The research uses a descriptive approach and qualitative data obtained from micro and small business groups in Purwokerto, Central Java. The analysis is based on a political economy perspective that focuses more on exploring political considerations for economic policies. The results of the study show that the response of indifference, indifference and apathy of the micro and small business groups towards JPH is not in terms of halal substance, but in technical procedures and financing. The main argument is that first, JPH is the government's obligation as part of consumer protection, so everything that arises from the management process is not the responsibility of the goods/services provider. Second, micro and small businesses do not have adequate capital capacity to strengthen their institutions. The function of micro and small businesses in the context of development is more on increasing the economic participation of citizens. Because of that, JPH is positioned as an intervention that must be carried out by the government.
Ahlaq Tasawuf Manunggaling Kawula Gusti
Rosyi Ibnu Hidayat;
Suyatmo;
Nawawi
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp49-62
Paham Wahdatul Wujud (Manunggaling Kawula Gusti) bukanlah Paham Pantaisme. Wahdatul Wujud (Manunggaling Kawula Gusti) adalah suatu Dzauq, pengalaman ruhani yang diperoleh ahli sufi.Wahdatul Wujud (Manunggaling Kawula Gusti) merupakan anugerah Alloh berkenaan dengan ilmu dan rahasia-Nya yang diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih dan diridloi. Manunggaling Kawula Gusti juga sering diartikan sebagai menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personafikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran,) yang dimaksud adalah personafikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), atau (emanasi, pancaran) Tuhan. Ajaran Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan. Pengamalan Manunggaling Kawulo Gusti memiliki dua bentuk dimensi besar yaitu dimensi teologi dan dimensi sosiologi. Persepektif  Manunggaling Kawulo Gusti keterpaduannya dapat dilihat dalam rukun perjalanan yang juga menjadi sendi dalam mencapai  Manunggaling Kawula Gusti, yakni ilmu dan dzikir.
Penerapan Aplikasi Simkah Web Perspektif Teori Efektifitas Budiani
Abdul Rozak Mustofa;
Gilang Difa Nur Rochim
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp109-124
Marriage registration has the aim of providing legal certainty to the bride and groom. BIMAS Islam under the auspices of the Ministry of Religion has launched an application to be used as a means of recording marriages, namely SIMKAH Web. In its implementation there are obstacles that occur in each region, these obstacles are in the form of facilities and officers who are still having difficulty understanding the application as experienced by KUA Mantrijeron. This study was conducted to answer the question of what are the supporting and inhibiting factors for implementing marriage registration using SIMKAH Web at KUA Mantrijeron and also the effectiveness of SIMKAH Web in implementing marriage registration.The theory used in this research is Soerjono Soekanto's theory of effectiveness and law enforcement. This type of research is a field research (field research). The nature of this research is descriptive analytic and uses a normative approach. The data collection method used in this research is Observation, Interview and Documentation. There are differences with previous research, namely in the use of the theory of effectiveness and the use of the latest regulations. The results of the study, namely the use of SIMKAH Web in marriage registration at KUA Mantrijeron there are still several obstacles. One of the problems is that the community is not well socialized, so people do not take advantage of the self-registration menu that has been provided. In addition, the SIMKAH Web application which returns manual input makes KUA operators return to work as before the SIMKAH Web, meaning that it is not automatic. Then when viewed from the indicators specified in the theory of effectiveness, the application of SIMKAH Web on marriage registration at KUA Mantrijeron is not effective because it does not meet the specified requirements.
Efisiensi Hafalan Al-Qur’an dalam Pendidikan Islam di Indonesia sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Usia Dini: (Prespektif Psikolinguistik)
Muhammad Subhi Mahmasoni
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp63-70
Kesadaran pendidikan Islam di intitusi Perguruan Tinggi Islam dalam mengajarkan bahasa asing, khususnya bahasa Arab, sebagai modal utama dalam menempuh pendidikan ilmu agama Islam, menjadikan bahasa Arab lebih dituntut untuk dipelajari, meskipun sebenarnya banyak faktor yang mendukung supremasi dan eksistensi bahasa Arab seperti bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an dan bahasa literatur Islam. Namun permasalahan sesungguhnya adalah manakah yang lebih efisien antara hafalan al-Qur’an terlebih dahulu sebelum belajar bahasa Arab atau sebaliknya, belajar bahasa Arab dulu sebelum belajar menghafal al-Qur’an, atau justru berjalan bersamaan, sehingga dari sinilah tidak ada ketimpangan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, bisa dimunculkan satu pertanyaan mayor: Bagaimana efisiensi hafalan al-Qur’an dalam pendidikan Islam sebagai strategi pembelajaran Bahasa Arab Usia Dini? Adapun pertanyaan minornya: Bagaimana pengaruh hafalan al-Qur’an terhadap pembelajaran bahasa Arab usia dini prespektif Psikolinguistik? Artikel ini mendeskripsikan akan adanya efisiensi hafalan al-Qur’an dalam pendidikan Islam sebagai strategi pembelajaran bahasa Arab, serta menegesakan akan adanya pengaruh hafalan al-Qur’an dalam pembelajaran bahasa Arab usia dini prespektif Psikolinguistik (pemerolehan bahasa kedua). Disisi lain, artikel ini mendukung proses menghafal al-Qur’an untuk didahulkan sebelum belajar bahasa Arab.
Pandangan Tokoh Ulama Majelis Ulama Indonesia Terhadap “Fatwa Nikah Misyar Yusuf Al-Qardawiâ€
Wafiah Rafifatun Nida
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp87-108
Nikah misyar merupakan nikah yang belum lazim pada saat ini, dimana istri melepaskan sebagian haknya yaitu untuk tidak menerima nafkah dari suaminya dan hanya menuntut nafkah batiniyah saja, Yusuf Al-Qardawi membukukan secara tersendiri perihal nikah misyar, nikah misyar sendiri saat ini masih jarang diperbincangkan oleh ulama di Indonesia karena masih tergolong degan nikah model baru bagaimana pandangan ulama MUI terhadap nikah misyar. Penelitian ini dilakukan dengan metode field research (penelitian lapangan), pengambilan data dalam penelitian ini di peroleh dengan menggunakan metode wawancara. Nikah misyar Yusuf Al-Qardawi menurut ulama MUI Kota Ponorogo dapat di kategorikan menjadi 2 ada yang membolehkan secara mutlak juga ada yang membolehkan dengan syarat, menurut Ulama MUI Ponorogo ada yang memperboleh kan karena pernikahan ini secara hukum memenuhi syarat dan rukun pernikahan, dan suatu kebolehan jika sang istri merelakan sebagian haknya yaitu nafkah lahiriyah dan hanya menuntut nafkah batiniyah, hal tersebut tidak membuat batalnya suatu pernikahan, sedangkan menurut Ulama MUI Ponorogo yang memperbolehkan dengan syarat walaupun baik rukun dan syaratnya sudah terpenuhi kita juga perlu mengetahui tujuan dan motif dilaksanakannya nikah misyar apakah demi kemaslahatan ataukah demi kemafsadatan, karena pada hakikatnya pernikahan adalah untuk mencapai sakinah, mawaddah, war-rahmah, dan nafkah adalah termasuk di dalamnya.
Pendidikan Nilai Spiritual Masyarakat Kota Tangerang Melalui Tradisi Kegiatan Istighotsah (Studi Kasus Pondok Pesantren Uzlifatil Jannah Kota Tangerang, Banten)
Najib Muhammad Najib Murobbi;
Layla Mardliyah
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp71-86
Istighotsah merupakan wasilah untuk menjadikan seorang hamba mengetahui kedudukan manusia. Mengetahui bahwa manusia merupakan makhluk yang lemah yang selalu membutuhkan pertolongan Allah SWT. Aspek spiritual ini merupakan landasan yang tidak boleh ditinggalkan semata-mata. Spiritual dibutuhkan sebab dapat menumbuhkan rasa percaya dan selalu berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan istighotsah di Pondok Pesantren Uzlifatil Jannah adalah untuk menumbuhkan nilai-nilai spiritual masayarakat muslimah di Kota Tangerang. Sehingga masyarakat muslimah mampu menjalankan roda kehidupan penuh dengan rasa kesadaran bahwa semuanya telah diatur oleh Allah SWT. Penelitian ini menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), dengan menggunakan teknik kegiatan harian dan wawancara semi terstruktur. Dari metode yang digunakan terapat tiga pertanyaan yang akan menjadi topik penelitian, yaitu: (1) Bagaimana proses kegiatan Istighotsah (2) Bagaimana motivasi masyarakat muslimah kota Tangerang mengikuti kegiatan istighotsah (3) Bagaimana dampak yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan Istighostah . Hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) Kegiatan Istighotsah dimulai dengan pembacaan sholawat, pembacaan tawasul yasin dan tahlil, pembacaan mujahadah asmaaul husna, istighotsah dan diakhiri dengan maui’dzoh hasanah. (2) Motivasi yang didapat sebab banyaknya problematika kehidupan, ajakan dari sanak sudara dan membutuhkan ketenangan jiwa. (3) Dampak setelah mengikuti istighotsah adanya ketenangan jiwa, ikatan sosial semakin meningkat. Terjalinnya hablumminallah dan hablumminannas.
Analisis Makna Dan Eksistensi Tradisi Bebaritan Dalam Pandangan Keagamaan (Studi Pada Desa Pengarasan, Kec. Bantarkawung, Kab. Brebes
Ma'ruf Hidayat;
Henti Lutfiah
Jurnal Penelitian Agama Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24090/jpa.v24i1.2023.pp125-136
Intisari Maksud dan tujuan tulisan ini ialah mengetahui apa makna yang terkandung dari tradisi bebaritan dan bagaimana tradisi bebaritan tetap bertahan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kian modern. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian diperoleh melalui proses wawancara dan observasi. Selanjutnya, data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan analisis data kualitatif yang meliputi empat tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tradisi bebaritan sendiri dilakukan di sepanjang jalan perempatan Dukuh Cikamuning hingga jalan menuju mushala dekat umah gedhe. Hasil penelitian menyimpulkan jika tradisi bebaritan adalah tradisi yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang telah diberikan-Nya dan juga sebagai bentuk penolak bala. Eksistensi dari tradisi bebaritan sendiri tak lepas dari peran masyarakat sekitar yang selalu antusias dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan pada tradisi bebaritan. Disamping itu, semangat yang tinggi dalam menjalankan dan melestarikan warisan turun-temurun itu juga menjadi faktor pendorong bertahannya tradisi bebaritan yang hanya diperingati sebanyak satu kali dalam setahun.