cover
Contact Name
Gatot Suparmanto
Contact Email
info.lppm@ukh.ac.id
Phone
+62271-857724
Journal Mail Official
jurnal@ukh.ac.id
Editorial Address
masgat@yahoo.co.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada
ISSN : 20875002     EISSN : 2549371x     DOI : https://doi.org/10.34035/jk.v13i2
Core Subject : Health,
jurnal ini masih berfokus pada ilmu kesehatan kedokteran,keperawatan,biologi,kebidanan dan bidang kesehatan lainnya
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1, Januari 2020" : 15 Documents clear
SENAM AEROBIC UNTUK MENGATASI NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL ISHLAH SEMARANG Witri Hastuti; W Widiyaningsih
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.266 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.421

Abstract

Dismenore merupakan nyeri yang biasanya bersifat kram dan berpusat pada perut bagian bawah yang terasa selama menstruasi, terkadang sampai parah sehingga mengganggu aktivitas. Prevalensi nyeri menstruasi pada remaja di Indonesia berkisar antara 43% hingga 93%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh olahraga senam aerobic terhadap nyeri dismenorea pada remaja puteri di Pondok Pesantren Al Ishlah Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental Two groups Pre Test dan Post Test with control. Instrumen nyeri yang digunakan adalah Numeric rating Scale (NRS), dengan skala 0-10. Penelitian dilakukan pada 50 remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi. Remaja yang memenuhi kriteria pada skrining diberikan latihan fisik berupa aerobik pada kelompok perlakuan dan jogging pada kelompok kontrol. Latihan fisik dilakukan 2 kali terjadwal dalam seminggu, masing-masing minimal 30 menit selama 3 siklus menstruasi. Rata-rata nyeri dismenore sebelum dilakukan tindakan adalah 3.24+0.523 dan setelah intervensi 1.08+0.277. Hasil uji dengan Mann Whitney didapatkan senam aerobic lebih efektif untuk mengurangi nyeri dibandingkan jogging dengan mean rank sebesar 20,96 dan nilai p value 0.000. Olahraga mampu meningkatkan produksi endorphin (penghilang rasa sakit alami tubuh) sehingga menghilangkan nyeri ketika menstruasi. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan pasokan darah ke organ reproduksi sehingga memperlancar peredaran darah. Diharapkan remaja putri dapat rutin melakukan olahraga senam aerobic minimal 1 kali dalam seminggu untuk mengurangi nyeri menstruasi. Dysmenorrhea is pain usually cramping and centered on the lower abdomen that is felt during menstruation, sometimes to severe so that it interferes with activity. The prevalence of menstrual pain in adolescents in Indonesia ranges from 43% to 93%. The purpose of this study was to determine the effect of jogging on dysmenorrhoea pain in young girls at Al Ishlah Islamic Boarding School in Semarang. This study used an experimental design of Two groups Pre Test and Post Test with control. The pain instrument used was the Numeric rating Scale (NRS), with a scale of 0-10. The study was conducted on 50 young women who experience menstrual pain. Adolescents who met the screening criteria were given physical exercise in the form of aerobics in the treatment group and jogging in the control group. Physical exercise was scheduled twice a week, each with a minimum of 30 minutes for 3 menstrual cycles. The mean pain of dysmenorrhea before the action was 3.24 + 0.523 and after the intervention 1.08 + 0.277. Aerobic exercise was more effective in reducing pain than jogging with a p value of 0,000. Exercise could increase endorphin production (the body's natural pain reliever) so that pain relief during menstruation. In addition, exercise could increase blood supply to the reproductive organs thereby improving blood circulation. It was expected that young women can routinely exercise at least once a week to reduce menstrual pain.
PERTOLONGAN PERTAMA DAN PENILAIAN KEPARAHAN ENVENOMASI PADA PASIEN GIGITAN ULAR Anissa Cindy Nurul Afni; Fakhrudin Nasrul Sani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.068 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.423

Abstract

Distribusi keracunan dan kematian akibat gigitan ular di dunia bevariasi. Dalam kasus berat, akan luka gigitan akan berkembang menjadi bula dan jaringan nekrotik, serta muncul gejala sistemik berupa mual, muntah dan kelemahan otot atau kejang. Tingginya angka kejadian snake bite di Indonesia belum diimbangi dengan penanganan yang optimal di prehospital. Fenomena yang muncul, Masyarakat cenderung melakukan pertolongan pertama menggunakan cara-cara tradisional, sedangkan WHO sejak tahun 2016 tidak lagi merekomendasikan bentuk pertolongan tersebut.Metode penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 35 responden, waktu pengambilan data Januari – September 2019 (9 bulan) dengan kriteria eksklusi: Pasien dengan gigitan ular yang meninggal saat datang ke IGD RSUD Gemolong. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner meliputi pertolongan pertama prehospital dan tanda dan gejala klinis yang muncul pada pasien saat tiba di rumah sakit utnuk menentukan derajat keparahan envenomasi. Analisa data univariat digunakan untuk menggambarkan deskriptif masing-masing variabel.Gambaran Pertolongan pertama prehospital yang dilakukan yaitu: 40,3% mengikat luka gigitan ular dengan tali, 31% responden menghisap ara luka, 14,3% responden merobek luka dengan pisau, 8,5% responden mencuci luka dengan sabun, 2,9% responden membakar luka dan memberikan jahe bakar pada area luka. Gambaran tingkat keparahan envenomasi responden yaitu: 57,2% responden menglami envenomasi derajat 2, sejumlah 22,8% responden mengalami envenomasi derajat 3, dan 20% responden mengalami envenomasi derajat 1. Tidak ada responden yang mengalami envenomasi derajat 4.Tindakan tradisional yang dilakukan dapat meningkatkan keparahan luka dan juga mempercepat penyebaran bisa. Prinsipn utama yang direkomendasikan untuk penanganan pertama gigitan ular adalah mecegah kecemasan yang berlebihan, melakukan imobilisasi area dengan balut tekan (pressure immobilitation tehnik) dan segera rujuk ke rumah sakit. The distribution of poisoning and mortality caused by snake bites in the world is increasing. In severe cases, the bite wound will develop into bullae and necrotic tissue, as well as systemic symptoms such as nausea, vomiting and muscle weakness or spasms. The high incidence of snake bite in Indonesia has not been matched by optimal handling at prehospital. The phenomenon that arises, the community tends to do first aid using traditional methods, WHO since 2016 no longer recommends this form of help. Design of this study is quantitative descriptive with cross sectional approach. This study used a total sampling technique with a total of 35 respondents, data collection time was January - September 2019 (9 months) with exclusion criteria: Patients with snake bites who died when they came to the Emergency Room. Data collection techniques using questionnaires included prehospital first aid and clinical signs and symptoms that appeared in patients when they arrived at the hospital to determine the severity of envenomation. Univariate data analysis is used to describe the descriptive of each variable. Result of this study showed the Prehospital First Aid overview: 40.3% respondent used a tourniquet technique, 31% of respondents sucking wound, 14.3% of respondents give an incission of the bite wound, 8.5% of respondents washed wounds with soap, 2.9% of respondents burn wounds and give burnt ginger to the injured area. The description of the severity of envenomation is: 57.2% of respondents in grade 2, 22.8% of respondents in grade 3, and 20% of respondents in grade 1. No one respondents experienced grade 4 envenomation.The traditional actions taken by the lay persone can increase the severity of the wound and also accelerate the spread of bacteria. The main principles recommended for the first treatment of snake bites are preventing excessive anxiety, immobilizing the area with pressure immobilization technique and immediately referring to the hospital.
PENGARUH EDUKASI DENGAN METODE ROLE PLAY TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN BULLYING PADA ANAK SEKOLAH DASAR Siti Mardiyah; Bambang Abdul Syukur
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.584 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.426

Abstract

Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap orang-orang atau kelompok lain yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara menyakiti secara fisik maupun mental. Bullying dapat menyebabkan depresi, kurang percaya diri, kesedihan (perasaan sedih, duka cita, kesusahan hati), merasa bodoh dan tidak berharga sehingga kepercayaan diri mereka menjadi rendah dan meningkatkan kecemasan sosial. Pelaku bullying dapat mempunyai efek untuk berbuat kriminalitas. Pengetahuan tentang bullying dan efeknya adalah penting untuk diterapakan dalam mencegah perilaku bullying. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui edukasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan tentang pencegahan bullying pada anak sekolah dasar.. Jenis penelitian adalah quasi eksperiment one group pretest posttest design dengan populasi penelitian adalah anak sekolah dasar. Tehnik pengambilan sample dengan purposive sampling yakni kelas empat dan lima yang berjumlah 64 siswa. Instrumen penelitian adalah intrumen pengetahuan siswa tentang bullying yang terdiri dari 17 pertanyaan dalam bentuk closed ended question yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menggunakan wilcoxon didapatkan hasil P value adalah 0,000<0,005 artinya terdapat pengaruh edukasi dengan metode role play terhadap pengetahuan tentang pencegahan bullying pada anak sekolah Dasar. Disarankan bagi sekolah agar menyisipkan pelajaran tentang bullying dengan metode role play untuk pencegahan bullying. Bullying is an aggressive behavior carried out by individuals or groups against other people or groups that are carried out repeatedly using hurting physically and mentally. Bullying can cause depression, lack of confidence, sadness (feelings of sadness, sorrow, distress), feeling stupid and worthless so that their confidence is low and increases social anxiety. Bullying can have the effect of committing a crime. Knowledge about bullying and its effects is important to be applied in preventing bullying behavior. Knowledge can be increased through education. The purpose of this study was to determine the effect of education on knowledge about the prevention of bullying in elementary school children. The type of research is a quasi-experimental one-group pretest-posttest design with the study population is elementary school children. The sampling technique was purposive sampling in the fourth and fifth grades totaling 64 students. The instrument of this study was the instrument of students' knowledge about bullying which consisted of 17 questions in the form of closed-ended questions that had been tested for validity and reliability. The results of the study using Wilcoxon showed that the P value was 0,000 <0.005, meaning that there was an influence of education with the role-play method on knowledge about preventing bullying in elementary school children. It is recommended for schools to insert lessons about bullying with the role-play method for bullying prevention.
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT (IKM) TERHADAP PELAYANAN RAWAT JALAN PESERTA BPJS KESEHATAN DI PUSKESMAS YOGYAKARTA Sri Sularsih Endartiwi
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.168 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.427

Abstract

Puskesmas Kotagede I Kodya Yogyakarta dan Puskesmas Bambanglipuro Kabupaten Bantul merupakan pelayanan publik yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Masyarakat yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di kedua puskesmas tersebut masih memberikan keluhan terkait dengan pelayanan seperti antrean di pendaftaran yang lama, ruang tunggu yang kurang karena pada waktu pasien banyak maka menunggu antreannya harus berdiri. Lama waktu tunggu antara 15 sampai 30 menit. Waktu tunggu di pelayanan farmasi atau obat juga lama kurang lebih 30 menit bahkan bisa sampai 1 jam pada waktu pengunjungnya banyak. Penelitian bertujuan untuk menentukan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas Yogyakarta. Jenis penelitian adalah penelitian survei dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien peserta BPJS Kesehatan yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Kotagede I dan Bambanglipuro. Sampel diambil secara quota sampling sebanyak 100 peserta BPJS Kesehatan, dari Puskesmas Kotagede I sebanyak 50 orang dan dari Puskesmas Bambanglipuro Bantul sebanyak 50 orang. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kotagede I dan Bambanglipuro Bantul pada November 2018. Data dianalisis menggunakan perhitungan Indeks Kepuasan Masyarakat dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil nilai indeks kepuasan masyarakat sebesar 3,04732 dan setelah dikonversikan sebesar 76,183 menunjukkan bahwa mutu pelayanan di Pelayanan Rawat Jalan Peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Yogyakarta berada pada kategori “B” atau kinerja unit pelayanan “Baik”. Unsur pelayanan tertinggi adalah unsur keamanan pelayanan yaitu sebesar 3.12 dan yang terendah adalah unsur prosedur pelayanan senilai 2,94. Kesimpulan indeks kepuasan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di puskesmas adalah Baik. Kotagede I Health Center, Yogyakarta District, and Bambanglipuro Health Center, Bantul District are public services that provide health services to the surrounding community. People who use health services in both health centers still give some complaints related to the services they receive such as queues at longtime registration, lack of waiting room because when there are many patients waiting for the queue to stand up. In addition, the waiting time at the time of the examination is also approximately 15 to 30 minutes. The waiting time in pharmaceutical or drug services also takes approximately 30 minutes or even up to 1 hour when there are many visitors. This study’s objective is to determine the Community Satisfaction Index that utilizes health services in Yogyakarta health centers. This type of research is survey research using quantitative descriptive methods with a cross-sectional research design. The population in this study were all patients participating who use outpatient services at the Kotagede I and Bambanglipuro Health Center. Samples were taken by quota sampling with a total of 100 patients, from the Kotagede I health center as many as 50 people and from the Bambanglipuro Health Center Bantul as many as 50 people. The study was conducted at the Kotagede I and Bambanglipuro Health Center in November 2018. Quantitative data were analyzed using the calculation of the Community Satisfaction Index and presented in tabular form. The results of the community satisfaction index of 3.04732 and after being converted were 76.183 indicating that the quality of service in the Outpatient Services at the Yogyakarta Public Health Center was in the "B" category or the "Good" service unit performance. The highest service element is obtained service security element that is equal to 3.12 and the lowest is service element worth 2.94.
POTENSI DIURETIK FRAKSI EKSTRAK ETANOL DAUN SELEDRI (Apium graveilens Linn.) SECARA INVIVO SEBAGAI HERBAL ANTIHIPERTENSI joko santoso; Lanny Triana; Rr. Sri Wulandari; Ersta Zusvita; Dheny Rohmatika
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.118 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.833

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kenaikan tekanan darah lebih dari 140 mmHg. Hipertensi merupakan masalah utama kesehatan di dunia dan jumlah penderita semakin meningkat dari tahun ke tahun. Seiring dengan meningkatnya prevalensi hipertensi di Indonesia dan banyaknya faktor yang berpengaruh dalam pemilihan obat-obatan antihipertensi sintetik, maka dituntut terus untuk mengembangkan obat yang berasal dari alam. Seledri (Apium graveolens) telah diketahui mempunyai aktivitas antihipertensi dengan adanya kandungan apigenin yang berperan sebagai antagonis kalsium sehingga mempunyai efek vasodilatasi atau vasorelaksasi. Tujuan : Diketahuinya Tingkat dosis yang efektif dari ekstrak daun seledri sebagai obat hipertensi. Metode : Penelitian eksperimental post test only control group design. Hasil : Kelompok I (Dosis Ekstrak 300mg) memiliki Frekuensi BAK 4 kali, volume urin 1,80ml dan Potensi daya diuretic 20%, Kelompok II (Dosis Ekstrak 400mg) memiliki Frekuensi BAK 5 kali, volume urin 2,50ml dan Potensi daya diuretic 67%, Kelompok III (Dosis Ekstrak 500mg) memiliki Frekuensi BAK 6 kali, volume urin 2,85ml dan Potensi daya diuretic 90%, Kelompok IV (Furosemida) memiliki Frekuensi BAK 8 kali, volume urin 2,80ml dan Potensi daya diuretic 87%, Kelompok V (Aquades) memiliki Frekuensi BAK 4 kali, volume urin 1,50ml dan Potensi daya diuretic 0%. Kesimpulan : Potensi daya diuretic action yang paling tinggi dan efektif adalah kelompok III (dosis ekstrak daun seledri dosis 500mg) sebesar 90% karena memiliki efek frekuensi Buang air kecil (BAK) 6 kali dan volume urine 2,85 ml dibandingkan dengan kelompok lain. Hypertension is a disease of increasing blood pressure more than 140 mmHg. Hypertension is a major health problem in the world and the number of sufferers is increasing from year to year. Along with the increasing prevalence of hypertension in Indonesia and the many factors that influence the selection of synthetic antihypertensive drugs, it is demanded to continue to develop drugs derived from nature. Celery (Apium graveolens) has been known to have antihypertensive activity in the presence of apigenin which acts as a calcium antagonist so that it has a vasodilating or vasorelaxation effect. Objective: To determine the effective dose level of celery leaf extract as a hypertension drug. Methods: Experimental research post test only control group design. Results: Group I (Extract dose 300mg) had urinary frequency 4 times, urine volume 1.80ml and diuretic power potential of 20%, Group II (extract dose 400mg) had urinary frequency 5 times, urine volume 2.50ml and diuretic power potential 67 %, Group III (Extract dose of 500 mg) has a urinary frequency of 6 times, urine volume is 2.85 ml and diuretic power potential of 90%, Group IV (Furosemide) has a urinary frequency of 8 times, urine volume is 2.80 ml and potential diuretic power is 87%, Group V (Aquades) had urinary frequency 4 times, urine volume 1.50 ml and diuretic potential of 0%. Conclusion: The highest and most effective potential for diuretic action is group III (500mg dose of celery leaf extract) by 90% because it has an effect of 6 times urination frequency and 2.85 ml urine volume compared to other groups.

Page 2 of 2 | Total Record : 15