cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2002)" : 9 Documents clear
Lembaga Pemerintahan Tingkat Pusat Pada Masa Gunapriyadharmapatni-Dharmodayana Warmadewa I Gde Semadi Astra
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2070.662 KB) | DOI: 10.22146/jh.751

Abstract

Berdasarkan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh “istri suami” Gunapriyadharmapatni dan Dharmodayana Warmadewa dapat diketahui bahwa mereka memerintah tahun 911 – 923 Saka. Kendati demikian, perlu dikemukakan bahwa dalam prasasti Batur, Pura Abang A yang berangka tahun 933 Saka terbaca lagi nama Dharmodayana Warmadewa (selanjutnya akan disebut Udayana saja), tetapi tanpa nama permaisurinya (Goris, 1954a: 80 – 88). Rupa- rupanya sang permaisuri telah mangkat sebelum tahun 933 Saka. Tulisan ini bertujuan mengungkap nama, susunan keanggotaan, dan fungsi lembaga pemerintahan tingkat pusat tahun 911 – 933 Saka. Berkenaan dengan penampakan unsur-unsur budaya “asli” Nusantara yang tersaji dalam beberapa bagian uraian, terutama untuk nama lembaga dan sejumlah jabatan, diharapkan dapat diberikan pemahaman yang baik, dan sekaligus diambil hikmahnya, mengenai eksistensi nenek moyang bangsa Indonesia dalam mereaksi atau meresepsi unsur-unsur budaya luar pada waktu itu.
Paradigma Redistribution With Growth Menuju Good Governance M. Nur Budiyanto
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2878.535 KB) | DOI: 10.22146/jh.752

Abstract

Pembangunan di negara-negara berkembang tidak saja menjadi sebuah paradigma (pandangan keilmuan), melainkan menjadi ideologi (pandangan politik), bahkan mitos. Ketika negara-negara terjajah di kawasan Asia dan Afrika memperoleh kemerdekaannya, baik “diberi” maupun “direbut”, terperangah melihat dirinya. Negara-negara baru ini bukan saja terperangah dalam hal kesejahteraan, tetapi juga dalam hal peradaban. Ketertinggalan tersebut tidak dihitung oleh tahun, namun abad. Pada tahun 1945, negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sudah berkembang dari masyarakat merkantilisme ke masyarakat industri tahap pertama. Pada saat yang sama masyarakat negara baru berada dalam tahap primitif, agraris, dan sebagian kecil di peradaban merkantilisme serta lebih sedikit lagi di peradaban industri. Merkantilisme artinya sistem ekonomi untuk menyatukan dan meningkatkan kekayaan keuangan suatu bangsa dengan pengaturan seluruh ekonomi nasional oleh pemerintah dengan kebijakan yang bertujuan mengumpulkan cadangan emas, memperoleh neraca perdagangan yang baik, mengembangkan pertanian dan industri, dan memegang monopoli atas perdagangan luar negeri (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990; 578)). Penulis akan memulai dari konsep pembangunan zaman Orde Baru. Orde Baru melakukan pembangunan bagi rakyat Indonesia, khususnya antara tahun 1970 hingga pertengahan 1980-an. Keunggulan manajemen Presiden Soeharto dikombinasikan dengan para teknokrat yang cakap keluaran perguruan tinggi luar negeri, sebagian besar dari Berkeley sehingga tidak jarang dicap “mafia Berkeley”. Sudah demikian, iklim dunia mulai bergeser dari kecenderungan politik ke cenderungan ekonomi, antara lain, ditandai dengan terbentuknya geo-geo ekonomi baru di seluruh dunia.
Perubahan Konsep Gender dalam Seni Batik Tradisional Pedalaman Dan Pesisiran Djoko Dwiyanto; . Nugrahani
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3016.478 KB) | DOI: 10.22146/jh.753

Abstract

Penciptaan karya seni, sebagai salah satu wujud hasil proses budaya, dimiliki hampir semua suku bangsa yang ada di Indonesia. Secara naluriah, penciptaan karya seni itu kadang-kadang menampakkan pembedaan kewenangan antara pria dan wanita sehingga mengakibatkan pula perbedaan kepemilikan di antara mereka. Pembedaan seperti itu ternyata lebih dapat dikatakan sebagai akibat sistem sosial budaya daripada didasarkan pada kemampuan yang dimiliki oleh seseorang (Fakih, 1997: 8). Sebagai contoh, tiang totem (totem poles) dalam komunitas Suku Asmat di Papua Barat (Irian Jaya) dianggap sebagai karya seni laki-laki sehingga wanita dianggap tabu untuk membuatnya (Layton, 1994). Lebih dari itu, wanita bahkan dilarang mengintip, apalagi melihat pembuatan tiang totem yang merupakan penggambaran nenek moyang. Secara ekstrem, dalam proses pembuatan tiang totem, bahkan berlaku larangan bagi para seniman untuk “menyentuh wanita”, sehari sebelum pembuatan (Schneebaum, 1985). Tiang totem tersebut merupakan salah satu karya seni andalan Suku Asmat, hingga sekarang pun banyak diminati oleh para kolektor dan menghiasi galeri-galeri bertaraf internasional. Studi ini hendak mengkaji permasalahan sebagai berikut. 1. Bagaimana konsep gender dapat diamati dalam seni batik tradisional di pedalaman dan pesisiran ? 2. Bagaimanakah perubahan konsep gender dalam seni batik tradisional pedalaman dan pesisiran dalam perjalanan waktu sampai kini ?
Meaning and Usage Of Adjectives Ending In - Able/-Ible Aris Munandar
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1569.528 KB) | DOI: 10.22146/jh.754

Abstract

The study on –able and adjectives ending in –able/-ible (Munandar, 1999:74-82) was done based on historical analysis. The study revealed the role of etymology of words in the divergence of the suffix –ible and -able. It discusses that in the course of its development, English got influences from Latin, French, Scandinavian, and other languages. The most outstanding influences, however, are those of Latin and French. From Latin and French , English had adopted many words and other elements to fulfil the need for adequate expressions. These borrowings are preserved to their strong influence (high productivity) up to the present use. The origin of words is ,thus, worth knowing not only of its possible explanation for the rule of deriving adjectives with the suffix –able/-ible, but also of its relationship to determine the meaning of adjectives formed from words which are not of current use. This is in line with Marckwardt (1960:177) who assumed that the etymology of a word may serve as a guide to its proper use and meaning, although current usage is the only scientifically valid criterion to define the meaning. The presentation of meaning and usage in this article will demonstrate how that assumption works. Some adjectives are assigned with meanings in present usage different from those of the etymology of basewords. While some others whose basewords are not found in current use are recognized after the origin of the basewords are revealed. The tracking of origin is done by looking up two dictionaries: The Oxford Dictionary of English Etymology and The Old English Dictionary. The findings are cross-checked with the current meaning and usage in the Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English.
Sang Lain Di Mata Ego Eropa: Citra Manusia Terjajah dalam Sastra Hindia-Belanda . Sudibyo
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2647.102 KB) | DOI: 10.22146/jh.755

Abstract

Pada abad ke-16, pusat kekuasaan dunia mulai bergeser dari Eropa Selatan ke Utara. Jika sebelumnya Spanyol dan Portugis berjaya di segenap penjuru samudra dengan berbagai ekspedisi maritimnya, pada tahun 1595 – 1597 Belanda mulai meluncurkan armada lautnya ke samudra. Kapal-kapal dagang milik Compagnie van Verre di bawah komando Cornelis de Houtman dan Gerrit van Beuningen dikirim ke Hindia-Timur untuk mengakhiri monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku yang pada waktu itu berada di tangan Portugis. Armada itu tidak pernah sampai di Maluku meskipun telah dibekali dengan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk sebuah ekspedisi maritim (Beekman, 1998-35). Armada tersebut justru berlabuh di Banten pada 22 Juni 1596 (Heuken, 2000: 20). Pelayaran pertama ke Hindia-Timur yang dilakukan oleh Compagnie van Verre itu berharga mahal. Dari empat kapal yang meninggalkan Amsterdam pada 1 April 1595, hanya tiga yang berhasil pulang setelah menempuh pelayaran selama tiga tahun. Dari 247 awak kapal, hanya 87 orang yang berhasil selamat dalam pelajaran pulang. Lebih dari itu, kompeni tidak memperoleh keuntungan apa-apa (Gaastra, 1991: 16 dan Steenbrink, 1995: 1). Berangkat dari tesis mengenai kompleks superioritas peradaban dan keunggulan ras pada ego (Belanda) sebagaimana diungkapkan di muka, tulisan ini akan menghampiri teks sastra Hindia-Belanda. Teks yang dipilih adalah kisah perjalanan (reisverhalen) Rijcklof Volkertz van Goens.
Babad Pasir: Banyumas Dan Sunda Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3102.592 KB) | DOI: 10.22146/jh.756

Abstract

Banyak Catra alias Kamandaka yang menjadi tokoh legendaris di Daerah Aliran Sungai Serayu-Logawa-Mengaji ternyata mempunyai perilaku yang tidak boleh ditiru oleh masyarakat Banyumas. Teks awal Babad Pasir yang sangat populer itu menceritakan masa muda salah satu leluhur Banyumas yang berasal dari Pajajaran (Knebel, 1900). Kisah-kisah yang dilestarikan secara lisan dan tulisan itu pada hakikatnya mengisahkan kebanggaan Raden Banyak Catra terhadap perilakunya yang kurang terpuji. Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak orang besar yang menceritakan kisah hidupnya, baik dalam otobiografi maupun biografi, khususnya pada masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa muda dengan penuh kebanggaan, meskipun melanggar norma masyarakat. Kiranya kebanggaan seperti menjadi tradisi manusia pada umumnya. Sama halnya dengan Banyak Catra. Ia adalah seorang putra raja Pajajaran yang mencari calon jodohnya di Pasirluhur. Banyak Catra datang dengan membawa kedok sebagai penduduk desa yang mengabdi kepada Patih Pasirluhur, Reksanata. Keberuntungan berpihak kepadanya karena ia diangkat sebagai anak oleh Sang Patih. Di samping itu, Banyak Catra juga menutupi jati dirinya dengan nama samaran, Kamandaka. Menurut beberapa babad, nama tersebut merupakan pemberian seorang pertapa di Gunung Tangkuban Perahu yang bernama Ajar Mirangrong (ada teks yang menyebut Wirangrong). Agaknya pemalsuan nama itu telah dilegitimasikan atau sekurang-kurangnya sudah direstui oleh seorang pertapa.
Posisi Fiksi Populer Di Indonesia Aprinus Salam
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2139.753 KB) | DOI: 10.22146/jh.757

Abstract

Dalam sejarah sastra Indonesia, fenomena fiksi populer mulai dikenal pada tahun 1890-an, yaitu bacaan yang ditulis oleh orang Cina-Melayu dengan menggunakan bahasa Melayu-pasaran (rendahan) yang berjudul Sobat Anak-Anak karya Lie Kim Hok. Bacaan ini dianggap hanya menampilkan cerita-cerita yang ringan dengan maksud sekedar menghibur. Konsumen bacaan itu juga terbatas di kalangan tertentu saja (Nio Joe Lan, 1962: 9-10). Pada tahun 1930-an, gejala fiksi populer menghangat kembali dengan banyaknya terbitan "roman Medan", yang di kemudian hari oleh R. Roolvink (1959) disebut sebagai "roman pitjisan". Dalam hal ini, gejala itu dimaksud sebagai bacaan murahan walaupun harganya tidak harus lebih murah dari pada buku-buku yang dianggap lebih sastra. Yang dimaksud dengan murahan di sini adalah bacaan yang mudah dicerna, tidak mengandung kontemplasi yang serius, stereotip, dan dalam beberapa hal relatif mengeksplotasi seks, suatu bacaan yang sekedar menghibur pembaca dengan cara sederhana, secara sambil lalu. Pada paruh kedua tahun 1980-an, masyarakat dihebohkan dengan hadirnya seri Lupus karya Hilman (seperti Tangkaplah Daku Kau Kujitak Berangkat dari kenyataan tersebut, dalam kesempatan ini diambil dua persoalan yang akan dijadikan fokus permasalahan. Pertama, implikasi-implikasi apa yang terkait dengan fiksi populer dan proses ideologis bagaimana yang mendasari kriteria tersebut. Kedua, dalam konteks sejarah sosial (politik dan ekonomi) Indonesia, bagaimana posisi fiksi populer. Untuk masalah ini, akan tetapi, rentang waktu yang dibicarakan terutama pada tahun 1970-an dan setelahnya.
Antara Kekerasn dan Maskulinitas "Enam Jahanam" Karya Indra Tranggono . Harjito
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1824.895 KB) | DOI: 10.22146/jh.758

Abstract

“Enam Jahanam” (selanjutnya disebut “EJ”) menceritakan enam orang yang berhasil merampok uang jutaan rupiah dari bank. Yang menjadi permasalahan, bagaimana pembagian uang tadi. Pada akhirnya, disepakati bahwa yang berhak mendapatkan hasil rampokan adalah mereka yang lolos dari permainan “jalan pistol”. Apa yang dinamakan “jalan pistol” adalah sebuah permainan ketika pistol diisi sebutir peluru dengan putaran acak. Sambil bermain kartu domino, barang siapa mendapat balak paling besar dialah yang wajib menembak kepalanya dengan pistol yang telah diisi peluru. Keberuntungan sajalah yang akan menentukan nasib enam orang jahanam.
Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik Kees Groeneboer
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10349.262 KB) | DOI: 10.22146/jh.3303

Abstract

Fragmen Het land van herkomst (1935) mencirikan mite sekitar sosok ahli bahasa Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894). Sudah sejak masa hidupnya dia menjadi sosok legendaris - ilmuwan besar, tetapi juga pribadi yang mengesankan, berbuat sekehendak hatinya, kurang sopan-santun dan eksentrik -, seseorang yang dalam publikasi dan suratnya, dengan cara yang jelas, ironis, langsung, dan terkadang kasar menentang segala sesuatu yang dianggapnya memuakkan pada masanya. Misalnya dia tidak pernah merahasiakan bahwa dia tidak suka kepada agama Kristen, bahwa dia tidak suka kepada zending, dan tidak suka kepada masyarakat dan pemerintahan Belanda dan Hindia-Belanda. Dia juga tidak merahasiakan rasa jengkelnya terhadap kemajuan agama Islam, terhadap apa yang disebutnya ‘keserakahan’ pedagang Cina, ‘kebodohan’ penduduk pribumi, dan sebagainya.Dalam artikel ini diberikan sketsa kehidupan dan karya Van der Tuuk saat dia bekerja untuk Nederlandsch Bijbelgenootschap (Persekutuan Alkitab Belanda), (1847-1873). Artikel ini dimulai dengan persiapan keberangkatannya ke Hindia-Belanda (1847-1849), kepergian dan masa keberadaannya di daerah Batak (1849-1857), periode saat dia di Belanda menyelesaikan karyanya mengenai bahasa Batak (1857-1868), tahun-tahun ketika dia bekerja untuk Persekutuan Alkitab di Bali (1870-1873). Tahun-tahun waktu dia selanjutnya meneruskan pekerjaannya di Bali untuk pemerintah Hindia-Belanda (1873-1894), tidak akan dibahas secara mendalam dan akan dibicarakan pada kesempatan lain (Groeneboer, dalam persiapan).

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue