cover
Contact Name
Luqman Qurata Aini
Contact Email
luqman.fp@ub.ac.id
Phone
+6281252663348
Journal Mail Official
jurnalhpt@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23384336     EISSN : 25806459     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan (Jurnal HPT) memuat naskah artikel yang berkaitan dengan hama dan penyakit tumbuhan, termasuk karakterisasi, deteksi, identifikasi, fisiologi, biokimia, ekologi, epidemiologi, biologi molekuler hama dan patogen tumbuhan, serta pengendaliannya secara kimia dan biologi. Artikel dapat berupa hasil penelitian mutakhir atau temuan terbaru mengenai hama dan penyakit tumbuhan. Naskah artikel yang diterima adalah naskah yang belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses publikasi pada berkala ilmiah nasional maupun internasional lainnya.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2019)" : 5 Documents clear
PENGARUH KONSENTRASI BAHAN PELINDUNG TEH (Camellia sinensis L.) KEMASAN UNTUK MEMPERTAHANKAN EFEKTIVITAS SlNPV JTM 97C DALAM MENGENDALIKAN Helicoverpa armigera (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) Tiara Eka Ariestantia; Tutung Hadiastono; Fery Abdul Choliq; Bedjo Bedjo
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV) JTM 97 C adalah salah satu agens hayati yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama Helicoverpa armigera. Tetapi kelemahan dalam penggunaan SlNPV adalah pada saat diaplikasikan di lapangan keefektifannya dapat menurun setelah terpapar sinar matahari, khususnya sinar ultraviolet (UV). Sehubungan dengan hal tersebut, dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bahan pelindung nabati dari teh kemasan yang diketahui mengandung epigallocatechin gallate, caffeic acid, dan apigenin yang dapat berfungsi sebagai pelindung UV.  Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Kendalpayak, Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan: kontrol tanpa SlNPV JTM 97 C, SlNPV JTM 97 C tanpa bahan pelindung, SlNPV JTM 97 C + kaolin, SlNPV JTM 97 C + ekstrak daun teh  konsentrasi 0.5%, SlNPV JTM 97 C + ekstrak daun teh konsentrasi 1%, SlNPV JTM 97 C + ekstrak daun teh konsentrasi 1.5%, SlNPV JTM 97 C + ekstrak daun teh konsentrasi 2%, dan SlNPV JTM 97 C + ekstrak daun teh konsentrasi 2.5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi bahan pelindung teh kemasan tidak terbukti memberikan pengaruh yang berbeda dalam melindungi SlNPV JTM 97 C, namun bahan pelindung teh kemasan memiliki potensi yang baik untuk digunakan sebagai bahan pelindung nabati.
PENGARUH REFUGIA TERHADAP DIVERSITAS ARTHROPODA PADA SAWAH PADI DI DESA SUMBERBANJAR, BLULUK, LAMONGAN Lifatin Nur Ida Lailiyah; Sri Karindah; Gatot Mudjiono
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan musuh alami dipengaruhi oleh keanekaragaman tanaman pada lahan budidaya, misalnya keberadaan tumbuhan liar. Oleh karena itu penelitian tentang pengaruh tanaman refugia terhadap diversitas arthropoda dilakukan pada sawah padi desa Sumberbanjar, Bluluk, Lamongan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari tiga perlakuan. Penelitian ini mengamati diversitas arthropoda pada tumbuhan liar (P. oleracea, C. iria, C. rotundus dan E. indica), wijen dan kacang hijau serta padi. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda (H’) pada ketiga pertanaman padi yaitu pertanaman padi dengan pematang ditanami wijen dan kacang hijau, pertanaman padi dengan pematang tumbuhan liar dan pertanaman padi dengan pematang dibersihkan mempunyai nilai indeks keanekaragaman yang berfluktuasi. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda tertinggi pada semua perlakuan adalah pada 50 HST, yaitu pada pertanaman padi dengan pematang wijen dan kacang hijau, pertanaman padi dengan pematang tumbuhan liar dan pertanaman padi dengan pematang dibersihkan (kontrol) adalah 2,20, 2,02 dan 1,56 yang tergolong keanekaragaman sedang. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda pada semua perlakuan mengalami penurunan pada fase generatif. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda terus menurun pada semua perlakuan, pada 71 HST nilai indeks keanekaragaman adalah 0 sampai dengan sebelum panen. Sedangkan nilai keseragaman artropoda (E) dari ketiga pertanaman padi tersebut rendah, sehingga tidak ada spesies yang mendominasi pada ketiga pertanaman padi tersebut.
IDENTIFIKASI DAN UJI PERKECAMBAHAN SPORA JAMUR PATOGEN YANG MENYEBABKAN BERCAK DAUN PADA TANAMAN KAKTUS PAKIS GIWANG (Euphorbia milii) Devia Enitasepa; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit yang sering ditemukan pada tanaman hias Euphorbia milii adalah penyakit bercak daun. Namun, penyebab penyakit bercak daun pada tanaman E. milii masih belum banyak diketahui hingga saat ini. Perkecambahan merupakan faktor yang penting bagi kelangsungan hidup spora. Pada beberapa kasus tertentu diketahui bahwa pertambahan spora patogen dapat dirangsang oleh metabolit sekunder tanaman yang rentan terhadap patogen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit bercak daun pada tanaman E. milii dan perkecambahan spora jamur patogen yang menyebabkan penyakit bercak daun pada berbagai konsentrasi ekstrak daun E. milii. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Identifikasi penyakit bercak daun dilakukan dengan menggunakan uji postulat Koch. Pengujian perkecambahan spora memakai ekstrak daun E.milii dengan perlakuan konsentrasi ekstrak 0, 10, 25, 50, 100%, dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Percobaan ini disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil dari  identifikasi didapatkan  bahwa penyakit bercak daun pada tanaman E. milii disebabkan oleh jamur Pestalotia sp. Persentase tertinggi dari perkecambahan spora jamur patogen Pestalotia sp. pada ekstrak tanaman E. milii dan air destilasi ditunjukkan pada perlakuan kontrol dengan nilai 82,25%, dan nilai terendah yaitu pada perlakuan ekstrak daun E. milii 100% dengan nilai 52,83%.
PENGARUH APLIKASI FUNGISIDA MAJEMUK (b.a : Benalaksil 8% dan Mankozeb 65%) TERHADAP KEANEKARAGAMAN JAMUR ENDOFIT TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DAN TERHADAP JAMUR Fusarium oxysporum IN VITRO Hanis Alifatuz Zakiyah; Liliek Sulistyowati; Abdul Cholil
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan fungisida dengan berbagai bahan aktif dapat meningkatkan produksi namun aplikasi fungisida dihawatirkan dapat menimbulkan penurunan keanekaragaman jamur endofit yang dapat memberikan ketahanan terhadap patogen bagi inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungisida majemuk (b.a : benalaksil 8% dan mankozeb 65%) terhadap keanekaragaman jamur endofit pada tanaman bawang merah, dan fungisida dengan THR tertinggi untuk menghambat pertumbuhan jamur F. oxysporum in vitro. Variabel yang diamati pada saat eksplorasi adalah nilai keanekaragaman jamur endofit di setiap perlakuan fungisida. Sedangkan variabel pada penelitian in vitro antara lain pertumbuhan diameter koloni F. oxysporum dan tingkat hambatan relatif fungisida. hasil penelitian menunjukkan  nilai keanekaragaman jamur endofit sebelum perlakuan fungisida majemuk sebesar 12,35, nilai keanekaragaman pada pertengahan perlakuan fungisida sebesar 15,13 dan pada 1 minggu setelah aplikasi fungisida terakhir sebesar 12,11. Dari hasil analisis keanekaragaman menunjukkan bahwa aplikasi fungisida majemuk mampu menurunkan keanekaragaman jamur endofit bawang merah. Hasil penelitian in vitro menunjukkan semua perlakuan fungisida dapat menekan pertumbuhan koloni F. oxysporum pada media PDA. Tingkat hambatan relatif (THR) media PDA paling tinggi adalah pada mankozeb 65% sebesar 80,72% diikuti oleh fungisida majemuk sebesar 76,93%, dan benalaksil 8%  sebesar 10,59%.
APLIKASI METODE CAWAN NUTRISI MENGGUNAKAN KOMBINASI JARAK PAGAR DAN LAMTORO GUNG UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN KEDELAI DALAM KONDISI ENDEMIS Sclerotium rolfsii Sacc. DAN STRESS MANGAN (Mn) Nisa Kartika Sari; Anton Muhibuddin; Muhammad Akhid Syib’li
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit dan Screen House Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: 1) Jumlah mikoriza per 100 gram tanah; 2) Persentase serangan patogen Sclerotium rolfsii; 3) Persentase gejala keracunan Mangan (Mn); dan 6) Pertumbuhan tanaman kedelai. Jenis mikoriza yang ditemukan yaitu Glomus sp. Perlakuan tumpangsari jarak pagar dan lamtoro gung menunjukkan hasil  penambahan jumlah mikoriza yang signifikan dibandingkan dengan tanpa tanaman jarak pagar dan lamtoro gung. Aplikasi mikoriza mampu menekan serangan patogen S. rolfsii dengan persentase kematian yang sangat rendah. Kombinasi jarak pagar, lamtoro gung,dan mikoriza mampu menurunkan gejala keracunan akibat pencemaran unsur logam Mangan (Mn). Gejala keracunan terendah terdapat pada perlakuan P6 (J3L2) yaitu 3 tanaman jarak pagar dan 2 tanaman lamtoro gung, dan perlakuan P9 (J3L3) yaitu 3 tanaman jarak pagar dan 3 tanaman lamtoro gung dengan persentase gejala keracunan sebesar 4,76%. Perlakuan P0 (J0L0) yaitu tanpa tanaman jarak pagar dan lamtoro gung menunjukkan hasil gejala keracunan paling tinggi dengan persentase keracunan Mn sebesar 89,68%. Pertumbuhan tanaman kedelai paling rendah ditunjukkan pada perlakuan P0 (J0L0) yaitu tanpa tanaman jarak pagar dan lamtoro gung dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang ditanam bersama dengan jarakpagar dan lamtoro gung.

Page 1 of 1 | Total Record : 5