cover
Contact Name
Andrias Pujiono
Contact Email
shalom.jurnal@gmail.com
Phone
+6285273734314
Journal Mail Official
shalom.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padang Ratu. Perum. Villa Tamin Asri Blok A/4., Sukajawa, Tanjung karang barat, Lampung. 35151
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Shalom: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : -     EISSN : 27983021     DOI : 10.56191
Core Subject : Religion, Education,
Shalom: Jurnal Teologi Kristen (Jurnal Shalom) adalah jurnal teologi Kristen yang diterbitkan oleh STT Syalom Bandar Lampung. Shalom: Jurnal Teologi Kristen adalah wadah bagi para dosen dan peneliti dapat menerbitkan karya ilmiah mereka. Shalom: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dari seluruh Indonesia yang sesuai dengan focus and scope Shalom: Jurnal Teologi Kristen antara lain: antara lain:  1. Teologi Kristen 2. Pendidikan Agama Kristen 3. Etika Kristen 4. Kepemimpinan Kristen
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2022): Desember" : 5 Documents clear
Strategi Pelayanan Pastoral Terhadap Penyimpangan Perilaku Seks Wanita Lesbian Yulianus Bani; Purwisasi Yuli
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56191/shalom.v2i2.26

Abstract

As social beings, women need affection, love and attention. Lesbians are a serious problem in some workplaces where employees have to live in dormitories. The dormitories filled by most women in Batam are inseparable from lesbian behavior. Deviations in the sexual behavior of lesbian women also occur to Christian women. This research uses a literature study with a descriptive qualitative approach to obtain data. Data were obtained using sources such as books and journal articles. First, the discussion and results of this study, the researcher suggests about the basis of pastoral care for deviations in the sexual behavior of lesbian women. The biblical basis is the standard for knowing the truth about sex. Second, an understanding of the purpose of pastoral care for deviant lesbian sex behavior for Christians today. The purpose of pastoral care against lesbian sexual deviation is based on God's love. Third, in collecting data, the authors used open interviews for 6 lesbian women. Finally, the results of this study will conclude that Christians must have strategies that are adapted to the times in serving deviant lesbian sex behavior.   Abstrak Sebagai makhluk sosial wanita membutuhkan kasih sayang, cinta dan perhatian. Lesbian menjadi masalah serius di beberapa tempat kerja yang menerapkan karyawan harus tinggal di dormitori. Dormitori yang diisi oleh sebagian besar wanita di Batam tidak terlepas dari perilaku lesbian. Penyimpangan perilaku seks wanita lesbian juga terjadi kepada wanita-wanita Kristen. Dalam penelitian ini menggunakan studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh data. Data diperoleh dengan menggunakan sumber-sumber seperti buku dan artikel jurnal. Pembahasan dan hasil penelitian ini pertama, peneliti mengemukakan tentang dasar pelayanan pastoral terhadap penyimpangan perilaku seks wanita lesbian. Dasar yang alkitabiah menjadi standar untuk mengetahui kebenaran tentang hubungan seks. Kedua, pemahaman tentang tujuan pelayanan pastoral terhadap penyimpangan perilaku seks lesbian bagi orang Kristen masa kini. Tujuan pelayanan pastoral terhadap penyimpangan perilaku seks lesbian didasarkan kepada kasih Allah. Ketiga, dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan wawancara terbuka bagi 6 orang wanita lesbian. Terakhir hasil penelitian ini akan menyimpulkan bahwa orang Kristen harus memiliki strategi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dalam melayani penyimpangan perilaku seks lesbian. 
Manusia Dan Bencana Alam: Melihat Bencana Alam Dari Perspektif Soteriologis Dan Eskatologis Grace Son Nassa
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56191/shalom.v2i2.30

Abstract

Natural disasters are very common in Indonesia, but there are still many different views about what a natural disaster really is? So that biased views appear, such as accusing God of being evil and not paying attention to humans or natural disasters that are purely natural occurrences. This is not only happening among the general public, but also in the Christian community. This paper aims to show that this biased view of natural disasters is unfounded. Through soteriological methods and biblical metanarratives, it will be seen that through natural disasters, God is showing His great love for humans and intends to rebuke them for all the evil that was done before Him and the evil against nature, so that they turn to Him. Natural disasters are indeed scary things for the wicked, but they are a strengthening of faith for believers and a sign that later in the new heavens and earth, there will be no more natural disasters. Thus, it is better for believers to be actively involved in anticipatory actions for natural disasters than to argue.   Abstrak Bencana alam sangat sering terjadi di Indonesia, namun masih banyak perbedaan pandangan tentang apa sebenarnya bencana alam? Sehingga muncul pandangan-pandangan bias seperti menuduh Allah jahat dan tidak perhatian dengan manusia atau bencana alam murni kejadian alamiah. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan umum, tetapi juga ada di dalam komunitas Kristen. Tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa pandangan bias mengenai bencana alam tidak berdasar. Melalui metode soteriologis dan metanarasi alkitabiah, justru akan terlihat bahwa melalui bencana alam, Allah sedang menunjukkan sangat besar kasih-Nya terhadap manusia dan berniat untuk menegur mereka dari segala kejahatan yang dilakukan di hadapan-Nya dan kejahatan terhadap alam, agar mereka berbalik pada-Nya. Bencana alam memang hal yang menakutkan bagi orang fasik, namun menjadi penguatan iman bagi orang percaya dan tanda bahwa nanti di langit dan bumi yang baru, tidak ada lagi bencana alam. sehingga, lebih baik orang percaya terlibat aktif dalam tindakan antisipatif bencana alam daripada berdebat. 
Deskrisi Bahasa Lidah Berdasarkan Teologi Paulus Dan Lukas Sutikno Wijaya; Lasino
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56191/shalom.v2i2.33

Abstract

The phenomenon of speaking in tongues is often a debate among church because there are various kinds of doctrines about tongues. This problem is also exacerbated by the existence of exclusive statements about tongues, pentecostal and neo-pentecostal church often state that people who are filled with the Holy Spirit must speak in tongues, while the opposing with tongues-speaking people allege that the act is heretical and some who declared it a trance phenomenon. This writing method uses qualitative literature review to understand the essence of tongues in the church. In conclusion speaking in tongues is one of the gifts of the Holy Spirit and not an absolute sign of being filled with the Holy Spirit.   Abstrak Fenomena berbahasa lidah sering menjadi perdebatan antar aliran gereja, hal ini disebabkan oleh adanya berbagai macam doktrin tentang bahasa lidah. Permasalahan ini juga semakin runcing karena adanya pernyataan-pernyataan yang ekslusif tentang bahasa lidah, aliran gereja pentakosta dan neo-pentakosta sering menyatakan bahwa orang yang dipenuhi Roh kudus pasti berbahasa lidah, sedangkan aliran yang kontra dengan orang berbahasa lidah menuduh bahwa tindakan itu sesat dan ada pula yang menyatakan itu sebagai fenomena kesurupan. Metode penulisan ini menggunakan kualitatif dengan tinjauan pustaka untuk mengerti esensi bahasa lidah dalam bergereja. Kesimpulannya bahasa lidah merupakan salah satu karunia dari Roh Kudus dan bukan tanda mutlak dipenuhi Roh Kudus.
Mencermati Kisah Dipilihnya Matias Dari Spiritualitas Kaum Pentakostal Kosma Manurung
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56191/shalom.v2i2.34

Abstract

Both in organizations and in social life, the existence of a leader is absolutely necessary to ensure the maintenance of order and peace in life. The Bible gives various descriptions of the election of a person to become a leader, for example Joseph who was chosen as a leader because he was able to interpret the dreams of Pharaoh or Saul who became king of Israel by lot. This article intends to reinterpret the story of the choice of Matthias to replace Judas Iscariot in Acts 1:15-26 from the Pentecostal spirituality frame. By using descriptive research methods and support from literature studies, it is hoped that this research will be able to provide a strong explanation of the variety of leadership choices in the biblical picture, the story of the election of Matthias, and the meaning of the Pentecostals related to this story. It was found that for the Pentecostals, the story of the election of Matthias to replace Judas Iscariot was a decision of God whose election was carried out in God's way. This story is also interpreted as God's answer to restore the elect.    Abstrak Baik dalam organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat keberadaan pemimpin mutlak perlu untuk memastikan terjaganya ketertiban dan kedamaian hidup. Alkitab memberikan berbagai gambaran terpilihnya seseorang menjadi pemimpin, seumpama Yusuf yang terpilih jadi pemimpin karena mampu menafsirkan mimpi Firaun ataupun Saul yang menjadi raja Israel lewat undian. Artikel ini bermaksud memaknai ulang kisah dipilihnya Matias mengantikan Yudas Iskariot dalam Kisah Para Rasul 1:15-26 dari bingkai spritualitas Pentakostal. Dengan menggunakan metode penelitian deskripsi dan dukungan dari kajian literatur, penelitian ini dirahapkan mampu memberikan penjelasan yang kuat tentang ragam pemilihan pemimpin dalam gambaran Alkitab, kisah pemilihan Matias, dan pemaknaan kaum Pentakostal terkait kisah ini. Didapati bahwa bagi kaum Pentakostal, kisah dipilihnya Matias mengantikan Yudas Iskariot ini merupakan keputusan Allah yang pemilihannya dilakukan dengan cara Allah. Kisah ini juga dimaknai sebagai jawaban Allah untuk memulihkan umat pilihan.
Tinjauan Historis – Teologis Terhadap Potrait Yesus Menurut Perjanjian Baru Dan Implikasinya Terhadap Teologi Perjanjian Baru Kasieli Zebua; Melianus Hura
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56191/shalom.v2i2.35

Abstract

The Gospel is the Good News from God to mankind. The Gospel is God's eternal plan in His Only Begotten Son, Jesus Christ, revealed in His incarnation, ministry, suffering, death, resurrection until His coming. Jesus This is the basis and centrality in the Christian faith. Regarding Jesus Christ, many stories have been "fabricated" by His early followers, so that Christians in this century are "victims" of fictional or mere stories. Through a qualitative approach with descriptive analytical methods, namely historical - theological and Biblical texts, this scientific work attempts to describe credible and authentic thoughts and understandings based on the analysis of Christian orthodox (true) beliefs, which are believed throughout the history of Christian faith. The story of Jesus Christ (4 Gospels) is a historical fact. The death and resurrection of Jesus, which are often doubted stories by many, are the central story of worship and the foundation of all Christian thought, the sudden resurrection of an event that falls within the framework of Judeo-Christian history.   Abstrak Injil adalah Kabar Baik dari Allah untuk umat manusia. Injil merupakan rencana kekal Allah dalam Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus, yang dinyatakan dalam inkarnasi-Nya, pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan hingga kedatangan-Nya kembali. Yesus Inilah yang menjadi dasar dan sentralitas dalam iman Kristen. Mengenai Yesus Kristus, banyak kisah yang telah “direkayasa” oleh para pengikut-Nya mula-mula, sehingga umat  Kristen pada abad ini merupakan “korban” dari kisah fiktif atau khayalan semata. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, yakni analisis historis - teologis dan teks Alkitab, karya ilmiah ini berupaya mendeskripsikan pemikiran dan pemahaman yang kredibel dan autentik berdasarkan keyakinan kekristenan ortodoks (benar), yang diyakini disepanjang sejarah iman kekristenan. Kisah tentang Yesus  Kristus (4 kitab Injil) merupakan fakta sejarah. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, yang merupakan kisah yang seringkali diragukan oleh banyak orang, ini adalah kisah sentral dalam ibadah dan dasar dari semua pemikiran Kristen, kebangkitan bukanlah sekedar insiden melainkan sebuah peristiwa yang berada dalam kerangka sejarah Yudeo – Kristen.

Page 1 of 1 | Total Record : 5