cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 34 No 2 (2016): Juni" : 10 Documents clear
Efek Perbedaan Volume Tidal Intraoperatif terhadap Rasio Pao2/Fio2 Pascaoperasi Abdominal Mayor: Dita Aditianingsih, Jefferson, Michael Mandagi Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.282 KB)

Abstract

Komplikasi paru pascaoperasi merupakan salah satu penyebab penting morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang berkaitan dengan anestesia dan pembedahan. Studi ini membandingkan volume tidal 6 mL/kgBB dan 10 mL/ kgBB dengan menggunakan PEEP dan pengaruhnya terhadap komplikasi paru. Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan FKUI/RSCM, dilakukan uji klinis acak terhadap 52 pasien operasi abdominal mayor elektif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan November 2014–April 2015. Subjek diacak dalam 2 kelompok, yaitu kelompok dengan volume tidal 6 mL/kg dengan PEEP 6 cmH 2 O dan volume tidal 10 mL/kg dengan PEEP 6 cmH2O. Keluaran primer adalah pemeriksaan fungsi paru menggunakan rasio PaO2/FiO2. Keluaran sekunder adalah komplikasi paru (pneumonia, atelektasis, ARDS, gagal napas), komplikasi ekstraparu (SIRS, sepsis, sepsis berat), dan mortalitas dalam 28 hari pascaoperatif. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna rasio PaO2/FiO2 antara kelompok VT-6 mL/kg dengan VT-10 mL/kg (p>0,05), baik pada awal operasi, akhir operasi, hari pertama pascaoperasi, dan hari kedua pascaoperasi. Tidak ada perbedaan bermakna pada semua keluaran sekunder diantara kedua kelompok. Simpulan, volume tidal 6 hingga 10 mL/kg dengan PEEP 6 cmH2O aman untuk dipakai pada pasien yang menjalani operasi abdominal mayor.
Blok Paravertebral Lumbal Teknik Injeksi Satu Titik pada Kadaver: Penelitian Volume Zat Pewarna Metilen Biru pada Ruang Paravertebra: Pryambodho, Darto Satoto, Christella Natali Journal Editor MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.886 KB)

Abstract

Anestesia blok saraf perifer merupakan teknik anestesia untuk memfasilitasi operasi daerah ekstremitas atasatau bawah khususnya pada pasien dengan masalah medis berat. Anestesia blok saraf perifer bawah minimalmemerlukan dua injeksi, yaitu pada pleksus lumbalis dan sakralis. Berdasarkan penelitian tersebut maka penelitianini dilakukan untuk mengetahui volume metilen biru yang dapat mencapai segmen L2 sampai S3 dengan tekniksekali injeksi. Penelitian ini menggunakan metode up and down pada 5 kadaver. Volume awal yang ditentukanadalah 40 mL. Interval antar volume ditentukan 10 mL. Bila penyebaran metilen biru pada volume 40 mL mencapairuang paravertebra L2 sampai S3 maka kadaver selanjutnya menggunakan volume metilen biru 30 mL, namun bilatidak didapatkan penyebaran ruang paravertebra L2 sampai S3 maka kadaver selanjutnya menggunakan volume50 mL. Penelitian akan dihentikan bila memenuhi satu dari tiga ketentuan yaitu hasil konstan tercapai, tidakdidapatkan penyebaran ruang paravertebra L2 sampai S3 pada volume maksimal 80 mL dan jumlah maksimal 20kadaver tercapai. Dari kelima volume metilen biru yang diteliti, tidak didapatkan penyebaran ruang paravertebraL2 sampai S3. Segmen penyebaran tertinggi metilen biru pada ruang paravertebra L1 dengan volume 60 mL,sedangkan penyebaran terendah pada S1 dengan volume 60 mL dan 70 mL. Penyebaran kontralateral didapatkanpada volume 40 mL dan 70 mL. Teknik injeksi satu titik blok paravertebral lumbal tidak dapat menghasilkanpenyebaran pada ruang paravertebra L2 sampai S3.
Perbandingan Keefektifan Gel Lidokain 2% dengan Spray Lidokain 10% untuk Mengurangi Dosis Propofol pada Pasien Endoskopi Saluran Cerna Atas: Aries Perdana, Christopher Kapuangan, Panji Adinugroho Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.818 KB)

Abstract

Kombinasi spray lidokain dan anestetika intravena menjadi utama pada prosedur endoskopi saluran cerna, namun spray lidokain menyebabkan iritasi lokal, mual, muntah, dan rasa pahit. Gel lidokain merupakan alternatif anestetik lokal dengan keuntungan mengurangi gesekan mukosa dengan endoskop saat insersi, serta pemberian lidokain yang tebal dan lengket menghasilkan anestesia lokal yang lebih baik pada rongga mulut dan orofaring. Penelitian ini membandingkan antara keefektifan gel lidokain dan spray lidokain dalam mengurangi penggunaan propofol. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap pasien endoskopi saluran cerna atas dengan sedasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan Juli–September 2015. Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik FKUI-RSCM, 52 subjek dirandomisasi menjadi 2 kelompok (kelompok gel lidokain 2% dan spray lidokain 10%). Total dosis propofol, angka kejadian gag refeks, hipotensi, bradikardia, dan desaturasi dicatat pada masing-masing kelompok. Analisis data dilakukan dengan uji t-test tidak berpasangan. Rata-rata dosis propofol grup gel lidokain 2% (186,92±43,52 mg) berbeda secara bermakna dengan grup spray lidokain 10% (218,85±61,01 mg), p<0,05, IK 95%=31,92. Gel lidokain 2% lebih efektif dibanding dengan spray lidokain 10% dalam mengurangi dosis propofol pada pasien endoskopi saluran cerna atas.
Perbandingan Efektivitas Tablet Hisap Amylmetacresol-dibenal dengan Profilaksis Deksametason Intravena Sebelum Pemasangan Pipa Endotrakeal untuk Mengurangi Kekerapan Nyeri Tenggorok Pascaoperasi : Eddy Harijanto, Riyadh Firdaus, Dedy Kurnia Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.158 KB)

Abstract

Nyeri tenggorok pascaoperasi post-operative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada anestesia umum dengan teknik intubasi. Tujuan penelitian ini ialah untuk membandingkan antara efektivitas tablet hisap amylmetacresol-dibenal dengan profilaksis deksametason intravena sebelum pemasangan pipa endotrakeal untuk mengurangi kekerapan POST. Setelah mendapatkan izin dari Komite Etik penelitian FKUI RSUPN Ciptomangunkusumo dan persetujuan dari pasien, dilakukan uji klinis prospektif yang diacak dan tersamar ganda pada 121 pasien yang menjalani operasi dalam anestesia umum menggunakan pipa endotrakeal. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Grup A 61 orang dan grup B 60 orang. Sebelum induksi, pasien dalam grup A diberikan tablet hisap amylmetacresol-dibenal dan suntikan NaCl 0,9% 2 mL dan grup B diberikan Deksametason 10 mg intravena dan tablet hisap plasebo. Nyeri tenggorok pascaoperasi dievaluasi dengan numerical rating scale (NRS) sebanyak 3 kali, yaitu setelah operasi saat Alderette skor 10, 2 jam pascaoperasi dan 24 jam pascaoperasi. Kekerapan dan derajat nyeri tenggorok pascaoperasi dicatat dan dianalisis dengan uji chi-kuadrat. Tidak didapatkan perbedaan kekerapan nyeri tenggorok pascaoperasi bermakna pada kedua kelompok sesaat setelah operasi berakhir, jam ke-2 dan jam ke-24 pascaoperasi. Derajat nyeri tenggorok pascaoperasi tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok. Tablet hisap amylmetacresol-dibenal sebelum pemasangan pipa endotrakeal memiliki efektivitas yang sama dengan profilaksis deksametason intravena dalam mengurangi kekerapan nyeri tenggorok pascaoperasi.
Perbandingan Keefektifan Gel Lidokain 2% dengan Spray Lidokain 10% untuk Mengurangi Dosis Propofol pada Pasien Endoskopi Saluran Cerna Atas: Aries Perdana, Christopher Kapuangan, Panji Adinugroho Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.818 KB)

Abstract

Kombinasi spray lidokain dan anestetika intravena menjadi utama pada prosedur endoskopi saluran cerna, namun spray lidokain menyebabkan iritasi lokal, mual, muntah, dan rasa pahit. Gel lidokain merupakan alternatif anestetik lokal dengan keuntungan mengurangi gesekan mukosa dengan endoskop saat insersi, serta pemberian lidokain yang tebal dan lengket menghasilkan anestesia lokal yang lebih baik pada rongga mulut dan orofaring. Penelitian ini membandingkan antara keefektifan gel lidokain dan spray lidokain dalam mengurangi penggunaan propofol. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap pasien endoskopi saluran cerna atas dengan sedasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan Juli–September 2015. Setelah mendapat persetujuandari Komite Etik FKUI-RSCM, 52 subjek dirandomisasi menjadi 2 kelompok (kelompok gel lidokain 2% dan spray lidokain 10%). Total dosis propofol, angka kejadian gag refleks, hipotensi, bradikardia, dan desaturasi dicatat pada masing-masing kelompok. Analisis data dilakukan dengan uji t-test tidak berpasangan. Rata-rata dosis propofol grup gel lidokain 2% (186,92±43,52 mg) berbeda secara bermakna dengan grup spray lidokain 10% (218,85±61,01 mg), p<0,05, IK 95%=31,92. Gel lidokain 2% lebih efektif dibanding dengan spray lidokain 10% dalam mengurangi dosis propofol pada pasien endoskopi saluran cerna atas.
Perbandingan Efektivitas Tablet Hisap Amylmetacresol-dibenal dengan Profilaksis Deksametason Intravena Sebelum Pemasangan Pipa Endotrakeal untuk Mengurangi Kekerapan Nyeri Tenggorok Pascaoperasi: Eddy Harijanto, Riyadh Firdaus, Dedy Kurnia Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.158 KB)

Abstract

Post-operative sore throat (POST) is one of the complications that often arise in the general anesthesia with intubation techniques. The purpose of this study was to compare the effectiveness of amylmetacresol-dibenal lozenges with prophylactic intravenous dexamethasone before intubation to reduce the incidence of POST. After approval from Ethics Committee Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Ciptomangunkusumo Hospital and consent from patients,a prospective randomized clinical,double-blind trial was done in 121 patients that would undergo surgery under general anesthesia using endotracheal tube. Patients were divided into two groups randomly; Group A 61 people and group B 60 people. Before induction, patients in group A was given amylmetacresol - dibenal lozenges and injection of 2 mL of 0.9% NaCl, while group B was given intravenous dexamethasone 10 mg and placebo lozenges. POST was evaluated by the numerical rating scale (NRS) 3 times, after surgery when Alderette score of 10, 2 hours postoperatively and 24 hours postoperatively. The frequency and degree of POST were recorded and analyzed with Chi-Square test. There were no significant difference in the incidence of POST in both groups after surgery when Alderette score of 10 , h 2, and the 24th hour postoperatively. The degree of POST was not significantly different between the two groups. Amylmetacresol - dibenal lozenges before intubation tube has the same effectiveness of prophylactic intravenous dexamethasone in reducing the incidence of POST.
Waktu Pulih Pasien Pascavitrektomi: Perbandingan antara Rumatan Kombinasi Sevofluran 1,2 Vol% - Fentanil 1,2 Mcg/Kg/Jam dengan Rumatan Sevofluran 2 Vol%: Arif HM Marsaban, Christopher Kapuangan, Krisna Andria Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.176 KB)

Abstract

Waktu pulih yang cepat dan lancar telah menjadi kebutuhan yang penting bagi unit pembedahan, khususnya bagi unit yang memiliki beban jadwal operasi yang banyak. Kecepatan waktu pulih diperlukan untuk meningkatkan turn-over-rate unit tersebut. Efek sinergis kombinasi opioid dan gas anestesi telah digunakan secara umum untuk mempertahankan kedalaman anestesia intraoperatif. Hanya saja tidak terlalu banyak data mengenai waktu pulih kombinasi opioid dan gas inhalasi, khususnya kombinasi sevofluran-fentanil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pulih antara rumatan kombinasi sevofluran 1,2 vol% - fentanil 1,2 mcg/kg/jam dengan rumatan sevofluran 2 vol%. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap pasien yang menjalani operasi elektif vitrektomi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo periode bulan Mei–Juli 2015 sebanyak 30 sampel subjek penelitian diambil dengan metode konsekutif. Waktu pulih pascaoperasi dicatat dan data waktu pulih dianalisis dengan uji independent sample t-test. Waktu pulih antara rumatan kombinasi sevofluran 1,2 vol%-fentanil 1,2 mcg/kg/jam dengan rumatan sevofluran 2 vol% memiliki perbedaan yang signifikan (p<0,005 kombinasi rumatan sevofluran 1,2 vol%-fentanil 1,2 mcg/kg/jam memiliki waktu pulih (6,47±1,727 detik) yang lebih singkat dibanding dengan rumatan sevofluran 2 vol% (11,87±1,846 detik). Waktu pulih pascavitrektomi pada kelompok rumatan kombinasi sevofluran 1,2 vol%-fentanil 1,2 mcg/kg/jam lebih singkat secara bermakna dari pada waktu pulih pada kelompok rumatan sevofluran 2 vol%.
Uji Kesahihan dan Keandalan QoR-40 versi Indonesia sebagai Instrumen untuk Menilai Kualitas Pemulihan Pasca-anestesia Umum: Eddy Harijanto, Andi Ade Wijaya, Dini Handayani Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.46 KB)

Abstract

Quality of Recovery-40 (QoR-40) adalah salah satu instrumen yang telah digunakan luas di dunia untuk menilai kualitas pemulihan pasca-anestesia umum. Saat ini belum ada instrumen spesifik yang menilai kualitas pemulihanpasca-anestesia di Indonesia. Hasil terjemahan akan diujikan pada 115 subjek yang menjalani anestesia umum satu hari praoperasi dan satu hari pascaoperasi. Uji kesahihan isi menggunakan koefisien Aiken v, uji kesahihan konstruksi (analisis faktor dan uji korelasi pearson), konsitensi internal (Chronbach α), ketanggapan (responsiveness) dengan standard respons mean (SRM). Uji kesahihan isi formula Aiken V didapatkan bahwa QoR-40 versi Indonesia sahih dengan nilai ≥0,5. Uji kesahihan konstruksi dengan analisis faktor menunjukan semua faktor memiliki korelasi yang tinggi (korelasi≥0,5). Uji korelasi Pearson didapatkan 3 item pertanyaan dari dimensi dukungan tehadap pasien yang tidak sahih (mendapat dukungan dari dokter Rumah Sakit, ρ=0,252), (mampu memahami arahan dan nasehat ρ=1,98), (merasa bingung ρ=0,202). Standart respons mean (SRM) pada uji ketanggapan adalah 1,06. Terdapat hubungan negatif antara skor QoR-40 versi Indonesia dengan lama masa rawatan. QoR -40 versi Indonesia menunjukkan kesahihan dan keandalan yang memuaskan. Dimensi dukungan terhadap pasien dengan koefisien kesahihan terendah dan tiga pertanyaan yang tidak memiliki kesahihan konstruksi. Instrumen Qor-40 versi Indonesia sensitif untuk menilai perubahan klinis pascanestesia umum.
Tata Laksana Anestesi pada Pasien Anak dengan Hipersplenism, Thalassemia Mayor, dan Trombositopenia yang Menjalani Splenektomi: Doddy Tavianto, Ati Nurchaeni Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.215 KB)

Abstract

Thalassemia merupakan penyakit genetik pembentukan rantai globin pada hemoglobin. Operasi spelenektomi pada pasien hipersplenism dengan thalassemia mayor dan trombositopenia merupakan hal yang menantang bagi seorang ahli anestesi dikarenakan manifestasi sistemik yang timbul karena thalassemia, penumpukan kadar besi, dan komplikasi agen kelasi besi. Kasus ini mempresentasikan tentang seorang anak perempuan usia 6 tahun dengan thalasemia mayor dan trombositopenia yang menjalani operasi splenektomi dalam anestesi umum. Operasi berlangsung selama 6 jam dengan perdarahan 2.700 mL dengan transfusi 700 mL PRC, 300 mL FFP, dan 200 mL trombosit. Hemodinamik intraoperatif pernah mengalami penurunan dikarenakan perdarahan akibat terpotongnya arteri gastric brevis. Setelah operasi pasien diekstubasi dan dirawat di HCU.
Mikrosirkulasi: Mia Supandji, Ike Sri Redjeki Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.341 KB)

Abstract

Mikrosirkulasi adalah suatu jaringan pembuluh darah yang sangat kecil dan tidak terlihat dengan mata telanjang. Mikrosirkulasi merupakan bagian dari sirkulasi yang berfungsi untuk transportasi oksigen, nutrisi ke jaringan sel dan produk pembuangan dari sel melalui pembuluh darah. Saat terjadinya suatu kondisi sepsis maka akan terjadi gangguan fungsi mikrosirkulasi disertai dengan gangguan fungsi endotel, mitokondria, degradasi, glycocalyx, kebocoran kapiler, hilangnya reaktivitas vaskular, autoregulasi dan mikrotrombosis. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kondisi densitas vaskular yang heterogen disertai dengan kantung-kantung area hipoksia. Gangguan ini tidak dapat didiagnosis secara pasti menggunakan parameter hemodinamik global, namun mememrlukan advanced imaging techniques. Resusitasi dengan pemberian cairan, merupakan dasar dari resutitasi mikrosirkulasi selain terapi dengan menggunakan obat-obatan lainnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10