cover
Contact Name
Iwan Setiawan
Contact Email
setiawan@widuri.ac.id
Phone
+6221-5480552
Journal Mail Official
jurnal@widuri.ac.id
Editorial Address
Jalan Palmerah Barat No. 353 Jakarta Selatan 12210
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
INSANI
Published by STISIP Widuri Jakarta
ISSN : 24076856     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Ilmiah INSANI diterbitkan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Widuri, Jakarta. Redaksi INSANI menerima artikel secara terbuka dari berbagai kalangan dalam Ilmu Komunikasi dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, serta bidang kemasyarakatan lainnya. Artikel yang masuk akan direview oleh reviewer internal dan eksternal sesuai bidang ilmunya
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2016): INSANI" : 4 Documents clear
Perempuan Lembut Yang Perkasa Kandungan Ideologi dalam Novel Perempuan Keumala Nelson Holong Parapat
INSANI Vol 3 No 2 (2016): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.459 KB)

Abstract

Tulisan ini menyajikan bahwa dalam penggambaran kehidupan nyata, media terlibat untuk memproduksi ideologi dan seluruh teks media apapun kategorinya apakah berita atau drama atau feature, iklan dan konten lainnya berusaha memproduksi ideologi. Secara reguler media menyajikan gambaran dunia dengan cara membuat asumsi tentang dunia yang direpresentasikannya. Demikian halnya juga pada buku novel sebagai salah satu bentuk media dari berbagai media yang ada di masyarakat. Novel epos Perempuan Keumala yang ditulis Endang Moerdopo, diasumsikan mengandung muatan ideologi dari penulisnya. Oleh karena itu, makalah ini akan mendeskripsikan gambaran tentang ideologi yang dimaksud, yang bukan secara tersurat melainkan tersirat dalam cerita keperkasaan dan kepahlawanan seorang perempuan, Keumalahayati, yang lembut dan rupawan. Sebagai hasil analisis, disimpulkan bahwa yang perlu dikaji lebih mendalam lagi adalah apakah ideologi dalam novel Perempuan Keumala ini benar-benar merupakan suatu ideologi yang dapat dikategorikan sebagai ideologi yang murni ideologi perempuan. Pertanyaan kritis ini muncul, karena budaya yang berlaku di masyarakat adalah budaya yang merupakan produk dari dunia laki-laki. Bahkan makna simbol-simbol yang digunakan di masyarakat mengenai perempuan berasal dari dan diciptakan oleh kaum laki-laki, yang notabene juga digunakan kaum perempuan dalam merepresentasikan ide atau gagasan mereka tentang persamaan hak terhadap perempuan. Renungan kritis ini juga sebagai titik tolak rekonstruksi lebih lanjut dalam pencarian ideologi yang benar-benar murni dari, oleh dan untuk perempuan.
Dukungan Keluarga Terhadap Kelangsungan Hidup ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) Nancy Rahakbauw
INSANI Vol 3 No 2 (2016): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.439 KB)

Abstract

Masalah HIV/AIDS bukan hanya sebagai permasalahan yang terjadi di tingkat lokal, namun sudah menjadi permasalahan regional maupun global. Masalah ini telah menimbulkan banyak korban, baik anak-anak maupun orang dewasa, bahkan telah mengguncang kehidupan keluarga. HIV bukan hanya berdampak secara medis namun juga berdampak secara psikososial-spritual. Kondisi ini sangat memprihatinkan apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Bangsa Indonesia akan kehilangan generasi muda yang produktif. Oleh karena itu, untuk menekan penyebaran virus ini maka dibutuhkan keterlibatan serta dukungan berbagai pihak terutama keluarga dalam pengobatan maupun perawatan sehingga mereka yang terinveksi HIV memiliki kehidupan yang lebih lama. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tentang pengetahuan dan pemahaman ODHA maupun keluarga terhadap penyakit HIV dan isu-isu yang terkait serta bentuk dukungan yang diberikan keluarga bagi ODHA dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif analisis. Subyek penelitian ini adalah Orang yang terinfeksi HIV/ AIDS dan keluarga. Hasil penelitian menemukan bahwa pengetahuan dan pemahaman ODHA maupun keluarga sangat terbatas, hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang diperoleh tentang HIV/AIDS dan isu-isu yang terkait. Ketidaktahuan ini berdampak terhadap proses pengobatan maupun perawatan yang dilakukan oleh ODHA maupun keluarga. Hal ini juga berdampak terhadap ODHA dalam menerima perlakuan dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Padahal dukungan keluarga memiliki arti yang sangat signifikan dalam proses kesembuhan ODHA dalam menjalani masa-masa terpuruk saat divonis terinfeksi HIV. Dukungan tersebut juga meningkatkan harapan hidup bagi ODHA
Opini Publik Sebagai Barometer Pembentukan Citra Organisasi / Perusahaan Yerah Melita
INSANI Vol 3 No 2 (2016): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.421 KB)

Abstract

Setiap organisasi/ perusahaan pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar publik/masyarakat mempunyai penilaian, sikap dan opini yang menyenangkan dan menguntungkan bagi organisasi/perusahaan. Dengan kata lain tujuan organisasi/perusahaan adalah agar memperoleh reputasi, kredibilitas dan citra yang positif dari publiknya. Untuk memperoleh tujuan di atas, organisasi/perusahaan harus peka dan peduli terhadap opini yang ada dan berkembang di masyarakat mengenai organisasi/ perusahaannya. Dengan mengetahui dan memahami opini yang ada dan berkembang di masyarakat, organisasi/perusahaan dapat mengaktualisasikan aspirasi, kebutuhan dan harapan publiknya.
Partai Politik dan Politik Pencitraan Melalui Pemanfaatan Media Massa Pada Pemilihan Presiden 2009 Budi Utami
INSANI Vol 3 No 2 (2016): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.458 KB)

Abstract

Sejak ajang pemilihan presiden secara langsung pada 2004, fenomena politik pencitraan di kalangan politisi Indonesia menguat. Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam ajang itu dianggap sebagai keberhasilan membangun politik pencitraan. Menyadari kampanye pembentukan citra tidak bisa dilakukan hanya dalam semalam, sejumlah tokoh yang bersiap maju dalam ajang Pilpres 2009, yang dalam penelitian ini disebut capres, melakukan upaya pembentukan citra politik sejak jauh-jauh hari. Mulai dari mengunjungi pusat-pusat kegiatan rakyat di daerah, aktif dalam organisasi sosial ekonomi masyarakat, mendatangi daerah bencana dan memberi bantuan, hingga tampil dalam iklan ‘berbau’ layanan masyarakat atau kepedulian sosial di media massa. Politik pencitraan dilakukan dengan atau tanpa desain sebelumnya. Media massa sebagai salah satu instrumen komunikasi dengan kekuatan melipat gandakan pesan, disadari tak bisa lepas dari politik pencitraan capres. Aspek geografis dan demografis penduduk di Indonesia, membuat media massa mutlak dibutuhkan, agar citra politik capres yang ingin dibentuk, bisa menjangkau sebanyak mungkin calon pemilih, untuk kemudian mempersuasi mereka memilih calon presiden. Penelitian ini sengaja mengkomparasikan politik pencitraan Megawati Soekarnoputri yang didukung parpol besar dengan kekuatan mesin politiknya, dengan politik pencitraan Wiranto yang memasuki kancah perpolitikan nasional menggunakan kendaraan parpol baru dengan kesibukan membangun mesin politik. Pada saat itu mereka adalah kandidat potensial menghadapi SBY. Menggunakan metode kualitatif, penelusuran data dan analisis selama periode penelitian (2008) dilakukan dengan membagi wilayah penelitian ke dalam sejumlah indikator, lalu mencari perbedaan diantara temuan indikator politik pencitraan kedua capres (method of difference). Untuk itu, selain menggunakan berbagai literatur dan mencermati pemberitaan media massa, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan anggota tim sukses capres, termasuk orang di lingkaran dalam Megawati dan Wiranto. Karena politik pencitraan capres terkait pemanfaatan media massa bermuara pada citra politik capres yang direpresentasikan media massa, wawancara juga dilakukan terhadap pakar sekaligus pengamat politik yang memahami fenomena ini. Lalu untuk mengetahui apakah citra capres yang direpresentasikan media massa diapresiasi positif oleh publik, penulis menggunakan sejumlah hasil survei menyangkut presiden pilihan publik.

Page 1 of 1 | Total Record : 4