cover
Contact Name
Davit Nugraha
Contact Email
pharmacogenius@gmail.com
Phone
+6285314834050
Journal Mail Official
pharmacogenius@gmail.com
Editorial Address
Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacy Genius
ISSN : -     EISSN : 29644771     DOI : https://doi.org/10.56359/pharmgen.v2i1
Core Subject : Health, Science,
A manuscripts submitted to Pharmacy Genius should be an original research article related to the field of the all scopes of Pharmaceutical Science such as: 1. Pharmaceutics, 2. Biopharmaceutics, 3. Drug Delivery System, 4. Physical Pharmacy, 5. Chemical Pharmacy, 6. Pharmaceutical Technology, 7. Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, 8. Pharmacology and Toxicology, 9. Pharmacokinetics, 10. Pharmaceutical Chemistry, 11. Pharmaceutical Biology, 12. Community and Clinical Pharmacy, 13. Regulatory Affairs and Management Pharmacy, 14. and Alternative Medicines.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius" : 7 Documents clear
Efek Media Informasi terhadap Persepsi Apoteker terhadap Risiko Infeksi Covid-19 dan Vaksin Covid-19 Ikhwan Yuda Kusuma; Alvin Ulinnuha; Awang Pardigantara; Bella Aisya Fitri; Gita Fitriyani
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.272

Abstract

Pendahuluan: Media berperan sebagai sumber informasi yang sangat penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai COVID-19. Namun karena jumlah sumber informasi yang begitu banyak, sehingga muncul misinformasi atau disinformasi yang membuat masyarakat memperoleh informasi yang salah tentang COVID-19, termasuk terkait vaksinasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efek media informasi terhadap persepsi apoteker tentang risiko infeksi COVID-19 dan vaksin COVID-19. Metode: Studi cross-sectional, berdasarkan kuesioner yang dilaporkan sendiri. Kuesioner dikembangkan pada platform berbasis web dan undangan dikirim kepada apoteker Kabupaten Banyumas untuk berpartisipasi dalam penelitian menggunakan aplikasi media sosial. Hasil: Sebanyak 54 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dari kuesioner persepsi apoteker terhadap  peran media tentang COVID-19 dan Vaksin COVID-19, persepsi apoteker terhadap risiko infeksi COVID-19 persepsi apoteker terhadap vaksin COVID-19 memiliki r hitung pada kisaran > 0,632 artinya item pertanyaan pada kuesioner tersebut telah memenuhi uji validasi dan dinyatakan valid. Pada uji reliabilitas memiliki nilai r hitung > 0,632 artinya data tersebut reliabel. Kesimpulan: Persepsi apoteker terhadap peran media informasi tentang COVID-19 memiliki presentase berkisar antara 88,8% hingga 94,5%, sementara persepsi mereka terhadap risiko infeksi COVID-19 memiliki presentase rentang 77,7% hingga 100%.Hasil ini mengindikasikan perlunya penelitian lanjutan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi variasi persepsi apoteker, guna meningkatkan efektivitas strategi komunikasi terkait COVID-19 dan vaksinasi.
Uji Iritasi Dermal Sediaan Salep Kulit Dari Getah Buah Pepaya California (Carica papaya L.) Pada Hewan Uji Kelinci Nova Zahra; Davit Nugraha; Panji Wahlanto
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.274

Abstract

Pendahuluan: Getah pepaya memiliki fungsi sebagai pemecah protein yang disebut enzim Papain yang dihasilkan dari pepaya muda yang digores permukaan kulitnya. Jika papain bereaksi dengan suatu bakteria maka papain akan mengurai protein pada bakteri tersebut sehingga menyebabkan kematian pada bakteri tersebut. Tetapi getah pada papaya dapat menyebabkan rasa gatal bila bersentuhan dengan kulit. Reaksi gatal yang disebabkan getah tanaman papaya kemungkinan besar disebabkan oleh keberadaan protease. Salep merupakan bentuk sediaan yang memiliki konsistensi yang sesuai untuk pengobatan penyakit kulit. Tujuan: Untuk pengobatan topikal yang berkhasiat terhadap penghambatan mikroba di kulit, maka sebagai salah satu alternatif dapat dibuat dalam sediaan bentuk salep. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan mengambil getah pepaya kemudian dilakukan isolasi pada getah papaya dengan menggunakan larutan natrium bisulfit 0,7%. Dibuat sediaan salep dengan konsentrasi getah sebesar 2%, 5% dan 10% dan dilakukan evaluasi fisik pada sediaan salep meliputi uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat dan dilakukan evaluasi uji iritasi dermal. Hasil: Hasil evaluasi menunjukan semua uji yang dilakukan telah memenuhi standar. Analisis data uji pH dilakukan dengan uji normalitas dan uji homogenitas dengan hasil P≥0,05 yang artinya semua data terdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA P≤0,05 artinya terdapat perbedaan rata-rata pada setiap formulasi. Analisis data daya sebar dan daya lekat dilakukan dengan uji normalitas dan uji homogenitas dengan hasil P≥0,05 yang artinya semua data terdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA P≥0,05 artinya tidak terdapat perbedaan rata-rata pada setiap formulasi. Untuk uji iritasi yang dilakukan, dapatkan skor nilai sebesar 0 yang berarti sediaan tidak mengiritasi Kesimpulan: kesimpulan penelitian ini bahwa semua sediaan salep kulit yang telah dibuat sudah sesuai denga standar uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar dan daya lekat. Skor iritasi yang diperoleh menunjukan skor 0 yang berarti sediaan tidak mengiritasi.
Formulasi Dan Evaluasi Fisik Sediaan Masker Gel Peel-Off Ekstrak Daun Katuk (Sauropus Androgynus L) Dengan Variasi Konsentrasi Carbopol 940 Chela Tiara Dewi; Panji Wahlanto; Davit Nugraha
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.275

Abstract

Pendahuluan: Masker gel peel-off merupakan salah satu jenis masker wajah yang mempunyai keunggulan dalam penggunaanya yaitu dapat dengan mudah dilepas atau diangkat seperti membran elastis. Basis yang digunakan untuk pembuatan gel yaitu Carbopol 940. Salah satu tanaman yang secara empiris dan berdasarkan ilmiah memiliki khasiat antioksidan adalah daun katuk (Sauropus androginus L.). Penelitian ini. Tujuan: Untuk memformulasikan sediaan masker gel peel-off dengan ekstrak daun katuk dengan perbandingan basis carbopol 940 1%, 1,5%, 2% dan melakukan uji evaluasi sediaan masker gel peel-off memenuhi standar. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Evaluasi sediaan masker gel peel-off meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, waktu kering. Hasil: Hasil penelitian menujukan bahwa ekstrak daun katuk dapat diformulasikan dalam sediaan masker gel peel-off dan dapat memenuhi uji evaluasi sediaan. Ketiga formulasi yang telah dibuat memenuhi syarat uji homogenitas hasi yang didapat homogen. Uji organoleptik pada ketiga formulasi tersebut didapat bau khas daun katuk, warna hijau tua pekat, teksturnya gel semi padat. Uji pH pada formulasi 1-3 mendapatkan hasil rata-rata pH 5,2. Uji daya sebar pada formulasi 1-3 mendapatkan hasil rata-rata 5,2. Hasil uji viskositas pada ketiga formulasi mendapatkan hasil 11,812 mPas. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian bahwa pengunaan carbopol 940 sebagai basis tidak mempengaruhi pada uji evaluasi sediaan masker.
Uji Aktivitas Antibakteri Granulasi Getah Buah Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Luluatul Fuadah; Davit Nugaraha; Anna L Yusuf
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.276

Abstract

Pendahuluan: Staphylococcus aureus merupakan bakteri komensal sekaligus patogen oportunistik yang dapat dijumpai pada kulit manusia. Sekitar ± 60% individu sehat dapat menjadi pembawa S. aureus secara intermiten pada beberapa lokasi di tubuhnya. Kolonisasi ini merupakan salah satu faktor risiko terjadinya infeksi kulit. Hal tersebut diatas mendorong pengobatan alternatif yang aman dan tidak menimbulkan resistensi untuk menanggulangi infeksi bakteri Staphylococus aureus. Getah pada pepaya mengandung enzim papain dan substansi antibacterial yaitu carpain. Kedua senyawa ini mempunyai efek positif dalam penyembuhan infeksi kulit. Papain merupakan enzim proteolitik yang bekerja dengan cara mengkatalisis reaksi hidrolisis pada ikatan peptida pada protein Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya hambat getah buah papaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental dengan metode difusi dengan cara cakram kertas. Metode ini lebih dikenal dengan metode Kirby-Bauer. Getah yang telah diambil kemudian dilakukan isolasi menggunakan larutan natrium metabisulfit 0,7 %. Dibuat sediaan larutan dengan konsentrasi ekstrak getah buah pepaya yang berbeda yaitu 4%, 5%, dan 6%. Hasil: Hasil dari pengukuran diameter hambatan dari sampel terlihat jelas bahwa setiap konsentrasi sampel memberikan ukuran diameter hambatan yang berbeda-beda. Pada perlakuan konsentrasi 4%, zona penghambatan pada bakteri uji Staphylococcus aureus rata- rata berdiameter 4 mm dengan interpretasi lemah. Pada perlakuan konsentrasi 5%, zona penghambatan pada bakteri uji Staphylococcus aureus rata- rata berdiameter 5 mm dengan interpretasi lemah. Pada perlakuan konsentrasi 6%, zona penghambatan pada bakteri uji Staphylococcus aureus rata- rata berdiameter 10 mm dengan interpretasi sedang. Kesimpulan: Getah buah pepaya (Carica papaya L.) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi yaitu : 4%, 5%, dan 6%, dan aktivitas antibakteri getah buah pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus memberikan zona hambat tertinggi pada konsentrasi 6% dengan rata-rata diameter zona yaitu 10 mm interpretasi sedang.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan terhadap Tindakan Swamedikasi Batuk di Dusun Sidamukti Kecamatan Langkaplancar Yunia Purwati; Panji Wahlanto; Nia Kurniasih
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.278

Abstract

Pendahuluan: Swamedikasi yaitu suatu usaha untuk mengobati diri sendiri menggunakan obat bebas atau dengan obat bebas terbatas. Batuk adalah suatu refleks fisiologi proktektif yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernafasan dari dahak, debu, zat-zat perangsang asing yang dihirup, partikel-partikel asing dan unsur-unsur infeksi. Tujuan: Tujuan dilakukannya penelitiaan ini yaitu untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat Di Dusun Sidamukti terhadap tindakan swamedikasi batuk. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non-ekspeerimental dengan menggunakan survey langsung serta tidak melakukan perlakuan apapun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner. Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif analisis dengan desain cross sectional. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu responden yang berpengetahuan baik sebanyak  84,6% dari semua responden dengan kategori pengetahuan baik semuanya melakukan tindakan swamedikasi batuk dengan tepat, responden dengan kategori pengetahuan cukup sebanyak 10,3% responden dari responden dengan kategori pengetahuan cukup sebanyak 6 responden melakukan tindakan swamedikasi dengan tepat dan 2 responden lainnya melakukan tindakan swamedikasi dengan tidak tepat, dan responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 5,1% semua responden dengan kategori pengetahuan kurang melakukan tindakan swamedikasi batuk dengan tidak tepat. Hasil uji Chi Square didapatkan nilai signifikansi yaitu sebesar 0,00 dimana hasil ini menunjukan terdapat pengaruh dari tingkat pengetahuan terhadap tindakan swamedikasi batuk karena nilai signifikansinya yang kurang dari 0,05. Kesimpulan: terdapat pengaruh dari pengetahuan terhadap tindakan swamedikasi batik di Dusun Sidamukti Kecamatan.
Formulasi dan Evaluasi Sabun Cair Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L ) dan Uji Iritasi Dengan Basis Minyak Zaitun (Olive Oil ) Dini Umayati; Davit Nugraha; Siti Rahmah Kurnia Ramdan
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.279

Abstract

Pendahuluan: Secara empirik bagian tanaman jambu biji yang dapat berkhasiat sebagai obat tradisional adalah daun dan buahnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil evaluasi dari sediaan sabun mandi cair dari ekstrak daun jambu biji ( psidiium guajava L ) Untuk mengetahui formulasi dengan ekstrak daun jambu biji mana yang memenuhi standar. Metode: Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L) sebagai bahan utama dalam pembuatan sabun dikonsentrasi tiga formulasi, formulasi 1 (1%), formulasi 2 (1,4%),dan formulasi 3(1,8%). ekstrak daun jambu (Psiidium guajava L), mendapatkan formulasi dari tiap masing-masing konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psiidium guazava L), di lakukan pengevaluasian yang terdiri dari uji organoleptik yang meliputi melihat bentuk dari sediaan sabun mandi cair tersebut, (warna, kejernihan, bau), kemudian di lakukan uji ph, dengan menggunakan PH meter dan di lihat uji tinggi busa, dan uji viskositas, yang menguji kekentalan sabun. Hasil:  Dalam formulasi, bahan tambahan yang digunakan yaitu Minyak zaitun, KOH, NaCMC, Asam Stearat, BHT, konsentrasi bahan-bahan tersebut sama untuk F1,F2 dan F3. Minyak zaitun dengan konsentrasi 15% membantu sabun menjadi kualitas tinggi memiliki warna kekuningan sabun. KOH dengan konsentrasi 16% berfungsi sebagai membantu proses saponifikasi dan mempengaruhi karakteristik mutu sabun diantaranya kadar asam lemak bebas dan alkali bebas. NaCMC dengan konsetrasi 1% berfungsi sebagai pengisi dan pengental. Asam Stearat dengan konsentrasi 0,5 % berfungsi sebagai menetralkan basis sabun. BHT dengan konsentrasi 1% berfungsi sebagai pencegah bau tengik Kesimpulan:  Dari ke empat Formula sediaan sabun mandi cair ekstrak daun jambu biji untuk F0 tidak memenuhi syarat uji iritasi basis sabun dan F1 (ekstrak 1 gram) memenuhi syarat uji Organoleptis, uji pH, uji stabilitas busa, Uji iritasi memenuhi karakteristik sabun cair . Untuk FII (ekstrak 1, 4 gram) tinggi busanya tidak stabil dan belum memenuhi syarat stabilitas busa dan untuk FIII (ekstrak 1,8 gram) memiliki pH sabun dengan rentang yang tinggi dan belum memenuhi standar SNI pH yaitu 9-11.
Optimasi Fase Gerak pada Isolasi dan Identifikasi Antosianin Ubi Jalar Ungu (Ipomea batatas L) Siti Rahmah Kurnia Ramdan; Vivit Fitriah
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.280

Abstract

Pendahuluan: Ubi jalar ungu (Ipomea batatas L) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang memiliki kandungan gizi utama karbohidrat dan nutrisi lainnya diantaranya serat, dan pektin. Kandungan lain yaitu adanya pigmen antosianin yang memiliki manfaat sebagai antioksidan, antikarsinogenik, antmutagenik dan sebagai pewarna alami. Antosianin merupakan zat larut air dan merupakan turunan mono atau diasetil 3-(2-glukosil)glukosil-5-glukosil peonidi dan sianidin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi fase gerak pada isolasi antosianin dari ubi jalar ungu dengan tiga variasi eluen yaitu eluen I: n-butanol:asam asetat:air (4:1:5 ), eluen II n-Butanol : Asam asetat : Air (1:5:4) dan n-Butanol : Asam asetat : Air (5:4:1). Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kromatografi kolom untuk proses pemisahan pigmen antosianin dan kromatografi lapis tipis untuk identifikasi senyawa. Selanjutnya dilakukan identifikasi menggunakan spektrofotometer uv-vis. Hasil: Hasil dari  isolasi antosianin pada ekstrak ubi jalar ungu dengan menggunakan kromatografi kolom diperoleh waktu pemisahan dan nilai Rf yang berbeda-beda dari setiap variasi eluen. Eluen paling baik adalah eluen II dengan waktu pemisahan 16 menit 15 detik dan nilai Rf sebesar 0,5 cm, kemudian eluen I dengan waktu pemisahan 18 menit 32 detik dan nilai Rf sebesar 0,7 cm dan eluen III dengan waktu pemisahan 12 menit 36 detik dengan nilai Rf 0,4. Kesimpulan: Dari data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa eleun paling optimal pada isolasi antosianin ubi jalar ungu adalah eluen II.

Page 1 of 1 | Total Record : 7