cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2014)" : 10 Documents clear
Kajian Fungsi Tanaman Lanskap di Jalur Hijau Jalan Laksda Adisucipto, Urip Sumoharjo, dan Jendral Sudirman Yogyakarta Afni Riddati Narendreswari, Sri Trisnowati, dan Siti Nurul Rofiqo Irwan
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.877 KB) | DOI: 10.22146/veg.4010

Abstract

INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanaman hias di jalur hijau jalan Laksda Adisucipto, Urip Sumoharjo, dan Jendral Sudirman, mengetahui fungsi dan kesesuaian sebagai tanaman lanskap dan identitas budaya Yogyakarta, serta memberikan rekomendasi pengembangan jalur hijau. Kesesuaiannya sebagai fungsi tanaman lanskap dilihat dari fungsi visual control, physical barriers, climate control, erosion control, wildlife habitats, dan aesthetic value. Kesesuaiannya sebagai identitas budaya dilihat dari pohon yang mewakili budaya lokal Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dalam 4 tahap yaitu observasi secara visual, investigasi (identifikasi tanaman, pemetaan tanaman serta penilaian fungsi tanaman), analisis data secara deskriptif, dan rekomendasi pengembangan jalur hijau jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis tanaman terdiri dari 11 jenis pohon, 8 jenis perdu, 10 jenis semak, 5 jenis penutup tanah, dan 4 jenis tanaman merambat. Fungsi tanaman dalam lanskap dan fungsi tanaman dalam ruang mencapai nilai optimum pada jalur hijau yang ada di sekitar rumah sakit Bethesda. Pohon lokal sebagai identitas budaya yang didapatkan adalah pohon asam jawa (Tamarindus indica) dan pohon tanjung (Mimusoph elengi).Kata kunci : jalur hijau jalan, fungsi tanaman, identitas budaya
Pengaruh Residu Pemberian Vinasse dan Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.) Maslikhatul Umami, Sriyanto Waluyo, Sri Muhartini, Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.455 KB) | DOI: 10.22146/veg.4011

Abstract

INTISARI Penelitian ini untuk mengetahui dampak residu pemberian vinasse dan pupuk kalium yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta pada bulan Februari-Maret 2013 dengan menggunakan kangkung darat varietas Bangkok LP-1. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor, faktor pertama terdiri dari 4 aras yaitu residu pemberian vinasse inkubasi 5, 10, 15, dan 20 hari. Faktor kedua terdiri dari 3 aras yaitu tanpa pupuk K, setengah dosis anjuran pupuk K, dan pupuk K sesuai anjuran, sehingga total percobaan sebanyak 12 unit dan diulang sebanyak 3 ulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dan DMRT pada α=0,5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik pada perlakuan residu pemberian vinasse inkubasi 10 hari dengan pupuk kalium 100 kg/ha (V2K1) dapat meningkatkan tinggi tanaman dan berat segar tajuk. Indeks panen tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Vinasse yang merupakan limbah organik cair dengan kondisi curah hujan yang cukup tinggi (160-399 mm/bulan) selama penelitian, kemungkinan unsur hara yang dilepas vinasse maupun kalium sudah terlindi oleh air hujan.Kata kunci: residu, inkubasi vinasse, pupuk kalium, kangkung, pertumbuhan dan hasil.
Pengaruh Macam dan Konsenterasi Bahan Organik Sumber Zat Pengatur Tumbuh Alami Terhadap Pertumbuhan Awal Tebu (Saccharum officinarum L.) Helena Leovici, Dody Kastono, dan Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.695 KB) | DOI: 10.22146/veg.4012

Abstract

INTISARI Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh macam dan konsentrasi bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami terhadap pertumbuhan awal tebu dan 2) menentukan konsentrasi optimum setiap bahan organik bagi pertumbuhan awal tebu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – April 2013 di Kebun Tridharma Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, D. I. Yogyakarta.Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) satu faktor dengan 5 blok sebagai ulangan. Faktor yang diuji adalah macam bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami, yaitu air kelapa muda 25, 50, dan 75 %; urin sapi perah 25, 50, dan 75 %; serta ekstrak kecambah kacang hijau 25, 50, dan 75 %. Sebagai pembanding digunakan bibit tebu yang tidak mendapatkan aplikasi bahan organik sumber zat pengatur tumbuh alami. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa anasir iklim mikro di sekitar tempat penelitian serta variabel pertumbuhan tanaman. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5 %, dan dilanjutkan dengan uji Dunnet apabila hasil analisis varian menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuanHasil penelitian memberikan informasi bahwa perlakuan air kelapa muda 25 % mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar akar, bobot segar tajuk, bobot segar total, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot kering total, volume akar, dan luas daun tebu jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa bahan organik). Perlakuan urin sapi perah 50 dan 75 % serta ekstrak kecambah kacang hijau 25, 50, dan 75 % memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan tanpa bahan organik pada semua variabel pertumbuhan tebu. Hasil analisis regresi memberikan informasi bahwa konsentrasi air kelapa muda yang optimum bagi pertumbuhan awal tebu adalah 38,70 %, sedangkan pada urin sapi perah sebesar 34,44 %.Kata kunci: tebu, air kelapa, urin sapi, ekstrak kecambah kacang hijau, ZPT
Pengaruh Pemberian Garam Epsom Terhadap Hasil dan Kualitas Benih Empat Kultivar Wijen (Sesamum indicum L.) di Lahan Pasir Pantai Danik Rahmawati, Taryono, dan Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.406 KB) | DOI: 10.22146/veg.4013

Abstract

INTISARILuas areal pertanaman wijen di Indonesia mengalami penurunan karena digunakan untuk budidaya tanaman pangan. Keberadaan lahan pasir pantai yang belum termanfaatkan secara optimal dapat menjadi alternatif areal budidaya wijen. Salah satu kekurangan lahan pasir pantai adalah ketersediaan sulfur dan magnesium sangat rendah, padahal unsur tersebut sangat penting bagi tanaman penghasil minyak dari biji. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian garam epsom terhadap hasil dan kualitas benih wijen. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Samas Bantul, Yogyakarta menggunakan rancangan petak terbagi dengan 4 blok sebagai ulangan. Perlakuan petak utama adalah takaran garam epsom terdiri dari 0 (kontrol); 76,92; 153,85; dan 230,77 kg/ha. Perlakuan anak petak adalah kultivar wijen yaitu Sumberrejo-1, 2, 3, dan 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh garam epsom tergantung kultivar. Penambahan pupuk garam epsom pada kultivar Sumberrejo-1 dan 2 dapat meningkatkan daya berkecambah dan indeks vigor. Penambahan pupuk garam epsom pada kultivar Sumberrejo-3 dapat meningkatkan daya hasil dan daya berkecambah. Pada kultivar Sumberrejo-1 penambahan 148,5 kg/ha garam epsom mampu menghasilkan benih dengan indeks vigor optimal.Kata kunci: garam epsom, kualitas benih, wijen
Kajian Sifat Fisiologis Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) dan Ketergantungannya Terhadap Mikoriza Ellia Habib Misbahulzanah, Sriyanto Waluyo dan Jaka Widada
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.478 KB) | DOI: 10.22146/veg.4014

Abstract

INTISARIPenelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mulai bulan Januari sampai Mei 2013 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketergantungan kultivar kedelai (Glycine max (L.) Merr.) yang diinokulasi jamur mikoriza arbuskular (JMA) dan sifat fisiologis kultivar kedelai yang diinokulasi jamur mikoriza arbuskular (JMA). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 18x2 masing-masing 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5%. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah daun, indeks luas daun (ILD), kandungan klorofil daun, laju fotosintesis dan tingkat ketergantungan kultivar kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat tiga kategori tingkat ketergantungan mikoriza yaitu kategori tinggi (Kultivar Kaba, Wilis dan Baluran), kategori sedang (Kultivar Grobogan, Anjasmoro, Argomulyo, Petek, Garut, Malabar dan Seulawah) dan kategori rendah (Kultivar Burangrang, Sibayak, Tanggamus, Panderman, Ijen, Galunggung, Gepak Kuning dan Sinabung). Inokulasi mikoriza dapat meningkatkan jumlah daun, indeks luas daun (ILD), kadar klorofil dan laju fotosintesis tanaman kedelai.Kata kunci : kedelai, sifat fisiologis, ketergantungan, mikoriza
Efektivitas Suhu dan Lama Perendaman Bibit Empat Kultivar Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) Pada Pertumbuhan dan Daya Tanggapnya Terhadap Penyakit Moler Eni Kaeni, Toekidjo, dan Siti Subandiyah
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.411 KB) | DOI: 10.22146/veg.4015

Abstract

INTISARI Penyakit utama pada budidaya bawang merah adalah penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae, sehingga diperlukan usaha pencegahan maupun pengendalian terhadap penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas suhu dan perlakuan perendaman bibit sebagai pretreatment. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2013, di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dalam penelitian ini digunakan metode percobaan yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diteliti yaitu empat kultivar bibit bawang (‘Tiron’, ‘Crok’, ‘Trisula’, dan ‘Kuning’) dan perlakuan perendaman masing-masing tiga kali ulangan (perendaman bibit dengan air steril sebagai kontrol tanpa dan dengan inokulasi Fusarium oxysporum f.sp. cepae pada tanah, air panas yang bersuhu 45oC dan 50oC dalam waktu 15 dan 30 menit, fungisida (1 ml/1 liter), dan pupuk hayati cair (10 ml/2 liter). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan perendaman terbaik berbeda-beda pada setiap kultivar. ‘Kuning’ dan ‘Crok’ dengan perlakuan air panas 50oC selama 15 menit,  ‘Trisula’ dengan perendaman air panas 45oC selama 15 menit. Kultivar ‘Tiron’ memiliki ketahanan terhadap serangan penyakit moler. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah setelah diperlakukan perendaman yaitu normal, sehingga perlakuan-perlakuan dapat digunakan akan tetapi disesuaikan dengan kultivar yang akan ditanam.Kata Kunci : bawang merah, Fusarium oxysporum f.sp. cepae, perendaman bibit, moler
Kajian Budidaya dan Produktivitas Sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen) di Dusun Pasutan, Bogoran dan Pepe, Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Eny Dwi Kusmiyati, Sri Trisnowati, dan Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.649 KB) | DOI: 10.22146/veg.4016

Abstract

INTISARI Dusun Pasutan, Bogoran dan Pepe termasuk sentra penghasil sawo di Kabupaten Bantul. Penelitian ini mengkaji budidaya dan produktivitas sawo ketiga dusun tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai melalui wawancara, pengamatan di lapangan dan dilanjutkan dengan pengamatan di Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dari bulan September- November 2012.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat  4 varietas sawo yaitu sawo ‘Jawa’, sawo ‘Manila’, sawo ‘Apel’ dan sawo ‘Pelem’. Kesesuain tempat tumbuh tanaman sawo tidak diikuti oleh pengembangan teknik budidaya yang baik. Kegiatan penanaman, pemeliharaan, pemanenan, maupun penanganan pasca panen masih sederhana. Pada ketiga lokasi penelitian, belum mengoptimalkan teknik budidaya buah sawo dengan baik. Produktivitas buah sawo tertinggi ditunjukan oleh pohon ‘sawo Jawa’ yaitu 50-150 kg/pohon/ panen raya sedangkan produktivitas ketiga buah sawo yaitu sawo ‘Manila’, sawo ‘Apel’ dan  sawo ‘Pelem’adalah 20-50 kg/pohon/panen raya.Kata kunci :  Budidaya, dusun, produktivitas, sawo.
Tanggapan Tujuh Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) Terhadap Serangan Uret Lepidiota stigma Fabricius Happy Dian Lestari, Toekidjo, dan Tri Harjaka
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.8 KB) | DOI: 10.22146/veg.4017

Abstract

INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tanggapan ketahanan tujuh klon tebu terhadap serangan uret Lepidiota stigma dalam mendukung pengembangan tebu berdaya hasil tinggi. Penelitian ini menggunakan RAL dengan satu faktor yaitu tujuh klon tebu. Uret L. stigma yang diinfestasikan yaitu instar kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan uret L. stigma berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan ada beda nyata pada variabel jumlah daun, jumlah anakan, berat segar akar, berat segar total, berat kering akar, berat kering total, luas permukaan akar, dan volume akar akibat serangan uret L. stigma. Pertumbuhan tujuh klon tebu pada masing-masing variabel memberikan hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil uji DMRT 5% menunjukkan bahwa klon PS-862 termasuk klon yang toleran terhadap serangan uret L. stigma, sedangkan klon BZ-121 termasuk klon yang peka terhadap serangan uret L. stigma. Kata kunci : tebu, ketahanan, uret Lepidiota stigma
Kemampuan Regenerasi Kalus Empat Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) Riza Luth Fiah, Taryono, dan Toekidjo
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.099 KB) | DOI: 10.22146/veg.4018

Abstract

INTISARITebu merupakan salah satu komoditas penting pertanian karena memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku industri gula. Salah satu masalah yang dihadapi adalah pengadaan bibit tebu skala besar karena ketersediaan lahan sebagai kebun bibit tebu yang semakin terbatas. Budidaya jaringan tanaman menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Budidaya kalus dan regenerasi tanaman merupakan faktor pendukung dalam budidaya jaringan tanaman, namun terdapat permasalahan dalam penyimpanan kalus jangka panjang yaitu penurunan kemampuan regenerasi kalus setelah mengalami pindah tanam (subculture). Penelitian ini menggunakan dua tahap penelitian yaitu tahap (1) induksi kalus dengan Rancangan Acak Lengkap satu faktor yaitu klon tebu, dan (2) tahap regenerasi tunas dengan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor perlakuan 5 ulangan. Faktor pertama yaitu 4 klon tebu (PS 862, PS 864, PS 881, VMC 86-550) dan faktor kedua yaitu frekuensi pindah tanam pada minggu ketiga, keenam, kesembilan, dan keduabelas. Eksplan yang digunakan adalah pucuk tebu yang berumur (3 – 4) bulan. Media yang digunakan pada tahap induksi kalus dan pindah tanam kalus adalah media MS + 1,5 mg/l 2,4-D, sedangkan regenerasi tunas dengan media MS + 2,0 mg/l IAA + 2,0 mg/l IBA + 2,0 mg/l kinetin. Pengamatan yang dilakukan pada tahap induksi kalus adalah kecepatan muncul kalus dan pada tahap regenerasi tunas adalah kecepatan tumbuh tunas dan jumlah tunas terbentuk. Analisis data secara statistik menggunakan uji ANOVA menunjukkan terdapat beda nyata pada perlakuan klon tebu untuk kecepatan muncul kalus. Kalus klon PS 862 memiliki kemampuan membentuk kalus paling cepat dan pada tahap regenerasi tunas, kalus klon PS 862 juga memiliki kemampuan membentuk tunas paling cepat serta jumlah tunas yang paling banyak.Kata kunci: tebu, kalus, pindah tanam, regenerasi
Pengaruh Pemberian Jamur Mikoriza Arbuskular, Jenis Pupuk Fosfat dan Takaran Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) pada Media Pasir Pantai Helena Leovini, Dody Kastono, dan Jaka Widada
Vegetalika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.098 KB) | DOI: 10.22146/veg.4019

Abstract

INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jamur mikoriza arbuskular (JMA), jenis pupuk fosfat, dan takaran kompos yang tepat terhadap pertumbuhan bibit tebu (Saccharum officinarum L.) pada media pasir pantai. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Banguntapan milik Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mulai bulan November 2012 sampai Maret 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) tiga faktor dengan 3 blok. Faktor pertama adalah perlakuan JMA yang terdiri dari 2 aras, yaitu kontrol tanpa pemberian JMA (M0) dan dengan pemberian JMA (M1). Faktor kedua adalah takaran kompos yang terdiri dari 2 aras, yaitu 10 ton/ha kompos (K1) dan 20 ton/ha kompos (K2). Faktor ketiga adalah jenis pupuk fosfat yang terdiri dari 2 aras, yaitu pupuk SP-36 300 kg/ha (P1) dan batuan fosfat yang setara dengan 300 kg/ha SP-36 (P2). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dengan α = 5 %. Apabila perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan uji jarak Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian JMA, pupuk SP-36, dan takaran kompos 20 ton/ha merupakan kombinasi terbaik dalam menghasilkan berat segar tajuk, berat kering tajuk, dan berat kering total tanaman tebu pada umur 80 hst. Tidak terdapat interaksi antar perlakuan pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah ruas batang, panjang ruas batang, jumlah anakan, luas daun, volume akar, berat segar akar, berat segar total, dan berat kering akar. Perlakuan pemberian JMA memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan tanpa JMA pada komponen pertumbuhan tanaman tebu secara umum. Perlakuan takaran kompos 20 ton/ha memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan takaran kompos 10 ton/ha pada komponen pertumbuhan tanaman tebu secara umum.Kata kunci: JMA, tebu, pupuk fosfat, kompos, media pasir pantai.

Page 1 of 1 | Total Record : 10