cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (2013)" : 10 Documents clear
Pengaruh Sumber Pupuk Nitrogen Terhadap Kuantitas dan Kualitas Benih Lima Kultivar Wijen (Sesamum indicum L.) Triasih Septianingtyas K., Taryono, dan Prapto Yudono
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.618 KB) | DOI: 10.22146/veg.3999

Abstract

INTISARISalah satu masalah dalam pelaksanaan pertanian organik adalah terbatasnya ketersediaan benih organik. Faktor tanah merupakan salah satu penentu keberhasilan budidaya wijen, dan supaya pertumbuhan wijen sempurna dengan hasil yang tinggi, diperlukan cukup nitrogen untuk memperbaiki pertumbuhan akar, batang dan daun. Nitrogen biasanya terdapat pada pupuk organik dan anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian macam sumber pupuk nitrogen (organik dan anorganik) terhadap kuantitas dan kualitas benih wijen serta mengetahui kultivar wijen yang mampu tumbuh dan berdayahasil baik pada kondisi sistem budidaya organik. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial acak lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah lima kultivar wijen yaitu kultivar Sumberejo 1, Sumberejo 3, Lokal hitam, Lokal putih dan Purworejo. Faktor kedua adalah sumber pupuk nitrogen yaitu kontrol (tanpa penambahan pupuk organik ataupun anorganik), dengan pupuk anorganik sebesar 150 kg/ha N dan penambahan pupuk organik sebesar 8,6 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pada tanah yang kandungan bahan organiknya tinggi, pemberian pupuk nitrogen (organik dan anorganik) tidak berpengaruh terhadap kuantitas benih wijen, tetapi dalam hal kualitas benih, menurunkan kadar minyak benih dan daya kecambah wijen. Kultivar wijen yang digunakan (Sumberejo 1, Sumberejo 3, Lokal Hitam, Lokal Putih, Purworejo) dapat tumbuh dengan baik tetapi belum dapat berdaya hasil seperti yang diharapkan.Kata kunci: benih wijen, nitrogen, organik, kualitas, kuantitas
The Effects of Slope and Frequency of Stem Cutting in the Water to the Vase Life of Cut Orchid Vanda douglas Ayuta Ratu Balqis, Didik Indradewa, dan Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.23 KB) | DOI: 10.22146/veg.4000

Abstract

ABSTRACT Orchid is one of the highly prospective ornamental plants. Orchid cultivation is one of the most popular ornamental cultivation. That is because the demand for orchids are relatively stable compared to other plants that tend to follow the trend or fluctuating. One form of massive utilization of orchids is the use as a cut flower. One type of orchid that mostly sold as a cut flower is Vanda douglas. Orchid’s –including Vanda douglas- advantage than other cut flowers are the vase life that tend to be longer. Nonetheless, the effort to maintain even extend the vase life of the flower is still needed. This experiment was conducted to determine the effect of cutting the flower stem with a combination of cutting slope and conditions of the stem and cutting frequency of the stem on vase life of cut orchid Vanda douglas.The experiment was conducted at the Laboratory of Horticulture, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University from July to September 2012. The first phase of the study used a completely randomized design with 2 factors. The first factor was cutting slope consisted of 0, 30 and 45. The second factor was cutting conditions consisted of water cut and air cut. The second phase also used completely randomized design with cutting stem frequency consisted of every day, every 2 days, every 4 days and every 6 days. Presentations of flowers bloom, wilt, fall, respiration, transpiration and visual quality rating of the cut flower were observed every day. Flower’s shrinkage, stomata and relative water content were observed at the beginning and end of the experiment.The results showed there was no interaction between the slope and condition of stem cutting on all parameters of the observations. Cutting stem with a slope of 45 caused longer vase life than the other slopes. Cutting the flower stem in the water also caused a longer vase life than cutting through the air. Flower stem that was cut at intervals of 4 days caused the longest vase life than any other time frequency. Nevertheless, the extent of vase life of cut flowers only extend a day, therefore the benefits for a florist should be reexamined. Key words : Cut orchid, cutting slope, cutting conditions, cutting frequency, vase life
Daya Simpan Benih Kedelai Hitam (Glycine max (L) Merrill) Hasil Tumpangsari dengan Sorgum Manis (Shorgum bicolor (L) Moench) Dhika Rizky Immawati, Setyastuti Purwanti, dan Djoko Prajitno
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.987 KB) | DOI: 10.22146/veg.4001

Abstract

INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi baris antara tanaman kedelai hitam dengan sorgum manis yang ditanam secara tumpangsari terhadap kualitas benih setelah disimpan. Sehingga akan diperoleh benih dengan daya simpan yang tinggi pada kombinasi baris yang tepat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan November 2012 sampai April 2013. Penelitian dilakukan dengan pendekatan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah benih yang berasal dari pertanaman tumpangsari kedelai hitam dengan sorgum manis dengan kombinasi baris yaitu 3:1, 4:1, 6:1, dan monokultur kedelai hitam. Benih disimpan dengan berat 250 g untuk masing-masing perlakuan menggunakan plastik polietilen dan disimpan pada ruangan dengan suhu kamar (27-28 0C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas benih kedelai hitam hasil pertanaman tumpangsari memberikan pengaruh yang sama dibandingkan dengan benih kedelai hitam dari pertanaman monokultur. Kualitas benih asal pertanaman tumpangsari dan monokultur dapat terjaga baik hingga penyimpanan bulan keempat.Kata kunci: kedelai hitam, tumpangsari, monokultur, kualitas benih, penyimpanan. 
Seleksi Perdu Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) Hasil Persilangan Dialel untuk Sifat Berat Pucuk Enik Nurlaili Afifah, Suyadi Mitrowihardjo, dan Nasrullah
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.922 KB) | DOI: 10.22146/veg.4003

Abstract

INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berat pucuk pada perdu-perdu tanaman teh hasil persilangan dialel dan memilih individu-individu yang potensial sebagai induk perbanyakan tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap variable berat pucuk, jumlah pucuk peko, dan berat pucuk peko dari seluruh individu pertanamanteh hasil persilangan dialel asal biji sebanyak 166 perdu. Pengamatan untuk sifat berat pucuk juga dilakukan pada pertanaman teh hasil perbanyakan vegetatif sebanyak 200 perdu untuk menentukan nilai heritabilitas dan ripitabilitas. Semua pertanaman yang diamatai telah memasuki TP (Tahun pangkas) 4. Pengamatan terhadap sifat berat pucuk dilakukan setiap 10 hari sekali dengan pemetikan medium sebanyak 10 kali petikan. Individu yang terpilih merupakan individu yang mempunyai rerata berat pucuk dari sepuluh petikan lebih besar atau sama dengan (≥) rerata seluruh individu ditambah dua kali standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 jenis cross yang diseleksi dengan kriteria rerata + 2 SD diperoleh satu jenis cross yang terbaik berdasarkan sifat berat pucuknya yaitu PSA (hasil persilangan PS 1 x SA 40) dengan jumlah perdu yang terseleksi sebanyak 3 perdu. Hasil pengamatan terhadap pucuk peko menunjukkan bahwa jenis persilangan PSA memiliki berat pucuk peko, jumlah pucuk peko, dan presentase berat pucuk peko yang tertinggi. Sedangkan hasil seleksi individual dengan kriteria rerata + 2 SD diperoleh 10 individu yang terseleksi dari 166 individu yang diseleksi. Nilai heritabilitas dan ripitabilitas yang diperoleh termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 57,4 % dan 58,9 %.Kata kunci: teh, berat pucuk, dialel, seleksi.
Effect of Various Rates of Manure on Growth and Yield of Sesame (Sesamum indicum L.) in Sandy Land Area Marwansyah Barus, Rohlan Rogomulyo, dan Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.56 KB) | DOI: 10.22146/veg.4004

Abstract

ABSTRACTThis research was conducted to determine the rate of manure most appropriate for growth and yield of sesame (Sesamum indicum L.) in sandy land area. The experiment was located at the sandy land area of Keburuhan, Purworejo. The design used was a complete randomized block design (RAKL) with three blocks as replication. The treatments applied were various rates of cattle manure consisted of 5 levels, namely: 20 ton/ha, 40 ton/ha, 60 ton/ha, 80 ton/ha, and 100 ton/ha .The results showed that the application of 20 ton/ha to 100 ton/ha manure did not increase plant height, number of pods, number of flowers, and net assimilation rate of sesame. Fertilizer application at the rate of 60 ton/ha produced the highest number of leaves, while the highest plant fresh weight obtained at 80 tons/ha. 40 ton/ha and 80 ton/ha of manure produced the highest crop growth rate (CGR), which resulted in higher plant dry weight. Increasing manure rate did not significantly increase the yield of sesame seeds.Keywords: sesame, sandy land, manure
The Effect of Kind of Cutting and Planting Position on Germination and Early Growth of Sugar Cane (Saccharum officinarum L.) Seedlings Quiko Andreas, Prapto Yudono, dan Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.297 KB) | DOI: 10.22146/veg.4005

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to determine the effect of kinds of cutting which planted in vertical, horizontal and diagonal position to the germination, early seedling growth. This was a field research, at field laboratorium, Tridharma, Banguntapan, Bantul, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Yogyakarta in October to December 2012.This study used a factorial experimental design 2 x 3 plus 1 control, with a Completely Randomized Design (CRD) 4 replications. The first factor was the kinds of cutting consisting of 3 levels i.e bagal, budchip and budset. The second factor was the position at planted consisting 3 levels i.e vertical, incline and horizontal with the bud facing up. The collected data were analyzed by using analysis of variance (Anova) applying level of significance at α = 5%. When significant differences among treatments were found, further analysis was carried out by applying a Least Significant Difference test (LSD) at α = 5%. The results showed that there are significant interactions between treatments of kind of cutting and planting position affect percent germination, canopy dry weight in 9 week after planting (wap), root dry weight 9 wap and growth rate in 6-9 wap. Kinds of cutting and planting positions significantly increases the plant height, leaf number, tiller number, stem diameter, fresh canopy weight of 12 wap, canopy dry weight in 12 wap, Net Assimilation Ratio (NAR) 9-12 wap, Crop Growth Rate (CGR) in 9-12 wap. Combination of budchip planted horizontal (89%) and vertical (87%) position showed the best combination germination percentage. Keywords: Kind of cutting, sugar cane, planting position
Pengayaan Oksigen di Zona Perakaran untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.) Secara Hidroponik Redha Fauzi, Eka Tarwaca Susila Putra, dan Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.377 KB) | DOI: 10.22146/veg.4006

Abstract

INTISARI Penelitian bertujuan untuk 1) menentukan kadar oksigen yang optimal untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan hasil tanaman selada dan 2) mengetahui pengaruh pengkayaan oksigen di zona perakaran terhadap serapan N, P, K, Ca, Mg dan Fe oleh tanaman selada yang ditanam secara hidroponik. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah pemberian aerasi dengan tekanan udara tertentu pada media tumbuh, yaitu 0,012 mPa; 0,006 mPa; 0,003 mPa; dan 0 mPa. Pemberian tekanan udara dilakukan dengan menggunakan aerator. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel lingkungan, pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman selada. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Dunnet. Konsentrasi oksigen yang optimal untuk meningkatkan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman selada ditentukan dengan analisis regresi. Sedangkan pola hubungan antar variabel pengamatan ditentukan dengan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman selada terus mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan tekanan aerasi dan konsentrasi oksigen terlarut dalam media tumbuh hidroponik hingga 0,012 mPa dan 12,23 mg/l. Kemampuan tanaman selada untuk mengakumulasi N, P, K, Ca, Mg, dan Fe dalam jaringan daunnya terus mengalami peningkatan sejalan dengan bertambahnya tekanan aerasi maupun konsentrasi oksigen terlarut dalam media tumbuh hidroponik, hingga tekanan aerasi sebesar 0,012 mPa dan konsentrasi oksigen terlarut sebesar 12,23 mg/l. Pemberian tekanan aerasi sebesar 0,012 mPa dengan konsentrasi oksigen terlarut sebesar 12,23 mg/l berpotensi untuk memperpendek umur panen tanaman selada dari yang semula 28 hari menjadi 14 hari setelah pindah tanam.Kata kunci : selada, hidroponik, pengkayaan oksigen
Pertumbuhan dan Tanggapan Terhadap Penyakit karat (Puccinia kuehnii) Sembilan Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) yang Diinfeksi Jamur Mikoriza Arbuskular Wenny Ismayanti, Toekidjo, dan Bambang Hadisutrisno
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.751 KB) | DOI: 10.22146/veg.4007

Abstract

INTISARIJamur Mikoriza Arbuskular (JMA) berpotensi tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi, dan ketahanan tanaman terhadap penyakit, oleh karena itu sering digunakan sebagai bahan pupuk hayati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat infektivitas JMA pada beberapa klon tebu, tanggapan pertumbuhan klon-klon tebu, dan ketahanannya terhadap penyakit karat, sebagai modal awal program pemuliaan tanaman tebu rendah pupuk kimia. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2012 sampai dengan Juli 2013 di rumah plastik Condongcatur dan di Laboratorium Mikologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah penggunaan sembilan klon tebu terdiri dari 9 taraf yaitu klon 6219, 6202, 6239, 6525, 6535, PS92-752, BL, PS881, dan PSJK922. Faktor kedua adalah pemberian inokulasi JMA dan tanpa inokulasi JMA. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam α = 5%, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infektivitas sembilan klon tebu menunjukkan nilai yang tinggi yaitu di atas 70%. JMA dapat meningkatkan pertumbuhan tebu ditinjau dari parameter tinggi tanaman, jumlah anakan, kehijauan daun, berat segar, dan berat kering. Klon 6239 yang memiliki respon pertumbuhan paling baik secara umum, dengan berat kering total paling tinggi dibandingkan klon yang lain. Hasil skoring ketahanan penyakit menunjukkan klon 6202, 6219, dan BL agak tahan terhadap infeksi penyakit karat oranye, sedangkan klon 6239, 6525, 6535, PS92-752, PS881, dan PSJK922 agak rentan terhadap infeksi penyakit karat oranye. JMA mampu meningkatkan ketahanan klon tebu 6239 dari agak rentan (moderate susceptible) menjadi agak tahan (moderate resistant) terhadap infeksi penyakit karat oranye. Klon 6239 dapat digunakan dalam program pemuliaan tanaman tebu yang bersimbiosis baik dengan JMA.Kata kunci: Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA), tebu, penyakit karat oranye.
Potensi Hasil, Mutu, dan Daya Simpan Buah Enam Galur Mutan Harapan Tomat (Solanum lycopersicum L.) Adzakirina Fardhani, Erlina Ambarwati, Sri Trisnowati, Rudi Hari Murti
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.008 KB) | DOI: 10.22146/veg.4008

Abstract

INTISARI Penelitian ini merupakan penelitian jangka panjang untuk mendapatkan varietas galur murni baru. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi potensi hasil, mutu dan daya simpan enam galur mutan harapan tomat (Solanum lycopersicum L.) hasil irradiasi sinar gamma Co-60 untuk dataran rendah. Galur harapan generasi M9 dari ‘Intan’ yaitu G20 1/13/25/28/16/13 (G2), G20 1/13/25/26/24/11 (G4), G40 2/19/9/19/12/13 (G6), G40 2/15/23/22/13/13 (G7), G60 3/9/12/34/12/14 (G8), dan G60 3/15/15/1/13/6 (G9), ‘Intan’ (tetua) dan ‘Fortuna’ dimasukkan untuk perbandingan yang ditanam dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 4 blok sebagai ulangan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kalitirto, Berbah, Sleman (KP4-UGM) dan dilanjutkan di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada bulan Mei-September 2012. Variabel yang diamati adalah fruitset, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, warna buah, bentuk buah, panjang buah, diameter buah, bobot buah per butir, volume buah, kandungan vitamin C, kandungan asam tertitrasi, padatan terlarut total, waktu pematangan dan umur simpan. Analisis data menggunakan anova dan uji lanjut DMRT pada α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam galur harapan menghasilkan jumlah buah total per tanaman dan bobot buah total per tanaman sama besar dengan ‘Intan’ namun nyata lebih besar daripada ‘Fortuna’ yaitu berkisar antara 49,85 – 73,55 buah per tanaman dan 2677,8 – 3277,6 gram per tanaman. Tingginya jumlah buah total dan bobot buah total dipengaruhi oleh fruitset keenam galur, berkisar antara 68,14 – 78,63%. Mutu G20 1/13/25/26/24/11 (G4) lebih tinggi dibandingkan ‘Fortuna’ dan ‘Intan’ dalam hal panjang buah (4,43 cm), diameter buah (5,20 cm), bobot buah per butir (74,81 gram) dan volume buah (71,37 cm3). Galur generasi M9 menghasilkan kandungan vitamin C sama dengan ‘Fortuna’ dan ‘Intan’. Galur harapan G40 2/19/9/19/12/13 (G6) menghasilkan kandungan asam tertitrasi lebih tinggi daripada ‘Fortuna’ dan ‘Intan’, sementara G60 3/9/12/34/12/14 (G8) menghasilkan padatan terlarut total nyata lebih tinggi dibandingkan ‘Intan’ dan ‘Fortuna’. Buah keenam galur harapan yang dievaluasi memiliki bentuk buah apel dengan warna buah merah cerah, merah gelap dan merah jingga. Galur harapan G20 1/13/25/28/16/13 (G2), G40 2/19/9/19/12/13 (G6), G60 3/9/12/34/12/14 (G8) dan G60 3/15/15/1/13/6 (G9) memiliki waktu pematangan sama dengan ‘Intan’ namun lebih cepat dari ‘Fortuna’. Keenam galur harapan memiliki umur simpan sama dengan ‘Intan’ namun lebih cepat dari ‘Fortuna’. Keenam galur harapan dapat diusulkan untuk dijadikan varietas galur murni baru. Kata kunci: buah tomat, dataran rendah, daya hasil, mutu, daya simpan. 
Eksplorasi dan Karakterisasi Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Rozika, Rudi Hari Murti, dan Setyastuti Purwanti
Vegetalika Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.044 KB) | DOI: 10.22146/veg.4009

Abstract

INTISARISawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) merupakan tanaman buah tropis yang berbuah sepanjang tahun dan dapat hidup di daerah kering sehingga potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan data populasi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu sentra sawo terbesar di Indonesia tetapi informasi keragaman dan aksesi-aksesi sawo unggul belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran tanaman sawo di DIY, mengetahui keragaman sawo dan mengelompokkannya berdasarkan sifat morfologi, serta menentukan pohon induk sawo yang memiliki sifat unggul sebagai calon varietas. Kegiatan eksplorasi tanaman sawo dilakukan pada bulan September–Desember 2012 di 4 kabupaten dan 1 kotamadya di DIY. Metode pengambilan data dilakukan dengan metode survey lapangan serta wawancara terhadap pemilik pohon sawo untuk memperoleh informasi tentang pohon sawo dan produksinya. Buah dari setiap aksesi diamati 9 karakter morfologi, termasuk buah sawo yang diamati di Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian UGM. Berdasarkan data populasi, sebaran tanaman Sawo di DIY terdistribusi merata di setiap kabupaten dimana populasi sawo terbesar dimiliki oleh Kabupaten Sleman dan populasi terkecil dimiliki oleh Kota Yogya. Hasil analisis ragam menunjukkan kandungan vitamin C memiliki keragaman tinggi sedangkan karakter lain memiliki keragaman sedang. Hasil analisis klaster pada karakter bentuk buah menghasilkan 3 klaster yaitu klaster 1 terdiri dari 9 aksesi sawo dengan bentuk buah lonjong, klaster 2 terdiri dari 75 aksesi sawo dengan bentuk buah oval, dan klaster 3 terdiri dari 29 aksesi sawo dengan bentuk buah bulat. Aksesi terpilih berdasarkan ukuran buah, kadar gula dan penampilan yaitu berbuah lonjong: aksesi G3 dari Mantrijeron (Yogya), H1 dan H4 dari Patuk (Gunung Kidul); berbuah oval: aksesi C4 dan C5 dari Imogiri (Bantul), G5 dari Mantrijeron (Yogya); berbuah bulat: aksesi D4 dari Lendah (Kulonprogo), G6 dari Kraton (Yogya), dan J1 dari Kalasan (Sleman).Kata kunci: sawo, eksplorasi, aksesi, analisis klaster, kadar gula, vitamin C.

Page 1 of 1 | Total Record : 10