cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2014)" : 9 Documents clear
Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Silika Amanda Yashinta Dewi, Eka Tarwaca Susila Putra, Sri Trisnowati
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.462 KB) | DOI: 10.22146/veg.5154

Abstract

INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui respon delapan hibrida kelapa sawit terhadap aplikasi silika (Si) pada kondisi cekaman kekeringan, 2) menentukan dosis Si yang optimal untuk menginduksi ketahanan delapan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Penelitian dilaksanakan di Dusun Bendosari, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY pada bulan Mei 2013 – Februari 2014. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial, dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit, terdiri dari delapan hibrida yaitu Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 718, PPKS 540 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis aplikasi Si, terdiri dari lima aras yaitu 0,00; 2,60; 5,10; 7,70 dan 10,20 gram/bibit. Variabel yang diamati dalam penelitian meliputi kondisi lingkungan, konsentrasi Si dalam jaringan, aktivitas fisiologis serta pertumbuhan bibit. Data yang diperoleh dianalisis varian (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) jika terdapat beda nyata antar perlakuan. Dosis optimal Si yang mampu meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa hibrida PPKS 239 dan Yangambi lebih tahan terhadap cekaman kekeringan jika dibandingkan dengan Avros, Langkat, Simalungun, PPKS 540, PPKS 718 dan Dumpy. Dosis optimal Si yang mampu menginduksi ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan adalah pada kisaran 5,1 -10,2 gram/bibit. Aplikasi Si pada bibit kelapa sawit mampu menginduksi ketahanannya terhadap cekaman kekeringan melalui mekanisme pengerasan, pemanjangan dan perluasan akar serta stomata yang tetap membuka lebih lebar.Kata kunci: silika, hibrida, Elaeis guineensis, cekaman kekeringan
Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Boron Fitriyana Sholihatun, Eka Trawaca Susila Putra, Dody Kastono
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.439 KB) | DOI: 10.22146/veg.5155

Abstract

INTISARIPenelitian bertujuan untuk 1) menentukan respon dan tingkat ketahanan delapan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan dan 2) menentukan dosis boron (B) yang optimal untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit, yang terdiri dari: Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 540, PPKS 718 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis boric acid yang terdiri dari 5 aras yaitu: 0; 0,25; 0,5; 0,75; dan 1 g/bibit. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel mikroklimat di lokasi penelitian, aktivitas fisiologis serta pertumbuhan bibit kelapa sawit. Data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5 %, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Dosis optimal B yang mampu meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa aplikasi boron pada bibit kelapa sawit mampu menginduksi ketahanan terhadap cekaman kekeringan melalui mekanisme pengerasan akar (aspek morfologi), mempertahankan bukaan stomata (aspek fisiologi) dan kandungan klorofil daun (aspek biokimia). Dosis optimum boric acid untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan berkisar antara 0,5–0,75 g/bibit, pada kandungan awal B dalam media tanam sebesar 78,53 ppm. Hibrida PPKS 239, Simalungun dan Dumpy mampu menghadapi cekaman kekeringan lebih baik daripada Avros, PPKS 718, PPKS 540, Yangambi dan Langkat.Kata kunci: kelapa sawit, kekeringan, boron
Pengaruh Pemanasan Terhadap Perkecambahan dan Kesehatan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) Meilan Situmeang, Azis Purwantoro, dan Sri Sulandari
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.224 KB) | DOI: 10.22146/veg.5156

Abstract

INTISARIBenih kedelai bersertifikat yang beredar di pasar hanya menjamin gaya berkecambah dan kemurnian benih. Dalam uji sertifikasi pada umumnya belum memasukkan kriteria tambahan kesehatan benih. Benih yang terinfeksi patogen dapat berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman dan menjadi sumber infeksi di lapangan. Perlakuan benih merupakan bagian dari praktek untuk menjaga kualitas benih. Perlakuan benih berfungsi untuk menghilangkan sumber infeksi benih, melindungi benih dari patogen dan hama, dan meningkatkan perkecambahan benih. Penelitian inibertujuanuntuk mengetahui pengaruh perlakuan pemanasan dengan perendaman dan pengovenan terhadap perkecambahan dan keberadaan patogen pada perkecambahan benih kedelai serta mengetahui perlakuan pemanasan yang tepat untuk mengurangi patogen benih tanpa menurunkan gaya berkecambah benih kedelai. Penelitian dilakukan dengan cara merendam dan mengoven benih kedelai pada suhu dan lama waktu yang berbeda. Kedua perlakuan pemanasan ini diamati terpisah. Penelitian menggunakan rancangan faktorial 3x3. Faktor pertama adalah suhu, dan faktor kedua waktu. Untuk perlakuan perendaman dilakukan pada suhu 45, 55, dan 65 °C dengan lama waktu 10, 20, dan 30 menit. Perlakuan pengovenan juga dilakukan pada tiga suhu berbeda yaitu pada suhu 50, 60, dan 70°C dengan lama waktu pengovenan 1,2, dan 3 jam. Perlakuan kontrol dilakukan dengan langsung menanam benih di atas kertas saring dalam petridish dan di bak perkecambahan tanpa diberi perlakuan pemanasan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Untuk membandingkan perlakuan perendaman atau pengovenan dengan kontrol dilakukan uji T. Perlakuan perendaman pada suhu 45 °C selama 10 menit adalah perlakuan pemanasan yang tepat karena dengan waktu perlakuan yang singkat dapat mengurangi 9 jenis koloni jamur yang tumbuh saat perkecambahan tanpa menurunkan gaya berkecambah benih kedelai. Hasil yang diperoleh menunjukkan perlakuan pemanasan pada suhu 60-70°C dapat menurunkan nilai perkecambahan benih.Kata Kunci : benih kedelai, perlakuan pemanasan, perkecambahan benih, patogen.
Tanggapan Dua Puluh Lima Kultivar Padi (Oryza sativa L.) Terhadap Infeksi Cendawan Mikoriza Arbuskular Nanung A. Winata, Panjisakti Basunanda, Supriyanta
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.179 KB) | DOI: 10.22146/veg.5157

Abstract

INTISARI Keragaman tanggapan intraspesies terhadap infeksi cendawan mikoriza telah diketahui pada jagung dan padi. Namun demikian, belum ada kajian luas mengenainya. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi variasi infektivitas cendawan mikoriza arbuskular pada dua puluh lima nomor padi yang diuji, mengetahui tingkat ketanggapan antara kultivar padi gogo dan kultivar padi sawah terhadap cendawan mikoriza arbuskular, dan membandingkan karakter agronomi antara padi yang diinfeksi dengan tidak diinfeksi cendawan MA pada kondisi kekurangan air. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni 2013 sampai dengan Desember 2013, di kebun percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Bangutapan, Yogyakarta. Dua puluh lima kultivar padi dengan latar belakang budidaya sawah dan lahan kering dibandingkan infektivitas dan ketanggapan morfologisnya pada dua kondisi: dengan dan tanpa infeksi mikoriza pada lima individu setiap kombinasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians α = 5%, beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjut menurut prosedur HSD Tukey α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua puluh lima kultivar padi yang diuji menunjukkan beragam tanggapan terhadap infektivitas mikoriza. Kelompok gogo dan kelompok sawah menunjukkan ketanggapan positif dengan mikoriza, kecuali pada beberapa kelompok sawah yaitu ‘Cimelati-3’, ‘Arias’, ‘Mayang Sari 20’, ‘Situ Bagendit’, ‘Anak Daro’, dan ‘Anak Daro 30’. ‘Lumbuk’ menunjukkan ketanggapan terbaik bersimbiosis dengan mikoriza ditunjukkan dengan peningkatan jumlah anakan, bobot segar tajuk, dan bobot kering tajuk.Kata kunci : cendawan mikoriza arbuskular, ketanggapan mikoriza, padi
Pengaruh Jarak Tanam dalam Tumpangsari Sorgum Manis (Sorghum bicolor L. Moench) dan Dua Habitus Wijen (Sesamum indicum L.) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Rianni Capriyati, Tohari, Dody Kastono
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.862 KB) | DOI: 10.22146/veg.5158

Abstract

INTISARISorgum manis merupakan tanaman C4 yang ditanam pada jarak tanam    70 cm × 25 cm atau 75 cm × 20 cm. Jarak tanam tersebut masih cukup lebar untuk dapat dioptimalkan produktivitas lahannya dengan menerapkan tumpangsari. Sorgum dapat ditumpangsarikan dengan wijen yang merupakan tanaman C3. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui interaksi antara jarak tanam sorgum manis dengan habitus wijen, mendapatkan jarak tanam sorgum manis yang optimal dan mendapatkan habitus wijen yang tepat bila ditumpangsrikan dengan sorgum manis.Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2013 di kebun Tridharma, Banguntapan, Bantul. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama terdiri atas tiga jarak tanam sorgum manis (60 cm × 25 cm, 70 cm × 25 cm, dan 80 cm × 25 cm). Faktor kedua terdiri atas dua habitus wijen yaitu wijen bercabang (Winas-1) dan wijen tidak bercabang (Sumberejo-2). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α= 5 %, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test α= 5 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan jarak tanam sorgum manis dengan dua habitus wijen terhadap jumlah daun sorgum manis umur 8 mst dan sekapan cahaya pada 8 mst. Jarak tanam sorgum manis 70 cm × 25 cm mampu memberikan NKL sebesar 1,73 yang sama baiknya dengan NKL pada jarak tanam 80 cm × 25 cm. Wijen Winas-1 dengan habitus bercabang dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan NKL lebih tinggi (1,71) dari wijen SBR-2 (1,41) ketika ditumpangsarikan dengan sorgum manis.Kata kunci: habitus, jarak tanam, sorgum manis, tumpangsari, wijen
Kualitas Benih Tiga Aksesi Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) pada Tiga Umur Panen Septin Kristiani, Toekidjo, Setyastuti Purwanti
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.538 KB) | DOI: 10.22146/veg.5159

Abstract

INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur panen terhadap kualitas benih kacang merah dan menentukan masak fisiologis tiga aksesi kacang merah. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani Dusun Kalangan, Desa Sidogede, Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan Laboratorium Teknologi Benih, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan Agustus sampai Desember 2013. Penelitian dilakukan dengan percobaan 3x3 faktorial yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (Randomized Complete Block Design – RCBD) dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu tiga aksesi kacang merah (Aksesi Temanggung, Aksesi Magelang, Aksesi Sleman), sedangkan faktor kedua adalah umur panen yaitu 30, 35, dan 40 hari setelah 60% tanaman di petak percobaan berbunga (hsb). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga aksesi memberi respon yang sama terhadap parameter pertumbuhan, komponen hasil, dan kualitas benih. Masak fisiologis tiga aksesi dicapai pada 30 hari setelah berbunga. Penundaan waktu panen hingga 5 hari (35 hsb), bahkan 10 hari (40 hsb) dapat dilakukan tanpa mempengaruhi kualitas benih (gaya berkecambah > 90%).Kata kunci: Phaseolus vulgaris L., kacang merah, kualitas benih, umur panen, masak fisiologis
Pengaruh Macam Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Kultivar Kacang Hijau (Vigna radiata L. Wilczek) di Lahan Pasir Pantai Bugel, Kulon Progo Taufik Afif, Dody Kastono, Prapto Yudono
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.603 KB) | DOI: 10.22146/veg.5160

Abstract

INTISARI Lahan pasir pantai yang terdapat di daerah Bugel merupakan gumuk-gumuk pasir. Karakteristik lahan di gumuk pasir wilayah ini adalah tanah bertekstur pasir, struktur berbutir tunggal, daya simpan lengasnya rendah, status kesuburannya rendah, evaporasi tinggi, dan tiupan angin laut kencang. Penambahan pupuk kandang diyakini dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, oleh karena itu, suatu kajian dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang sapi, kambing, dan ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tiga kultivar kacang hijau (Vigna radiata L. Wilczek). Penelitian dilakukan di lahan pasir Pantai Bugel, Yogyakarta pada bulan September–Desember 2013. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dengan faktor pertama yaitu jenis pupuk kandang (tanpa pupuk, pupuk kandang sapi, ayam dan kambing) dan faktor kedua yaitu tiga kultivar (Vima-1, Murai, Kenari). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (Anova) dengan taraf 5 %. Apabila hasil analisis varian terdapat beda nyata maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan 5%. Untuk mengetahui keterkaitan antar parameter dalam penelitian ini digunakan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan penambahan pupuk kandang kambing mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman kacang hijau. Perlakuan pemberian pupuk kandang ayam menghasilkan berat biji per hektar lebih tinggi yaitu 1,84 ton per hektar dibandingkan dengan pupuk kandang kambing, pupuk kandang sapi maupun tanpa pemupukan. Kacang hijau kultivar Kenari mampu memproduksi berat biji per hektar paling tinggi dengan berat 1,83 ton per hektar dibandingkan kultivar Vima-1 maupun Murai.Kata kunci : kacang hijau, pupuk kandang, pasir pantai
Jumlah Anakan dan Rendemen Enam Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) Asal Bibit Bagal, Mata Ruas Tunggal, dan Mata Tunas Tunggal Hidayatur Rokhman, Taryono, Supriyanta
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.225 KB) | DOI: 10.22146/veg.5161

Abstract

INTISARITebu merupakan jenis tanaman monokotil yang dibudidayakan sebagai tanaman penghasil gula. Tanaman tebu diperbanyak secara vegetatif dalam bentuk bagal, namun pada saat ini telah berkembang metode pembibitan mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anakan dan rendemen gula yang dihasilkan oleh tebu yang berasal dari bibit bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal dari enam klon tebu komersial. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan faktorial 3x6 disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis bibit tebu yaitu bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal. Faktor kedua merupakan enam jenis klon tebu yang terdiri dari Bululawang, PS 864, PSJT 941, VMC, PS 881, dan Kidang Kencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit bagal, mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal tidak memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah anakan tebu pada umur 12 bulan. Interaksi antara metode pembibitan dengan klon nyata pada diameter batang, berat kering akar, kandungan pol tebu, dan rendemen tebu. Klon PS 864 yang ditanam dengan metode bibit bagal menghasilkan rendemen paling baik.Kata kunci : bibit, klon, anakan, rendemen
Pengaruh Lima Macam Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Senyawa Aktif Daun Sirsak (Annona muricata L.) Galuh Asrinda Titi Masito, Dyah Weny Respatie, Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.829 KB) | DOI: 10.22146/veg.5417

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan lima macam pupuk organik terhadap pertumbuhan dan kandungan senyawa aktif daun sirsak (Annona muricata L.). Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2013 di Klaseman, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Analisis senyawa aktif kuantitatif daun sirsak dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2013 di Laboratorium Chem-mix Pratama, Bantul, Yogyakarta. Penelitian menggunkan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan lima macam pupuk organik yaitu pupuk kandang kambing (P2), pupuk kandang sapi (P3), pupuk kandang ayam (P4), pupuk kascing (P5) kompos (P6) dan pupuk urea sebagai kontrol (P1) . Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk organik memberikan pengaruh yang sama baiknya dengan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan tanaman sirsak. Pupuk organik meningkatkan kandungan senyawa aktif daun sirsak secara kuantitatif yaitu tanin dan flavonoid dengan hasil yang terbaik pada pupuk kompos.Kata kunci: daun sirsak, pupuk organik, senyawa aktif.

Page 1 of 1 | Total Record : 9