cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 2 (2014)" : 8 Documents clear
DESAIN MODEL KARAKTER CLAY UNTUK MENDUKUNG PROMOSI ANIMASI STOP MOTION Sayatman Sayatman; Nugrahardi R; Anjrah H; Rabendra Y; Kartika Kartika
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.335 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.104

Abstract

AbstractThe animated film is one of the assets of the national creative industries, which has great potential to be developed into economic creative sectors. Animation products not only featured in the film industry but also widely used for the videography products, advertising and multimedia gaming applications. Inaddition to the strength of the story, one of the important aspects in the production of the animated film is the character design. The success of delivering the message is heavily influenced by the strength of characters that play the part. This study will discuss the topic of clay based design modellingwhere it would be useful as an alternate method in designing a clay based animated character and can make a positive contribution to the development of creative industries Indonesia. AbstrakFilm animasi merupakan salah satu aset industri kreatif nasional yang potensial untuk terus dikembangkan menjadi sektor ekonomi kreatif. Produk-produk animasi kini tidak saja digunakan dalam industri film layar lebar, namun juga banyak dimanfaatkan untuk produksi videografi, iklan maupun aplikasi game multimedia. Selain kekuatan cerita, salah satu aspek penting dalam film animasi adalah desain karakter/figur. Karena sebagian besar keberhasilan penyampaian pesan cerita sebuah film termasuk animasi banyak dipengaruhi oleh kekuatandesain karakter/figure yang memerankannya. Penelitian ini akan membahasnya dalam topik rancang bangun karakter modeling berbasis clay. Semoga dapat bermanfaat sebagai alternatif metode dalam desain model karakter animasi berbasis clay dan dapat memberikan kontribusi positif untuk perkembangan industri kreatif di Indonesia.
DESAIN WORKSTATION SAUNG KULINER BERDASAR KAJIAN EGO-KULTURAL SUNDA Edi Setiadi Putra
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.333 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.105

Abstract

AbstractOne of the causes of slums in the city of Bandung is the use of untreated tent stalls. The entrepreneurial society does not have the basic culinary culture tent use, because they do not have the sensitivity to maintain it. The tent stalls were originally temporary, has turned into a permanent. Through a review ofethnography, derived the concept of systematic ergonomic working in the kitchen, which is connected with the efficient use of workspace and effective use of a kitchen utensil. In the concept of Sundanese local wisdom, known as the hierarchy level of comfort based on individuals, families and communities,namely 'genah-merenah-tumaninah', characterized by the use of huts 'badak heuay and jogo anjing,' home stage 'jolopong, babancong, sontong', and building 'galudra ngupuk, Jangga wirangga and towering ngapak'. This hierarchy shows the concept of stages in the culinary business Sundanese, according turnover and experience, the tavern, eating houses and restaurants.The design of furniture products in the aesthetic form of huts 'badak heuay and jogo anjing', This is one of the solutions in rediscovering saung that has been lost, because of eroded stall tent of a foreign culture. AbstrakSalah satu penyebab kekumuhan di Kota Bandung adalah penggunaan warung tenda yang tidak terawat. Masyarakat wirausaha kuliner tidak memiliki dasar budaya penggunaan tenda, karena mereka tidak memiliki kepekaan dalam pemeliharaan tenda. Warung tenda yang awalnya bersifat sementara, telah berubah menjadi permanen. Melaluitinjauan etnografi, diperoleh adanya konsep ergonomis tentangsistematika kerja di dapur, yang terhubung dengan pemakaian ruang kerja yang efisien dan penggunaan perkakas dapur yang efektif. Dalam konsep kearifan lokal Sunda, dikenal adanya hirarki kenyamanan berdasarkan tingkatan individu individu, keluarga dan masyarakat, yaitu 'genah-merenah-tumaninah', yang ditandai dengan penggunaan saung 'badak heuay dan jogo anjing', rumah panggung 'jolopong, babancong, sontong', dan gedung 'galudra ngupuk, jangga wirangga dan julang ngapak'. Hirarki ini menunjukkan adanya konsep tahapan dalambisnis kuliner Sunda, sesuai omset dan pengalamannya, yaitu kedai,
EKSISTENSI MEBEL BAMBU DI TENGAH PERKEMBANGAN DESAIN DAN TEKNOLOGI Usman Lubis; Resky Annisa Damayanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.065 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.107

Abstract

AbstractNowadays, more and more people are turning to modern and contemporary style when it comes to choosing furniture for their homes, offices, restaurants, or hotels. In the past we might tend to back the use of natural elements, and one of the many popular products are bamboo. Bamboo as one of the most important non-timber forest products and fastest-growing plants in the world. As it known that bamboo craft is a folk craft products that has been around for a long time and developed hereditary, therefore we should preserve it. At first the userof bamboo furniture is from the family environment which later evolved to reach a wider market. Many craftsmen developed an appreciation of the existing ones to create a new design that is estimated to sell in the market. The hope is to makeour bamboo furniture craft products can compete with the products of other countries.AbstrakSaat ini semakin banyak orang yang beralih ke gaya modern dan kontemporer dalam memilih mebel untuk rumah tinggal mereka, kantor, restoran, atau bahkan hotel. Dahulu mungkin kita cenderung untuk memilih desain dan gaya klasik, tetapi sekarang ini orang cenderung kembali mempergunakan unsur-unsur alam, dan salah satu produk alam yang banyak digemari adalah bambu. Bambu sebagai salah satu produk non-kayu yang penting serta tanaman yang pertumbuhannya paling cepat di dunia. Seperti diketahui bahwa kerajinan bambu merupakan produk kerajinan rakyat yang telah ada sejak lama dan dikembangkan secara turun temurun, maka sudahselayaknya hal ini perlu dilestarikan. Pada mulanya pemakai kerajinan mebel bambu hanyalah dari lingkungan keluarga yang kemudian berkembang hingga mencapai lingkungan pasar yang lebih luas. Banyak para pengrajin mengembangkan apresiasi yang sudah ada dengan membuat desain baru yang diperkirakan akan laku di pasaran. Harapannya adalah agar produk kerajinan mebel bambu negara kita dapat bersaing dengan produk negara lainnya.
GAYA ART NOUVEAU SEBAGAI INSPIRASI DALAM PERANCANGAN DESAIN PRODUK Devanny Gumulya; Richard Santio
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.528 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.109

Abstract

AbstractArt Nouveau is an art movement originated from France. The word "Art Nouveau" in French means "New Art". Art Nouveau reached its peak popularity in the early 20th century. Art Nouveau brought "Back to Nature" theme. Therefore, the Art Nouveau lines and shapes are not far from natural lifeincluding plants and animals. In our country Indonesia, The Art Nouveau is not as popular as The Art Deco, one of the factors because the country of Indonesia is an ex Dutch colony country. Buildings built by Dutch architect were Art Deco style buildings. On the other hand there is an increase of market interest in classic contemporary interior. PT. Dempsey Nusantara is one ofexample of furniture manufacture with classic contemporary style. In this paper we try understand the design spirit of Art Nouveau from the definition, character, and its application in many countries. After understanding the thinking and visual character of Art Nouveau, it is used as an inspiration fordesigning dining set as an apprentice project in Dempsey.AbstrakArt Nouveau merupakan gerakan seni yang berasal dari Perancis. Kata “Art Nouveau” sendiri dalam bahasa Perancis berarti “Seni Baru”. Art Nouveau mencapai puncak popularitas pada awal abad 20. Seni Art Nouveau membawa tema “Kembali ke Alam”. Maka dari itu, tarikan garis dan bentuk Art Nouveau diambil dari alam meliputi flora dan fauna. Di Indonesia sendiri, Seni Art Nouveau tidaklah sepopuler Seni Art Deco. Salah satu faktor adalah karena negara Indonesia merupakan negara jajahan Belanda dimana bangunan-bangunan yang didirikanarsitek Belanda bergaya Art Deco. Disisi lain ada peningkatan minat pasar pada interior klasik kontemporer salah satu produsen adalah PT. Dempsey Nusantara. Di makalah ini kami mencoba membahas apa yang menjadi semangat desain Art Nouveau ini mulai dari definisi, karakter, dan aplikasinya di berbagai negara. Karena dengan memahami, barulah bisa dijadikan inspirasi untuk merancang set furnitur ruang makan sebagai proyek magang di Dempsey.
IMITASI BUDAYA PADA TAYANGAN TELEVISI DI INDONESIA Rizki Kurniawan
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.636 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.110

Abstract

AbstractOne of the products from popular culture is television, there is no other media that can be compared with television in terms of volume of cultural texts produced and number of viewers. Currently the importance of television is the cultural and economic value, furthermore television is a form of democratic and creative culture as well. It instill in the minds of viewers that what is seen in the television seems to be ideal. As the main media of popular culture, television is the perfect distributor for it. Every time we are surrounded by popular culture, a culture that exist because we recognize its fame and fond of its existence.Audiences of popular culture imitate and follow trends, consume products associated with the image of the idol and trends, in order to associate themselves as a fans of popular culture icons they eventually being trapped to contribute to spread popular culture it self. AbstrakSalah satu produk dari budaya populer adalah televisi, tidak ada media lain yang bisa menyamai televisi dalam hal volume teks budaya yang diproduksi dan dalam hal jumlah penontonnya. Saat ini nilai penting dari televisi adalah nilai kultural dan ekonominya, selain juga merupakan bentuk budaya yang demokratis dan kreatif. Televisi menanamkan pengertian di benak khalayak pemirsanya , sebagai suatu yang ideal. Sebagai media utama budaya populer, televisi adalah penyalur yang sempurna untuk hal tersebut. Setiap saat kita di kelilingioleh budaya populer, budaya yang ada karena kita mengakuiketenarannya dan menggemari keberadaannya. Khalayak budaya populer mengimitasi dan mengikuti tren yang ada, mengkonsumsi produk yang berkaitan dengan citra idola dan tren tersebut, mengasosiasikan dirinya sebagai bagian dari penggemar ikon budaya populer tertentu yang pada akhirnya terjebak untuk berkontribusi untuk menyebarkan budaya populer itu sendiri.
MENJADI BIJAK MELALUI SEJARAH Farid Abdullah
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.375 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.112

Abstract

AbstractThis is article about a book of Art history. The book aims have been exploratory rather than critical. The authors, Hugh Honour and John Fleming (1984),  referred exposition to interpretation and evaluation, so far as they are separable. The appeal of some works of art in this book is never purely visual, it isjust simply to delight our eyes. It is heavy burden to bear in mind that these conceptions are peculiar to the West perspective. It try to vast a large horizon in both time and space, attention on historically prominent periods and areas,which are also those of most basic interest. Chapters are arranged chronogically, across a wide geographical panorama in order to allow crucial events in world history of humankind. This article also focus to history of photography, that was closely allied with both painting and print making, since of its invention in the 1830s. At last, history of art inevitably reflect the feelings and minds of their authors, who have been almost as diverse as the artists about whom they write, as diverse and many-sided as the works of art themselves.AbstrakTulisan ini adalah bedah buku tentang sejarah seni. Tujuan buku adalah melakukan penjelajahan daripada bacaan kritis. Penyusunnya, Hugh Honour dan John Fleming, memilih penjelasan terperinci dan sarat penilaian, yang sesungguhnya keduanya dapat terpisah. Karya-karya seni yang ditampilkan pada buku penuh visual, bermaksud untuk menyenangkan amatan pembaca. Beban besar dipikul buku ini, terkaitsudut pandang Barat yang rumit. Cakrawala luas ruang dan waktu dibentangkan luas pada buku ini. Penyusunan bab dibuat secara kronologis, merentang panorama geografis teramat lebar dalam rangka menjelaskan peristiwa-peristiwa penting sejarah umat manusia. Tulisan ini juga memusatkan diri pada sejarah fotografi, yang memiliki hubungan erat dengan seni lukis dan cetak mencetak, sejak temuan pada tahun 1830. Pada akhirnya, sejarah adalah cermin dari perasaan dan pikiran penulisnya, yang selalu berbeda-beda seperti halnya seniman yang mereka tulis. Berbeda-beda dan memiliki berbagai sudut pandang seperti halnya karya seni.*) Staf Pengajar Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan
PAPAN NAMA SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI VISUAL PEMASARAN KELOM GEULIS DI TASIKMALAYA Ganal Rudiyanto; Eveline C.S; Udanarto Udanarto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.735 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.230

Abstract

AbstractVisual elements in a holistic form nameplate, images, logos, fonts, and colors.Display design style clogs shop signs have an impact on product quality clogs confidence to consumers. Identity and corporate image is reflected in the design of the sign (display type), style aesthetic images, fonts and legibility messages to ensure excellence of products to consumers.The elements of traditional decorative motifs on the nameplate can give an idea that has long operated company, has a strong experience in the field that they do. Modified display modern motifs often used to describe the new corporate image in the market following the latest developments. Both styles are distinated on imaging market expansion in the future. One of the media promotion of effective and efficient in improving the quality of marketing is touching nameplate design psychology of many people's feelings.AbstrakUnsur-unsur visual pada papan nama adalah bentuk keseluruhan sebagai kesatuan logo, huruf dan warna. Tampilan gaya gambar desain kelom pada papan nama menumbuhkan kepercayaan tentang kualitas produk kepada konsumen. Identitas dan citra perusahaan tercermin pada gaya perencanaan, imajinasi gaya estetik, desain huruf danketerbacaan pesan dalam meyakinkan keunggulan produk kepada konsumen.Unsur-unsur motif hias tradisional pada papan nama menunjukkan operasional perusahaan yang menggambarkan pengalaman kuat dalam bidangnya. Modifikasi bentuk modif modern sering digunakan untuk menunjukkan citra perusahaan baru dalam  pemasaran yang berkaitan dengan perkembangan terakhir. Kedua gaya diatas dimanfaatkan untuk mengembangkan pangsa pasar dimasa depan salah satu media promosi yang efektif dan efesien dalam peningkatan kualitas pemasaran adalah perencanaan papan nama yang secara psikologis dapat menggugah peranan simpati banyak orang
STRATEGI PENGEMBANGAN TEKNIK PEMBUATAN PRODUKPRODUK KULIT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIF DI INDUSTRI KECIL/MENENGAH ALAS KAKI CIBADUYUT Mohamad Arif Waskito
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.613 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.3320

Abstract

The creative process in industrial product development in small / medium often don't have opportunity to explore the design, especially in industries which only prioritize production activities only. Their activities will be dominated by the action that refers to the effectiveness and efficiency of production. The production process will be determined based on the speed and reduced their production cost. As happens in many footwear industry in Cibaduyut, generally they will act as the industry "partners" who would accept a job just to make the shoes of larger industry known as "The Champion". Due to the design and technical specifications of products produced by small-scale industries have been set by the industry "Champion", then the selling value the product that can be offered only on quality of workmanship and low cost of production (hpp). Build creative abilities in a small industry is becoming increasingly difficult because of their perceptions of the development of new products based on originality will require many experiments with the high cost and uncertainty of the results. In addition, if the new product has been produced, it will require new skills and new equipment to be purchased. It also makes SMEs often avoid the effort to develop creative products. In this study, will be made efforts to develop creative products that can be done by small industry through product diversification strategy, based on the principle of common production techniques in the industry without requiring a large investment. The process of formation will use mould and knit technique as applyed in the footwear industry, but will be used for other products besides footwear products. Abstrak Proses kreatif dalam pengembangan produk industri kecil / menengah sering tidak memiliki kesempatan untuk menjelajahi Desain, terutama dalam industri yang hanya memprioritaskan kegiatan produksi. Kegiatan mereka akan didominasi oleh tindakan yang mengacu pada efektifitas dan efisiensi produksi. Proses produksi akan ditentukan berdasarkan kecepatan dan mengurangi biaya produksi mereka. Seperti yang terjadi di banyak industri alas kaki di Cibaduyut, umumnya mereka akan bertindak sebagai industri "mitra" yang akan menerima pekerjaan hanya untuk membuat sepatu industri besar yang dikenal sebagai "The Champion". Karena desain dan teknis spesifikasi produk yang diproduksi oleh industri skala kecil telah ditetapkan oleh industri "Champion", maka nilai jual produk yang dapat ditawarkan hanya pada kualitas pengerjaan dan rendah biaya produksi (hpp). Membangun kemampuan kreatif dalam industri kecil menjadi semakin sulit karena persepsi mereka tentang pengembangan produk baru berdasarkan orisinalitas akan memerlukan banyak percobaan dengan tingginya biaya dan ketidakpastian hasil. Selain itu, jika produk baru telah diproduksi, itu akan membutuhkan keterampilan baru dan peralatan baru untuk dibeli. Hal ini juga membuat UKM sering menghindari upaya untuk mengembangkan produk-produk kreatif. Dalam studi ini, akan dilakukan upaya untuk mengembangkan produkproduk kreatif yang dapat dilakukan oleh industri kecil melalui strategi diversifikasi produk, berdasarkan prinsip umum teknik produksi dalam industri tanpa memerlukan investasi besar. Proses pembentukan akan menggunakan cetakan dan teknik rajut sebagai diterapkan di industri alas kaki, tetap

Page 1 of 1 | Total Record : 8