cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
snh@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
snh@unja.ac.id
Editorial Address
Jalan Jambi - Ma Bulian, KM 15, Mendalo Indah, Gedung G, Jurusan Sejarah, Seni dan Arkeologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29641780     EISSN : 29641217     DOI : -
Seminar Nasional Humaniora adalah kumpulan artikel ilmiah prosiding pada konferensi Nasional tentang budaya Melayu secara lokal dan global yang diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi. Prosiding meliputi bidang studi humaniora (budaya) yang meliputi kajian Sejarah, Budaya, Hukum, Antropologi, Bahasa (linguistik), Sastra, Seni (Kesenian), Kearifan lokal. Penerbitan Prosiding ini terbuka untuk mempublikasikan berbagai artikel penelitian, studi literatur, studi lapangan, ide konseptual, studi aplikasi dalam perspektif teori humaniora. Prosiding ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora" : 6 Documents clear
Polisemi dan Homonim dalam Kajian Semantik Bahasa Arab Neldi Harianto; Rengki Afria; Julisah Izar
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.196 KB)

Abstract

Abstrak: Polisemi dan homonim merupakan fenomena semantik yang terjadi pada internal bahasa, dan fenomena ini terjadi di semua bahasa dan tidak terkecuali Bahasa Arab. Dalam penelitian ini akan dikemukakan deskripsi tentang Polisemi dan Homonim dalam kajian Semantik Bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis data kepustakaan dan merujuk pada referensi otoritatif tentang semantik Bahasa Arab yang mana data diambil dari berbagai referensi yang terkait Semantik Bahasa Arab spesifik tentang Polisemi dan homonim, kemudian teori dan karakteristik Polisemi dan Homonim Bahasa Arab dikaji secara mendalam kemudian setelah itu dilihat bentuk contoh, setelah contoh Polisemi dan Homonim Bahasa Arab data kemudian data tersebut dideskripsikan dengan menarasikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Polisemi dan Homonim juga terdapat di dalam bahasa arab seperti kata ?????? yang dapat bermakna hari kiamat dan sesaat. Dan kata ??? dapat bermakna rumah atau bait sya’ir. Dan berdasarkan contoh yang telah diuraikan maka ????? ????? (mustarak al lafzi) atau ?????? (al Jinas) lebih dekat dengan polisemi sedangkan ?????? ????? (Mujanisatun lafziyyah) lebih memiliki kedekatan dengan homonim. Kata Kunci: polisemi, homonimi, arabic
Industri Kreatif; Dari Kopi, Sastra, Hingga Arena Produksi Kultural Pinto Anugrah
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.066 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini menggunakan topik entitas industri kreatif antara komoditi kopi dan dunia sastra, terutama pada Bukit Barisan Sumatera bagian tengah, dengan perspektif analisis arena produksi Pierre Bourdeiu, untuk melihat persilangan yang terjadi antara dua komoditi tersebut dalam industri kreatif pada saat ini. Hasil penelitian menemukan bahwa persilangan dua komoditi tersebut, yang menghadirkan arena produksi kultural pada saat ini, tidak terlepas dari habitus komoditi kopi itu sendiri. Selain itu, arena produksi kultural yang ada saat ini, menjadikan kopi sebagai dua bentuk arena produksi, yaitu sebagai sumber penciptaan dan sebagai ruang-ruang publik kultural. Kata kunci: kopi, sastra, arena produksi kultural
Tempoyak Sebagai Makanan Khas Jambi Riska Ayu Wulandari; Fatonah Fatonah; Richard Adiguna; Muhammad Rahmadoni Kurniawan; Rendi Deva Aditiya; Nia Angelina; Shaza Fajhira; Dinda Ratih Nurhaliza
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.698 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada pengkajian kebudayaan bagaimana tempoyak menjadi makanan khas Jambi. Maksud serta tujuan dari penelitaian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sejarah dan perjalanan tempoyak bisa menjadi makanan yang sangat disukai oleh masyarakat Jambi dan juga menjadi makanan khas yang sangat melekat dikenal oleh masyarakat Jambi hingga keluar sana. Metode yang digunakan penulis pada penelitian ini yaitu metode penelitian historis yang dibagi menjadi empat tahapan yaitu heuristik (mengumpulkan suber-sumber referensi baik buku, jurnal, atau artikel dari berbagai sumber yang berkaitan dengan tema penelitian) kritik sumber, interpretasi (menafsirkan kembali fakta-fakta yang ditemukan), dan historiografi (menuliskan hasil yang didapat dari penelitian ini). Dilatar belakangi oleh keadaan geogarafis Jambi berupa dataran rendah dan beriklin tropis dan sangat cocok menjadi lahan perkebunan dan juga buah. Salah satunya podon durian yang buahnya menjadi bahan dasar pembuatan tempoyak dan juga tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan yang ada di masyarakat Jambi. Sehingga menjadikan tempoyak menjadi makanan khas sangat terkenal dari daerah Jambi.
Pelanggaran Kedisiplinan yang Kerap Dilakukan Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Politeknik Negeri: Analisis Regresi Linear Terhadap Faktor-faktornya Nur Soelaiman; Rosyid Al-Hakim
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.016 KB)

Abstract

Pegawai negeri sipil (PNS) di Indonesia berpotensi melakukan pelanggaran kedisiplinan yang disebabkan oleh banyak faktor, seperti inisiatif diri yang kurang, wawasan pengetahuan kurang, kualitas soft-skill dan hard-skill rendah, terlalu banyak pekerjaan yang diambil, dan waktu kerja yang berlebih. Penelitian Soelaiman et al. (2022) pada 42 PNS di lingkungan politeknik negeri se-Indonesia memberikan model yang berbeda, berdasarkan hasil analisis structural equation modelling-partial least square (SEM-PLS) tidak ada faktor-faktor tersebut yang mempengaruhi PNS melakukan pelanggaran kedisiplinan, namun hasil analisis data mining menjelaskan sebaliknya. Studi ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research) untuk menjelaskan dan menganalisis kelima faktor tersebut yang mempengaruhi kedisiplinan. Metode penelitian yang digunakan regresi linear berganda metode stepwise. Hasil studi menjelaskan hanya faktor tidak kompeten pada variabel kedisiplinan yang tidak mempengaruhi PNS melakukan pelanggaran kedisiplinan (nilai p > 0,05). Studi ini dapat memberikan model terbaik untuk faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pelanggaran kedisiplinan bagi PNS di lingkungan PN yang ada di Indonesia.
Klasifikasi Leksikon dalam Tradisi Adat Menegak Rumah di Desa Air Liki Kabupaten Merangin Rengki Afria; Neldi Harianto; Julisah Izar; Intan Helendia Putri
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.609 KB)

Abstract

Abstrak Tradisi adat merupakan suatu kebiasaan yang menjadi identitas suatu masyarakat daerah tertentu. Sebagaimana dengan penelitian ini yang bertujuan untuk mendeskrisikan makna kultural dalam tradisi adat Menegak Rumah Desa Air Liki, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Tradisi ini diadakan oleh tuan rumah yang ingin mendirikan rumah baru sebagai simbol untuk mbujok (merayu) makhluk-makhluk sekitar agar tidak mengganggu saat proses pembuatan rumah. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan leksikologi. Data dan sumber data dalam penelitian diperoleh dari wawancara, rekaman, dan pencatatan yang berasal dari informan. Hasil dari penelitian ini didapatkan 24 leksikon yang muncul dalam tradisi adat menegak rumah di Desa Air Liki, Kabupaten Merangin. Jika dikategorikan ke dalam kelas kata, terdiri dari 17 kata benda, yaitu balehong, hak tambun, pelambang, kencah, donso, tungku, lesung, kohan, takatang, tikar, menyan, puyan, okok nau, lopeik bugaih, nagosari, gulai cempodak, dogan,. Selanjutnya 5 kata kerja, yaitu balahak, sayo paek, taganai, silek, sambut talam. Dan 2 pronomina, yaitu datuk langkah, dan datuk ninek mamak. Sedangkan untuk makna kultural didapatkan 18 leksikon, yang terdiri atas 4 leksikon masuk ke dalam makna kultural dalam bentuk makanan dan minuman, seperti lopeik bugaih, nagosari, gulai cempodak, dan dogan. Terdapat 4 leksikon makna kultural dalam bentuk benda-benda perlengkapan, seperti kohan, menyan, puyan, dan okok nau. Terdapat 2 makna kultural nama kegiatan, seperti silek, dan sambut talam. Kata Kunci: Tradisi, adat, negak rumah, klasifikasi, leksikon Abstract Customary tradition is a habit that becomes the identity of a particular local community. As with this research which aims to describe the cultural meaning in the traditional tradition of Menegak Rumah Desa Air Liki, Merangin Regency, Jambi Province. This tradition is held by the host who wants to build a new house as a symbol for mbujok (seducing) the surrounding creatures so as not to interfere with the house-making process. The method in this research is descriptive qualitative using a lexicology approach. Data and data sources in the study were obtained from interviews, recordings, and records from informants. The results of this study obtained 24 lexicons that appear in the traditional tradition of upholding houses in Air Liki, Merangin Regency. If categorized into word classes, it consists of 17 nouns, namely balehong, hak tambun, symbol, kencah, donso, tungku, lesung, kohan, takatang, tikar, menyan, puyan, okok nau, lopeik bugaih, nagosari, gulai cempodak, dogan. Furthermore, 5 verbs, namely balahak, sayo paek, taganai, silek, sambut talam. And 2 pronouns, namely datuk langkah, and datuk ninek mamak. Whereas for cultural meaning, there are 18 lexicons, consisting of 4 lexicons that enter cultural meanings in the form of foof and drinks such as lopeik bugaih, nagosari, gulai cempodak, and dogan. There are 4 lexicons of cultural meaning in the form of equipment object, such as kohan, menyan, puyan, and okok nau. There are 2 cultural meanings of the activity, such as silek, and sambut talam. Keywords: tradition, custome, negak rumah, classification, lexicon
Analisis Struktural Gurindam 12: Kajian Filologi Warni Warni; Irma Suryani; Rengki Afria; Aldha Kusuma Wardhani
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 2 (2022): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.597 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian dalam jurnal ini dilakukan dengan tujuan yaitu untuk mendeskripsikan struktur fisik dan struktur batin yang terdapat di dalam naskah kuno Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Pada umumnya, gurindam biasanya dipakai dan digunakan untuk mengungkapkan suatu kebenaran atau juga bisa untuk menyampaikan suatu nasihat. Adapun jenis pendekatan yang digunakan dalam jurnal ini yaitu berupa pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang dilakukan dengan cara dengan menghimpun dan menganalisis seluruh dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik, yang mana dokumen yang dimaksud yaitu naskah kuno Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Dokumen yang sudah diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan struktur fisik dan struktur batin serta dipadukan sehingga menjadi satu hasil kajian yang sistematis dan utuh. Dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil penelitian struktur fisik dan struktur batin dari naskah kuno Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yaitu (1) tipografi menggunakan huruf besar dengan tanda baca yang lengkap, dan seluruh baitnya menjorok ke kiri, (2) menggunakan gaya bahasa perbandingan yaitu personafikasi dan metafora, (3) berisi diksi yang bermakna konotatif, (4) terdapat citraan yang paling sering ditemukan di dalamnya yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, dan citraan gerak, (5) rimanya berdasarkan letak kata-kata dalam baris yang terdiri atas rima akhir, (6) Gurindam Dua Belas berisi 12 bait dan 161 baris, (7) mengambil tema tentang kehidupan dan agama, (8) nilai rasa yang sengaja diciptakan oleh penyair dalam Gurindam Dua Belas yaitu perasaan damai sekaligus sedikit mencekam, (9) nada pada Gurindam Dua Belas terdengar cukup menggurui, dan (10) Gurindam Dua Belas berisikan amanat tentang mengenal diri sendiri, dunia, dan Allah dengan sebaik mungkin. Abstrack The research in this journal was carried out with the aim of describing the physical structure and inner structure contained in the ancient manuscripts of Gurindam Dua Belas by Raja Ali Haji. In general, gurindam is usually used to express a truth or it can also convey a piece of advice. The type of approach used in this journal is in the form of a qualitative approach with a descriptive method which is carried out by collecting and analyzing all documents, both written documents, pictures, and electronic documents, which are the ancient manuscripts of the Gurindam Dua Belas by Raja Ali Haji. The documents that have been obtained are then analyzed based on the physical structure and mental structure and combined so that they become one result of a systematic and complete study. It can be concluded that the results of the research on the physical structure and inner structure of the ancient manuscripts of Raja Ali Haji's Gurindam Dua Belas are (1) typography using capital letters with complete punctuation, and all stanzas indented to the left, (2) using a comparative language style, namely personification and metaphor, (3) contains diction with connotative meaning, (4) there are images that are most often found in it, namely visual images, auditory images, and motion images, (5) the rhyme is based on the location of the words in a line consisting of rhymes. the end, (6) Gurindam Dua Belas contains 12 stanzas and 161 lines, (7) takes the theme of life and religion, (8) the sense of value that is deliberately created by the poet in Gurindam Dua Belas, which is a feeling of peace and a little gripping, (9) the tone of Gurindam Dua Belas sounds quite patronizing, and (10) Gurindam Dua Belas contains a message about knowing oneself, the world, and God as best as possible.

Page 1 of 1 | Total Record : 6