cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 36, No 11 (2020)" : 5 Documents clear
Eksplorasi Faktor-faktor terkait Kinerja Pelayanan Kesehatan I Gusti Ayu Mirah Dwijayanti
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 36, No 11 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.53403

Abstract

AbstractPurpose : A local government hospital in Jakarta monitored the data of last three years of services, and indicated the declining of utilization of inpatient care. A study was done to explore factors related to this phenomenon in regard to identify room for improvement in hospital performance. Method : A qualitative method was employed, using case study design in year 2019.  This study used a descriptive and qualitative approach in a case study design. Applied Pabon Lasso model signified the hospital performance was categorized into first zone, meaning the low of Bed Occupancy Rate and Bed Turn Over. The data collected through in-depth interview, observation, and document review. Results : The Result showed that during a three-year period, hospital X in Jakarta were placed in zone 1, that is the inefficient area. The Hospital had exceeded number of beds, the low community demand to utilize the hospital service, slightly weak quality of care, and high competition with other health facilities in its surrounding area. Conclusion : The results indicated that the hospital is not efficient. It calls for review the number of bed and the stronger marketing. Keywords: Hospital, Jakarta, Performance, Quality of service, Pabon-Lasso model. Tujuan: Rumah sakit pemerintah daerah di Jakarta memantau data tiga tahun terakhir layanan, dan menunjukkan penurunan pemanfaatan rawat inap. Sebuah penelitian dilakukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang terkait dengan fenomena ini dalam hal mengidentifikasi ruang untuk peningkatan kinerja rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan tinjauan dokumen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode tiga tahun, rumah sakit X di Jakarta berada pada  zona 1, yaitu daerah yang tidak efisien. Rumah sakit telah melebihi jumlah tempat tidur, permintaan masyarakat yang rendah untuk menggunakan layanan rumah sakit, kualitas perawatan yang sedikit lemah, dan persaingan yang tinggi dengan fasilitas kesehatan lain di daerah sekitarnya. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah sakit tidak efisien. hal ini memerlukan peninjauan terhadap jumlah tempat tidur dan pemasaran yang lebih kuat. Kata Kunci: Rumah sakit, Jakarta, Kinerja, Kualitas Pelayanan, Pabon-Lasso Model
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL-FALAH GORONTALO Mursyidah Khairiyah; Abdul Wahab; Ova Emilia
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 36, No 11 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.57244

Abstract

AbstrakTujuan : Untuk membuktikan apakah terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian dismenore pada remaja putri. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan studi desain cross-sectional. analisis inferensial menggunakan uji Chi square serta dilanjutkan dengan analisis regresi logistik. Hasil : analisis multivariabel menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan dismenore primer dilihat dari nilai P-value 0,023 dan 0,0003 nilai PR = 3,48 dan 3,6. Variabel luar yang memiliki hubungan yang bermakna dengan dismenore primer adalah IMT/U dengan kategori gemuk nilai P-value 0,011 dan nilai PR 0,30, KEK dengan dengan nilai P-value 0,001 PR 3,20, menarche dengan nilai P-value  0,005 dan 0,025, nilai PR 2,92 dan 10,6. Kesimpulan : Aktivitas fisik rendah dan sedang berisiko lebih tinggi untuk mengalami dismenore primer dibandingkan dengan yang memiliki aktivitas fisik tinggi. Faktor yang berhubungan dengan kejadian dismenore primer adalah IMT/U dengan gemuk, Status KEK dengan LILA <23,5, Usia menarche <12 tahun dan >13 tahunKata kunci : Aktivitas Fisik, Dismenore, Remaja
Evaluasi Pelaksanaan Si Kesi Gemes (Sistem Penguatan Kelurahan Siaga dalam rangka Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) di Kota Yogyakarta
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 36, No 11 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.58985

Abstract

Latar belakang: Kelurahan siaga merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat. Data terakhir yang diperoleh dari Pusdatin tahun 2013 jumlah desa dan kelurahan siaga aktif di Indonesia sebesar 65,2% dan DIY sebesar 94,3%. Jumlah kelurahan Siaga di Kota Yogyakarta tahun 2016 mencapai 100% namun mengalami mati suri. Revitalisasi kelurahan siaga dilakukan dengan menetapkan jejaring Si Kesi Gemes.Tujuan Penelitian: Mengevaluasi pelaksanaan Si Kesi Gemes di Kota Yogyakarta.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif eksploratif dengan rancangan studi kasus tunggal. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling. Informan yang dipilih adalah perangkat daerah dan lembaga swadaya masyarakat yang terdaftar dalam jejaring Si Kesi Gemes. Pengambilan data dilakukan dengan FGD, wawancara mendalam dan observasi. FGD dilakukan pada 2 kelompok, wawancara mendalam pada 21 orang. Keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi dan peer debriefing.Hasil: Pembentukan Si Kesi Gemes dilakukan dengan kombinasi top down dan partisipatif. Top down karena jejaring diinisiasi dan dibentuk oleh Dinas Kesehatan, sedangkan partisipastif karena melibatkan Kesi dalam pembentukan jejaring wilayah. Si Kesi Gemes berperan dalam mengaktifkan koordinasi Kesi dan memperluas kerja sama dengan fasyankes swasta, perguruan tinggi kesehatan dan pengusaha lokal. Hambatan pelaksanaan peran terutama pada ketidakpahaman peran pembinaan, kompetensi petugas promkes yang tidak sama, komitmen pembinaan yang rendah dan tidak adanya sinergi program kelurahan siaga dan kota sehat. Peran jejaring dipengaruhi persepsi terhadap Si Kesi Gemes, motif keterlibatan yang berbeda dan modal sosial yang kuat. Efektivitas Si Kesi Gemes dilihat melalui akomodasi Kesi dalam dana kelurahan, aktifnya forum koordinasi kelurahan, pendanaan dari CSR, peningkatan keaktifan UKBM posbindu, serta memunculkan inovasi kegiatan. Pembinaan UKBM masih didominasi puskesmas dan pelatihan tidak sesuai kebutuhan.Kesimpulan: Pembentukan Si Kesi Gemes sangat dibutuhkan untuk mengikat keterlibatan jejaring dalam mendukung kelurahan siaga. Kesi, FKKS dan FKS diharapkan mengagendakan koordinasi jejaring secara rutin di tingkat kelurahan, kecamatan dan kota.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Kesehatan Gigi Mulut dengan Angka Karies pada Masyarakat Perdesaan (Kajian pada Desa Karangtengah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas)
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 36, No 11 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.60517

Abstract

Introduction: The results of Riskesdas (Baseline Health Research) by Indonesian Ministry of Health in 2018 showed that the caries rate in rural areas was higher than in urban areas. However, the number of villagers receiving dental and oral health care was lower in comparison to urban communities. Karangtengah Village was located in the Baturraden District, Banyumas Regency which is a rural area. Purpose: This study aimed to determine the correlation of knowledge and attitude about oral health with caries rate in Karangtengah Village. Method:The study was an observational analytical research. Subjects were chosen using purposive sampling technique. Total subjects were 388 residents. The knowledge and affective data were collected using questionnaire and the caries rate was scored using DMF-T. Data was analyzed using Pearson correlation test (SPSS 22). Results: The results showed that the oral health knowledge and attitude of the majority of Karangtengah Village residents were in moderate category (48.7% and 66.8% respectively), while the average DMF-T score was 13.12 (very high). The statistical analysis showed no significant correlation between knowledge and DMF-T score as well as between attitude of oral health and DMF-T score (p>0.5). Conclusion:The moderate category of oral health knowledge and attitude in rural may have not applied as oral health behaviors therefore contribute to high dental caries rates.
HUBUNGAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS SARANA AIR BERSIH (SAB) DAN HYGIENE SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI WILAYAH PUSKESMAS TULAKAN KABUPATEN PACITAN Purwanto Purwanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 36, No 11 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.60549

Abstract

HUBUNGAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS  SARANA  AIR  BERSIH (SAB)  DAN  HYGIENE  SANITASI  LINGKUNGAN  DENGAN KEJADIAN DIARE DI  WILAYAH PUSKESMAS TULAKAN KABUPATEN PACITAN Purwanto1, Sudarmadji2, Titik Nuryastuti2             AbstractBackground: Diarrhea is the leading cause of death and morbidity in the world, this is due to environmental sanitation, food and beverage sanitary hygiene is not good and contaminated clean water sources. In 2018 Tulakan Public Health Center the highest diarrhea incidence rate in Pacitan Regency, case finding of 848 patients of the target coverage of 1,506 patients with 297 (35%) of the total sufferers were toddlers. Clean water facilities that meet the requirements are among the lowest 3 out of 24 Tulakan Public Health Center in Pacitan Regency with a coverage of 53%. Purpose: To analyze the relationship between Bacteriological Quality of Clean Water Facilities (SAB) and Environmental Sanitation Hygiene is a risk factor for diarrhea in the Tulakan Public Health Center Pacitan Regency. Methods: This type of quantitative analytic study was design Cross Sectional with a sample of mothers who had children under five to seek treatment at the Tulakan Public Health Center Pacitan Regency from March to April 2020 with a total of 50 respondents. Data analysis used Chi Square test and Logistic Regression. Results and Discussion: The variables related to the incidence of diarrhea, namely 1) the bacterial quality of SAB p = 0,0018 PR 2,4 CI95% 2) healthy latrines p = 0,0002 PR value = 3.6 CI95% 3) doing CTPS p = 0,0002 PR = 2,9 CI95% 4) management of SAB p = 0,0016  PR = 2,2 CI95% 5) management of food and beverage 0,0046 PR = 2,3 CI95%. The multivariate result of the highest OR value was the behavior of doing CTPS, namely = 535 CI95% p value = 0,003. Conclusion: The incidence of diarrhea in toddlers is related to the bacteriological quality of clean water facilities and environmental sanitation hygiene, which are risk factors. The most dominant factor related to the incidence of diarrhea in toddlers is washing hands with soap (CTPS). Keywords: Bacteriological Quality of Water, Environmental Sanitation Hygiene, Diarrhea, CROSS SECTIONAL INTISARILatar Belakang : Diare adalah penyebab utama kematian dan morbiditas di dunia, ini disebabkan sanitasi lingkungan, hygiene sanitasi makananan minuman tidak baik dan sumber air bersih yang terkontaminasi. Pada tahun 2018 Puskemas Tulakan angka kejadian diare tertinggi se - Kabupaten Pacitan penemuan kasus 848 penderita dari target cakupan 1.506 penderita dengan jumlah 297 (35%) dari total penderita adalah balita. Sarana Air Bersih yang memenuhi syarat termasuk 3 besar terendah dari 24 Puskesmas di Kabupaten Pacitan dengan cakupan 53%. Tujuan Penelitian : Menganalisa hubungan Kualitas Bakteriologis Sarana Air Bersih (SAB) dan Hygiene Sanitasi Lingkungan merupakan faktor resiko kejadian diare di Wilayah Puskesmas Tulakan Kabupaten Pacitan. Metode Penelitian : Jenis penelitian kuantitatif analitik rancangan Cross Sectional dengan sampel adalah ibu yang memiliki anak balita berobat ke Puskesmas Tulakan Kabupaten Pacitan pada bulan Maret sampai April 2020 dengan jumlah 50 responden. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Regresi Logistik. Hasil Penelitian : Variabel yang berhubungan yang dengan kejadian diare yaitu 1) kualitas bakterilogis SAB p = 0,0018 PR 2,4 CI95%  2) jamban sehat p = 0,0002 nilai PR = 3,6 CI95% 3) melakukan CTPS p = 0,0002  PR = 2,9 CI95%  4) pengelolaan SAB p = 0,0016 PR = 2,2 CI95% 5) pengelolaan makanan minuman 0,0046 PR = 2,3 CI95%. Hasil multivariat nilai OR tertinggi adalah perilaku melakukan CTPS yaitu = 535 CI95% nilai p = 0,003. Kesimpulan : Kejadian diare pada balita berhubungan dengan kualitas bakteriologis sarana air bersih dan hygiene sanitasi lingkungan yang merupakan faktor resiko. Faktor paling dominant berhubungan dengan kejadian diare pada balita adalah melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS).Kata kunci :   Kualitas Bakteriologis Air, Hygiene Sanitasi Lingkungan, Diare, CROSS SECTIONAL

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue