cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2012)" : 15 Documents clear
Pertumbuhan dan Hasil Benih Lima varietas Cabai Merah (Capsicum annum L.) di Dataran Menengah Agus Budi Setiawan; Setyastuti Purwanti; Toekidjo Toekidjo
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1345

Abstract

Lima varietas cabai merah, yaitu Branang, Gantari, Lokal Pakem, Lembang-1, dan Kusuma dilihat pertumbuhan dan hasil benihnya dari bulan Desember 2011 hingga Mei 2012. Percobaan lapangan dilaksanakan di Dusun Pandanpuro, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman pada ketinggian 505 m diatas permukaan laut. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan empat ulangan. Unit percobaan terdiri dari 60 tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil benih lima varietas cabai merah di dataran menengah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam pada tingkat kepercayaan 95%, dan untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan dilakukan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) pada tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dilakukan analisis korelasi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima varietas cabai merah memiliki pertumbuhan dan hasil benih yang berbeda di dataran menengah. Cabai merah keriting varietas Lembang-1 mempunyai pertumbuhan terbaik dan hasil buah tertinggi (10,22 ton/ha), diikuti oleh Kusuma (8,71 ton/ha), kemudian Lokal Pakem (7,37 ton/ha). Cabai merah besar varietas Gantari mempunyai pertumbuhan terbaik dan hasil buah tertinggi (8,5 ton/ha) dibandingkan dengan varietas Branang (6,5 ton/ha). Cabai merah keriting varietas Lembang-1 mempunyai hasil benih tertinggi (46,12 gram/tanaman), diikuti oleh Kusuma (37,21 gram/tanaman), dan Lokal Pakem (25,28 gram/tanaman). Hasil benih cabai merah besar varietas Branang (29,62 gram/tanaman) lebih baik dari pada varietas Gantari (28,05 gram/tanaman). Nilai komersial dari cabai merah adalah rasa pedas. Kadar capsaicin berpengaruh terhadap tingkat kepedasan. Kadar capsaicin tertinggi dimiliki oleh cabai merah keriting varietas Kusuma (1,12%) dan Lokal Pakem (0,91%) dibandingkan dengan ketiga varietas cabai merah lainnya.
Uji Efikasi Herbisida Pratumbuh untuk Pengendalian Gulma Pertanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Rizky Brian Wijaya, Prapto Yudono, Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1350

Abstract

Penelitian yang berjudul uji efikasi herbisida pratumbuh untuk pengendalian gulma pada pertanaman tebu (Saccharum officinarum L.) telah dilaksanakan di kebun percobaan Departemen Research & Development PT Gula Putih Mataram, Lampung Tengah pada bulan Desember 2011 sampai dengan Maret 2012. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap terdiri dari tiga blok yang masing-masing bloknya terdiri dari 9 perlakuan dan 1 kontrol. Perlakuan diterapkan adalah kombinasi dosis dan jenis herbisida pratumbuh diantaranya Diuron, Ametrin dan 2,4-D.Hasil penelitian menunjukkan dari seluruh petak perlakuan herbisida pratumbuh, efikasi perlakuan Diuron 2 kg/ha, 2,5 kg/ha, dan 3,5 kg/ha mampu menekan pertumbuhan gulma utama yaitu Dactyloctenium aegyptium, Boreria alata, Cynodon dactylon dan Cleome rutidospermae dengan lebih baik sampai dengan 8 Minggu Setelah Aplikasi. Aplikasi herbisida pra tumbuh tidak menunjukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan tunas tebu. Perlakuan kombinasi herbisida Diuron + 2,4-D dengan dosis 2,5 kg/ha + 1,5 l/ha menunjukkan peningkatan populasi induk dan anakan tebu.
Pengaruh Suhu dan Lama Perendaman Benih Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Bibit Kopi Arabika (Coffea arabica (LENN)) Desmawan Putra, Rohmanti Rabaniyah, Nasrullah
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1353

Abstract

Peningkatan produksi kopi harus diawali dengan penyediaan benih yang bermutu, terjangkau dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Permasalahan yang kemudian muncul adalah benih kopi memiliki kulit biji yang keras sehingga impermiabel terhadap air Perkecambahan benih kopi di dataran rendah yang bersuhu 30°C - 35°C memerlukan waktu 3 – 4 minggu, sedangkan di dataran tinggi yang bersuhu relatif lebih dingin membutuhkan  waktu yang lebih lama yaitu 6 – 8 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu perendaman dan lama perendaman yang tepat untuk mempercepat perkecambahan benih kopi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan di Desa Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah pada bulan Mei-September 2011. Rancangan yang digunakan adalah RCBD Faktorial (3x3) + 1 kontrol dengan 4 ulangan sebagai blok. Faktor pertama berupa suhu air awal perendaman (30°C, 60°C, 90°C), sedangkan faktor kedua berupa lama perendaman (10 menit, 20 menit, 30 menit). Benih direndam selama 1 hari dan setiap hari selama 7 hari. Benih dilakukan 3 kali pengujian yaitu pada waktu sebelum perendaman, setelah 1 hari perendaman, dan setelah perendaman setiap hari selama 7 hari. Variabel yang diamati meliputi laju repirasi, DHL, kadar air benih, daya tumbuh benih, indeks vigor, kecepatan berkecambah, vigor hipotetik. Hasil penelitian menunjukkan perendaman benih setiap hari selama 7 hari dengan suhu air awal 90°C selama 30 menit mampu meningkatkan daya tumbuh dan indeks vigor benih kopi.
Pengaruh Warna Cahaya Tambahan Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tiga Varietas Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium) Potong Dewi Ermawati, Didik Indradewa, Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1354

Abstract

Krisan merupakan tanaman hari pendek yang perkembangan dan inisiasi bunganya dipengaruhi oleh lama penyinaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna cahaya tambahan terhadap pembungaan tiga varietas krisan dan mendapatkan warna cahaya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan krisan. Penelitian terdiri dari dua faktor yang disusun dalam rancangan petak terbagi, warna cahaya tambahan merupakan petak utama dan varietas sebagai anak petak. Cahaya tambahan yang digunakan meliputi cahaya warna putih, merah, biru dan tanpa cahaya, sedangkan varietas yang digunakan yakni varietas Fiji kuning, Fiji putih dan Remix Red.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang mendapatkan cahaya tambahan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dan umur yang lebih panjang, tanaman krisan dengan cahaya tambahan warna putih dan merah memilki umur paling panjang, begitu pula dengan induksi pembungaannya, tanaman yang mendapatkan cahaya tambahan berwarna putih dan merah memiliki induksi pembungaan yang lebih lama. Varietas Fiji kuning yang mendapat cahaya tambahan warna biru memiliki diameter bunga yang paling besar dan diameter bunga varietas Fiji putih paling besar pada cahaya berwarna merah. Diameter bunga krisan varietas Remix Red tidak terpengaruh oleh penambahan cahaya dengan berbagai warna.
Pengaruh Jeluk Muka Air Genangan dalam Parit pada Berbagai Fase Pertumbuhan Padi Terhadap Gulma dan Hasil Padi (Oriza sativa L.) Eka Heskia Sebayang, Didik Indradewa, Dody Kastono
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1356

Abstract

Sistem genangan dalam parit adalah usaha pengairan yang dilakukan dengan meninggikan bedengan dan memberikan pengairan dalam parit terus-menerus. Sistem genangan dalam parit merupakan salah satu sistem yang dapat mengefisiensikan penggunaan air namun dapat meningkatkan pertumbuhan gulma Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh jeluk muka air padi genangan dalam parit pada berbagai fase pertumbuhan terhadap pertumbuhan gulma dan hasil padi serta jeluk muka air yang paling baik untuk menekan pertumbuhan gulma.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di desa Sidoarum, kecamatan Godean, kabupaten Sleman mulai bulan Juli sampai November 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak blok lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Perlakuan yang digunakan adalah pengaturan jeluk muka air genangan 0, 10, dan 20 cm dari permukaan bedengan pada fase pertumbuhan tanaman yaitu fase vegetatif, reproduktif, dan pemasakan yang terdiri atas 10 aras. Parameter yang dikumpulkan adalah kadar lengas tanah, penerusan cahaya, SDR, berat kering gulma, dan berat gabah kering.Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kadar lengas sistem genangan dalam parit dengan jeluk 0 dan 10 cm dapat menyamai sistem sawah saat fase pemasakan, (2) Pengaturan jeluk muka air sistem genangan dalam parit pada setiap fase pertumbuhan padi mengakibatkan berat kering gulma meningkat, (3) Peningkatan berat kering gulma menurunkan hasil gabah padi secara tidak nyata baik pada sistem genangan dalam parit maupun sawah.
Pengaruh Lapisan Debu Gunung Merapidan Dosis Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Awal Buah Naga (Hylocereus undatus Haw.) di lahan Pasir Pantai Purworejo Eva Mahrani, Rohmanti Rabaniyah, Prapto Yudono
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lapisan kedap debu gunung Merapi dalam menahan kehilangan air dari media perakaran dan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman buah naga. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang terletak di Purworejo, pada bulan Oktober 2011 sampai dengan Februari 2012. Rancangan yang digunakan adalah faktorial 3 x 3 yang disusun secara acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lapisan kedap yang berupa debu gunung Merapi yang diberikan 1 kg/pot, 2 kg/pot, dan 3 kg/pot. Faktor kedua berupa dosis pupuk NPK sebanyak 50 gram/pot, 100 gram/pot, dan 150 gram/pot. Tanaman di tanam pada bis beton diameter 60 cm dan diberi pupuk kandang sebanyak 20 kg/pot. Setiap pot berisi 4 bibit. Perlakuan lapisan kedap debu gunung Merapi dan dosis pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan. Pertumbuhan awal buah naga baik, dilihat dari tinggi tanaman selama 4 bulan dapat mencapai rata – rata 154,50 cm dengan diameter tunas yang mencapai 4,23 cm. Pertumbuhan buah naga mulai meningkat setelah diaplikasikan pupuk NPK, yaitu setelah umur tanaman 6 mst yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman, jumlah tunas, diameter tunas, dan panjang tunas.
Potensi Hasil dan Toleransi Curah hujan beberapa Klon Teh (Camelllia sinensis (L.) O. Kuntze) PGL di Bagian Kebun Kayulandak, PT. Pagilaran Gatot Wijoseno, Didik Indradewa, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1358

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui karakter morfologi, potensi hasil, dan ketahanan curah hujan rendah dan tinggi klon PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17, 2) menentukan klon PGL yang berdaya hasil tinggi dan tahan cekaman curah hujan rendah maupun cekaman curah hujan tinggi, dan 3) menentukan hubungan kekerabatan diantara klon-klon PGL yang diuji mendasarkan kepada data karakter morfologi dan potensi hasil. Penelitian lapangan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal yang diuji adalah sembilan klon PGL yaitu PGL 1, 3, 4, 7, 10, 11, 12, 15, dan 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot per pucuk dan panjang ruas tunas mempengaruhi potensi hasil tiap klon secara langsung, sedangkan karakter morfologi lainnya tidak berpengaruh. Klon PGL 12 memiliki potensi hasil pucuk tinggi dan tingkat ketahanan terhadap berbagai aras curah hujan sehingga berpeluang untuk dilepas sebagai klon unggul nasional. Berdasarkan data karakter morfologis dan potensi hasil, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu I (PGL 1, PGL 3, PGL 4, PGL 10 dan PGL 11), II (PGL 7 dan PGL 17), III (PGL 12), dan IV (PGL 15). Berdasarkan data produksi, klon PGL dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu klon produksi rendah (PGL 1 dan PGL 7), klon produksi menengah (PGL 3, PGL 4, PGL 10, PGL 11, dan PGL 17), dan klon produksi tinggi (PGL 12 dan PGL 15).
Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.), Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.), dan Jahe (Zingiber officinale var. officinale) pada Sistem Agroforestri Jati di Zona Ledok Wonosari , Gunung Kidul Kiswanto , Didik Indradewa, dan Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1359

Abstract

Penelitian telah dijalankan untuk menentukan pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah, serta jahe pada beberapa tingkat perkembangan sistem agroforesti berbasis jati. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor tunggal berupa tingkat perkembangan sistem agroforestri berbasis jati yaitu fase awal, tengah dan lanjut. Pengamatan dilakukan terhadap variabel pertumbuhan dan hasil jagung, kacang tanah serta jahe. Data yang diperoleh dianalisis Varians (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa tingkat perkembangan tegakan jati berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sela. Jagung pada agroforestri fase awal memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan fase tengah dan lanjut. Namun, kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang sama bila ditanam pada agroforestri fase awal dan tengah. Sementara itu, pada agroforestri fase lanjut kacang tanah memiliki pertumbuhan dan hasil yang rendah dibandingkan dengan agroforestri fase awal dan tengah. Berbeda dengan jagung dan kacang tanah, jahe memiliki pertumbuhan dan hasil tertinggi pada agroforestri fase tengah. Oleh karena itu, tanaman yang direkomendasikan untuk agroforestri berbasis jati fase awal adalah jagung dan kacang tanah (sebagai sumber pangan dan pakan ternak ruminansia). Pada agroforestri fase tengah dapat ditanami jahe sebagai bahan herbal. Sementara itu, agroforestri fase lanjut memiliki potensi sebagai sumber pakan ternak ruminansia apabila di bawah tegakan jati ditanami jagung maupun kacang tanah.
Pengaruh Tingkat Kemasakan Polong Terhadap Hasil Benih Delapan Aksesi Kacang Tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) Maranatha Bernard Ferryal, Prapto Yudono, Toekidjo
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1360

Abstract

Pengaruh umur panen terhadap hasil benih kacang tunggak merupakan kajian utama penelitian ini.Kualitas dan kuantitas benih menjadi faktor penting dalam kegiatan produksi benih.Kualitas benih diindikasikan dengan daya tumbuh (d.t.) dan indeks vigor yang berkaitan dengan tingkat kemasakan polong. Penelitian dilaksanakan dengan dua perlakuan, terdiri dari sepuluh kultivar kacang tunggak dan lima waktu panen. Delapan aksesi kacang tunggak asal D.I. Yogyakarta dan dua varietas unggul (KT-1 dan KT-6) menjadi material penelitian ini. Perlakuan waktu panen dibagi dalam lima tahap berselang sepuluh hari terhitung sejak antesis (hsa) di pertanaman mencapai 50 %. Masak fisiologis (m.f) benih Aksesi Bantul, Tempel, Wonosari, Wates, dan Kalibawang pada 30 hsa sedangkan benih Aksesi Imogiri, Prambanan, dan Semin serta KT-1 dan KT-6 pada 40 hsa. Penundaan waktu panen hingga 10 hari (20 hari pada Aksesi Wates dan Kalibawang) dapat dilakukan tanpa mempengaruhi kualitas benih (d.t. > 90 %). Umur panen mempengaruhi dua hal pada benih yaitu pengisian materi biji berupa cadangan makanan dan penurunan kadar air biji. Biji yang mencapai m.f. memiliki materi biji dengan kapasitas maksimum dan kadar air rendah sehingga memiliki mutu benih yang baik. Aksesi Wates dan Tempel dapat direkomendasikan calon varietas harapan. Aksesi Wates memiliki potensi hasil yang tinggi mencapai 2184,36 kg/ha, indeks panen tinggi, bobot brangkasan besar, dan berumur pendek (m.f. 75 hari), sedangkan Aksesi Tempel memiliki tipe pertumbuhan yang tegak, berumur pendek (m.f. 67 hari), indeks panen tinggi, dan potensi hasil cukup tinggi sebesar 1376,68 kg/ha.
Pengaruh Komposisi Media dan Kadar Nutrisi Hidroponik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Ratna Indrawati, Didik Indradewa, Sri Nuryani Hidayah Utami
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1361

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di daerahMangkudaranan, Margorejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta mulai Juli 2011 hingga Januari 2012. Penelitian inimenggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 ulangan dan 20 kombinasi perlakuan. Faktor pertama sebagaipetak utama komposisi media arang serbuk sabut kelapa yaitu 0%, 33%, 50%, 67%, dan 100%. Faktor keduasebagai anak petak kadar nutrisi, yaitu 2 ml/liter, 5 ml/liter, 10 ml/liter, dan 15 ml/liter. Pada penelitian inidilakukan pengamatan terhadap media komposisi meliputi pH, porositas total, kadar lengas, kapasitaspertukaran kation, daya hantar listrik, kadar C/N pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa arang serbuk sabut kelapa memiliki pori mikro lebih banyak dibandingkandengan arang sekam sehingga kemampuan menjerap dan menahan nutrisi arang serbuk sabut kelapa lebihtinggi. Hasil bobot buah total pada media dengan penambahan arang serbuk sabut kelapa setara dengan hasilbobot buah total media arang sekam sehingga arang serbuk sabut kelapa dapat digunakan sebagai mediatanam hidroponik. Kadar nutrisi lebih dari 5 ml/liter akan menghambat pertumbuhan tanaman tomat namundapat meningkatkan kandungan gula buah tomat.

Page 1 of 2 | Total Record : 15