Claim Missing Document
Check
Articles

PERTUMBUHAN TUMPANGSARI JAGUNG DAN KEDELAI PADA PERBEDAAN WAKTU TANAM DAN PEMANGKASAN JAGUNG Indah Permanasari; Dody Kastono
Jurnal Agroteknologi Vol 3, No 1 (2012): Agustus 2012
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ja.v3i1.90

Abstract

The arrangement of planting time and corn defoliation is one of the efforts for increasing growth of corn and soybean in intercropping system. The purpose of this research was to study the effect of planting time and corn defoliation and their interaction to growth on corn and soybean and comparise the intercropping and monoculturer system. The experimental design used was factorial with two factors (2 x 3) + 2 monoculture treatments under randomize completed block design with tree replications. The first factor was planting time with two levels i.e. planting corn and soybean in the same time and planting corn 10 days after the soybean. The second was corn defoliation with three levels i.e. no defoliation, defoliation with four leaves left above the cob and defoliation of the adjacent and above corn cob. The results showed that growth of corn and soybean did not affected by planting time but the growth of corn was affected by corn defoliation. Plant height of corn on 6 and 9 weeks after planting was significantly increased when the corn planted 10 days after soybean and corn defoliation with four leaves left above the cob but this treatment was decreased dry weight plant. Intercropping system was not decreased leaf area and dry weight plant of corn and soybean.
Differences in Biochar Sources for Controlled Nitrogen Loss in a Hybrid Maize Agroforestry System with Melaleuca cajuputi Dody Kastono; Priyono Suryanto; Rohlan Rogomulyo; Suci Handayani; Supriyanta Supriyanta; Muhammad Habib Widyawan; Taufan Alam
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 54 No. 1 (2022)
Publisher : Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2022.54.1.9

Abstract

Biochar is used to improve soil fertility and control nitrogen loss in soil. This study aimed to evaluate the difference between biochar sources, namely Melaleuca cajuputi waste and rice husk, for controlled nitrogen loss in hybrid maize planted between Melaleuca cajuputi stands. A split-plot design with three replications was used. The main plot was composed of biochar sources (BS), i.e., without biochar application (WB), Melaleuca cajuputi biochar (MCB), and rice husk biochar (RHB). The subplot was the urea fertilizer dosage, i.e., 0, 150, 300, and 450 kg/ha. The observation parameters were nitrate reductase activity (NRA), total chlorophyll (TC), leaf photosynthesis rate (LPR), nitrogen loss (NL), nitrogen use efficiency (NUE), and seed yield per hectare (SY). The data were analyzed with ANCOVA and LS-means. The results showed that there was no significant difference between mixing MCB or RHB in UF for all hybrid maize parameters, whereas significant differences were observed with WB. The NL values ​​of MCB and RHB were 13.85 and 13.08 kg/ha N, i.e., NL was significantly reduced by 70.90% and 72.51%, and the percentage of SY increased by 28.60% and 37.94% compared to WB, respectively.
Aplikasi Sistem Monitoring Pertumbuhan Tanaman Berbasis Web Menggunakan Machine Vision Lilik Sutiarso; Atris Suyantohadi; Dody Kastono; Andri Prima Nugroho
agriTECH Vol 31, No 4 (2011)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.984 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9644

Abstract

Nowadays, demand for integrating between information technology (IT) and development of agricultural system isin order to increase the productivity, efficiency and profitability in term of precision agriculture. This matter occurred due to some problems in the field, such as; unintensively monitoring activities for plant during the growing period. One of the alternative solutions to overcome the problem was introducing the machine vision technology in the farming system. The research is actually as a basic research that aims using technology of digital image processing and software of computation (mathematics) to support a function of real-time monitoring system for plant growing. The research mechanism was started from digital image processing by using an image segmentation method that can identify between the main object (plant) and others (soil, weed). Image processing algorithm used excess color method and color normalization to identify plants, to calculate crop area. Otsu method was used to convert it to binary images. The next was to calculate and analyze a percentage of the plant growing, from after planting until harvesting time. The analyzed data were stored as MySQL database format in the web server. Final output of the research was the web based monitoring instruments for plant growing that can be accessed through intranet (local area network) as well as internet technology. From the software testing, monitoring with a machine vision system has a success rate reached 70 % for identifying plants.ABSTRAKTuntutan integrasi teknologi sistem informasi dan sistem pertanian saat ini dimaksudkan guna mendukung efisiensi,produktivitas dan profitabiltas pertanian. Hal tersebut didorong oleh timbulnya permasalahan di lapangan terkait dengan belum optimalnya produktivitas tanaman yang diakibatkan antara lain, kurang intensifnya pemantauan (monitoring) tanaman pada masa pertumbuhan. Salah satu alternatif solusi untuk memperbaiki permasalahan tersebut dengan mengaplikasikan teknologi machine vision. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian dasar yang bertujuan memanfaatkan teknologi pengolahan citra digital dan perangkat lunak komputasi untuk mendukung fungsi monitoring pertumbuhan tanaman secara real-time. Mekanisme penelitian dimulai dengan tahap pengolahan citra digital yang menggunakan metode segmentasi untuk mengenali objek tanaman dengan objek lainnya. Algoritma pengolahan citra menggunakan metode kelebihan hijau dan normalisasi warna, sedangkan untuk menghitung luas tanaman digunakan metode  Otsu  dengan  mengubah  ke  citra  biner. Tahap  berikutnya  menghitung  prosentase  pertumbuhan  tanaman selama proses budidaya sampai dengan panen. Data hasil pencitraan disimpan dalam basisdata MySql. Hasil akhir dari pengolahan data ditampilkan sebagai informasi pertumbuhan tanaman yang ditampilkan di website. Dari hasil pengujian, sistem monitoring dengan machine vision ini memiliki tingkat keberhasilan mencapai 70 % dalam mengenali tanaman.
Pengaruh Jeluk Muka Air Genangan dalam Parit pada Berbagai Fase Pertumbuhan Padi Terhadap Gulma dan Hasil Padi (Oriza sativa L.) Eka Heskia Sebayang, Didik Indradewa, Dody Kastono
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1356

Abstract

Sistem genangan dalam parit adalah usaha pengairan yang dilakukan dengan meninggikan bedengan dan memberikan pengairan dalam parit terus-menerus. Sistem genangan dalam parit merupakan salah satu sistem yang dapat mengefisiensikan penggunaan air namun dapat meningkatkan pertumbuhan gulma Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh jeluk muka air padi genangan dalam parit pada berbagai fase pertumbuhan terhadap pertumbuhan gulma dan hasil padi serta jeluk muka air yang paling baik untuk menekan pertumbuhan gulma.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di desa Sidoarum, kecamatan Godean, kabupaten Sleman mulai bulan Juli sampai November 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak blok lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Perlakuan yang digunakan adalah pengaturan jeluk muka air genangan 0, 10, dan 20 cm dari permukaan bedengan pada fase pertumbuhan tanaman yaitu fase vegetatif, reproduktif, dan pemasakan yang terdiri atas 10 aras. Parameter yang dikumpulkan adalah kadar lengas tanah, penerusan cahaya, SDR, berat kering gulma, dan berat gabah kering.Hasil penelitian menunjukkan: (1) Kadar lengas sistem genangan dalam parit dengan jeluk 0 dan 10 cm dapat menyamai sistem sawah saat fase pemasakan, (2) Pengaturan jeluk muka air sistem genangan dalam parit pada setiap fase pertumbuhan padi mengakibatkan berat kering gulma meningkat, (3) Peningkatan berat kering gulma menurunkan hasil gabah padi secara tidak nyata baik pada sistem genangan dalam parit maupun sawah.
Pengaruh Takaran Pupuk Kompos Sampah Pasar Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill) Rio Marthin, Dody Kastono, Rohmanti Rabaniyah
Vegetalika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1523

Abstract

Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik adalah sampah pasar. Selama ini sampah masih menjadi masalah karena menimbulkan bau dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Namun bila dikelola dengan baik, dapat menjadi bahan yang bermanfaat. Sampah yang telah dibakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dikumpulkan dan dikemas kembali dan dijual sebagai kompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kompos sampah pasar dan mendapatkan takaran pupuk kompos sampah pasar yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan hasil kedelai hitam yang terbaik. Penanaman kedelai hitam dilakukan di lahan KP4 UGM, Kalitirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan Maret sampai Juli 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 2 kontrol dan 5 takaran pupuk kompos sampah pasar sebagai perlakuan dan 3 blok sebagai ulangan. Adapun susunan perlakuan pada percobaan ini yaitu kontrol 1 (tanpa pupuk kompos sampah pasar dan pupuk anorganik); kontrol 2 (tanpa pupuk kompos sampah pasar tetapi menggunakan pupuk anorganik); pupuk kompos sampah pasar dengan takaran 1,0, 1,5, 2,0, 2,5, dan 3,0 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos sampah pasar pada takaran 1-3 ton/ha tidak meningkatkan hasil kedelai hitam Mallika dibandingkan tanaman tanpa pemupukan maupun tanaman yang diberi pupuk anorganik. Takaran pupuk kompos sampah pasar 1-3 ton/ha masih sangat kecil untuk mendapatkan hasil kedelai hitam Mallika yang maksimal.
Pengaruh Waktu Pangkas Pucuk dan Frekuensi Pemberian Paklobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Kembang Kertas (Zinnia elegans Jacq.) Venti Winardiantika, Dody Kastono, Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1527

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pangkas pucuk dan frekuensi pemberian paklobutrazol atau interaksinya terhadap pertumbuhan dan pembungaan kembang kertas dan menentukan waktu pangkas pucuk dan frekuensi pemberian paklobutrazol atau interaksinya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan kembang kertas dalam pot. Penelitian dilaksanakan di desa Kaponan, kecamatan Pakis, kabupaten Magelang, Jawa Tengah dari bulan Juni sampai dengan Oktober 2011. Percobaan menggunakan Rancangan Faktorial (3 x 3) + 1 yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah waktu pemangkasan pucuk terdiri dari 3 aras yaitu 5, 6, dan 7 minggu setelah semai dan faktor kedua adalah frekuensi pemberian paklobutrazol yang terdiri dari 3 aras yaitu 1, 2, dan 3 kali. Tanaman tanpa perlakuan sebagai kontrol. Analisis varian dilakukan terhadap hasil pengamatan yang diperoleh dan dilanjutkan dengan Uji Berganda Duncan (DMRT) apabila terdapat beda nyata antar perlakuan. Perbedaan pengaruh antara kontrol dan kombinasi perlakuan dianalisis dengan Uji Kontras Ortogonal pada tingkat kepercayaan 95 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pangkas pucuk maupun frekuensi pemberian paklobutrazol menyebabkan pemendekan tanaman, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan jumlah cabang total, jumlah cabang produktif, dan jumlah bunga. Perlakuan pangkas pucuk menunda umur berbunga tanaman. Semakin cepat waktu pangkas pucuk dilakukan semakin pendek tanaman, nilai kekompakan tanaman semakin tinggi, warna bunga cerah, dan bunga mekar serempak. Aplikasi paklobutrazol 1 kali menghasilkan tanaman yang paling pendek tetapi Aplikasi 3 kali menghasilkan kekompakan tanaman tinggi, warna bunga cerah, dan bunga mekar serempak.
Pertumbuhan dan Hasil Sorgum Manis (Sorghum bicolor (L.) Moench) Tanam Baru dan Ratoon pada jarak Tanam Berbeda Galuh Puspitasari N. , Dody Kastono, Sriyanto Waluyo
Vegetalika Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1593

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan ratoon terhadap pertumbuhan dan hasil sorgum manis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di kebun Tridarma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta mulai bulan Juli 2011 sampai Februari 2012. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor yang pertama adalah jarak tanam terdiri dari 2 aras yaitu: 60 cm x 25 cm dan 70 cm x 20 cm. Faktor yang kedua yaitu sitem ratoon, terdiri dari 2 aras, yaitu: tanpa ratoon dan ratoon satu kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara perlakuan jarak tanam dengan perlakuan ratoon terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil dari sorgum manis, kecuali pada jumlah daun pada 12 mst. Jarak tanam 70 cm x 20 cm memberikan hasil yang lebih tinggi pada diameter batang pada umur 4 mst, dan indeks luas daun pada umur 12 mst. Sistem ratoon meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat kering akar pada umur 4 mst, berat kering tajuk umur 4 mst, bobot 1000 biji, serta memberikan hasil bioetanol 87,66 % lebih besar dan pakan 59,89 % lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan tanpa ratoon.
Pengaruh Mikoriza Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sorgum Manis (Sorghum bicolor L. Moench) pada Tunggul Pertama dan Kedua Avy Anggarini M., Tohari, Dody Kastono
Vegetalika Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.1614

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mikoriza dan bahan percobaan (biji dan tunggul) terhadap pertumbuhan dan hasil sorgum manis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Februari sampai Mei 2012. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot). Petak utama adalah bahan percobaan terdiri dari 3 taraf yaitu biji, tunggul 1, dan tunggul 2. Anak petak adalah pemberian mikoriza terdiri dari 2 taraf yaitu tanpa mikoriza dan dengan mikoriza (5 g/lubang tanam). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas biji sorgum manis yang berasal dari tunggul 2 (5,18 ton/ha) lebih rendah 38,33 % dari produktivitas sorgum manis yang berasal dari biji (8,40 ton/ha) dan lebih rendah 35,25 % dari produktivitas sorgum manis yang berasal dari tunggul 1 (8,00 ton/ha). Hasil nira tunggul 1 (539,29 l/ha) dan tunggul 2 (362,18 l/ha) lebih rendah 25,31 dan 49,84 % dari hasil nira sorgum manis yang berasal dari biji 722,07 l/ha. Pemberian mikoriza 5 g/lubang tanam memberikan hasil nira 611,51 l/ha yang meningkat 29,88 % dari tanpa pemberian mikoriza (470,84 l/ha).Kata Kunci : mikoriza, pengeprasan, sorgum manis, tunggul.
Kajian Teknologi Parit Berbahan Organik pada Produktivitas Tumpangsari Jagung (Zea mays L.) dengan Kacang Hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek di Lahan Kering Jian Marda Purnama, Tohari, Dody Kastono
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2414

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kajian teknologi parit berbahan organik pada produktivitas tumpangsari jagung (Zea mays L.) dan kacang hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek) di lahan kering. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di lahan petani, Dusun Sidowayah, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan November 2010 sampai Februari 2011.Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman jagung sebagai tanaman pokok adalah rancangan petak terbagi (split plot). Faktor pertama adalah sistem parit terdiri 3 taraf yaitu tanpa parit, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri 2 taraf yaitu monokultur dan tumpangsari dengan kacang hijau. Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman kacang hijau sebagai tanaman pendukung adalah rancangan acak kelompok lengkap (RCBD) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu tanpa parit + tanpa bahan organik, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan pada tanaman pokok terjadi interaksi antar perlakuan parit dengan sistem tanam berpengaruh nyata terhadap luas daun dan indeks luas daun umur 4; 6; 8; 12 mst, bobot 100 biji, bobot biji per plot percobaan, dan bobot biji per hektar. Parit berbahan organik meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 31,95 % dibandingkan perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Sistem tanam tumpangsari meningkatkan hasil sebesar 6,42 %. Pada tanaman pendukung perlakuan parit berbahan organik meningkatkan hasil sebesar 35,7 % perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Nisbah setaraan lahan (NSL) pada sistem tumpangsari dengan perlakuan parit tanpa bahan organik dan sistem tumpangsari dengan perlakuan parit berbahan organik menunjukkan nilai tertinggi yaitu 1,88 dan 1,90 dibandingkan perlakuan lain.
Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Boron Fitriyana Sholihatun, Eka Trawaca Susila Putra, Dody Kastono
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.439 KB) | DOI: 10.22146/veg.5155

Abstract

INTISARIPenelitian bertujuan untuk 1) menentukan respon dan tingkat ketahanan delapan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan dan 2) menentukan dosis boron (B) yang optimal untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit, yang terdiri dari: Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 540, PPKS 718 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis boric acid yang terdiri dari 5 aras yaitu: 0; 0,25; 0,5; 0,75; dan 1 g/bibit. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel mikroklimat di lokasi penelitian, aktivitas fisiologis serta pertumbuhan bibit kelapa sawit. Data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5 %, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Dosis optimal B yang mampu meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa aplikasi boron pada bibit kelapa sawit mampu menginduksi ketahanan terhadap cekaman kekeringan melalui mekanisme pengerasan akar (aspek morfologi), mempertahankan bukaan stomata (aspek fisiologi) dan kandungan klorofil daun (aspek biokimia). Dosis optimum boric acid untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan berkisar antara 0,5–0,75 g/bibit, pada kandungan awal B dalam media tanam sebesar 78,53 ppm. Hibrida PPKS 239, Simalungun dan Dumpy mampu menghadapi cekaman kekeringan lebih baik daripada Avros, PPKS 718, PPKS 540, Yangambi dan Langkat.Kata kunci: kelapa sawit, kekeringan, boron