cover
Contact Name
I Kadek Widiantana
Contact Email
kadekwidiantana@gmail.com
Phone
+6285792165259
Journal Mail Official
ejournalkalangwan@gmail.com
Editorial Address
UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Jl. Ratna No.51, Tonja, Kec. Denpasar Utara Kota Denpasar, Bali 80237
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : 26860252     DOI : https://doi.org/10.25078/kalangwan
Core Subject : Education,
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra merupakan jurnal ilmiah yang memiliki misi memperluas kajian bidang bahasa dan sastra daerah sebagai referensi dalam mewujudkan pendidikan bahasa dan sastra daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Nusantara. Penguatan pendidikan bahasa dan sastra daerah penting untuk dioptimalkan, tidak hanya di lingkungan keluarga maupun pendidikan formal saja, tetapi juga melalui kajian-kajian ilmiah hasil penelitian maupun hasil pemikiran yang mengacu pada kaidah-kaidah ilmiah. Tujuannya adalah untuk menjadikan pendidikan bahasa dan sastra daerah sebagai landasan dalam mewujudkan masyarakat yang bermartabat, cerdas, humanis dan berwawasan multikultural.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2018)" : 5 Documents clear
PENTINGNYA PELESTARIAN BAHASA BALI PADA PENDIDIKAN FORMAL Ni Kadek Santya Pratiwi; Putu Santi Oktarina
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.03 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v8i2.1593

Abstract

Pelestarian Bahasa Bali pada pendidikan formal sedang gencar dicanangkan oleh pemerintah. Bahasa Bali sebsgai salah satu bahasa dan perekam budaya bali sangat penting untuk dipelihara. Pemeliharaan bahasa bali juga diharapkan untuk mempertahankan taksu bali. Kehadiran materi pelajaran bahasa Bali sangat penting dan memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya dan bahasa Bali, dan juga memiliki peran strategis dalam pelestarian unsur kebudayaan nasional Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. Analisis datanya disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif. Dari analisis yang penulis lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia pendidikan memang merupakan salah satu wadah yang paling tepat untuk melaksanakan pembinaan, pengembangan, dan pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali, di samping lembaga-lembaga formal dan informal lainnya. Melalui lembaga pendidikan sekolah, para generasi muda akan memperoleh pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh tenaga pendidik yang berkompeten dalam bidang itu. Dengan memberikan latihan-latihan secara intensif siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami bahasa Bali dengan baik, serta terampil membaca dan menulis aksara Bali sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
PENGAJARAN BAHASA DAERAH DI SEKOLAH KAITANNYA DENGAN KURIKULUM 2013 I Ketut Tanu
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.952 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v8i2.1595

Abstract

Bahasa daerah merupakan bahasa pendukung bahasa Indonesia yang keberadaannya diakui oleh negara. Berdasarkan Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang intinya memberi keleluasaan daerah untuk lebih memperhatikan potensi daerahnya masing - masing, maka gubernur mengeluarkan SK yang mengatur tentang Penetapan Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa daerah pada satuan pendidikan. Dengan adanya kebijakan baru tersebut, maka permintaan akan guru Bahasa daerah yang kompeten di bidangnya sangat mutlak diperlukan sehingga menyebabkan banyak perguruan tinggi yang membuka Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah. Banyaknya out put lulusan dari jurusan Pendidikan Bahasa Daerah mengindikasikan bahwa kebutuhan akan guru bahasa daerah akan segera terpenuhi. Dengan memiliki guru yang berasal dari back ground pendidikan yang sesuai akan mempengaruhi proses pembelajaran. Materi akan tersampaikan dengan penuh dan tepat sasaran karena guru memiliki penguasaan materi yang baik, bagi materi kebahasaannya maupun budayanya. Dengan menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat menjadikan pembelajaran bahasadaerah itu semakin menarik dan hidup. Guru akan menghidupkan gairah siswa untuk mengikuti pelajaran bahasa daerah. Singkat kata, pembelajaran bahasa Daerah di masa yang akan datang, akan menjadi lebih baik. Baik dari segi materi yang meliputi kebahasaan, budaya, dan adat istiadat. Pembelajaran bahasa yang semakin baik akan membatu merevitalisasi di kalangan para penuturnya
PEMERTAHANAN KOSAKATA BAHASA BALI BIDANG PERTANIAN : KAJIAN EKOLINGUISTIK Putu Eddy Purnomo Arta
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.88 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v8i2.1597

Abstract

Bahasa Bali memiliki banyak kosakata dalam berbagai bidang yang salah satunya ialah kosakata bidang pertanian. Kosakata bahasa Bali di bidang pertanian dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu kosakata pertanian tradisional dan modern. Terkait pemisahan tersebut, kosakata bidang pertanian yang sekiranya perlu dipahami oleh generasi muda penutur bahasa Bali adalah kosakata bidang pertanian tradisional, misalnya seperti kata arit ‘sabit’, pacul ‘cangkul’,tenggala ‘alat untuk membajak sawah’, manyi ‘panen’ dan yang lainnya yang merupakan kosakata bahasa Bali yang sudah sangat jarang digunakan oleh penutur-penutur bahasa Bali saat ini karena adanya kosakata tradisional dan modern tersebut, maka peneliti memandang perlu dilakukan penelitian tentang kosakata pertanian tersebut. Perubahan kosakata pertanian tradisional ke modern itulah yang menjadi bahan kajian dalam penelitian ini. Penelitian ini mengkaji masalah 1) kosakata bahasa Bali bidang pertanian yang masih bertahan di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, 2) perubahan kosakata bahasa Bali bidang pertanian di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung dan 3) sikap masyarakat petani di desa tersebut terhadap perubahan kosakata bahasa Bali itu. Untuk dapat memecahkan atau menjawab permasalahan tersebut digunakan teori perubahan bahasa untuk memecahkan masalah pertama dan kedua, serta menggunakan teori pemertahanan bahasa untuk memecahkan masalah yang ketiga yang berkaitan dengan masyarakat Desa Canggu dalam mempertahankan kosakata aslinya meskipun telah terdapat kosakata dari bahasa lain. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini ialah warga Desa Canggu Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung yang bekerja di bidang pertanian sedangkan objek dalam penelitian ini ialah kosakata bahasa Bali dalam bidang pertanian tradisional dan modern. Dalam menentukan informannya dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan teknik wawancara bebas terpimpin, observasi non partisipasi, studi kepustakaan dan pencatatan dokumentasi. Setelah dilakukan penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa kosakata bahasa Bali bidang pertanian yang masih digunakan atau dikenal di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung yaitu: anggapan, arit, caluk, srampang, tenggala, tambah, traktor. kakul, kapu-kapu, pici-pici, lintah, manyi, biukukung, nangluk merana, majukut, matekap. Perubahan kosakata bahasa Bali bidang pertanian di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung yaitu berupa penambahan kosakata. Cara petani, aktivis pertanian dan masyarakat di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung dalam menyikapi perubahan kosakata bahasa Bali bidang pertanian ialah dengan memiliki sikap bahasa positif, yaitu tetap menggunakan kosakata bidang pertanian tradisional dari bahasa Bali asli di samping kosakata baru dari bahasa lain.
AKSARA BALIDALAM PAWINTENAN WIWA DI GRIYA AGUNG BANGKASA DESA BONGKASA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG Gusti Nyoman Mastini
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.36 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v8i2.1598

Abstract

Tradisi yang melekat dalam keseharian orang Bali adalah tradisi-tradisi yang Hinduistik, keselarasan antara local genius yang bersanding dengan religiusitas Hindu Bali menjadikan tradisi yang berkembang di Bali memiliki berbagai macam makna, begitupula dengan keberadaan aksara Bali memiliki peranan sangat penting dalam tradisi umat Hindu di Bali, Khususnya yang berkaitan dengan tradisi serta ritual. Masyarakat Hindu di Bali sangat antusias melaksanakan tradisi maupun ritual yang tidak terlepas dari peranan aksara. Salah satu tradisi tersebut ialah PawintenanWiwa. PawintenanWiwa adalah pawintenan yang dilaksanakan sebelum seseorang naik menjadi panditaBhawati hanya pada warga Mahagotra Sanak Sapta Rsi. Guru Nabe atau Panglingsir Griya Agung Bangkasa melaksanakan Pawintenan Wiwa ini. Pawintenan Wiwa di dalam pelaksanaannya menggunakan aksara Bali. Penelitian ini membahas tiga permasalahan yakni bentuk, fungsi, serta makna aksara Balidalam Pawintenan Wiwa di Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Ketiga rumusan masalah tersebut dianalisis dengan menggunakan tiga teori yakni teori Linguistik Struktural, teori Fungsi Bahasa, dan teori Makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan tematis-filosofis. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dan studi pustaka. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa (1) Bentuk aksara Bali yang dirajah pada tubuh (angga Sarira), berdasarkan bentuknya aksara Bali dibawah adalah Tradisi yang melekat dalam keseharian orang Bali adalah tradisi-tradisi yang Hinduistik, keselarasan antara local genius yang bersanding dengan religiusitas Hindu Bali menjadikan tradisi yang berkembang di Bali memiliki berbagai macam makna, begitupula dengan keberadaan aksara Bali memiliki peranan sangat penting dalam tradisi umat Hindu di Bali, Khususnya yang berkaitan dengan tradisi serta ritual. Masyarakat Hindu di Bali sangat antusias melaksanakan tradisi maupun ritual yang tidak terlepas dari peranan aksara. Salah satu tradisi tersebut ialah PawintenanWiwa. PawintenanWiwa adalah pawintenan yang dilaksanakan sebelum seseorang naik menjadi panditaBhawati hanya pada warga Mahagotra Sanak Sapta Rsi. Guru Nabe atau Panglingsir Griya Agung Bangkasa melaksanakan Pawintenan Wiwa ini. Pawintenan Wiwa di dalam pelaksanaannya menggunakan aksara Bali. Penelitian ini membahas tiga permasalahan yakni bentuk, fungsi, serta makna aksara Balidalam Pawintenan Wiwa di Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Ketiga rumusan masalah tersebut dianalisis dengan menggunakan tiga teori yakni teori Linguistik Struktural, teori Fungsi Bahasa, dan teori Makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan tematis-filosofis. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dan studi pustaka. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa (1) Bentuk aksara Bali yang dirajah pada tubuh (angga Sarira), berdasarkan bentuknya aksara Bali dibawah adalah termasuk aksara-aksara yang tergolong aksara Wijaksara (aksara Swalalita yang diberi pangangge atau busana) dan aksara Modre. Dalam pawintenan ini banyak ditemukan berbagai bentuk salah satunya aksara Wijaksara yang terdiri dari eka aksara, dwi aksara, tri aksara, panca aksara, dasa aksara, catur dasa aksara dan sodasa aksara. Aksara yang digunakan dalam rarajahanrurub serta aksara Bali dirajah pada tubuh menggunakan aksara-aksara yang konotasinya melambangkan simbol-simbol dewa pada tubuh manusia dan lebih banyak menggunakan aksara Wijaksara serta aksara Modre tentunya dipercaya memiliki kekutan religius magis berbeda dengan aksara Bali lumbrah menggunakan aksara Wreastra; Ragam aksara Bali yang digunakan berdasarkan daerah artikulator adalah guttural (kerongkongan), palatal (langit- langit), cerebral (lidah), dental (gigi), serta labial (bibir). Lebih spesifik lagi yakni dalam ranah tradisional, penyebutan daerah artikulasi tersebut dinamakan dengan kantia, talawia, murdania, dantia, dan ostia. (2) Fungsi aksara Bali pada Pawintenan Wiwa adalah Fungsi Referensial, Fungsi Religius, Fungsi Magis. (3) Makna Aksara Bali Pada Pawintenan Wiwa adalah Makna Sosial Budaya, dan Makna Teologi.
ANALISIS STRUKTUR INTRINSIK CERPEN LUH BULAN KARYA IBW WIDIASA KENITEN I Gede Merta Wiguna; I Wayan Mandra; I Made Dian Saputra
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.424 KB) | DOI: 10.25078/kalangwan.v8i2.1599

Abstract

Cerpen merupakan salah satu karya sastra fiksi yang masih berkembang hingga saat ini. Cerpen itu dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik dimana unsur intrinsik tersebut meliputi tema, alur, insiden, tokoh dan penokohan, lattar/setting, dan amanat, sedangkan unsur ekstrinsik berupa nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen tersebut. Sebagian orang hanya menikmati cerpen dengan membacanya, tanpa pernah ingin mengetahui lebih jauh unsur yang membangun karya sastra tersebut. Maka dari itu sangatlah penting untuk menganalisis unsur intrinsik yang membangun cerpen itu sendiri.

Page 1 of 1 | Total Record : 5