cover
Contact Name
Khairul Amin
Contact Email
khairulamin@lakaspia.org
Phone
+628116855377
Journal Mail Official
sinthop@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Jalan Mata Ie Lorong Permai X Ni. 74 Perumahan Bukit Permai Geu Gajah Darul Imarah, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Kode Pos 23352, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 29868475     DOI : -
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya is a double-blind peer-reviewed journal published by Lembaga Aneuk Muda Peduli Ummat in collaboration with Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. The journal publishes research articles, conceptual articles, and book reviews of education, religious, social, and cultural studies. The articles of this journal are published bi-annually in January-June and Juli-December.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 1 (2022): Januari-Juni" : 5 Documents clear
Pandangan MUI terhadap Pluralisme Agama Nasir, Muhammad
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sinthop.v1i1.2336

Abstract

Religious pluralisme among Muslims itself raises pros and cons, acceptance on the one hand and resistance on the other. Supporters of religious pluralisme argue that this idea is a necessity in the midst of Indonesia's pluralistic condition. Opponents of religious pluralisme are of the view that this idea is misleading, because it tends to mix up religious teachings and assumes that all religions are true. The climax of the conflict over the notion of religious pluralisme was the issuance of a fatwa by the Indonesian Ulema Council (MUI) regarding the prohibition of pluralisme, secularism and religious liberalism. This research was conducted to examine more deeply the MUI's views on religious pluralisme. This study aims to find out why some issues of religious pluralisme have received a response from the MUI and how the MUI views religious pluralisme. To examine this problem, a descriptive analysis method was used, namely a problem solving that includes recording, interpreting and analyzing MUI's views on religious pluralisme and writings related to it. The results of the research are: The issue of religious pluralisme and the development of secular and liberal thinking in Indonesia received a firm response from the MUI because pluralisme, secularism and religious liberalism were seen by the MUI as having distorted Islamic teachings and had raised people's doubts about the Islamic creed and sharia. The MUI's view of pluralisme, secularism and religious liberalism is an understanding that is contrary to the teachings of Islam. It is forbidden for Muslims to follow the notions of pluralisme, secularism and religious liberalism. In matters of aqidah and worship, Muslims must be exclusive, in the sense that it is forbidden to mix the aqeedah and worship of Muslims with the aqeedah and worship of followers of other religions. For Muslim communities who live with adherents of other religions (religious plurality), in sosial issues that are not related to faith and worship, Muslims are inclusive, in the sense that they continue to engage in sosial relations with adherents of other religions as long as they do not harm each other. Abstrak Pluralisme agama di kalangan Islam sendiri menimbulkan pro dan kontra, penerimaan di satu sisi dan resistensi di sisi lain. Para pendukung pluralisme agama berpendapat, ide tersebut adalah sebuah keniscayaan di tengah kondisi Indonesia yang majemuk. Para penentang pluralisme agama berpandangan bahwa ide tersebut menyesatkan, karena cenderung mencampuradukkan ajaran agama dan menganggap semua agama benar. Puncak pertentangan atas paham pluralisme agama adalah dengan keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang haramnya paham pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih dalam mengenai pandangan MUI terhadap pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa sebagian isu pluralisme agama mendapat respons MUI dan bagaimana pandangan MUI terhadap pluralisme agama. Untuk meneliti masalah ini digunakan metode deskriptif analisis yaitu suatu pemecahan masalah yang meliputi pencatatan, penafsiran dan analisa terhadap pandangan MUI terhadap pluralisme agama dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengannya. Adapun hasil dari penelitian adalah: Isu pluralisme agama dan berkembangnya pemikiran sekuler dan liberal di Indonesia mendapat respons MUI dengan tegas karena pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama dipandang oleh MUI telah membelokkan ajaran Islam dan telah menimbulkan keraguan umat terhadap akidah dan syariat Islam. Adapun pandangan MUI terhadap pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain. Bagi masyarakat Muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
Konsep Kekekalan Akhirat: Komparasi Eskatologi Islam dan Kristen Habibie, Hebi
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sinthop.v1i1.2337

Abstract

Agus Mushtofa's concept of eternity in a more rational sense. The attributes of Allah that are used as an argument that the Hereafter is not eternal do not mean rejecting the understanding of the eternity of the Hereafter. However, the attributes of Allah do not want to limit the absolute ability of Allah. Attributes such as Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawadisti, Qudrah and Iradah are qualities that make the eternal nature of the hereafter a different matter. This is different from the understanding of scholars in general who argue that the eternity of the hereafter is inviolable, while Agus Musthofa provides another understanding that the eternity of the hereafter depends on Allah. If Allah wants the hereafter to be eternal, then the hereafter will be eternal and if Allah removes the eternity of the hereafter, then the hereafter will be destroyed, both heaven and hell. Thoughts about the afterlife or the last day also exist in Christianity is not much different. If Muslims have a concept of life in the grave, so does the doctrine in Christianity. In the concept of Islam, humans who have died will enter the grave, in Christianity, if they die then when they enter the grave everything will be burned or purified with purgatory until the time of judgment arrives. Likewise heaven and hell in Islam and Christianity. If in Islam there are levels in heaven and hell according to their deeds. Christianity does not mention any levels of heaven and hell. In general, religious leaders in Islam and Christianity close the door on discussions about the eternal concepts of heaven and hell. Abstrak Konsep Agus Mushtofa tentang kekekalan dalam arti yang lebih rasional. Sifat-sifat Allah yang dijadikan sebagai argumentasi bahwasanya Akhirat tidak kekal bukan berarti menolak pemahaman tentang kekekalan akhirat. Akan tetapi dengan sifat-sifat Allah itu tidak ingin membatasi kemampuan mutlaq dari Allah. Sifat seperti Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawadisti, Qudrah dan Iradah adalah sifat-sifat yang menjadikan sifat kekal akhirat menjadi hal yang berbeda. Hal inilah yang berbeda dengan pemahaman ulama pada umumnya yang berpendapat bahwasanya kekekalan akhirat tidak dapat diganggu gugat sedangkan Agus Musthofa memberikan pemahaman lain bahwasanya kekekalan akhirat tergantung pada Allah. Jika Allah berkehendak akhirat kekal, maka kekallah akhirat dan jika Allah mencabut kekekalan akhirat, maka musnahlah alam akhirat baik itu surga maupun neraka. Pemikiran tentang akhirat atau hari akhir juga ada dalam agama Kristen tidaklah jauh berbeda. Jika umat Islam ada konsep kehidupan dalam kubur, begitu juga doktrin dalam agama Kristen. Dalam konsep agama Islam, manusia yang telah meninggal akan memasuki alam kubur, dalam agama Kristen, jika meninggal maka tatkala memasuki alam kubur semuanya akan dibakar atau dimurnikan dengan api penyucian hingga tiba saat penghakiman. Begitu juga surga dan neraka dalam Islam dan Kristen. Jika dalam Islam ada tingkatan dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya. Agama Kristen tidak menyebutkan adanya tingkatan dalam surga dan neraka. Pada umumnya para pemuka agama dalam agama Islam dan Kristen menutup pintu diskusi tentang konsep kekekalan surga dan neraka.
Oksidentalisme dalam Pandangan Pemikiran Hassan Hanafi Mawaddah, Fitri
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sinthop.v1i1.2339

Abstract

Hanafi stated that occidentalism is the opposite of orientalism. If the object of study in Orientalism is the East and more specifically in Islam, then in Occidentalism the object of study is the West. This means that Hanafi reverses the paradigm of the subjects in orientalism, namely the East as the subject and the West as the object. This research is a library research, namely the data obtained from books, scientific writings, magazines, the internet as well as from some other literature. In this study the authors also used the descriptive method, which is a method that aims to make descriptions, drawings or drawings systematically, by analyzing data, which is a process of compiling data so that it can be interpreted. Which means classifying in a certain pattern then interpreted in terms of giving meaning and looking for relationships from various concepts that have been collected, literature studies through data sources, interpreting data, writing techniques and data analysis techniques so that conclusions can be drawn, namely: Occidentalism format is a movement renewal towards change, so that it can change the Muslim paradigm to become an agent of change, intelligent, tough and civilized. Abstrak Hanafi menyatakan bahwa oksidentalisme adalah kebalikan dari orientalisme. Jika objek kajian orientalisme adalah Timur dan lebih khusus lagi dalam Islam, maka dalam oksidentalisme yang menjadi objek kajiannya adalah Barat. Hal ini berarti Hanafi melakukan pembalikan paradigma subjek-sabjek dalam orientalisme, yaitu Timur sebagai subjek dan Barat sebagai objek. Adapun penelitian ini merupakan penelitian perpustakaan (library research) yakni datanya diperoleh dari buku-buku, tulisan ilmiah, majalah, internet serta dari beberapa literatur lainnya. Dalam penelitian ini juga penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, dengan cara menganalisis data, yang merupakan suatu proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan. Yang berarti menggolongkan dalam satu pola tertentu kemudian di interpretasikan dalam arti memberi makna dan mencari hubungan dari berbagai konsep yang telah dikumpulkan, studi kepustakaan melalui sumber data, menafsirkan data, teknik penulisan dan teknik analisis data sehingga dapat di tarik kesimpulan yaitu: format oksidentalisme adalah gerakan pembaharuan menuju perubahan, sehingga dapat mengubah paradigma muslim menjadi agen of change, cerdas tangguh dan berperadaban.
Konsep Keselamatan dalam Teologi Kristen Modern Juara, Juara
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sinthop.v1i1.2340

Abstract

Safety is the main goal of life in this world and in the hereafter. Safety means being safe. Salvation in theology is referred to as the main point of the Christian faith as human divinity as mercy and forgiveness of sins. Religion in general gives instructions to its people through the holy book which is one of the main foundations as a guide for life. The aim is for adherents of religion to receive safety, both in this world and in the hereafter, physically and spiritually. To achieve salvation in Christianity through faith, baptism, repentance, turning, rebirth and forgiveness. The development of the teachings of salvation in Christianity has occurred since the Second Vatican Council (1962-1965) where a reform occurred in the Catholic and Protestant churches which resulted in a renewal. Church renewal of religious teachings according to Luther and Calvin. According to Luther, the forgiveness of sins because of the blood of Jesus is a gift from God. According to Calvin, he prioritized the majesty of God and the power of God without any ties. Based on the results of this study, the authors can understand the concept of the salvation of modern Christianity, will make themselves more appreciative and respectful of other religions. Abstrak Keselamatan merupakan tujuan utama hidup di dunia dan di akhirat. Keselamatan artinya keadaan selamat. Keselamatan dalam teologi disebut dengan pokok iman Kristen sebagai pengilahian manusia sebagai rahmat dan pengampunan dosa. Agama pada umumnya memberikan petunjuk pada umatnya melalui kitab suci yang merupakan satu landasan utama sebagai penuntun hidup. Tujuannya adalah agar umat pemeluk agama mendapat keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat, jasmani maupun rohani. Untuk mencapai keselamatan dalam agama Kristen melalui keimanan, pembaptisan, pertobatan, perpalingan, kelahiran kembali dan pengampunan. Perkembangan ajaran keselamatan dalam agama Kristen terjadi sejak Konsili Vatikan II (1962-1965) terjadi suatu reformasi dalam gereja Katolik maupun Protestan yang lahir suatu pembaharuan. Pembaharuan gereja terhadap ajaran agama menurut Luther dan Calvin. Menurut Luther, pengampunan dosa karena darah Yesus adalah anugerah Allah. Menurut Calvin, ia lebih mengutamakan keagungan Allah dan kuasa Allah tanpa ikatan apa pun. Berdasarkan hasil penelitian ini penulis dapat memahami konsep keselamatan agama Kristen modern, akan menjadikan diri semakin menghargai dan menghormati agama lain.
Pola Interaksi Masyarakat dengan Pesantren Darul Amilin Gunung Rotan Aceh Selatan Mardiani, Mardiani
SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan Pusat Jurnal Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sinthop.v1i1.2342

Abstract

The social interaction that occurs between the community and the Darul Amilin Islamic Boarding School, this activity is supported by several important factors played by the pesantren caregivers while the community feels there is a need for the pesantren. Meanwhile, pesantren activities always involve the community in various activities that have a very prominent role in educating the community, while the community also feels that they cannot separate themselves from this institution. This study aims to find out how the pattern of community interaction with Islamic boarding schools. This type of research is descriptive research with a qualitative approach through observation and interviews. The data obtained were interpreted using descriptive analysis techniques. The results of the study found that the relationship between community interaction and Islamic boarding schools was well established, but there was an openness between Islamic boarding schools and the community in the form of decision making in the implementation of activities and education. Abstrak Interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat dengan pesantren Darul Amilin, kegiatan tersebut didukung oleh beberapa faktor penting yang diperankan oleh pengasuh pesantren sementara pihak masyarakat terasa ada kebutuhan terhadap pesantren. Dalam pada itu kegiatan, pesantren senantiasa melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang sanggat menonjol peran mencerdaskan masyarakat, sedangkan masyarakat juga merasa tidak dapat memisahkan diri dari lembaga ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola interaksi masyarakat dengan pesantren. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara. Data yang diperoleh diinterpretasikan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menemukan hubungan interaksi masyarakat dengan pesantren terjalin dengan baik, akan tetapi adanya ke tidak terbukaan antara pesantren dan masyarakat berupa pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan kegiatan maupun pendidikan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5