cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2015): December 2015" : 8 Documents clear
POS-ISLAMISME “ILMU” EKONOMI ISLAM DI ERA URBAN DAN MULTIKULTURALISME Addi Rahman
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.87 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.46

Abstract

Islamic economics was born from the spirit of Islamization of science. It was a response to the problems and realities of Muslims who face malaise in the middle of the feud ideologies of capitalism and socialism. However, after the Islamisation process took place, there were some fundamental problems: the hegemony of the market, popularism of Islamic economics as a result of the crisis of epistemology. This is the new face of Islamic economics stub of post-Islamism. The economic problems, particularly in Indonesia, should be viewed as a complex things, then analyze and tie the formulation of solution must alsobe done by the complex or plural approach. For this purpose, it would be required a pilot of a systematic framework of Islamic economics epistemology in the world view of Islam. At this point, indonesialize the Islamic economics is part of efforts to establish an economic framework in accordance with the spirit and rich culture of indigenous people of Indonesia. Moreover, in the context of the postmodernist paradigm of economic development, local wisdom should be involved in economic development which is an effort to actualize the sustainable economic development Sebagai disiplin ilmu, ekonomi Islam lahir dari semangat islamisasi ilmu pengetahuan. Ia merupakan respon terhadap persoalan dan realitas umat muslim yang mengalami malaise di tengah perseteruan ideologi kapitalisme dan sosialisme. Namun, setelah proses islamisasi itu berlangsung, terdapat persoalan mendasar: yaitu hegemoni pasar, popularisme ekonomi Islam sebagai dampak dari krisis epistemologi. Inilah yang menjadi wajah baru rintisan ilmu ekonomi islam pos-islamisme. Berangkat dari permasalahan ekonomi, khususnya di Indonesia, semestinya dilihat secara kompleks, maka mengurai dan merajut formulasi solusinya harus pula dengan pendekatan yang kompleks atau plural. Untuk tujuan ini, maka diperlukan sebuah rintisan kerangka epistemologi ekonomi Islam yang tersistem dalam world view Islam Pada titik ini, mengindonesiakan ekonomi Islam merupakan bagian dari upaya membentuk kerangka ekonomi yang sesuai dengan nafas budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang sangat kaya. Terlebih, dalam konteks paradigma pembangunan ekonomi pascamodernis, semestinya melibatkan kearifan lokal dalam pembangunan ekonomi yang merupakan upaya mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable development)
BANK GELAP DI KOTA BUKITTINGGI (RESISTENSI EKONOMI MASYARAKAT PERKOTAAN DALAM MENGHADAPI PEMODAL ETNIK LAIN) Helfi - Helfi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.604 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.2

Abstract

The difficulties in getting the allowance from the public bank have some customers try to find the alternative way in having loan which is usually called as “Bank Gelap” or “ Bank 47”. “Bank 47” which is originally come from Batak has a simple process and does not need any prerequirements. The illegal financial activity is administered in almost all area in West Sumatera and Riau. When the local economy began in the grip of other ethnics, especially those in the heart of Bukittinggi, that the ownership shifted slowly disturbed the local community. The logical consequence of the local economy mastery will bring ripples that could cause conflict, the struggle for economic resources, and larger and wider tensions. They provide range of credits from hundreds of thousand rupiah till five thousands rupiah with 20 % of bank interest. The success implications of the capital trading from Batak is transformed as lands, business place, housing and etc. Kesulitan dalam mendapatkan tunjangan dari bank umum menyebabkan beberapa pelanggan mencoba untuk menemukan cara alternatif dalam pinjaman kredit yang biasanya disebut sebagai “Bank Gelap”. “Bank 47” memiliki proses yang sederhana dan tidak memerlukan prerequirements. Pemilik “Bank 47” awalnya berasal dari suku Batak. Aktivitas keuangan ilegal diberikan di hampir semua daerah di Sumatera Barat dan Riau. Ketika ekonomi lokal mulai dirasa berada dalam cengkraman etnik imigran lain khususnya yang berada di jantung-jantung kota Bukittinggi yang secara perlahan beralihnya kepemilikan tempat perdagangan sudah merisaukan komunitas lokal. Konsekwensi logis dari penguasaan ekonomi lokal akan memunculkan riak-riak yang dapat menyulut konflik, perebutan sumber ekonomi dan ketegangan yang lebih besar dan luas. Tradisi ekonomi mereka menyediakan berbagai kredit dari ratusan ribu rupiah hingga lima ribu rupiah dengan 20% dari bunga bank. Implikasi dari keberhasilan dalam perdagangan modal dari suku Batak ditransformasikan sebagai tanah, tempat usaha, perumahan dan sebagainya.
BANGLADESHI MUSLIM CONSTRUCTION WORKERS IN SINGAPORE: A STUDY IN THE PROCESS OF MIGRATION AND EMPLOYMENT Sanghita Datta
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.914 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.47

Abstract

Singapore  has a long history  of receiving  labor  migrants  from all across South Asia and it has systematically  developed  a whole  range of strategies  to deal with  the shortage  of labourers  in the country.  Recent research has shown that to fulfill these shortages, large numbers of labourers are hired from Bangladesh Muslim. These labourers are temporary migrants and work in various construction sites in the country. Using field  research  (unstructured   interviews   and purposive  sampling)  as the  chief  method,  with  supporting  secondary data  from  library  research  newspaper  archives  and internet,   this  research focuses on Bangladesh's  migrant  workers  in Singapore specifically working  in the construction   sites. It will  look at what goes into the decision making or the choice of a certain  foreign   country  over  the  other  and the  role  of the  family  in the  decision  making  process.  Understanding   the process of socialization  among these  migrants  and how they  try to  bridge the gaps between  their  home  and the foreign work  place by creating a home away from  home, will  also be highlighted.   Singapura memiliki sejarah panjang menerima tenaga kerja migran dari seluruh Asia Selatan dan telah sistematis mengembangkan berbagai macam strategi untuk menghadapi kekurangan buruh di negara ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa untuk memenuhi kekurangan tersebut, sejumlah besar buruh dipekerjakan dari Bangladesh Muslim. Para buruh ini merupakan migran sementara dan mereka bekerja di berbagai konstruksi di negara ini. Dengan menggunakan penelitian lapangan (wawancara terstruktur dan purposive sampling) sebagai metode utama, dengan didukung oleh data sekunder dari perpustakaan, arsip, koran, penelitian, dan internet, penelitian ini berfokus pada pekerja migran Bangladesh di Singapura secara khusus bekerja di lokasi konstruksi. Penelitian ini akan melihat apa yang terjadi dalam pengambilan keputusan atau pilihan dari negara asing tertentu atas yang lain dan peran keluarga dalam proses pengambilan keputusan. Memahami proses sosialisasi di antara para migran dan bagaimana mereka mencoba untuk menjembatani kesenjangan antara keluarga dan tempat kerja asing dengan menciptakan suasana seperti dirumah sendiri meskipun mereka jauh dari rumah juga akan disorot.
GERAKAN SEMPALAN AHMADIYAH :DARI FENOMENA URBAN KEAGAMAAN REFORMIS KE MESSIANIS-INTROVERSIONIS Nunu Burhanuddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.712 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.43

Abstract

The phenomenon of fragment movement in Indonesia nowaday becomes very popular along with the lunge and the accompanying notes. Recently, it is reported the existence of fragment such as the Ismailis, Baatinites, and Qaramithah of the Shiite sect; Bahaiyyah and Ahmadiyah, and so on. The topic of this study is the existence of Ahmadiyah, a fragment drifts in Islam of this country and has aroused many debates, even leads to chaos. This study used three instruments, namely concepts, propositions and theories. The three instruments is a methodology to clarify the limits and substance of the examined. From the result of research, it can be explained that the Ahmadiyah initially present itself (in India-Pakistan and also in Indonesia) as a religious reformer sect, submissive to justice and nationality. Then, Ahmadiyah becomes very messianic-introversionis and avoid the activities outside their own circles. Ahmadiyya ever involved in Islamisation process of Indonesian scholars during the colonial era, then changed by eliminating its function as a pioneer reformism and rationalism in Islam. Fenomena gerakan sempalan di Indonesia dewasa ini menjadi sangat populer seiring dengan sepak terjang dan catatan yang menyertainya. Belakangan ramai diberitakan keberadaan aliran sempalan seperti  Ismailiyah, Batiniyah, dan Qaramithah dari sekte Syiah;  Bahaiyyah dan Ahmadiyah, dan sebagainya. Pada aras ini eksistensi kelompok sempalan yang diteliti adalah Ahmadiyyah, suatu aliran yang menyempal dalam agama Islam di tanah air dan telah menuai banyak perdebatan, dan bahkan memicu terjadinya chaos. Penelitian ini menggunakan tiga instrumen yaitu konsep, proposisi dan teori. Ketiga intrumen ini merupakan bangunan metodologi untuk memperjelas batasan dan substansi yang dikaji. Dari hasil penelitian dapat diuraikan bahwa Ahmadiyah pada mulanya menampilkan diri (di India-Pakistan dan juga di Indonesia) sebagai aliran keagamaan reformis, berkhidmat kepada keadilan dan kebangsaan. Belakangan Ahmadiyah menjadi sangat messianis-introversionis dan menghindar dari kegiatan di luar kalangan mereka sendiri. Ahmadiyah yang pernah memainkan pengislaman kaum terdidik di Indonesia pada masa penjajahan, kemudian berubah dengan menghilangkan fungsinya sebagai pelopor reformisme dan rasionalisme dalam Islam
PERANAN PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK (P2TP2A) DALAM MENGHAPUSKAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DI KOTA BUKITTINGGI Rafikah Rafikah
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1182.097 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.48

Abstract

Violence in the house-hold (domestic violence) becomes an important issue in recent decades. According to the World Health Organization (WHO) between 40 to 70 percent of women in the world die for the violence in the household. In Indonesia, over the years the number of victims of domestic violence is increasing, so that led to the nativity of Law No. 23, 2004. By the law, there will be the power of law to govern the domestic violence cases in Indonesia, as well as an effort to overcome the problem of domestic violence in Indonesia. In order to provide the services for victims of violence at the Women and Child Protection, the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (State Ministry of PP & PA) formed the Integrated Service Center for Women's Empowerment and Child (P2TP2A), special for Bukittinggi. Women's Empowerment and Child Protection (P2TP2A) Bukittinggi is an integrated activity center that provides services for women and children victims of violence in Bukittinggi which includes information services, psychological and legal consultation, assistance and advocacy as well as medical services. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi isu penting dalam beberapa dekade terakhir ini. Menurut laporan World Health Organization (WHO) antara 40 hingga 70 persen perempuan di dunia meninggal akibat kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga. Di Indonesia, dari tahun ke tahun jumlah korban KDRT selalu meningkat, sehingga mendorong lahirnya Undang-Undang No. 23 tahun 2004. Dengan Undang-undang tersebut, ada kekuatan hukum yang mengatur masalah kasus KDRT di Indonesia, sekaligus sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan KDRT di Indonesia.  Secara spesifik, untuk memberikan pelayanan bagi korban kekerasan pada Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemeneg PP &PA) membentuk Pusat pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). khusus Kota Bukittinggi. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) kota Bukittinggi adalah pusat kegiatan terpadu yang menyediakan pelayanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan di Bukittinggi yang meliputi pelayanan informasi, konsultasi psikologis dan hukum, pendampingan dan advokasi serta pelayanan medis
COMPARING PATHWAYS AND OUTCOME FOR PATANI MUSLIM WOMEN OF DIFFERENT EDUCATION SYSTEMS SINCE 1959 Taweeluck Pollachom
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1266.988 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.44

Abstract

A new era of resolving the conflicts in the three southern border provinces of  Thailand began in the time of Field Marshal Sarit Thanarat  (1959-1963), with an assimilationist policy toward the Malay Muslims of the three southern  provinces. This involved not only assimilation through  educational, economic, and social development policies but also assimilation of the Malay Muslims in the southern border provinces with the Muslims of the central areas of Thailand through variou sgovernment  projects, such as the dhammacharika project. These projects initially began with an emphasis on the religious leaders of the communities, on bringing Muslim students on field trips to Bangkok, and on providing  instruction  and training  for  Muslim  women. All of these projects received support  from various Muslim associations and organizations in central Thailand. Eventhough this assimilationist  policy might be viewed as destroying the religious and cultural identity of Malay-Muslims in Yala, Pattani, and Narathiwat provinces. The field research data show that not only their education routes correlate with differences of status, family background, class, and degree of austerity inreligious practice, but the differences among the Muslim countries where they studied also have important  effects on their identity formation  and consequent  Malay-Muslim  consciousness. All of these differences  also had significant effects on their social roles and statuses after returning to work in their hometown  areas, and have also had important  effects on the ways in which Muslim women of this area display their piety.  Era baru menyelesaikan konflik etnik Thailand di tiga provinsi perbatasan selatan telah dimulai pada saat Field Marshal Sarit Thanarat (1959-1963), dengan kebijakan asimilasi terhadap Muslim Melayu. Hal ini tidak hanya melibatkan asimilasi melalui kebijakan pendidikan, ekonomi, dan sosial tetapi juga asimilasi Muslim Mayu dengan Muslim dari daerah Thai pusat melalui berbagai proyek pemerintah, seperti proyek dhammacharika. Proyek-proyek ini awalnya dimulai dengan penekanan pada para pemimpin agama dari masyarakat, untuk membawa siswa Muslim dengan kunjungan lapangan ke Bangkok, dan pelatihan bagi perempuan Muslim. Semua proyek ini mendapat dukungan dari berbagai asosiasi dan organisasi Muslim di Thailand pusat. Meskipun kebijakan asimilasi ini mungkin dipandang merusak identitas agama dan budaya Melayu-Muslim di Yala, Pattani, dan Provinsi Narathiwat. Data penelitian lapangan menunjukkan bahwa mereka mampu berkorelasi dengan perbedaan status, latar belakang keluarga, kelas, tetapi juga memiliki efek penting pada pembentukan identitas dan kesadaran Melayu-Muslim. Semua perbedaan memiliki efek yang signifikan terhadap peran setelah kembali bekerja di kampung halaman, dan juga memiliki efek penting wanita Muslim untuk menampilkan kesalehan mereka.
ANALISIS NILAI-NILAI TRADISI TURUN MANDI DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU DI KANAGARIAN SELAYO KAB. SOLOK Januar Januar
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.035 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.49

Abstract

AbstractTradition of ‘turun mandi’ in Minangkabau, especially in Solok, Kenagarian Selayo is a hereditary tradition, and it is a tradition to be grateful for the blessings given by Allah in the form of a newborn baby. Before the tradition done, there are various preparations prepared by the baby's mother’s family, and also from the ‘bako’. The values contained in the tradition ‘turun mandi’ in kenagarian Selayo is to introduce children to the natural environment, feel the diversity of life and strengthen the relationship between father’s family and mother's family.Keywords: Analysis Values, Traditions of ‘Turun Mandi’, Minangkabau Abstrak Tradisi turun mandi dalam masyarakat Minangkabau di kenagarian Selayo Kabupaten Solok merupakan tradisi yang turun temurun, dan merupakan tradisi untuk mensyukuri atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT berupa bayi yang baru lahir. Sebelum pelaksanaan turun mandi, ada berbagai persiapan yang dipersiapkan oleh keluarga ibu bayi, dan juga dari pihak bako bayi. Nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi turun mandi di kenegarian Selayo ini adalah memperkenalkan anak dengan lingkungan alam  skitarnya, merasakan aneka ragam kehidupan dan mempererat hubungan silaturrahmi antara keluarga ayah dan keluarga ibu.Kata Kunci: Analisis Nilai, Tradisi Turun Mandi, Minangkabau
ISLAM DAN PEMBAURAN SOSIAL: REKONSTRUKSI FENOMENA MULTIKULTURALISME Aqil Irham
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.703 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.45

Abstract

Islam, as religion which has a universal concept, views that assimilation is inhern (traits) which stands in every individu, thus, in the next stage also dwells in every human group as the group of individuals themselves. The relationship between Islam and assimilation is absolute; it can be seen in al Hujurat: 13 which mean that the necessity for human to socialize or assimilate. In addition, the meaning of the verse is the design of God about pluralism in the present context and review by using the term of multiculturalism. Assimilation requires the interrelatedness of understanding and mutual respect of differences as a thing that must be upheld, because only with mutual respect the assimilation will be carried out responsibly and dignityly. In contrary, without promoting respect for differences in attitude, the assimilation could certainly have a lot of problems; even tends to face competition wrapped by hyphocretism. ebagai agama yang memiliki konsep universal, Islam berpandangan bahwa pembauran merupakan sesuatu yang inhern (sifat bawaan) yang ada pada setiap individu manusia, sehingga pada tahapan selanjutnya juga bersemayan pada setiap kelompok manusia yang merupakan kumpulan dari individu-individu itu sendiri.  Hubungan antara Islam dan pembauran merupakan sesuatu yang mutlak, hal ini bisa dilihat dalam surat al Hujurat :13 yang bermakna keharusan bagi manusia untuk bersosialisasi atau melakukan pembauran. Selain itu, makna dari ayat tersebut adalah adanya design Allah tenang pluralisme yang dalam konteks kekinian di kaji dengan menggunakan term multikulturalisme. Pembauran menuntut adanya kesaling pemahaman dan saling menghargai adanya perbedaan sebagai suatu yang harus dijunjung tinggi, sebab hanya dengan adanya sikap saling menghargai tersebut, pembauran akan dapat dilaksanakan secara  bertanggung jawab  dan bermartabat.  Sebaliknya, tanpa mengedepankan sikap penghargaan terhadap perbedaan, maka pembauran bisa dipastikan akan banyak mengalami kendala bahkan cenderung terjadi kompetisi yang dibaluti hipokretisme. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8