cover
Contact Name
Novi Rosita Rahmawati
Contact Email
jurnaledudeena@iainkediri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaledudeena@iainkediri.ac.id
Editorial Address
Sunan Ampel St. No.7, Kediri, East Java, Indonesia, 64127
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education
ISSN : -     EISSN : 25809989     DOI : 10.30762
Core Subject : Education,
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education publishes articles on textual and fieldwork studies with various perspectives of: Islamic Studies Instructional Media of Islamic Studies Instructional Strategy of Islamic Studies Development Curriculum of Islamic Studies Management of Islamic Studies
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2019)" : 6 Documents clear
ANALISIS KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QURAN SISWA MTS DALAM PERSPEKTIF TAKSONOMI BLOOM Laudria Nanda Prameswati
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.664 KB) | DOI: 10.30762/ed.v3i2.1736

Abstract

Abstract: Along with the development of the times, more and more alquran literacy needs. The demands of alquran’s literacy skills have become one of the spreading phenomena still limited at first to know, to understand, and to plan actionabout management expecially, Read and Write Al-Quran (RWQ) education in the Islamic Junior High School Nurul Islam Bence. The study is intended to describe and analyze the learning method in reading and writing the Qur’an in the perspective of multiple intelligences theory. The study uses qualitative approach and is conducted through library research. Analysis process of the study follows the main steps such as: 1) collecting the references related to the learning method of reading and writing the Qur’an and multiple intelligences theory 2) reviewing the variety of the learning method in reading and writing the Qur’an 3) analyzing the learning method of reading and writing the Qur’an in the taxonomi Bloom 4) inferring the conclusion. Taxonomy bloom is one measurement of learning objectives. Taxonomy bloom makes it easier for teachers to measure students’ abilities.   Abstrak: Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak kebutuhan literasi alquran. Tuntutan keterampilan literasi alquran telah menjadi salah satu fenomena penyebaran yang masih terbatas pada awalnya untuk mengetahui, memahami, dan merencanakan tindakan tentang manajemen khususnya, pendidikan Baca dan Tulis Al-Quran (RWQ) di Sekolah Menengah Islam Nurul Islam Bence. Studi ini dimaksudkan untuk menggambarkan dan menganalisis metode pembelajaran dalam membaca dan menulis Al-Qur’an dalam perspektif teori kecerdasan majemuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dilakukan melalui penelitian kepustakaan. Proses analisis penelitian mengikuti langkah-langkah utama seperti: 1) mengumpulkan referensi terkait dengan metode pembelajaran membaca dan menulis Alquran dan teori kecerdasan majemuk 2) meninjau beragam metode pembelajaran dalam membaca dan menulis Al-Qur’an 3) menganalisis metode pembelajaran membaca dan menulis Al-Qur’an dalam taksonomi Bloom 4) menyimpulkan kesimpulan. Taksonomi Bloom adalah salah satu ukuran tujuan pembelajaran. Taksonomi Bloom memudahkan guru untuk mengukur kemampuan siswa.
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI MADRASAH ALIYAH KECAMATAN DUKUHSETI KABUPATEN PATI Alfi Nikmah
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.464 KB) | DOI: 10.30762/ed.v3i2.1737

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to examine, analyze the implementation of the 2013 curriculum and see the success of the 2013 curriculum in the implementation of the Computer-Based National Examination (UNBK). The method used is descriptive qualitative, in relevant studies and the results of national examinations. Teachers must have 4 competencies (pedagogical, professional, personality and social competencies) and students are required to be active, creative and innovative to solve their problem learning in madrasa. The value of students is not only from test scores but also from the value of politeness, religion, practice, and attitude. These competencies describe the domains of knowledge, skills and attitudes that are appropriate of the functions and objectives of national education. The most interesting in 2013 curriculum is the responsiveness to phenomena and social change. This change can be observed in the implementation of computer-based national exams (UNBK). It requires hardware, internet and local computer networks, so UNBK has the advantage of saving the cost of copying examination items and to easy the distribution it to all of the regions, making it easier to print certificate after the exam. But it also has a disadvantage, namely the lack of providing of computers in madrasa.   Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji, menganalisis implementasi kurikulum 2013 dan melihat sejauhmana keberhasilan kurikulum 2013 dalam pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif pada kajian yang relevan dan hasil pemantauan ujian nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam kurikulum 2013 guru harus memiliki 4 kompetensi (kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.). Dalam kurikulum 2013 siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi di madrasah. Penentuan nilai bagi siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja tetapi juga dari nilai kesopanan, religi, praktek, maupun sikap. Kompetensi tersebut menggambarkan secara holistik domain pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Hal yang paling menarik dari kurikulum 2013 adalah adanya sikap tanggap terhadap fenomena dan perubahan sosial. Perubahan tersebut bisa kita amati pada pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer memerlukan perangkat keras, jaringan internet, dan jaringan lokal komputer, sehingga UNBK memiliki keunggulan menghemat biaya penggandaan naskah dan memudahkan distribusi bahan yang dapat terjangkau ke seluruh wilayah, memudahkan serta memudahkan pencetakan sertifikat hasil ujian setelah ujian berlangsung. Tetapi juga memiliki kekurangan yaitu minimnya pengadaan barang komputer pada masing-masing madrasah.
MENINGKATKAN PENGEMBANGAN DIRI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEBAGAI IMPLEMENTASI TEORI DINAMIS-PROGRESIF DI SEKOLAH DASAR Fera Nofiana Ambarwati
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.669 KB) | DOI: 10.30762/ed.v3i2.1738

Abstract

Abstract: This paper tries to reveal why PAI teachers do not have the will to develop hemselves. PAI teachers not only fulfill the teaching obligation, but also must have good self-quality and wish to advance. But until now there are still many PAI teachers who do not want to develop and resign themselves to the situation. As a result, the results of education have not progressed. Students who are supposed to think ahead, become infected by the teacher's attitude which is resigned and does not want to develop. From this research it was found that the biggest cause of the attitude of teachers who do not want to develop themselves is there is no desire to continue learning. Based on these findings, researchers used a dynamic-progressive theory to improve the self-development of PAI teachers who would later change the mindset of PAI teachers to continue learning and developing. Abstrak: Tulisan ini mencoba mengungkap mengapa guru PAI tidak memiliki keinginan untuk mengembangkan diri. Guru PAI tidak hanya memenuhi kewajiban mengajar, tetapi juga harus memiliki kualitas diri yang baik dan berkeinginan untuk maju. Namun sampai saat ini masih banyak guru PAI yang tidak mau berkembang dan pasrah dengan keadaan. Akibatnya, hasil pendidikan tidak mengalami kemajuan. Siswa yang seharusnya berpikir ke depan, tertular oleh sikap guru yang pasrah dan tidak mau berkembang. Dari penelitian ini ditemukan bahwa penyebab terbesar dari sikap guru yang tidak mau mengembangkan diri adalah tidak adanya keinginan untuk terus belajar. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menggunakan teori dinamis-progresif untuk meningkatkan pengembangan diri guru PAI yang nantinya akan mengubah pola pikir guru PAI untuk terus belajar dan berkembang.
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN PADA KELAS PROFESIONAL PGMI MENGGUNAKAN GOOGLE CLASSROOM Niken Septantiningtyas
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.314 KB) | DOI: 10.30762/ed.v3i2.1739

Abstract

Abstract: This research is a development research with the aim of designing the development of learning design in professional classes using Google classroom and group learning methods. The development of this design was tested by the feasibility test outlined by BSNP, namely regarding the eligibility of content, feasibility of presentation, and achievement of learning outcomes obtained an average percentage of 86.73% suitable to be applied in professional classes. In the professional class Google Classroom is very helpful in the lecture process so that all tasks can be completed in a timely manner and can be accessed from anywhere and anytime.   Abstrak: Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yaitu dengan tujuan merancang pengembangan desain pembelajaran pada kelas profesional menggunakan google classroom dan metode pembelajaran berkelompok. Pengembangan desain ini diuji dengan uji kelayakan yang di jabarkan oleh BSNP yaitu mengenai kelakan isi, kelayakan penyajian, dan ketercapaian hasil pembelajaran didapatkan hasil prosentase rata-rata sebesar 86,73 percent layak untuk di terapkan dalam kelas profesional. Pada kelas profesional google clasroom sangat membantu dalam proses perkuliahan sehingga semua tugas dapat diselesaikan secara tepat waktu dan dapat diakses dari manapun dan kapanpun.
PILAR-PILAR PENDIDIKAN ISLAM DI KESULTANAN ACEH Iswandi Iswandi
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.993 KB) | DOI: 10.30762/ed.v3i2.1740

Abstract

Abstract: Talking about Islamic education in Aceh means that it will be confronted with the embryos of Islamic education in the archipelago. The Perlak Kingdom which was founded in 840 AD was the first Islamic kingdom. Arab influence is very strong in the development of Islam in Aceh, especially during the reign of the Caliph of the Abbasids. Some Islamic educational institutions in the Sultanate of Aceh are Meunasah which are traditional educational institutions and become basic education institutions in every village in Aceh. In the learning process, meunasah teaches about the basics of Islamic education. Rangkang is a secondary education institution and is a continuation of the meunasah. For students who want to continue their education to dayah, then he must attend education in the arena. In its journey, the framework is also called middle-level dayah education. Dayah is also referred to as a higher education institution in Aceh, because what is taught is adults and already have knowledge about Islam. Dayah education covers two levels: i.e. intermediate level and high level. Middle level dayah education is called fram and high level education is called bale. Whereas the most influential cleric was Hamzah Fansuri who was famous for his poems Samsuddin Sumatrani who had an important role in the Sultanate of Aceh. Nuruddin ar-Raniri, a follower of the Rifa'iyah order he obtained through Ba Syaiban, obtained this tarekat from his teacher Sheikh Muhamad al-Aidarusi, the spiritual grandfather of ar-Raniri Abdurrauf Singkel, he was also known as the Syiah Kuala or Teungku in Kuala. Abstrak: Berbicara tentang pendidikan Islam di Aceh berarti akan dihadapkan dengan embrio pendidikan Islam di nusantara. Kerajaan Perlak yang didirikan pada 840 M adalah kerajaan Islam pertama. Pengaruh Arab sangat kuat dalam perkembangan Islam di Aceh, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Beberapa lembaga pendidikan Islam di Kesultanan Aceh adalah Meunasah yang merupakan lembaga pendidikan tradisional dan menjadi lembaga pendidikan dasar di setiap desa di Aceh. Dalam proses belajarnya, meunasah mengajarkan tentang dasar-dasar pendidikan Islam. Rangkang adalah lembaga pendidikan menengah dan merupakan kelanjutan dari meunasah. Bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke dayah, maka ia harus menghadiri pendidikan di arena. Dalam perjalanannya, kerangka kerja ini juga disebut pendidikan dayah tingkat menengah. Dayah juga disebut sebagai lembaga pendidikan tinggi di Aceh, karena yang diajarkan adalah orang dewasa dan sudah memiliki pengetahuan tentang Islam. Pendidikan Dayah mencakup dua tingkat: yaitu tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pendidikan dayah tingkat menengah disebut fram dan pendidikan tingkat tinggi disebut bale. Sedangkan ulama yang paling berpengaruh adalah Hamzah Fansuri yang terkenal dengan puisinya Samsuddin Sumatrani yang memiliki peran penting dalam Kesultanan Aceh. Nuruddin ar-Raniri, pengikut ordo Rifa’iyah yang ia peroleh melalui Ba Syaiban, memperoleh tarekat ini dari gurunya Sheikh Muhamad al-Aidarusi, kakek spiritual ar-Raniri Abdurrauf Singkel, ia juga dikenal sebagai Syiah Kuala atau Teungku di Kuala.
SPIRITUALISASI HUMAN BEING DALAM PENDIDIKAN ISLAM Septiana Purwaningrum
Edudeena : Journal of Islamic Religious Education Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.641 KB) | DOI: 10.30762/ed.v3i2.1741

Abstract

Abstract: The dichotomy of science really has a role in bringing the dualism of education. The impact of the dualism in education is that general education institutions deepen in mastering modern science and lack of religious values. On the other hand, the religion education deepens the religious knowledge and lags behind the development of modern science. The demarcation separation between general education and religious education makes the stratification between two educations eventually, in which the position of islamic education is onsidered lower. The dichotomy of science must be stopped immediately so this community does not continue to fall into deterioration. The solution to overcome the dichotomy of science can be done through the Islamization of science and the spiritualization of human being. This article is written qualitatively based on library research by using primary source and some relevant secondary sources. Through descriptive-analytical methods, the writer tries to elaborate the material related to the dichotomy of science, the islamization of science and the spiritualization of human beings in Islamic Education to realize non-dichotomic Islamic education. Abstrak: Dikotomi ilmu sangat berperan dalam memunculkan dualisme pendidikan. Dampak dari dualisme pendidikan adalah lembaga pendidikan umum lebih memperdalam penguasaan ilmu pengetahuan modern dan kering akan nilai-nilai agama. Di sisi lain, pendidikan agama lebih memperdalam pengetahuan agama dan tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pemisahan secara demarkatis antara pendidikan umum dan pendidikan agama pada akhirnya melahirkan stratifikasi antar dua pendidikan tersebut, di mana posisi pendidikan Islam dianggap lebih rendah. Dikotomi ilmu dalam pendidikan Islam harus segera dihentikan agar umat ini tidak terus menerus terjerembab dalam keterpurukan. Solusi untuk mengatasi dikotomi ilmu dapat dilakukan melalui islamisasi sains dan spiritualisasi human being. Artikel ini ditulis secara kualitatif berbasis library research dengan menggunakan sumber primer dan beberapa sumber sekunder yang relevan. Melalui metode deskriptif-analitis, penulis berupayauntuk mengelaborasi materi terkait dikotomi ilmu, islamisasi sains, dan spiritualisasi human being dalam Pendidikan Islam untuk mewujudkan pendidikan Islam yang nondikotomik.

Page 1 of 1 | Total Record : 6