cover
Contact Name
Asep Harhar Muharam
Contact Email
jtsda@hathi.id
Phone
+6281284830523
Journal Mail Official
jtsda@hathi.id
Editorial Address
Gedung Direktorat Sumber Daya Air Lt. 8 Jl. Patimura No 20 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta - 12110
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Teknik Sumber Daya Air
ISSN : 24071048     EISSN : 29628105     DOI : -
Jurnal Teknik Sumber Daya Air (JTSDA) adalah jurnal berbahasa Indonesia yang memuat naskah ilmiah dalam bidang Teknik Sumber Daya Air dengan proses review secara double-blind peer-reviewed. JTSDA terbit 2 (dua) kali dalam setahun, open access, menerima berbagai tipe naskah, baik naskah penelitian (research articles), naskah kasus teknik (technical notes), ataupun naskah ulasan (review articles). Ketiga tipe naskah JTSDA tersebut mencakup aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak sumber daya air, sistem informasi sumber daya air, serta kelembagaan sumber daya air.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)" : 6 Documents clear
Pengembangan Model Optimasi Pemanfaatan Air Waduk Serbaguna Wonogiri Paska Pembangunan Closure Dike Yotam Adiel Haryanto; Rachmad Jayadi; Istiarto
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.999 KB) | DOI: 10.56860/jtsda.v2i1.25

Abstract

Untuk mengatasi persoalan sedimentasi Waduk Serbaguna Wonogiri telah dibangun closure dike yang menyebabkan terbentuknya dua buah tampungan, yaitu main reservoir (MR) dan sediment storage reservoir (SSR). Oleh karena itu potensi pemanfaatan air Waduk Serbaguna Wonogiri perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan kondisi terkini tampungan waduk. Penerapan usulan pedoman operasi waduk baru yang telah disiapkan dapat digunakan untuk evaluasi kinerja pemanfaatan air menggunakan pendekatan model optimasi. Pada makalah ini disampaikan hasil pengembangan awal model optimasi pemanfaatan air Waduk Serbaguna Wonogiri berbasis simulasi neraca air dalam bentuk perangkat lunak menggunakan pemrograman Microsoft Visual Studio 2019. Pengaturan release waduk didasarkan pada pedoman operasi waduk sesuai rekomendasi Nippon Koei Co. Ltd. tahun 2016 menggunakan algoritma optimasi metode Brute Force. Output dari perangkat lunak selanjutnya dianalisis untuk evaluasi kinerja operasi waduk. Simulasi neraca air waduk dilakukan dengan variasi nilai control water level (CWL), kondisi aliran inflow yaitu tahun basah, normal dan kering, serta skenario target release. Hitungan model optimasi pengaturan release waduk menggunakan perangkat lunak yang dibuat dapat dilakukan secara cepat dengan hasil yang akurat. Hasil analisis menunjukkan bahwa recovery muka air MR berhasil tercapai jika digunakan CWL +136,30 m dan hanya pada kondisi inflow tahun basah. Tingkat pemenuhan kebutuhan air rerata pada ketiga kondisi inflow tersebut berturut-turut sebesar 99,75%; 98,75%; 97,08% untuk CWL +135,80 m dan sebesar 99,83%; 98,75%; 94,58% untuk CWL 136,30 m.
Analisis Erosi pada Daerah Aliran Sungai Baturusa Aghata Christin Natalia; Roby Hambali; Fadillah Sabri
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.088 KB) | DOI: 10.56860/jtsda.v2i1.26

Abstract

DAS Baturusa merupakan DAS terbesar urutan keempat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setelah DAS Mancung, DAS Linggang, dan DAS Kurau. Maraknya aktivitas tambang ilegal disinyalir menjadi penyebab kerusakan DAS di Kepuluan Bangka Belitung, salah satunya DAS Baturusa. Kerusakan yang umum terjadi pada DAS yaitu erosi lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui laju erosi, persebaran tingkat bahaya erosi (TBE), besar sedimen yang dihasilkan oleh erosi lahan dan penurunan erosi setelah dilakukan simulasi konservasi tanah pada DAS Baturusa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode USLE, dan data yang digunakan adalah data curah hujan (R), peta jenis tanah (K), peta kemiringan lereng (LS), peta tutupan lahan (C), serta pengelolaan dan konservasi tanah (P). Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan metode USLE, diperolah laju erosi tertinggi pada DAS Baturusa sebesar 4.777,083 ton/ha/tahun dan masuk dalam kategori sangat berat, sedangkan laju erosi terkecil adalah 12,571 ton/ha/tahun, masuk dalam kategori sangat ringan. DAS Baturusa didominasi oleh TBE sangat berat dengan luas 54.624,19 Ha atau 86,028% dari luas total DAS. Besaran sedimen yang dihasilkan oleh erosi pada DAS Baturusa yaitu 2.058.970,298 ton/tahun. Dengan dilakukannya arahan konservasi tanah pada beberapa satuan unit lahan, terjadi penurunan erosi sebesar 18.501.265,83 ton/tahun (76,206%), dari laju erosi semula 24.277.889 ton/tahun menjadi 5.776.623,649 ton/tahun.
Pengaruh Erosi Lahan terhadap Kapasitas Sabo Dam Novika Komariona Dewi; Jazaul Ikhsan; Nursetiawan Ikhsan
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.717 KB) | DOI: 10.56860/jtsda.v2i1.29

Abstract

Indonesia memiliki banyak gunung aktif berapi salah satunya adalah Gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di Indonesia bahkan dunia yang dimana mengalami erupsi dengan mengeluarkan piroklastik sebesar 150 juta m3 pada tahun 2010 dan lebih dominan ke arah Kali Gendol dengan jarak mencapai 15 km. Piroklastik yang dikeluarkan akibat letusan Gunung Merapi akan mengendap, menumpuk dan terjadi sedimentasi bercampur dengan hasil erosi-erosi lahan di sekitar. Seiring berjalannya waktu, endapan tersebut nantinya akan tererosi kembali dan menyebabkan banjir lahar dingin ketika terjadi hujan. Untuk menanggulangi bencana aliran lahar dingin maupun sedimen agar tidak berpotensi mengancam keselamatan manusia, sarana prasarana bangunan umum, hunian, maupun daerah pertanian, maka dilakukan pembangunan sabo dam sebagai pengendali banjir lahar dingin. Salah satu sabo dam yang dibuat adalah GE-C Gadingan. Untuk mengetahui kemampuan sabo dam GE-C Gadingan dalam menampung sedimen, maka perlu diprediksi laju erosi yang terjadi dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dan SIG (Sistem Informasi Geografis) berbasis pixel atau software ArcGIS 10.1. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa: (1) Laju erosi di Sub-DAS Kali Gendol dengan menggunakan metode USLE sebesar 47.119,470 ton/ha/tahun, (2) Besar volume sedimen yang terjadi di Sub-DAS Kali Gendol sebesar 1.132.925 m3/tahun dan tidak ada yang akan terlimpas ke bangunan sabo dam GE-C Gadingan. tahun, (3) Kapasitas sabo dam GE-C Gadingan dalam menampung sedimen sebesar 29.659,71 m3. Sehingga, dapat dikatakan bahwa sabo dam GE-C Gadingan dapat menampung volume angkutan sedimen yang terjadi dalam satu tahun.
Evaluasi Pemanfaatan Data Pos Hujan dan Data Satelit TRMM dalam Pemodelan Debit Sintetik DAS Temef Davianto Frangky Welkis; Donny Harisuseno; Sri Wahyuni
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.449 KB) | DOI: 10.56860/jtsda.v2i1.30

Abstract

Rainfall data collection based on the TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) satellite provides a good alternative in estimating rainfall. TRMM technology can minimize manual rainfall recording errors and increase rainfall accuracy for hydrological analysis. From the results of the statistical relationship analysis, the most accurate results obtained are 9 years of calibration and 1 year of validation, the selected equation is a polynomial with the following equation y = 0.0112 x2 - 0.2564x + 4,1293, so that validation analysis is carried out with the selected equation so that the validation results are obtained against 1 year rainfall data for the RMSE value of 7.022. The NSE value is 0.923, the Correlation Coefficient is 0.94 and the relative error value is 5.48 and the results of the equation for discharge are modeling return periods of discharge 2, 5, 10, 20 and 25 years for discharge observations of 2 years return period; Q = 84.44, m3/s at 5 years return period; Q = 105.95 m3/s, 10 year return period; Q = 120.86 m3/s, 20 years return period; Q = 135.16 m3/s, 25 years return period; Q = 139.69 m3/s. Meanwhile, for the simulation discharge, the return period is 2 years; Q =51,84 m3/s at 5 year return period; Q = 65,35 m3/s, 10 year return period; Q = 74,15 m3/s, 20 years return period; Q = 84,89 m3/s, return period of 25 years; Q = 94,65 m3/s.
Evaluasi Penjadwalan Awal Tanam Padi untuk Efisiensi Irigasi Sri Wahyuni; Riyanto Haribowo; Dian Sisinggih; Yusril Fatrah; Ivan Dwi P
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.179 KB) | DOI: 10.56860/jtsda.v2i1.33

Abstract

Meningkatkan efektivitas penggunaan air dalam pertanian adalah subyek dari banyak penelitian karena secara signifikan dapat mengurangi produksi pertanian di banyak negara. Simulasi awal tanam merupakan salah satu strategi mengatasi keterbatasan air. Dengan areal persawahan seluas 1.005 ha, penelitian ini berupaya memodelkan penanaman awal padi di Daerah Irigasi Bilokka, Sulawesi Selatan. Teknik neraca air yang diterapkan pada saat penanaman pertama kali dijadwalkan, merupakan salah satu cara untuk mengetahui berapa banyak dan berapa lama tanaman membutuhkan pengairan. Kami membutuhkan informasi tentang cuaca, termasuk curah hujan. Parameter masukan yang dihitung adalah evapotranspirasi. Hasil menunjukkan bahwa: 1) Nilai evapotranspirasi berada pada kisaran 3-6 mm/hari; 2) Curah hujan andalan berkisar 0-110 mm/10hari, sedangkan curah hujan efektif 0-8 mm/hari; dan 3) Berdasarkan perhitungan pola tanam dengan jenis tanaman padi dengan dua musim tanam, kebutuhan air minimum terdapat pada alternatif III yaitu 1,56 liter/detik/ha dengan mulai tanam pada bulan November III. Opsi ketiga, yang dapat memangkas penggunaan irigasi sebesar 0,31 liter per detik per hektar (16%, atau 322 liter per detik untuk keseluruhan area irigasi), adalah alternatif yang sebaiknya diterapkan di lapangan. Daerah irigasi seluas 206 ha dapat dikembangkan dengan menggunakan efisiensi air yang ditemukan dalam simulasi ini. Pemda yang bertanggung jawab atas pengendalian irigasi juga dapat menggunakan temuan ini sebagai referensi.
Analisis Erosi Buluh pada Dasar Sungai Kuning, Yogyakarta Djoko Legono
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (Juni 2022)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.124 KB) | DOI: 10.56860/jtsda.v2i1.35

Abstract

Sungai-sungai yang herhulu dari kawasan vulkanik aktif pada umumnya merupakan sungai yang mengalir pada depositnya sendiri, seperti halnya sungai-sungai yang mengalir dari Gunung Merapi. Deposit ini terbentuk dari suatu fenomena erupsi yang memproduksi sejumlah material sedimen dengan berbagai ukuran dan karakteristika. Sifat atau karakteristika deposit ini akan dinamik seiring dengan interaksinya dengan fenomena hidrologi, utamanya aliran air akibat hujan di daerah tangkapan. Proses perubahan karakteristika deposit dapat berlangsung dalam waktu singkat (dalam rentang waktu harian) ataupun lambat laun (rentang waktu beberapa tahun), tergantung pada pemicunya yaitu aliran air dengan angkutan sedimennya. Fenomena penurunan tanah atau amblesan, termasuk erosi buluh atau piping merupakan salah satu dari banyak kasus akibat perubahan karakteristika deposit. Paper ini menyajikan analisis cepat (rapid assessment) tentang fenomena erosi buluh yang terjadi di K. Kuning, Gunung Merapi, tepatnya di sebelah hulu Bendung Samberembe, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa erosi buluh yang terjadi telah diawali dengan gejala dan fenomena dalam kurun waktu sekitar satu tahun sebelum fenomena terjadi. Proses-proses tersebut juga mengikuti kaedah fenomena kejadian erosi buluh yang dijelaskan oleh peneliti sebelumnya. Analisis lanjut menunjukkan bahwa erosi buluh dapat memicu laju intensitas gerusan lokal di pangkal ataupun pilar jembatan di sekitarnya. Hasil analisis juga memberikan saran atau rekomendasi tentang penanganan erosi buluh, utamanya untuk tujuan mitigasi kerusakan bangunan disekitar lokasi erosi buluh, baik Bendung Samberembe maupun pilar jembatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6